A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Buku
 ► Galeri
 ► Mabes TNI
     ► TNI AD
     ► TNI AL
     ► TNI AU
     ► Polisi Militer
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah TI
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 30112005  
   
  ► e-ti/atur  
  Nama:
Mayjen TNI (Purn) Drs. H Sulaiman. AB, SH, Msc
Lahir:
Kuala Simpang, Tamiang, 5 Agustus 1949
Agama:
Islam
Ayah:
H. Ahmad Basyir
Ibu:
Hj. Asmah Boru Lubis
Istri:
Hj. Dra. Iman Handayananingrum
Anak:
- Kartika Chandra Arini
- Khairul Basyar

Pendidikan:
- SD, SMP, SMA di Aceh.
- AKABRI, 1974
- Sussarcab POM, 1975
- Suslapa POM (1984)
- Seskoad (1993)
- Sussospol ABRI (1994)
- Sussar Para (1998)
- KRA XXXII Lemhannas pada 1999/2000

Karier:
- Perwira Pertama Polisi Militer Daerah Militer VII Diponegoro, 1975
- Komandan Detasemen Polisi Militer V Brawijaya
- Danpomdam VI Tanjung Pura di Balikpapan
- Sekretaris POM (1998)
- Perwira Ahli KSAD Bidang Hukum
- Komandan Polisi Militer (Danpuspom), 2002-2004

Alamat Rumah:


 
 
     
 
BIOGRAFI

 

BIOGRAFI:   01   02   03   04   ==

Sulaiman AB

Si Penggembala yang Suka Main Biola


Ia lahir di lingkungan yang taat beragama. Ayahnya seorang pedagang, merangkap sebagai guru mengaji. Masa kecil dihabiskannya di sebuah desa di pinggir sungai Tamiang. Mengaji, menggembala dan membersihkan kandang sapi adalah pekerjaan sehari-hari pada masa kecilnya itu. Main biola menjadi hobinya, hingga ia memiliki grup musik yang sering dipanggil manggung dari kampung ke kampung. Tapi, siapa sangka? Darah pejuang mengalir deras di tubuh Sulaiman. Hingga mengantarkannya pada kehidupan seorang militer.

Dentuman bom menggelegar memecah kesunyian desa Karang Bundar, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang. Dentuman bom peninggalan tentara Jepang seberat 250 kilogram yang sengaja diledakkan, Minggu 5 Agustus 1949 itu menjadi tanda kelahiran Sulaiman. Asmah Boru Lubis yang kala itu tengah hamil tua, merasakan guncangan yang begitu kuat. Hingga akhirnya, dentuman bom dan guncangan yang hebat itu memengaruhi kehamilannya yang sudah melewati masa lahir.

Dengan dibantu dukun beranak yang tinggal tidak jauh dari rumahnya, wanita berdarah Mandailing dan bermarga Lubis ini kemudian melahirkan jabang bayi laki-laki, anak ke tiganya. Sang suami, Ahmad Basyir yang sejak awal menunggui proses persalinan, lalu menamai anak laki-lakinya itu dengan nama Sulaiman.

Saat memberikan nama itu, Abah -- panggilan akrab Ahmad Basyir -- mengaku terinspirasi oleh nabi yang dikagumi, Nabi Sulaiman. Ia seorang raja yang bijaksana dan memiliki kemampuan berkomunikasi dengan semua makhluk, manusia, hewan dan jin. “Nama yang baik, dan saya berharap Sulaiman menjadi orang besar,” ujarnya yang dikutip dalam Buku Biografi Mayjen TNI (Purn) Sulaiman, AB, yang juga dituturkannya kepada Wartawan Tokoh Indonesia.

Didikan Disiplin Orangtua
Sebagai anak seorang guru mengaji, Sulaiman dan kakak-adiknya mendapat didikan agama yang amat kental. Abah mendidik ajaran agama Islam dengan baik dan benar. Pelajaran agama ini diajarkannya sendiri kepada anak-anaknya. Ahmad Basyir yakin, hanya dengan pendidikan agama yang baik, maka anak-anaknya kelak akan menempuh hidup dengan baik pula.

Jadwal rutin Sulaiman selepas Magrib adalah mengaji di meunasah (madrasah). Abahnya sendiri yang menjadi guru mengajinya. Saat mengajar membaca Al Quran, Abahnya selalu membawa rotan. Salah sedikit saja, Sulaiman dalam membaca, rotan di tangan Abahnya itu mampir di tubuh.

Barangkali waktu itu Sulaiman menganggap ayahnya itu kejam. Namun belakangan ia sadar mengapa ayahnya memakai cara demikian. Hasilnya, ia tak hanya bisa membaca Al Quran, tapi juga melafalkannya dengan benar. Dalam hal agama, Abahnya itu selalu menekankan satu pesan yang hingga kini terus diingatnya, “Jangan pernah kamu jauhi ajaran Agama!”

Menggembala dan Belajar Mandiri
Selain pelajaran agama, Ahmad Basyir memiliki cara lain untuk mengajarkan disiplin kepada anak-anaknya, termasuk kepada Sulaiman. Salah satu cara yang dipakainya adalah memberikan tanggungjawab pada Sulaiman dengan menggembala lembu. Tak tanggung-tanggung, Sulaiman bertanggungjawab menggembala 20 ekor lembu. Tentu saja ini bukan pekerjaan mudah, karena ia harus mengawasi lembu-lembu itu agar tidak bercerai-berai.

Selain menggembala, Sulaiman juga diwajibkan untuk membersihkan kandang dan kotoran-kotorannya. Pekerjaan membersihkan kandang sapi ini dilakukannya sebelum berangkat sekolah. Sedangkan pekerjaan menggembala ia lakukan sepulang sekolah. Pekerjaan yang diberikan ayahnya itu dikerjakan Sulaiman dengan baik. Di sela-sela menggembala, ia bisa menyalurkan hobinya, yaitu bermain biola.

Selain belajar di sekolah, Abahnya juga mengajari anak-anaknya, termasuk Sulaiman untuk membantunya mencari tambahan uang saku. Sebagai seorang pedagang, Ahmad Basyir menghendaki anak-anaknya sejak kecil sudah biasa belajar mandiri. Maka, sejak SD, anak ketiga dari 10 bersaudara ini telah membantu menderes getah karet, atau memetik kopi. Abahnya memang memiliki kebun yang sangat luas, yang ditanami berbagai tanaman.

Di lain waktu, Abahnya juga meminta Sulaiman untuk menjaga kios miliknya. Ini juga menuntut tanggungjawab Sulaiman kecil agar teliti dan bersikap baik melayani pembeli. Ini salah satu cara Ahmad Basyir dalam mendidik anaknya agar disiplin dan teliti dalam melakukan pekerjaan. Sekaligus memahami bagaimana menghargai uang yang dicari dengan hasil keringat sendiri.

Maka sejak kecil Sulaiman sudah terlatih untuk mencari uang sendiri. Ia juga kerap mengumpulkan batu-batu atau pasir dari sungai, yang kemudian dijual kepada orang yang memerlukan. Di lain waktu, jika ada pohon yang tumbang ia segera memotong-motong batang pohon itu, mengikatnya dengan tali dari bambu dan kemudian menjualnya. Bahkan Sulaiman pernah berkeliling ke buruh-buruh perkebunan karet untuk menjual jam tangan. Semua uang yang didapat dari keringatnya sendiri dipakainya untuk melengkapi kebutuhannya seperti membeli buku-buku dan pakaian.

Dalam lingkungan keluarga dan pendidikan seperti inilah Sulaiman tumbuh. Di dalam lingkungan keluarganya, Sulaiman termasuk anak yang baik, yang sejak kecil tidak pernah membuat kenakalan sehingga disayangi keluarga besar Ahmad Basyir.

Sekolah, Organisasi dan Main Biola
Sulaiman, menurut beberapa temannya yang pernah diwawancarai Tim Buku Biografi Mayjen TNI (Purn) Sulaiman, AB, adalah anak yang rendah hati. Walaupun orangtua dan kakeknya termasuk keluarga berada, terpandang dan disegani di daerah Tamiang, Sulaiman tidak pernah membeda-bedakan dalam berteman. Ia menempuh Sekolah Dasar di Karangbaru, Sekolah Menengah Pertamanya di Kota Kuala Simpang. Sedangkan sekolah menengah atasnya di SMA 1 Kuala Simpang. Pada setiap jenjang sekolahnya ia tak pernah mendapat teguran yang berarti dari sekolah. Kendati prestasinya tergolong biasa-biasa saja, Sulaiman melalui jenjang-jenjang pendidikannya dengan lancar.

Hanya saja, beberapa gurunya mencatat bahwa Sulaiman banyak menyukai pelajaran olahraga sepakbola, bulutangkis dan baris-berbaris. Selain itu, sebagai remaja, ABG, Sulaiman tergolong remaja yang rapih. Penampilannya selalu necis, pakaiannya selalu rapih dan bersih, serta pandai bergaul. Sehingga ia banyak disukai teman-temannya. Bukan itu saja, ia memiliki kepandaian dalam memimpin. Maka, oleh teman-temannya ia dipilih sebagai Ketua Pelajar Islam Indonesia (PII)


Tentu saja jadwal kesehariannya sangat padat. Dari sekolah, organisasi, hingga menyalurkan hobinya bermain musik, khususnya biola. Untuk hobi musiknya ini ia kemudian bergabung dengan Orkes Gambus Hubbulwatan (OGH), yang artinya Cinta Tanah Air. Orkes ini didirikan oleh Ahmad Basyir, ayah Sulaiman yang memang penggemar musik. Di grup musik ini selain bermain biola, Sulaiman juga sebagai penyanyi. Ia memiliki suara bas yang merdu. Salah satu lagu yang sangat digemarinya dan kerap dibawakan saat di atas panggung ketika itu adalah lagu berjudul ‘Jangan Tangisi’. Dia adalah salah satu penyanyi OGH yang konon banyak penggemarnya.

Darah Pejuang Itu Telah Mengalir
Saat perang kemerdekaan, Ahmad Basyir, ayah Sulaiman memang dikenal sebagai seorang pemimpin para pejuang Aceh, dalam mengusir penjajah Belanda dari Bumi Serambi Mekah. Laskar Mujahiddin adalah pasukan gerilya pada masa perang kemerdekaan. Namun, setelah kemerdekaan semua laskar rakyat dilebur menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Tapi, Ahmad Basyir tidak masuk TNI. Ia memilih menjadi warga sipil.

Kala itu, masuknya Aceh dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi perdebatan panas di kalangan para ulama dan tokoh Aceh. Ada yang setuju, ada yang tidak. Kedua kelompok ini kemudian berseteru. Perang saudara pun terjadi di Aceh. Dalam perang saudara yang dipimpin oleh Teuku Muhammad Daud Cumbok itu, lebih dari 1500 orang tewas. Usai perang yang terjadi tahun 1946 itu, Ahmad Basyir diangkat menjadi kepala kampung.

Perang saudara yang meletus di tanah kelahirannya ini yang membuat Ahmad Basyir tak berminat masuk TNI. Ia kemudian memutuskan untuk bekerja di luar TNI. Apalagi ayahnya, Wan Basyir juga tidak ingin putranya itu masuk TNI. Ahmad Basyir yakin bahwa banyak cara untuk mengabdi kepada nusa dan bangsa tanpa harus masuk TNI.

Selain itu, ia merasa dengan menjadi orang biasa, ia akan lebih bisa berkonsentrasi membesarkan anak-anaknya, bersama dengan Asmah, wanita yang dinikahinya pada tahun 1942.

Namun berbeda halnya dengan Sulaiman. Kendati minat untuk tidak menjadi TNI berusaha diredam oleh sang ayah dan kakeknya, darah pejuang ayahnya tetap mengalir ke dalam diri Sulaiman. Padahal dari kecil, Sulaiman memang belum mempunyai keinginan atau bercita-cita menjadi tentara.

Keinginannya masuk AKABRI baru muncul setelah ia berkenalan dan melihat sikap guru matematikanya saat itu. Saat ia duduk di bangku SMA kelas III Kuala Simpang, ia memiliki guru yang bernama FX Sujoko. Guru itu adalah seorang militer lulusan Akademi Militer Nasional (AMN) berpangkat Letnan. Karena staf pengajar kurang, maka sekolah lalu mencari guru dari kalangan tentara yang sedang bertugas di Kuala Simpang.

FX Sujoko kerap berkisah tentang tugas-tugas seorang tentara. Katanya, tugas seorang tentara itu mulia karena ia menjaga nusa dan bangsa. Sujoko juga mengisahkan berbagai pengalamannya menjadi tentara yang membuat anak didiknya terpukau, terlebih Sulaiman. Selain itu Sujoko juga memberikan berbagai informasi dan masukan kepada Sulaiman dan teman-temannya jika ingin menjadi tentara.

Di samping itu, ada juga beberapa pengalaman yang tak pernah terlupakan oleh Sulaiman dan memotivasinya menjadi tentara. Ia pernah melihat seorang polisi militer berpangkat kopral datang ke desanya. Sulaiman kecil terpana melihat kegagahan polisi militer tersebut. Di lain waktu ia juga pernah melihat polisi militer menangkap sejumlah anak sekolah yang bandel. Anak-anak itu dicukur gundul oleh polisi militer. Semua peristiwa itu membekas dalam ingatannya. Sulaiman berfikir, ‘Wah, hebat sekali polisi militer itu, gagah dan ditakuti.’

Kekagumannya amat membekas, sehingga darah pejuang yang diwarisi dari kakek dan ayahnya pun mulai mendidih. Lulus SMA pada tahun 1970, Sulaiman bersama beberapa orang temannya mendaftar ke Kodim Langsa, Aceh Timur untuk mengikuti tes masuk Akabri. Tekadnya sudah bulat, ingin menjadi TNI. Suatu pilihan yang dulu tidak pernah terpikirkan bahkan tidak pernah disukai oleh ayah dan kakeknya. Maka, saat mendaftar Akabri ia tak memberitahu satu pun keluarganya.

Diiringi Deraian Air Mata Ibu
Pendidikan di Akabri adalah jalan yang dipilih Sulaiman untuk menggantungkan masa depan kehidupan dan pengabdiannya. Tekad itu sudah bulat, kendati ia tahu ayah ibunya bakal melarang, dan tentu akan melepaskannya dengan berat hati.

Maka, untuk berpamitan dan memohon doa restu ayah-ibunya, Sulaiman menggunakan cara lain. Desember 1970 ia mengajak sebanyak 23 temannya yang semua calon taruna, datang ke rumahnya. Ke-23 calon taruna itu merupakan putra terbaik Aceh yang lulus seleksi di Aceh. Mereka datang menggunakan bus. Kedua orangtuanya tentu saja kaget, melihat kedatangan Sulaiman dengan teman-temannya dari Kota Raja Bada Aceh itu.

Sebelumnya, Sulaiman memang tak pernah bercerita kepada kedua orangtuanya jika ia telah lulus ujian awal masuk Akabri. “Tahu-tahu ia datang dan minta disiapkan peralatan yang perlu dibawa, seperti piring, sendok, tikar dan bantal. “Sangat mendadak, ia datang sekitar jam 12 siang dan langsung pamit menuju Bandung,” kenang ibunda Sulaiman.

Selain mengambil barang-barang untuk keperluan sehari-hari, kepulangan Sulaiman itu juga untuk meminta restu kedua orangtuanya. Bahkan semua kawan Sulaiman itu satu per satu meminta restu kedua orangtua Sulaiman. Tentu saja, rasa bangga, haru, sekaligus sedih menyelimuti kalbu Asmah ketika anaknya berpamitan hendak berangkat ke Bandung.

Ia peluk anak kesayangan yang tak pernah pisah darinya itu. Asmah merasa sedih dan berat ditinggal buah hatinya tersebut. Karena ia tahu, pendidikan Akabri sangat berat. Dan sebagai ibu, tentu tak ingin anaknya mengalami hal-hal yang tak diinginkan.

Bahkan saat Sulaiman dan kawan-kawannya sudah hilang dari pandangan, kesedihan dan rasa kehilangan masih menyelimuti hati Asmah. Malamnya, ia menangis hingga pagi. Malah katanya, hampir setiap malam, selama 2 tahun setiap jam 12 malam ia terbangun, menangis dan berdoa untuk anaknya itu.

Awal Pengabdian
Air mata Asmah yang tumpah setiap malam itu tidaklah sia-sia. Sulaiman berhasil menyelesaikan pendidikan Akabri di Magelang, Jawa Tengah dengan tepat waktu. Lulus dari Akabri tahun 1974, Sulaiman masih harus mengikuti sejumlah pelatihan. Selama enam bulan, ia mengukuti Kursus Dasar Kecabangan (Sussascab) Polisi Militer di Cimahi, Jawa Barat.

Di sini, Sulaiman mendapat pendidikan khusus, antara lain memecahkan persoalan-persoalan hukum yang melibatkan aparat keamanan dan sipil. Sulaiman mengaku pendidikan khusus ini memang tidak dipelajarinya ketika pendidikan Akabri. Selepas pendidikan ini, Sulaiman ditempatkan di Komando Daerah Militer (Kodam) Diponegoro, sebagai Intel POM.

Selama bertugas sebagai intel POM, ia mengikuti kursus perwira intelijen tempur (Suspaintelpur). Tentu saja pendidikan ini sangat menambah pengetahuan Sulaiman tentang hal-hal yang berkaitan dengan tugas polisi militer. Bahkan di akhir pendidikannya, ia dinyatakan sebagai peserta terbaik.

Beberapa saat, ia sempat menjadi ajudan Pangdam Diponegoro. Namun, tak lama kemudian, ia ditunjuk sebagai Komandan Corps Polisi Militer (CPM) Sub Detasemen Polisi Militer (Dansubdenpom) di Tegal. Sebagai komandan CPM tugas utamanya menegakkan hukum di tubuh TNI, termasuk jajaran kepolisian karena saat itu polisi belum dipisahkan dari TNI.

Itulah awal karier Sulaiman di POM. Pangkatnya lalu naik menjadi kapten. Sebagai komandan Subdenpom kala itu, Sulaiman berhasil menangani banyak kasus. Di antaranya adalah kasus perampokan yang dilakukan oleh oknum anggota TNI. Kemudian kasus jual-beli senjata yang melibatkan oknum TNI AD, TNI Angkatan Laut dan polisi, kasus pemalsuan emas dan lain-lain. Kasus-kasus yang berhasil ditanganinya itu juga sekaligus memberinya pengalaman ketika mengawali kariernya dari bawah.

Bahkan di kota Tegal ini pula, ia menemukan jodoh, Iman Handayananingrum, gadis kelahiran Slawi putri pasangan R. Soedarwo Setjaprawiro dan RA Siti Chatijah, mantan Wedana di Jawa Tengah. Pada tahun 1982, keduanya menikah. Dari perkawinannya itu Sulaiman mendapatkan sepasang putra-putri, Kartika Candra Arini yang lahir di Tegal, 25 November 1982 dan Khairul Basyar yang lahir di Pontianak, 30 Desember 1984. Dari putri pertamanya Kartika Candra Arini, Sulaiman telah mendapat cucu laki-laki Fazle Mawla Razan.

Pada tahun 1984, Sulaiman mengikuti Kursus Lanjutan Perwira (Suslapa) POM di Cimahi. Ini merupakan sekolah lanjutan perwira pertama, yang berpangkat letnan atau kapten, yang dipersiapkan untuk menjadi perwira menengah (pamen). Pendidikan ini diikutinya selama delapan bulan. Pada pendidikan ini, Sulaiman masuk dalam sepuluh besar peserta terbaik Suslapa. Ia menduduki rangking empat.

Selesai mengikuti pendidikan itu, Sulaiman kemudian ditugaskan ke Pontianak. Ia ditunjuk sebagai Kepala Biro Pemeliharaan Tata Tertib (Haro Tatib) Pomdam XII Tanjungpura. Namun, pada 1986 terjadi reorganisasi komando daerah militer (Kodam). Jumlah kodam diciutkan. Kodam XII Tanjungpura pun dilikuidasi menjadi Komando Resort Militer (Korem) 121 ABW (Alam Bana Wanawae). Tentu saja likuidasi ini berdampak pula pada organisasi Pomdam.

Pomdam lalu berubah menjadi Detasemen Polisi Militer (Denpom) yang dipimpin oleh Letnan Kolonel. Karena ketika itu Sulaiman berpangkat mayor, maka secara otomatis ia menjabat sebagai Wakil Komandan Denpom. Di sela-sela tugasnya sebagai Denpom itu Sulaiman masih sempat menimba ilmu kembali. Kehausan akan ilmu pengetahuan ia rasakan karena dinamika sosial terus berubah. Apalagi tugas-tugasnya berhubungan erat dengan berbagai macam pribadi manusia dan perkembangan masyarakat.

Maka, ia kemudian memilih kuliah lagi di Fakultas Ilmu Sosial Politik (Fisip) Universitas Tanjungpura, Pontianak. Ia beruntung, saat itu ada ketentuan bahwa lulusan Akabri bisa kuliah lagi untuk mengambil jenjang sarjana dan hanya dengan menambah 84 sks. Akhirnya gelar sarjana Fisip itu diraihnya hanya dengan waktu dua tahun.

Karier Semakin Gemilang
Karier Sulaiman yang terus diikuti dengan tambahan-tambahan ilmunya melalui pendidikan dan pelatihan-pelatihan, terus meningkat, sesuai dengan pangkat yang dimilikinya. Pada 1987, Pangdan VI Tanjungpura Mayor Jendral Faisal Tanjung menugaskan Sulaiman sebagai Kepala Indonesia Liaison Officer (Ka Ilo). Yaitu perwira penghubung antara Pangdam VI dan Panglima Wilayah 2 Malaysia Timur, di Kuching. Penugasan ini antara lain berkaitan dengan adanya kerjasama antara kedua wilayah perbatasan Malaysia – Indonesia.

Awalnya Sulaiman merasa terkejut mendapat penugasan ini. Sebab sebelumnya, biasanya jabatan ini diberikan kepada satuan tempur infantri, bukan POM. Apalagi ia merasa tidak memiliki pengalaman dalam hal yang berkaitan dengan tugas semacam ini. Namun barangkali Mayjen Faisal Tanjung memiliki penilaian khusus pada Sulaiman sehingga yakin, putra Aceh ini akan bisa melaksanakan tugasnya dengan baik.

Tugasnya sebagai Liaison Officer ini banyak memberi pengalaman bagi Sulaiman. Tidak saja ia bisa mengenal budaya dan adat istiadat negara tetangga Malaysia, tapi juga menjadikannya dekat dan akrab dengan Panglima Wilayah II Malaysia.

Empat tahun ia memegang jabatan sebagai Liaison Officer ini. Kemudian pada tahun 1991, ia kembali ke Pontianak dan ditunjuk sebagai Komandan Denpom. Kemudian, ia harus ke Bandung untuk mengikuti pendidikan di Seskoad (Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat). Ini adalah sekolah untuk perwira menengah dan merupakan pendidikan tertinggi di TNI AD. Tak mudah untuk masuk pendidikan ini. Sulaiman harus beberapa kali mengikuti tes. Setelah tiga kali, ia baru berhasil.

Pendidikan di Seskoad berlangsung selama 11 bulan. Setelah lulus Seskoad, Sulaiman kemudian ditempatkan di Jawa Timur. Di sana ia menjabat sebagai Komandan Denpom Kodam V Brawijaya. Jabatan itu dipegangnya selama dua tahun. Kemudian ia diangkat sebagai Wakil Komandan Pomdan Brawijaya. Jabatan ini dipegangnya selama setahun. Lalu pada 1995, ia diangkat sebagai Komandan Pomdam VIII Trikora di Jayapura. Seiring dengan jabatan barunya itu, pangkat Sulaiman naik menjadi kolonel.

Setahun kemudian, November 1996 bapak dua anak ini, dipindahkan kembali ke Balikpapan. Hanya kali ini, jabatan yang dipegangnya sudah lain. Jika dulu ia menjabat sebagai Dandenpom khusus untuk wilayah Kalimantan Barat, kini sebagai Danpomdam lingkup tugasnya meliputi seluruh wilayah Kalimantan. Saat bertugas di Balikpapan, Sulaiman berhasil meraih gelar Sarjana Hukum dari Universitas Balikpapan. Selama bertugas di Kalimantan, banyak kasus yang ditanganinya. Selain kasus pencurian kayu besar-besaran, juga kasus bentrokan antar etnis Dayak dan Madura.

Pada 1999, Sulaiman ditarik ke Jakarta. Ia meninggalkan bumi Kalimantan dengan senang dan bangga. Senang karena ia dipromosikan pada jabatan yang lebih tinggi, bangga karena ia telah berhasil menyelesaikan dan melakukan semua tugasnya dengan baik. Kembali ke Jakarta, ia diangkat sebagai Sekretaris Pusat Polisi Militer (Puspom). Pangkatnya ketika itu masih kolonel. Sebagai sekretaris tugasnya adalah membantu Komandan Puspom, ketika itu Mayor Jenderal Syamsu Djalal.

Ia tak merasa kesulitan dengan tugasnnya itu. Bersama Danpuspom, ia kerap berdiskusi hal-hal yang berkaitan dengan tugas dan persoalan lain yang harus diselesaikan oleh Puspom. Semua pekerjaan dan tanggungjawab yang diberikan kepadanya diselesaikan sebaik mungkin dan tepat waktu.

Saat menjabat sebagai Sekretaris Puspom, Sulaiman mendapat kesempatan untuk mengikuti pendidikan di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas). Lemhanas adalah lembaga pendidikan yang dibentuk untuk menggodok para calon pemimpin nasional. Tak mudah untuk mengikuti pendidikan ini. Salah satu kriteria pesertanya adalah mereka yang sudah diperkirakan kariernya akan naik dan menjadi pemimpin di instansi atau lembaganya, baik sipil maupun militer. Sulaiman masuk Kursus Regular Angkatan ke-32.

Pendidikan di Lemhanas memakan waktu sekitar 11 bulan. Setelah lulus, ia kembali ke Puspom. Namun jabatan sekretaris telah digantikan orang lain. Sehingga selama enam bulan, Sulaiman tidak memgang jabatan apa pun. Namun, sehari-hari ia tetap membantu tugas-tugas Danpuspom.

Hingga pada pertengahan Agustus 2000, Sulaiman mendapat tugas baru. Ia diminta menjadi staf ahli Kepala Staf Angkatan Darat Bidang Hukum yang ketika itu dijabat Jendral TNI Endriartono Sutarto. Maka sejak saat itu ia berkantor di Markas Besar Angkatan Darat, di Jl. Merdeka Timur, Jakarta.

Tugas Sulaiman terutama memberi masukan dari sudut hukum kepada Kasad melalui Korsahli Kasad. Masukan-masukan dari sisi hukum itu sangat luas. Tak hanya meliputi masalah internal TNI, tapi juga berkaitan dengan masalah nasional. Sebagai staf ahli, Sulaiman juga kerap mendampingi Kasad ke mana-mana. Karena itu pula, masukan-masukan bidang hukum yang diberikan Sulaiman kadang tak harus disampaikan secara formal dalam sebuah rapat pertemuan, tapi ada kalanya juga di lapangan, saat ia bersama Kasad mengunjungi suatu daerah.

Tim Perunding di Aceh
Sebagai Staf Ahli Kasad Bidang Hukum, Sulaiman mendapat tugas khusus. Di pertengahan Mei 2000, ia diangkat sebagai anggota tim perunding antara Pemerintah RI dan Gerakan Aceh Merdeka. Surat pengangkatannya itu ditandatangani oleh Menko Polkam yang saat itu dijabat oleh Jendral TNI (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono.

Kala itu, pertikaian antara Pemerintah RI dengan GAM memasuki babak baru. Presiden Abdurrahman Wahid memutuskan memakai pihak ketiga untuk melakukan perundingan damai, yang tujuannya untuk meredakan ketegangan antara pemerintah RI dan GAM. Sehingga perdamaian dan ketentraman di Aceh yang sudah puluhan tahun bergolak bisa terwujud.

Gus Dur kala itu menunjuk sebuah lembaga swadaya masyarakat Henry Dunant Center yang bertempat di Swiss, sebagai fasilitator perundingan. Gus Dur berharap, dengan memakai pihak ketiga, sebuah lembaga internasional yang netral dan independen, permasalahan Aceh yang telah berlarut-larut ini dapat selesai dengan baik.

Dari Indonesia sebagai wakil pimpinan perundingan adalah Dirjen Hubungan Luar Negeri, Departemen Luar Negeri Hassan Wirayuda. Sedangkan dari pihak GAM adalah dr. Zaini Abdullah. Dan Tim perunding dari Indonesia di bawah koordinasi Menko Polkam. Hingga akhirnya ditandatangai kesepakatan bersama tentang suatu kesepahaman yang dikenal dengan jeda kemanusiaan antara Pemerintah RI dan GAM, di kota Geneva, Swiss. Salah satu isi butir kesepakatan itu adalah dibentuknya Komite Bersama Modalitas Keamanan (KBMK) dan Komite Bersama Aksi Kemanusiaan (KBAK).

Sulaiman duduk dalam Komite Bersama Modalitas Keamanan (KBMK). Berbeda dengan KBAK yang wakil-wakilnya dari Indonesia berasal dari kalangan sipil, maka wakil Indonesia di KBMK semuanya adalah perwira-perwira TNI dan Polisi yang semuanya putra Aceh. Mereka selain Sulaiman, Kolonel Teuku Johan Basyar (TNI Angkatan Udara), Kolonel Madani (TNI Angakatn Laut), Komisaris Besar (Polisi) Ridwan Karim (alm) dan Komisaris Besar Rismawan.

Usai bertugas di Aceh sebagai anggota tim perunding, Sulaiman kembali ke Jakarta. Kali ini ia tak lagi menjadi staf ahli Kepala Staf Angkatan Darat, tapi ditugaskan sebagai Kepala Sub Direktorat Pembinaan Peserta Lemhanas. Kemudia,n ia ditunjuk sebagai widyaiswara yang bertugas sebagai dosen di Lemhanas. Saat itu pangkatnya naik dari kolonel menjadi brigadir jendral.

Hanya tujuh bulan setelah menyandang pangkat brigjen, ia mendapat tugas dari Kasad sebagai Komandan Pusat Polisi Militer (Danpuspom) menggantikan Mayor Jendral Djasri Marin, SH. Pelantikan Sulaiman sebagai Danpuspom dilaksanakan pada 14 Maret 2002 di Markas Pusat Polisi Militer di Jl. Medan Merdeka Timur No.17 Jakarta, dipimpin oleh Kepala Staf Angkatan Darat Jendral TNI Endriartono Sutarto. Pelantikan sebagai Danpuspom ini juga diiringi kenaikan pangkat Sulaiman menjadi Mayor Jendral.

Bagi sejumlah orang di lingkungan TNI Angkatan Darat, ditunjuknya Sulaiman sebagai orang nomor satu di jajaran polisi militer itu bukan hal yang mengherankan. Bagi mereka, Sulaiman memang pantas menduduki posisi itu, karena pengalaman dan kepemimpinannya sudah teruji. Namun sebenarnya, Sulaiman ingat sejak menjadi prajurit sesungguhnya ia tidak pernah berambisi menjadi sesuatu. Yang ia kerjakan, seperti pesan Abahnya, adalah mengerjakan sesuatu dengan sepenuh hati, dengan sebaik-baiknya. Jika akhirnya ia mencapai jabatan tertinggi sebagai Danpuspom, sesungguhnya itu adalah buah dari kerja kerasnya. Ya, air mata ibu memang tak pernah tumpah dengan sia-sia.

Dua tahun Sulaiman menduduki posisi puncak pada jajaran polisi militer ini. Pada 5 Agustus 2004, kepemimpinannya sebagai Danpuspom digantikan oleh Mayor Jendral Ruchjan. Kini, Sulaiman kembali sebagai orang sipil. Ia kini menjabat sebagai Presiden Komisaris PT Bank Century, Tbk.

Namun, ia sadar masih banyak tugas yang belum ia selesaikan. Ia ingin terus mengabdikan dirinya untuk bangsa ini. Ia juga ingin terus mengabdikan dirinya untuk tanah kelahirannya, Aceh. Sebagai orang sipil, ia kini memiliki kebebasan dan waktu yang lebih banyak untuk mendarmabaktikan hidupnya membangun Aceh.  ►e-ti/anna, dari hasil wawancara dan petikan buku Biografi Mayjen TNI (Purn) Sulaiman AB.


*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)