| |
C © updated 06102005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/sctv |
|
| |
Nama:
Sukamdani Sahid Gitosardjono
Lahir:
Solo, Jawa Tengah, 14 Maret 1928
Agama:
Islam
Isteri:
Ny Juliah
Anak:
- Yanti Sukamdani
-
Pendidikan:
- SD, Sukoharjo (1943)
- SMP, Solo (1946)
- SMA, Solo (1950)
- Akademi Perniagaan Indonesia, Jakarta (1955)
- Seminar American Management Association, New York (1969)
- European Management Forum, Davos, Swiss (1982)
Karir:
- Pemimpin Perusahaan NV Harapan Massa (1953-1955)
- Presiden Direktur CV Masyarakat Baru (1958)
- Presiden Direktur PT Sahid Trading & Industrial Co. (1960)
- Presiden Komisaris PT Tri Daya Manunggal Perkasa Cement
(1970)
- Presdir PT Sahid Timber (1973)
- Presdir PT Kusuma Sahid (1973)
- Presdir PT Hotel Sahid Jaya International (1979)
- Presdir PT PT New Sahid Builders (1979-sekarang)
- Presdir PT Sahid Gema Wisata (1979)
- Presiden Komisaris PT Sahid Detolin Textile (1979)
- Presiden Komisaris PT Tri Dharma Karya (1980)
- Presdir PT Kagum Sakti (1980)
- Presdir PT Koba Pengestu/Sahid Garden Hotel Yogyakarta (1980)
- Presiden Komisaris PT Sahid Asih Jaya (1981)
- Komisaris PT Sahid Bhima Sakti (1981)
Kegiatan Lain:
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia (1982-1987)
Alamat Rumah:
Jalan Imam Bonjol 50, Jakarta Pusat
Alamat Kantor:
Jalan Jenderal Sudirman 86, Jakarta Pusat
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
Sukamdani Sahid Gitosardjono
Bermula dari Percetakan Mulai terjun dalam
dunia wiraswasta setelah menikah dengan Juliah, putri Mangkunagaran,
Solo. Ketika itu, 1953, Sukamdani S. Gitosardjono mendapat pinjaman uang
Rp 25 ribu dari mertuanya. Mas Kam -- demikian panggilan akrabnya --
mendirikan percetakan yang letaknya di rumah sederhananya di Jakarta.
Tempat itu kemudian berubah menjadi hotel megah, Hotel Sahid Jaya,
miliknya.
Usahanya ketika itu hanya dengan dua buah mesin cetak hand press, dengan
bantuan dua orang pekerja. Mas Kam sendiri yang membeli kertas ke Jalan
Tiang Bendera, Jakarta. Ia pula yang mengantar dan menjemput pesanan
cetak, termasuk menagih biaya cetak. ''Naik turun oplet, tak heran, saya
banyak kenalan nonpri,'' katanya mengenang masa dulu.
NV Harapan Massa, percetakan yang didirikannya itu, berjalan lancar.
Tahun 1958, Mas Kam pun berhasil mengembangkan usahanya. Ia mendirikan,
sekaligus menjadi Presiden Direktur, PT Tema Baru yang juga bergerak
dalam bidang percetakan dan penerbitan. Perusahaan itu mendapat order
dari Departemen Dalam Negeri, Departemen Keuangan. Mesin cetaknya pun
sudah lebih modern. Dan pada tahun 1962, Mas Kam sudah punya tiga
percetakan di Jakarta, serta satu lagi di Solo.
Sehari-hari ia berkantor di Hotel Sahid Jaya, Jakarta. Kalau di sana tak
dijumpai, Mas Kam bisa ditemui di kantornya yang lain, Kadin Indonesia.
Menjadi Ketua Umum Kadin sejak 1982, mengalahkan saingan kuatnya,
Probosutedjo. Tahun 1985 ia terpilih lagi menjadi Ketua Umum
Kadin.Begitu terpilih menjadi Ketua Umum Kadin Indonesia, yang
dibenahinya pertama kali adalah hubungan antara pengusaha pri dan
nonpri. Jika hal itu tidak ditangani secara berhati-hati, katanya, akan
bisa menimbulkan gejolak sosial. Di bawah pimpinannya, Kadin merintis
hubungan dagang langsung dengan RRC. Penandatanganan perjanjian
perdagangan antara Kadin dan Badan Promosi Perdagangan Internasional RRC
dilaksanakan di Hotel Shangrila, Singapura, Juli 1985. Ini boleh disebut
karya besar Mas Kam, walaupun dalam hal ini, ia sangat berhati-hati
mengeluarkan komentar.
Didampingi oleh Juliah yang dinikahinya pada 1953, Sukamdani disiplin
dalam bekerja. Ia mengaku, sehari bekerja 15 jam, 12 jam disebutnya
bekerja produktif, dan tiga jam nonproduktif. Pukul lima pagi hingga
setengah delapan, ia menyiapkan pembagian kerja, yang mana untuk Sahid
Group, dan yang mana untuk Kadin. Pukul delapan ia berangkat ke kantor
dan bekerja hingga pukul enam petang. Sesudah itu ia mulai bekerja
nonproduktif, yakni menghadiri undangan atau kegiatan sosial.
Hotelnya kini berpencar di kota-kota: Solo, Semarang, Yogya, Surabaya,
Manado, dan Jakarta. Seluruhnya ada 823 kamar. Semua hotelnya memakai
nama Sahid, untuk mengenang nama ayahnya, Sahid Djogosentono. ''Saya tak
pernah berputus asa. Mengerjakan sesuatu selalu sampai tuntas,'' katanya
tentang sukses bisnisnya.
Sebuah contoh adalah usahanya mendirikan pabrik semen di Palimanan,
Cirebon. Pabrik yang dirintis sejak 1974 itu macet karena tidak ada
kecocokan dengan mitra asingnya dari Swiss. Ia kemudian mengadakan
introspeksi. ''Kok harus selalu dengan asing, mengapa tidak dengan
swasta nasional?'' Ia lalu menggandeng Liem Sioe Liong. Dan berhasil.
Berdirilah PT Tridaya Manunggal Perkasa Semen, sebuah usaha patungan
yang mengelola pabrik semen Palimanan. Pabrik yang bernilai sekitar 300
juta dolar AS itu, tahun 1985 sudah berproduksi 1,2 juta ton.
Ayah lima anak ini selalu menyiapkan kader-kader untuk melanjutkan
usahanya. Kader itu bukan saja dari keluarga dekat, tetapi juga dari
para karyawannya sendiri. Sudah banyak karyawannya yang dididik untuk
menduduki jabatan pimpinan. Di bidang perhotelan, Sahid Group bahkan
mempunyai akademi sendiri.
Mas Kam juga gemar golf. ''Untuk mengalihkan konsentrasi pikiran dari
tugas rutin,'' katanya.
***
Prof. DR. H. Sukamdani S. Gitosardjono
Sukamdani's name is often connected with hotels. In several big cities
in Indonesia, people can easily find Sahid hotel as one of the big
famous hotels in that city. The existence of Sahid hotel network could
not be separated from the founder's profile, Sukamdani Sahid Gito
Sardjono. Mr. Sardjono is not only active as a national entrepreneur,
but he is also known as an active person in state activities, also as a
person who has special attention to state problems.
As an entrepreneur, Sukamdani is a successful national figure in various
areas, from hotels, property, trade, industry, etc.
As a well-known organizer, Sukamdani successfully led Indonesia's
Chamber of Commerce for two periods, from 1982-1998, while at the same
time he also took part in the release of Law No. I/1987 about
Indonesia's Chamber of Commerce. He is also entrusted by a lot of other
business organizations with the chairman position.
His involvement in state matters has taken him to the position as member
of the Supreme Advisory Council and he was also Vice-Chairman for
Economy, Finance and Industry Commission (EKUIN), in 1988-1993. Mr.
Sukamdani was also active as the People's Consultative Assembly member
in 1987 - 1999 period.
With his tons of activities, it is not a surprise to find Mr. Sukamdani
rewarded by various medal/star of honor from Indonesian government, and
the highest is Mahaputera Medal of Star. From abroad, he received honors
from Japanese Government and the People's Republic of China Government.
As an appreciation for Mr. Sukamdani's role in improving Indonesia and
Japan's trade and investment relations, the Japanese Government rewarded
him medal of honors: Order of Rising Sun, Gold and Silver Star (1993).
On 1994, Chinese government rewarded him the honor of People's
Friendship Ambassador for Mr. Sukamdani's role in promoting the recovery
of Indonesia-China direct trade relations, a start for the
re-establishment of Indonesia and the People's Republic of China
diplomatic relations back in 1990.
His concern for education has inspired him to establish Sahid Jaya
Foundation, a foundation with concern in prosperity, education and
social areas. As the founder of Indonesia's Hotel and Restaurant
Association, Mr. Sukamdani always have his eyes in tourism issues. Sahid
Tourism Education Institution is a pioneer for the establishment of
other tourism schools, because at that time there was no formal
education institution in tourism. In the past, Sahid education
institution was the only integrated tourism education institution, with
its relatively short course-time, high-school, academy, Tourism High
School (STP) until university for Bachelor and Master Degrees.
As a reward for his contribution to education, in 1986, Sukamdani was
rewarded doctor honoris causa degree in Economy and Social Sciences from
Takoshoku University, in Tokyo, Japan and doctor honoris causa degree in
Social, Education and Economy Sciences from European University,
Antwerpen, Belgium in the same year. In 1997, before his 70th birthday,
Mr. Sukamdani had the honor to receive Professor degree for Economy
Sciences from Luohe University, Henan, People's Republic of China.
Various activities and the honors he received reflected his involvement
in various aspects of life. Sukamdani said, the key to his success is
balance in everything, physically and mentally, materially and
spiritually.
Sahid's Projects
Hotels, apartments and offices build by Sahid Group are property
businesses. PT. Hotel Sahid Jaya International is the flag of Sahid's
core business in hotel industry has been registered in the stock
exchange (go public). With the intention of exercising effectiveness and
efficiency in similar business, PT. Hotel Sahid Jaya International made
a liquidation of 8 Sahid hotels all over Indonesia, so in the future
there will be only one company in hotel industry which has hotel network
every where, in Indonesia and abroad. Right now, Sahid has 18 hotels,
where the management contract is owned wholly or partially, also the
ones where the management contract is under Sahid Hotel Network
management.
Besides Sahid Jaya Hotel and Istana Sahid Apartment, located in an area
of 5,5 hectares in the Jenderal Sudirman golden triangle, soon they will
build Sahid Tower for office and Sahid Perdana as boutique hotel,
shopping center, supermarket and food center. The four buildings will be
integrated in one area called Sahid City Superblock or Sahid Pura
Kencana, which will be an answer to executives need for a total activity
in one area to make the best of their time. The whole project hopefully
will be fully established in next 5 years.
Projects
• Hotel Sahid Jaya Jakarta
• Hotel Sahid Jaya Lippo Cikarang
• Hotel Sahid Bandar Lampung
• Hotel Sahid Raya Solo
• Hotel Sahid Kusuma Raya Solo
• Hotel Sahid Raya Yokyakarta
• Hotel Sahid Surabaya
• Hotel Sahid Legi Mataram
• Hotel Sahid Kawanua
• Hotel Sahid Manado
• Hotel Sahid Toraja
• Hotel Sahid Mariat Sorong
• Hotel Sahid Jaya Makasar
• Hotel Sahid Raya Pekanbaru
• Hotel Sahid Medan
• Hotel Sonni Putri Galeria, Bali
• Hotel Sahid Rasinta Batam
APA yang Anda lakukan di bulan madu?
"Kalau mereka, ternyata bukan bermesra-mesraan, melainkan langsung
mendirikan perusahaan dan bekerja keras. Maka sampai sekarang, kita
boleh saja iri melihat mereka sejak pagi di lapangan golf, siang sampai
malam selalu berdua terus," kata Menko Kesra Jusuf Kalla.
Sementara Aburizal Bakrie, Ketua Kadin, melukiskan, "Kalau umur saya
baru 25 tahun, tidak mungkin saya berani menikah dengan gadis berusia 19
tahun. Minta keluar dari pegawai negeri, kawin, dan mendirikan
perusahaan berdua...."
Tetapi, itulah yang dilakukan oleh pasangan Sukamdani Sahid Gitosardjono
dan Juliah. Hasilnya, "... Pak Sukamdani sukses dalam merintis bisnis,
benar-benar sebuah keberanian luar biasa," kata Jusuf Kalla, Senin (2/6)
malam, di Hotel Sahid Jaya Jakarta, ketika memperingati 50 tahun Sahid
Group.
"Saya memang sudah bekerja di Kementerian Dalam Negeri. Namun, kariernya
nanti paling jadi camat, maksimal bupati. Apa cukup uang kalau sudah
kawin dan punya banyak anak?" kata Sukamdani. Bisnis pertama yang dia
tekuni adalah membikin percetakan dengan dua mesin cetak hand press
buatan Solo, Juni tahun 1953, hanya beberapa hari sesudah menikah.
Pengusaha berusia 75 tahun dan punya beragam usaha, dari hotel sampai
pertekstilan, mengatakan," Wah kalaumengapa percetakan, saya sendiri
juga enggak tahu. Tetapi, apa pun bisnis yang kita terjuni, syaratnya
satu, jujur dan harus bekerja dengan tekun...." (jup)
Kawin Emas Prof Dr Sukamdani SG
PENGUSAHA Prof Dr H Sukamdani Sahid Gitosardjono, kemarin memperingati
perkawinannya yang ke-50 atau Kawin Emas di Sala. Peringatan ditandai
dengan penanaman pohon beringin sebanyak 50 batang di lingkungan kampus
Akademi Pariwisata Sahid, Sala. Pada acara itu, Sukandami menceritakan
perjalanan perkawainannya dengan istrinya, Ny Juliah. Malam harinya
bertempat di Hotel Sahid Kusuma, satu dari dua hotelnya di Sala,
diadakan buka bersama bersama anak yatim piatu dan pemberian santunan
dilanjutkan syukuran. ►e-ti, dari berbagai
sumber.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|