| |
C © updated 05042004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/bpkpenabur |
|
| |
Nama:
Prof. Dr. Pdt. Sularso Sopater
Lahir:
Yogyakarta, 9 Mei 1934
Pendidikan:
Master Teologi di Grand Rapids Michigan USA tahun 1975
Doktor teologi dari STT Jakarta
Karir:
= Pendeta Gereja Kristen Jawa (GKJ)
= Direktur Lembaga Pembinaan Kader GKJ/GKI Jawa Tengah di Yogyakarta
Dosen Dogmatika STT Jakarta sejak tahun 1978
Ketua Umum PGI 1989-1998
Angggota DPA
|
|
| |
|
|
|
|
Prof. Dr. Pdt. Sularso Sopater
Sosok Pendeta Bersahaja
Mantan Anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) dan mantan Ketua Umum
Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) ini lahir di Yogyakarta, 9 Mei
1934. Ia seorang pendeta yang hidup bersahaja dalam iman kristiani yang
tekun. Gaya hidupnya menjadi teladan bagi para pendeta dan banyak orang.
Pendeta Gereja Kristen Jawa (GKJ)ini pernah menjabat Direktur
Lembaga Pembinaan Kader GKJ/GKI Jawa Tengah, berkedudukan di Yogyakarta.
Meraih gelar Master Teologi di Grand Rapids Michigan USA
tahun 1975, lalu mengajar dokmatika di STT Jakarta sejak tahun 1978.
Gelar doktor teologi diperoleh dari STT Jakarta. Sejak tahun 1989 sampai
1998 menjadi Ketua Umum PGI. Sularso Sopater menyatakan, inti
dari Paskah dikaitkan dengan kehidupan berbangsa, bagaimana kita bangkit
dari keterpurukan itu, maka kebangkitan dari keterpurukan hanya mungkin
apabila ada pengharapan. Elite politik diharapkan supaya betul-betul
mengerahkan potensi untuk membawa bangsa ini keluar dari keterpurukan.
"Bangsa Indonesia memang jatuh luar biasa dalam. Hanya dengan kemauan
keras dan komitmen pemimpin yang kita harapkan terpilih supaya bisa
dipanggil oleh patriotisme yang terdalam. Kalau semua hanya berpikir
bahwa dirinya sudah keluar banyak uang, atau bagaimana membayar kembali
semua pengeluaran untuk kampanye, maka akan menemui kebuntuan. Jadi,
mesti ada semangat yang baru," kata Sularso Sopater.
Terhadap masa lalu yang buruk, kita harus melakukan introspeksi yang
memberi pembelajaran bagi kita untuk tidak mengulang kesalahan-kesalahan
yang sudah dilakukan.
"Saya mengharapkan pluralitas kita bisa bertumbuh lebih alamiah.
Sekaligus bisa mengurangi pandangan-pandangan sempit yang bisa bermuara
pada teror-teror, yang pada akhirnya tidak ketahuan mau ke mana: hanya
mau melampiaskan kemarahan dengan cara yang sukar dimengerti," lanjutnya.
Jadi, kata Sularso, banyak sekali pekerjaan rumah yang harus kita
selesaikan tanpa harus saling menyalahkan. Belajar bersama memperbaiki
kesalahan akan menjadi lebih positif. "Kalau hanya saling melempar
kesalahan, maka tidak akan ada henti-hentinya. Prinsip-prinsip etik yang
mendasar yang harus diamini bersama-sama adalah kebenaran, kejujuran,
ketangguhan, ketekunan, dan disiplin," ujar Sularso.
► sumber BPK Gunung Mulia dan Kompas
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|