| |
C © updated 21102005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/larry pileggi |
|
| |
Nama:
Sukanto Tanoto
Nama Asli:
Tan Kang Hoo
Lahir:
Belawan, 25 Desember 1949
Agama:
Budha
Isteri:
Tinah Bingei Tanoto
Anak:
Empat orang
Pendidikan:
- SD di Belawan (1960)
- SMP di Medan (1963)
- SMA di Medan (1966)
- Indonesia Executive Management Program, Insead, Prancis (1980)
- Harvard Business School, AS (1982)
- Wharton Fellows Program (2001)
Karir:
- Pengusaha Toko Onderdil Mobil di Medan (1968)
- Direktur CV Karya Pelita di Medan (1972)
- Direktur Utama PT Raja Garuda Mas (1973)
- Dirut PT Bina Sarana Papan di Medan (1976)
- Dirut PT Overseas Lumber Indonesia di Medan (1979)
- Dirut PT Gunung Melayu (1980)
- Dirut PT Inti Indosawit Sejati (1980)
- Dirut PT Saudara Sejati Luhur (1985)
- Komisaris Utama PT Inti Indorayon Utama (1983 – sekarang)
- Chairman & CEO Raja Garuda Mas International (sekarang)
Perusahaan di LN:
- National Development Coporation Guthrie di Filipina
- Electro Magnetic di Singapura
- Pabrik Kertas di China
Organisasi:
- Anggota Young Presiden’s Organization (YPO)
- Anggota Mercantile Club
- Anggota Hilton Executive Club
- Anggota Indonesia Financial Executive Association (IFEA)
- Anggota Canadian Pulp & Paper Association (CPPA)
- Anggota World Presidents Organization (WPO)
- Anggota Chief Executive Organization
- Prince of Wales Business Leaders Forum
Hoby:
Dengar Musik Klasik
Alamat Kantor:
Raja Garuda Mas International, 80 Raffles Place #50-01, UOB Plaza 1
Singapore 048624, Telepon +65216-9318, Faksimile: +652221556
|
|
| |
|
|
|
|
| SUKANTO TANOTO HOME |
|
|
 |
Sukanto Tanoto
Raja Sawit dan Pulp
Pria kelahiran Belawan, Sumatera Utara, 25 Desember 1949, bernama asli
Tan Kang Hoo, ini seorang pengusaha yang telah sukses berinvestasi di
lebih 10 negara. Chairman dan CEO PT Raja Garuda Mas International dan
Komisaris Utama PT Inti Indorayon Utama, ini salah satu raja produsen
minyak kelapa sawit dan pulp and paper di dunia.
Dalam kondisi sulit, saat pemerintah mengambil kebijakan menaikkan
harga minyak lebih 100%, Sukanto mengajak semua komponen bangsa bisa
bekerjasama dan fokus pada bidang masing-masing, terutama supaya
lapangan kerja tetap tertangani. Pengusaha tetap fokus pada bidang
usahanya dan pemerintah fakus mengupayakan efisiensi.
Perihal, dia telah lebih sering tinggal di luar negeri, bahkan
membuat markas pusatnya di Singapura, Sukanto mengatakan bahwa hal itu
bukan berarti pihaknya lari ke luar negeri, melainkan berupaya
mengembangkan pasar sampai ke luar negeri.
"Kita ingin buktikan bahwa pengusaha Indonedia tidak hanya jago
kandang yang dapat fasilitas dari pemerintah. Tapi kami juga bisa
menaklukkan dunia, dan kompetitor besar," kata Sutanto (Bisnis
Indonesia, 23 Oktober 2005).
Dia memberi contoh, seperti Jepang. Toyota cari pasar di Indonesia
dengan assembling mobil. Apakah mereka itu lari ke Indonesia? Tidak,
mereka cuma cari pasar di negeri ini.
Jadi, katanya, kalau kita ekspansi ke luar negeri, bukan melarikan
diri, tapi berupaya meraih yang lebih besar lagi dan siap dalam
persaingan.
Apa siapa Sukanto
Sukanto Tanoto mengaku sosoknya mirip ibunya: tegas dan keras. Pernah
suatu ketika Sukanto kecil ngeluyur pergi ke tepi laut. Waktu pulang,
ditanya oleh ibunya, jawabnya mengarang-ngarang, Sukanto kecil dipukuli
pakai rotan. “Saya paling banyak makan rotan,” kenangnya tentang sosok
sang ibu. Tapi, dengan sifat keras dan tegas, termasuk dalam hal
berbisnis, ia bisa menjadi salah seorang pengusaha papan atas Indonesia,
memimpin sejumlah perusahaan di bawah grup Raja Garuda Mas
Internasional.
Sebenarnya, sejak kecil, Sukanto—yang pada usia 12 tahun sudah gemar
membaca apa saja, termasuk buku tentang revolusi Amerika dan Perang
Dunia—bercita-cita jadi dokter. “Kalau dulu saya meneruskan ke fakultas
kedokteran, saya jadi dokter,” ujarnya. Karena obsesi itu, sampai
1973-1974, ia masih senang pakai nama dokter Sukanto.
Tapi, saat baru 18 tahun, ayahnya, Amin Tanoto, sakit stroke. Sulung
dari tujuh bersaudara ini lalu mengambil alih tanggung jawab keluarga:
meneruskan usaha orangtua berjualan minyak, bensin, dan peralatan mobil.
Pekerjaan yang tak asing baginya karena sepulang sekolah ia biasa
membantu orangtuanya sambil membaca buku. Dan, dari situ Sukanto alias
Tan Kang Hoo pertama kali belajar keterampilan bisnis, termasuk menerima
kenyataan dan tidak menyerah dalam keadaan apa pun, serta mencari
solusi.
Pindah dari kota kelahirannya, Belawan, Sumatra Utara, ke Medan, ia juga
berdagang onderdil mobil, lalu mengubah usaha itu menjadi general
contractor & supplier. Suatu ketika, datang Sjam, seorang pejabat
Pertamina dari Aceh. “Waktu itu saya tidak tahu kalau dia pejabat,”
kenang Sukanto. Ditawari kerja sama pekerjaan kontraktor, “Ya, mau-mau
saja, wong saya masih muda,” ujarnya. Tak disia-diakan kesempatan itu,
di Pangkalan Brandan, Sumatra Utara, Sukanto membangun rumah, memasang
AC, pipa, traktor, dan membuat lapangan golf di Prapat. “Itulah
technical school saya,” katanya. Untuk mencari bahan bangunan, ia sampai
pergi Sumbawa, Lampung, pada usia 20 tahun.
Pandai melihat peluang, waktu impor kayu lapis dari Singapura menghilang
di pasaran, di Medan ia mendirikan perusahaan kayu, CV Karya Pelita,
1972. “Negara kita kaya kayu, mengapa kita mengimpor kayu lapis,”
ujarnya. “Saya itu pioner,” katanya. Di saat orang lain belum membuat
kayu lapis, ia memproduksi kayu lapis dan mengubah nama perusahaannya
menjadi PT Raja Garuda Mas (RGM), dengan ia sebagai direktur utama,
1973. Kayu lapis bermerek Polyplex itu diimpor ke berbagai negara
Pasaran Bersama Eropa, Inggris, dan Timur Tengah.
“Strategy competition saya itu satu dua step sebelum orang
mengerjakannya,” ungkapnya. Ketika belum ada orang membuka perkebunan
swasta besar-besaran, walaupun waktu itu sudah ada perkebunan asing, di
Sumatra, Sukanto membuka perkebunan kelapa sawit secara besar-besaran.
“Setelah itu baru kita bikin Indorayon,” tuturnya. PT Inti Indorayon
Utama (IIU) yang bergerak di bidang reforestation menghasilkan pulp,
kertas, dan rayon, serta mampu memasok bibit unggul pohon pembuat pulp
di dalam negeri. Kehadiran IIU sempat ditentang masyarakat dan aktivis
lingkungan hidup. Karena, ditengarai, Danau Toba tercemar berat oleh
limbah pulp. Akibatnya, IIU sempat ditutup.
Tapi, Sukanto memetik hikmahnya: belajar dari kesalahan, agar tidak
mengulangi kesalahan yang sama. “Apa yang saya pelajari dari situ
(Indorayon), lalu saya pakai di Riau,” ujarnya. Di Riau, ia membuka
Hutan Tanaman Industri dan mendirikan pabrik pulp yang konon terbesar di
dunia, PT Riau Pulp. Mulai berdiri 1995, karena krisis, baru jadi pada
2001. Di sekitar pabriknya, bersama lembaga swadaya masyarakat, Sukanto
membuat program community development untuk penduduk setempat. “Saya
tidak kasih ikan, tapi saya ajari mancing, itu yang kita kerjakan,”
tuturnya. Antara lain, program community development: penggemukan sapi,
pembangunan jalan, dan pertanian. “Mimpi saya, kalau saya dapat seratus
pengusaha Riau itu jadi miliader, saya senang,” katanya lagi.
Usaha Sukanto yang lain adalah bank. Ketika United City Bank mengalami
kesulitan keuangan, pada 1986-1987, ia mengambil alih mayoritas sahamnya
dan bangkit dengan nama baru: Unibank. Di Medan, ia pun merambah bidang
properti, dengan membangun Uni Plaza, kemudian Thamrin Plaza. Tidak
hanya dalam negeri, ia melebarkan sayap ke luar negeri, dengan ikut
memiliki perkebunan kelapa sawit National Development Corporation
Guthrie di Mindanao, Filipina, dan electro Magnetic di Singapura, serta
pabrik kertas di Cina (yang kini sudah dijual untuk memperbesar PT Riau
Pulp). Sejak 1997, Sukanto memilih bermukim di Singapura bersama
keluarga dan mengambil kantor pusat di negeri itu. Obsesinya, ingin jadi
pengusaha Indonesia yang bersaing di arena global, minimal di Asia.
Tujuan utamanya, menurut dia, “Bagaimana kita bisa memanfaatkan
keunggulan kita, untuk bersaing, paling tidak di arena Asia.”
Kini, selain bisnis, ia hendak menulis buku tentang bagaimana
entreprenur menghadapi krisis. “Yang mau saya lakukan itu adalah
penelitian bagaimana pengusaha di Eropa itu survive, pada First World
War, Second World War. Bagaimana pengusaha Amerika itu melewati krisis
1930. Bagaimana pengusaha-pengusaha di Cina, waktu perubahan rezim,
ketika komunis masuk, bagaimana mereka itu survive. Saya juga akan
mempelajari bagaimana pengusaha-pengusaha melalui Latin America krisis,
yang di Brasil,” tuturnya. “Apa krisis itu memunculkan bibit-bibit
entreprenur yang baru,” katanya lagi.
Sampai sekarang Sukanto masih hobi baca buku. Buku apa saja, baik yang
bisnis maupun nonbisnis. “Setiap saya pergi, saya bawa buku,” katanya.
“Kalau naik travel, kalau tidak tidur, ya, baca,” katanya lagi.
Manfaatnya, menurut dia, selain untuk update pengetahuan, juga membantu
sekali dalam binis dan kegiatan sosial sehari-hari. Satu lagi, pria yang
menguasai dua bahasa asing, Cina dan Inggris, ini senang belajar. Ia
pernah mengikuti kursus di Insead, Paris, di MIT, di samping tetap jadi
peserta Lembaga Pendidikan dan Pemibinaan Manajemen, Jakarta. Sampai
sekarang pun ia kadang mengambil cuti untuk mengikuti kursus pendek.
“Karir saya satu lagi: siswa profesional abadi,” katanya. Dua-tiga
minggu ia cuti untuk pergi ke Harvard, Tokyo, London School of Economic,
untuk meng-update pengetahuan. Terakhir, 2001 lalu, ia mengikuti Wharton
Fellows Program, Amerika, selama enam bulan, untuk belajar dotcom.
“Kalau di bisnis, kunci sukses saya: think, act, learn, baca, dengar,
lihat,” katanya. “Kedua, kalau saya tidak tahu, saya tanya. Saya juga
tidak merasa sungkan menceritakan kegagalan saya,” ujarnya lagi. Selain
itu, pegangannya: do the right thing, do the thing right. Do the right
thing diartikan sebagai suatu pedoman pada pola manajemen. Do the thing
right memiliki penekanan terhadap pentingnya suatu action. “Prinsip
saya, bisnis dan politik tak boleh campur,” ujar pengagum pengusaha
plastik dari Taiwan, Wai-Sze Wang, ini. “Tidak ada proteksi. Bisnis, ya,
bisnis,” katanya.
Menikah dengan Tinah Bingei Tanoto, Sukanto kini ayah empat anak. Ia
memberi keleluasaan kepada anak-anaknya untuk memilih profesi.
Olahraganya main snowski. Sukanto suka mendengarkan musik klasik yang
ringan. (pdat)
www.ece.cmu.edu/~pileggi/ resources/tanoto.htm
Sukanto Tanoto is a self-made entrepreneur, noted for his pioneering
success in a number of industries in Indonesia. He opened the country’s
first plywood factory, and within Indonesia, is recognized as the
business architect of the country’s modern plywood and pulp industries.
A strategic thinker with a forward-looking vision, Tanoto is quick to
capitalize on the enormous growth opportunities in the Asia Pacific
region. In 1995, he restructured the pulp operations of RGMI Group to
form a separate, pan-Asia pulp & paper company, Asia Pacific Resources
International Holdings Limited (APRIL). Within a record span of 7 years,
he succeeded in building a 2 million tonne, world-class,
state-of-the-art, pulp mill in a developing country and amidst a most
challenging environment. He is currently chairman of APRIL Group.
Besides pulp and paper, Tanoto also has interests in palm oil
plantation, refinery and related businesses in Indonesia, Philippines,
Malaysia and China, as well as engineering and construction. PEC-Tech is
the engineering, procurement and construction arm of the RGMI Group. It
has the resources and technological capability to manage large-scale
engineering and infrastructure projects. Through PEC-Tech, the Group
developed business initiatives, specializing in delivering energy
projects to the market place e.g. power plants, LNG, and other
energy-related projects.
On the personal front, Mr Tanoto is a firm believer in life-long
learning. He is an avid reader and devotes time from his busy schedule
to attend courses at the leading business schools in the world to keep
abreast with the latest business strategies, ideas and management
concepts.
►
ti/tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|