| |
C © updated 22042004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti |
|
| |
Nama:
Sukmawati Sukarno
Nama Lengkap:
Diah Mutiara Sukmawati Sukarnoputri
Lahir:
Jakarta, 26 Oktober 1951
Agama:
Islam
Suami:
Muhammad Hilmy
Anak:
Tiga (3) orang
Pekerjaan:
Politisi, Artis, Swasta
Pendidikan:
1. Sekolah Rakyat (SR), tamat tahun 1964, di Perguruan Cikini, Jakarta
2. SMP, tamat tahun 1967, di Perguruan Cikini, Jakarta
3. SMA, tamat tahun 1969, di SMA Negeri 3 Teladan, Jakarta
4. Akademi Tari, di LPKJ, Jakarta, tahun 1970-1974
5. Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional (HI), Fakultas Ilmu Sosial dan
Politik (Fisip), Universitas Bung Karno (UBK), Jakarta, sejak tahun 2003
sampai sekarang
Organisasi:
1. Anggota Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia (GMNI), tahun 1970
2. Ketua Ormas Gerakan Rakyat Marhaen (GRM), tahun 1991-1998
3. Ketua Partai Nasional Indonesia (PNI), tahun 1991-1998
4. Ketua Umum Partai Nasionalis Indonesia Marhaenisme, tahun 2003-2005
Pengalaman Kerja:
1. Poitisi
2. Artis dan Penulis Cerita Film
3. Komisaris Utama Perusahaan
Alamat:
JL.Cikoko No.15 Jakarta Selatan, Telp: (021) 7981241, Fax: (021)
7900489.
|
|
| |
|
|
|
|
Sukmawati Sukarnoputri
Kaum Nasionalis, Bersatulah!
Sukmawati tampak lebih kental sebagai anak ideologis Bung Karno. Partai
yang didirikan dan dipimpin-nya diberi nama Partai Nasional
Indonesia (PNI) Marhaenisme, dideklarasi-kan 20 Mei 2002.
PNI Marhaenisme, kata Sukmawati, merupakan kelanjutan dari PNI yang didirikan oleh ayahnya Bung Karno, Bapak Marhaenisme,
Presiden RI pertama, Bapak Bangsa Indonesia,
Proklamator Kemerdekaan Indonesia, bersama kawan-kawannya pada 4 Juli 1927
jauh sebelum Indonesia merdeka.
PNI Marhaenisme menetapkan “Marhaenisme
Ajaran Bung Karno” sebagai asas partai.
Sejarah membuktikan PNI semenjak didirikan merupakan partai sejati, partai
progresif revolusioner, anti kapitalisme, anti imperialisme, dan anti
kolonialisme. Partai itu berjuang untuk kejayaan rakyat, bangsa, dan
negara Republik Indonesia. Selama 32 tahun rezim Orde Baru berkuasa,
dengan segala cara, telah terjadi de-Sukarnoisasi termasuk melumpuhkan
Partai Nasional Indonesia. Untuk itulah Sukmawati hadir mengaktualkan
kembali relevansi paham marhaenisme agar menjadi bagian dari kehidupan
sehari-hari bangsa baik dalam ucapan maupun perbuatan lewat pendirian
partai PNI Marhaenisme. Karena kedekatan konsep, visi, perjuangan, pemikiran, sesama nasionalis,
pengagum Bung Karno, PNI Marhaenisme turut memajukan Siswono Yudo Husodo
sebagai calon presiden.
Siswono dianggap layak dan ideal sebagai seorang nasionalis
marhaenis yang punya pemikiran progresif, revolusioner, dan radikal untuk
membangun negara sesuai cita-cita luhur pendiri bangsa.
PNI Marhaenisme, kata Sukmawati, merupakan kelanjutan dari Partai Nasional
Indonesia (PNI) yang didirikan oleh ayahnya Bung Karno, Bapak Marhaenisme,
Presiden Republik Indonesia pertama,
Diah Mutiara Sukmawati Sukarnoputri lahir di Jakarta, 26 Oktober 1951.
Bersuamikan Muhammad Hilmy, dia dikaruniai tiga orang anak yang sudah
beranjak dewasa. Sehari-hari Sukmawati bergelut sebagai politisi, artis,
dan pengusaha swasta. Sebagai ketua umum partai dia aktif berpolitik.
Sebagai artis dia antara lain menulis cerita film, menulis puisi, dan
menulis atau menyadur buku-buku. Tahun 2003 dia sukses meluncurkan buku
Sarinah saduran dari karangan ayahnya sendiri Bung Karno. Buku itu berisi
pokok-pokok perjuangan perempuan Indonesia sepanjang perjalanan bangsa.
Setiap diskusi, seminar, atau pertemuan yang membahas hak-hak politik dan
budaya berikut peranan wanita Indonesia dalam berbangsa dan bernegara,
Sukmawati kerapkali mengintrodusir buku sadurannya itu. Sukmawati juga
tercatat sebagai komisaris utama di sejumlah perusahaan swasta.
Putri bungsu Bung Karno ini menyelesaikan pendidikan Sekolah Rakyat (SR)
tahun 1964 di Perguruan Cikini, Jakarta, dan pendidian SMP tahun 1967 di
tempat sama. Pendidikan SMA diselesaikan tahun 1969 di SMA Negeri 3
Teladan, Jakarta. Setahun kemudian, antara 1970 hingga 1974 Sukmawati
memasuki Akademi Tari di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ). Masa
mahasiswa di LPKJ dia manfaatkan belajar berpolitik di sebuah ormas
mahasiswa ekstra universiter Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI),
tempat sama dimana Siswono Yudo Husodo dahulu berkiprah di tingkat
Komisariat ITB Bandung. Belakangan, walau usia sudah berkepala lima sejak
tahun 2003 lalu nama Sukmawati mulai tercatat sebagai mahasiswa
Universitas Bung Karno, Jakarta, mengambil jurusan Hubungan Internasional
(HI) pada Fakultas Ilmu Sosial dan Politik.
Sukmawati mulai meleburkan diri ke dunia politik praktis tatkala tampil
sebagai Ketua Organisasi Kemasyarakatan Gerakan Rakyat Marhaen (GRM),
tahun 1991 hingga 1998. Bersamaan waktunya Sukmawati juga menjadi Ketua
PNI (Partai Nasional Indonesia) walau tak berkesempatan menjadi peserta
pemilu.
Kedekatan sebagai sesama alumni GMNI dengan Siswono Yudo Husodo telah
mendorong kedekatan politis antara PNI Marhaenisme pimpinan Sukmawati.
Bersama partai PSI dan PPDI, PNI Marhaenisme final menetapkan nama Siswono
sebagai calon presiden Pemilu 2004. Sugiono dan I Made Sunarkha, dua orang
Ketua PNI Marhaenisme, menyebutkan, nama Siswono sudah positif menjadi
calon presiden PNI Marahaenisme.
“Pak Sis cukup ideal, dia banyak pengalaman. Kami masih kommit Pak Sis
sebagai leader. Karena dipandang dari berbagai sudut perjuangannya, dia
adalah seorang leader nasionalis yang marhaenis,” kata Sugiono. PNI secara
keseluruhan sangat, sangat mendukung Siswono. “Siswono, walau pernah dua
kali menjadi menteri kabinet Orde Baru, dia tetap masih sebagai nasionalis
progresif dan radikal.”
I Made Sunarkha melihat Siswono seorang yang ulet, pemikir, pejuang,
mempunyai keinginan yang keras, dan berobsesi menjadi orang pertama di
Indonesia dari kelompok independen. Kekerasan hati Siswono membangun
bangsa tampak dari keinginannya mengunjungi seluruh Indonesia terlebih
semenjak terpilih menjadi Ketua Umum HKTI. Dengan Siswono, Made Sunarkha
menyebutkan, “Kami mempunyai konsep dan visi sama yang kuat sekali, yakni
mempertahankan, menegakkan, dan mengisi Pancasila, UUD 45, dan
Negara Kesatuan republik Indonesia (NKRI). Itu sudah final.” I Made
Sunarkha menyebutkan orang-orang Siswono dan para pendukung terutama kaum
nasionalis harus bersatu dan bekerja keras memajukan Siswono. ►ht
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|