| |
C © updated 02092007 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/gmniS |
|
| |
Nama:
Sukardi Rinakit
Lahir:
Madiun, 5 Juni 1963
Istri:
Evyte Suhartin
Anak:
Hana Nanyang Rinakit
Pendidikan:
- S-1 Fisip Universitas Indonesia
- 2. S-2 South East Asia Studies-National University of Singapore
- S-3 Political Science, National University of Singapore
Pekerjaan:
- Direktur Eksekutif Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS)
- Peneliti, pembicara, dan penulis di berbagai lembaga dan media
nasional maupun internasional.
Karya:
- The Indonesian Military After the New Order (Copenhagen,
Singapore, 2004)
|
|
| |
|
|
|
|
| SUKARDI RINAKIT HOME |
|
|
 |
Sukardi Rinakit
Pimpinan Soegeng Sarjadi Syndicate
Sukardi Rinakit, Direktur Eksekutif Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS)
seorang peneliti, pembicara, dan penulis di berbagai lembaga dan media
nasional maupun internasional. Lulusan S-1 Fisip Universitas Indonesia
dan S-3 Political Science, National University of Singapore, ini lahir
di Madiun, 5 Juni 1963. Suami dari Evyte Suhartin dan ayah dari Hana
Nanyang Rinakit antara lain menulis The Indonesian Military After the
New Order (Copenhagen, Singapore, 2004).
***
Keangkuhan Kekuasaan
Desain besar politik Indonesia ke depan kini dirumuskan lewat revisi
paket RUU Politik. Akankah revisi itu menghasilkan mekanisme politik
nasional yang konstruktif ataukah sebatas memproduksi regulasi yang
menguntungkan elite politik tertentu?
Berikut wawancara santai Direktur Eksekutif Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS)
Sukardi Rinakit dengan Ahmad Khoirul Umam dari Jawa Pos.
Relevankah tuntutan penguatan sistem presidensial dengan merasionalkan
jumlah partai dan fraksi di Senayan?
Langkah itu bergantung pada filosofi dasar konstitusi kita. Filosofi
dasar UUD 1945 sebelum amandemen menggunakan asas kekeluargaan dan
gotong royong. Dengan begitu, dalam sistem kepartaian, boleh diatur
mekanisme threshold, sistem deposit, pendirian badan usaha partai,
larangan calon independen, dan partai lokal. Tapi, produk amandemen UUD
1945 sebanyak empat kali itu mengarahkan kita menjadi liberal dan
mengikuti mekanisme pasar. Semua itu memiliki implikasi politik yang
besar. Logikanya, jika asasnya liberal, sistem politik seharusnya
mengikuti pola Amerika. Yakni, semua bebas, tidak perlu ada threshold,
sistem deposit, dan lainnya.
Lalu, seperti apa corak konstitusi kita sebenarnya?
Corak negara ini acak-acakan dan tidak karuan. Sistem konstitusi kita
yang baru menghendaki individualisme-kapitalisme, tapi masih ingin
mengatur banyak hal. Cara berpikir negara ini tidak lateral. Dalam
sistem politik liberal, yang diperbolehkan hanya pemimpin atau figur
yang memiliki otoritas moral untuk menyerukan koalisi antarpartai secara
sistemik. Itu pernah dilakukan Thomas Jafferson yang menyerukan bahwa
Amerika hanya memerlukan dua partai. Muncullah dua kutub besar yang
mewadahi beragam partai yang satu platform, yakni konservatif dan
demokrat. Dua kutub itu menjadi wadah afiliasi 27 partai yang saat ini
ada di sana.
Lalu, apa yang diperlukan untuk memperbaiki sistem kepartaian nasional?
Terpenting, ada mekanisme dialog yang dilakukan partai besar untuk
menggandeng partai kecil menjadi koalisi. Caranya, partai besar harus
membuat platform yang jelas sebagai magnet politik. Siapa yang setuju
ide konservatif? Siapa yang secara ekonomi setuju menggunakan sistem
kapitalisme-liberal? Jika Partai Golkar, misalnya, mengarah ke corak itu,
Golkar bisa merayu partai-partai kecil untuk bergabung. Demikian pula,
jika PDIP lebih sepakat menggunakan sistem pasar sosial terbuka atau
sistem pasar sosial-demokrat (terminologi Jerman, Red), ia bisa
menggandeng partai lain yang searah. Mungkin ada pula partai yang lebih
sepakat mengangkat model islami. Karena prinsip dasar demokrasi adalah
proporsional, tidak dibenarkan jika muncul aturan yang membatasi
pendirian partai.
Dalam ruang teknis, apa persoalan paling mendasar dalam sistem Pemilu
2004?
Selain soal sistem daftar calon setengah terbuka, yang menjadi persoalan
utama Pemilu 2004 adalah besarnya daerah pemilihan yang belum merata.
Wilayah yang penduduknya banyak, dapil (daerah pemilihan)-nya juga
banyak. Demikian pula sebaliknya. Akibatnya, terjadi ketidakadilan
distribusi kursi. Sejumlah partai dirugikan. Misalnya, PDIP di Papua
Barat yang seharusnya menang, tapi suaranya akhirnya masuk ke PDS. Lalu
soal magnitude dapil, terutama tentang ketidakseimbangan daerah
pemilihan antara Jawa dan luar Jawa. Yang dirugikan dalam soal ini
adalah PKB. Sebagai juara tiga Pemilu 2004 dengan perolehan suara 11,9
juta, PKB hanya mendapatkan 52 kursi di parlemen. Itu disebabkan
konstituennya terkonsentrasi di Jawa, sedangkan harga kursi Jawa relatif
tinggi. Yakni, mencapai 425 ribu per kursi, sementara harga kursi luar
Jawa hanya 325 ribu atau bahkan kurang.
Jika benar konstitusi kita menggunakan asas demokrasi kekeluargaan,
perlu membatasi partai dengan threshold?
Pada dasarnya, penguatan sistem presidensial itu perlu. Tapi, tidak
perlu dengan menyederhanakan partai melalui peningkatan angka threshold,
penerapan sistem deposit, dan lainnya. Desakan partai besar untuk
meningkatkan threshold itu bukan manifestasi keserakahan. Tetapi, hanya
kekhawatiran akan tercurinya suara mereka oleh partai-partai baru.
Sampai sedemikian mengkhawatirkankah kehadiran partai baru itu bagi
partai besar?
Benar, magnitude politik kita adalah angka. Kita sering menilai
persoalan itu berdasar angka. Jadi, perasaan kebanggaan semu karena
angka-angka itu begitu menelusup dalam alam bawah sadar kita ketika
berpolitik dan berdemokrasi. Buktinya, demonstrasi, kalau tidak diikuti
10 ribu orang, dinilai tidak berarti. Padahal, 50 orang saja, kalau
esensinya berisi, itu lebih penting. Magnitude angka tersebut dominan.
Akibatnya, angka statistik lebih menjadi ukuran utama ketimbang esensi
dan kualitas.
Misalnya, saat Presiden SBY tidak datang ke interpelasi, muncul suara
bahwa itu dilakukan karena merasa sudah didukung 63 persen rakyat. Jadi,
ada semacam paham keangkuhan dalam ranah kekuasaan yang didasarkan pada
angka-angka semu itu. Intinya, partai-partai besar takut suaranya
tergerogoti, baik terjadi dalam skala besar maupun kecil. Untuk
menghadapi itu, partai kecil harus berkoalisi. Sebab, ini adalah
permainan politik parlemen.
Bergeser ke soal pilpres. Dengan meningkatkan threshold dalam pilpres
hingga 30 persen, sistem rekrutmen kepemimpinan bangsa bisa kian membaik?
Untuk Pilpres 2009, threshold 15 persen itu masih layak dipertahankan.
Tiga sampai empat pasangan tersebut sudah ideal. Yang perlu diperbaiki
adalah memperjelas identitas platform para pasangan capres dan partai
yang mengusulkan. Secara general, platform itu hendaknya
memanifestasikan tujuan proklamasi yang kemudian diformulasi secara
rinci dalam format teknis kebijakan. Misalnya, tujuan negara melindungi
segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia. Oleh PDIP, misalnya, tujuan
itu dijabarkan ke dalam komitmen memperkuat persenjataan militer. Lalu,
tujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat diwujudkan dalam rencana
kebijakan penggunaan 60 persen pajak untuk pendidikan atau pemberdayaan
ekonomi kerakyatan. Partai Golkar, misalnya, bisa berkomitmen 70 persen
pajak akan diarahkan untuk kesehatan rakyat dan pembukaan investasi.
Lalu PKS, 60 persen pajak untuk membangun masjid, misalnya. Semua itu
harus dijabarkan. Contoh lagi untuk tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa,
Golkar, misalnya, berani menargetkan alokasi 20 persen dana pendidikan
setelah dua tahun memerintah dan lainnya. Jadi, mekanisme kontrol
masyarakat kian jelas dan ideologi partai juga semakin terbuka.
Jika dianalisis dan dikalkulasi, siapa figur capres alternatif 2009?
Kalau calon empat orang, yakni SBY, Wiranto, Megawati, dan Sultan
Jogjakarta, yang menang Sultan. Sebab, figur selain Sultan itu sudah
memiliki catatan nasional bahwa pemerintahan yang dipimpinnya tidak
hebat. Sultan yang belum punya catatan nasional akan mudah sekali
dimanuverkan untuk memperoleh tingkat akseptabilitas tinggi. Apalagi 61
persen pemilih dari Jawa. Hasil polling 2003, saat itu Sultan nomor satu,
Nurcholis Madjid nomor dua, SBY di posisi ketiga, dan Megawati di posisi
keempat. Akhirnya, terbukti bahwa SBY menang setelah Sultan dan Cak Nur
tak maju. Jika di 2009 Sultan bersedia, dia memiliki tingkat
probabilitas kemenangan yang tinggi. Dalam survei terakhir, di Jakarta
saja Sultan masih berada di nomor satu. Ruang manuver itu kian besar
kalau diperkuat luar Jawa. Tapi, kalau tidak ada partai yang mendukung
Sultan, Wiranto yang menang.
Kenapa demikian?
Kepemimpinan nasional ke depan akan ditentukan karakter pemilih yang
bersifat melodramatik. Artinya, perilaku pemilih itu sangat dipengaruhi
penilaian yang tidak dalam, mengharu biru, dan gampang berubah. Semua
itu disebabkan oleh rendahnya pendidikan rakyat. Sebanyak 60 persen
pemilih adalah lulusan SD ke bawah. Jika standar dinaikkan menjadi SMP,
angka tersebut menyentuh 80 persen. Jadi, para sarjana tidak menggunakan
hak pilihnya juga tidak apa-apa karena jumlah mereka hanya 4 persen.
Bukti dari karakter melodramatik tersebut ditunjukkan pengalaman, saat
Presiden Megawati selalu saja diam, rakyat akan mencari figur yang
banyak bicara. Terpilihlah SBY. Lalu kini SBY terbukti tidak tegas,
kesadaran pemilih akan sangat rasional untuk bergeser ke figur yang
tegas. Di sini, figur seperti Sultan dianggap manifestasi ketegasan
dengan legitimasi sabdo pandito ratu. Jika ketegasan itu menjadi kata
kunci bagi prospek kepemimpinan ke depan, Sultan dan Wiranto akan
berpeluang.
***
Terjebak Rutinitas Selebriti
Ketenaran tidak selamanya membuat seseorang merasa nyaman. Ada kalanya,
popularitas menimbulkan rasa jenuh.
Situasi psikologis itu kini tengah dirasakan Direktur Eksekutif Soegeng
Sarjadi Syndicate (SSS) Sukardi Rinakit. Kepada Jawa Pos, Rinakit
mengaku akan menyepi sejenak hingga menjelang pemilu presiden (pilpres)
pada 2009. "Ini mungkin wawancara terakhir, dua hingga tiga tahun ke
depan, saya ingin hening sejenak," kata pengamat politik yang dekat
dengan elite militer nasional itu.
Selama ini, hari-hari Rinakit dihabiskan untuk menjadi pembicara di
berbagai forum seminar, diskusi, wawancara TV, radio, mengerjakan proyek
penelitian, atau sekadar menulis di media, baik media nasional maupun
internasional.
Setiap tulisannya muncul di surat kabar, bisa dipastikan akan datang
seratus hingga dua ratus SMS (short message service) ke hand phone-nya (umumnya
berisi pujian). Pengirim itu dari berbagai kalangan, mulai para jenderal,
anggota DPR-DPRD, hingga para menteri dan mantan menteri.
"Tapi, semua itu membuat saya kering, saya merasa mengalami pendangkalan
intelektual karena harus terjebak dalam rutinitas seperti selebriti itu,"
katanya.
Pria kelahiran Madiun, 5 Juni 1963, itu mengaku yakin untuk meninggalkan
kehebatan-kehebatan semu itu. "Saat ingin memantapkan spiritnya, dulu
para rasul juga menyepi, seperti (Nabi Muhammad SAW, Red) di Gua Khiro’,"
katanya.
Selama dua hingga tiga tahun itu, Rinakit mengaku tidak akan muncul di
media, tak akan mengisi seminar, dan rutinitas lainnya. "Saya hanya
ingin diam, banyak membaca, merenungkan langkah selama ini, untuk
kembali menyusun kekuatan diri hingga menjelang Pilpres 2009," katanya.
Rinakit mengaku telah tergagap-gagap untuk mengikuti perkembangan
teori-teori besar mutakhir.
Kendati demikian, keinginan Rinakit itu ditentang Soegeng Sarjadi karena
terkait kelangsungan lembaga Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) yang
dipimpinnya. "Saya lagi negosiasi, yang pasti, saya butuh nepi (menyepi,
Red)," kata alumnus Political Science, National University of Singapore
itu.
Lalu, apa yang akan Rinakit lakukan saat kemunculannya pada 2009 nanti?
Dia belum bisa menjelaskan. Banyak hal yang harus direnungkan, termasuk
apakah dirinya akan terjun di dunia politik praktis atau tidak.
Rinakit mengaku, hingga saat ini sebuah partai baru yang diperhitungkan
bisa menjadi partai besar pada Pemilu 2009 menunda kongresnya hanya
untuk menunggu jawaban atas pinangan supaya dirinya bersedia menjadi
Sekjen DPP partai itu.
Kendati demikian, ujar satu-satunya pengamat politik nasional yang bisa
dekat dengan mantan Presiden Soeharto itu, dirinya saat ini memang
tengah dihantui dua perkataan orang-orang terdekatnya. "Ibu saya
mengatakan, arep kowe ngomong opo wae le, yo tetep gak iso ngubah
opo-opo (kamu mau bicara apa saja Nak, tetap saja tidak bisa mengubah
apa pun, Red)," katanya.
Nasihat kedua datang dari Soegeng Sarjadi. "Mas Soegeng juga mengatakan,
sehebat apa pun yang saya lakukan tanpa kekuasaan, radiusnya hanya
seratus meter untuk bisa berbuat kebaikan," katanya.
Misalnya, menyekolahkan tetangga yang tak bisa sekolah, mencarikan kerja
tetangga yang pengangguran. Tapi, dengan skala terbatas.
"Tapi, kalau berkuasa, radiusnya nasional. Jadi, apakah saya harus
terjun ke politik atau tidak, usaha menyepi ini akan menjadi jalan untuk
mencari jawaban itu," jelasnya.
Yang pasti, ujar Rinakit, dirinya hanya ingin mewujudkan cita-cita
sederhananya yang sederhana namun berat dilaksanakan. "Saya ingin rakyat
Indonesia mesem (tersenyum, Red) atau syukur bisa gemuyu (tertawa,
Red)," katanya. (aku)
(Indopos, Minggu, 29 Juli 2007)
|
|