| |
C © updated 12032008 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/sctv |
|
| |
Nama:
Sukamdani Sahid Gitosardjono
Lahir:
Solo, Jawa Tengah, 14 Maret 1928
Agama:
Islam
Isteri:
Ny Juliah
Anak:
- Yanti Sukamdani
-
Pendidikan:
- SD, Sukoharjo (1943)
- SMP, Solo (1946)
- SMA, Solo (1950)
- Akademi Perniagaan Indonesia, Jakarta (1955)
- Seminar American Management Association, New York (1969)
- European Management Forum, Davos, Swiss (1982)
Karir:
- Pemimpin Perusahaan NV Harapan Massa (1953-1955)
- Presiden Direktur CV Masyarakat Baru (1958)
- Presiden Direktur PT Sahid Trading & Industrial Co. (1960)
- Presiden Komisaris PT Tri Daya Manunggal Perkasa Cement
(1970)
- Presdir PT Sahid Timber (1973)
- Presdir PT Kusuma Sahid (1973)
- Presdir PT Hotel Sahid Jaya International (1979)
- Presdir PT PT New Sahid Builders (1979-sekarang)
- Presdir PT Sahid Gema Wisata (1979)
- Presiden Komisaris PT Sahid Detolin Textile (1979)
- Presiden Komisaris PT Tri Dharma Karya (1980)
- Presdir PT Kagum Sakti (1980)
- Presdir PT Koba Pengestu/Sahid Garden Hotel Yogyakarta (1980)
- Presiden Komisaris PT Sahid Asih Jaya (1981)
- Komisaris PT Sahid Bhima Sakti (1981)
Kegiatan Lain:
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia (1982-1987)
Alamat Rumah:
Jalan Imam Bonjol 50, Jakarta Pusat
Alamat Kantor:
Jalan Jenderal Sudirman 86, Jakarta Pusat
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
Sukamdani Sahid Gitosardjono
”Buku yang Hidup” Indopos Rabu, 12 Mar 2008: Siap
Bekal Akhirat, Dirikan Pesantren Sahid Gunung Menyan. Usia Sukamdani
Sahid Gitosardjono, pendiri sekaligus pemilik jaringan Hotel Sahid Group
di Indonesia, genap 80 tahun pada 14 Maret 2008. Sebuah buku yang
merekam sejarah, kiprah, dan falsafah hidupnya dibedah di Jakarta, Senin
11 Maret 2008. Seperti apa isi buku itu?
NOSTAL NUANS, Jakarta
Di tengah kepungan sejumlah hotel berbintang yang kian banyak tumbuh di
Jakarta, Hotel Sahid termasuk yang masih mampu bertahan dan bersaing.
Bangunannya hingga kini berdiri kukuh di Jalan Panglima Sudirman,
Jakarta Pusat, meski sudah berumur puluhan tahun (dibangun pada 1974).
Kemarin (11/3) di hotel itu dibedah sebuah buku yang berisi perjalanan
hidup pendiri dan pemiliknya, Sukamdani Sahid Gitosardjono.
Buku 202 halaman itu merupakan persembahan dari rektor dan segenap
civitas akademika Universitas Sahid (Usahid) sebagai kado ulang tahun
untuk Sukamdani.
Acara bedah buku yang dihelat di Ruang Pertemuan Puri Agung Hotel Sahid
Jaya di lantai II itu dihadiri ratusan undangan, termasuk Menko Kesra
Aburizal Bakrie dan Menkominfo Muhammad Nuh. Dua menteri itu duduk di
deretan paling depan, berdekatan dengan Sukamdani, yang pagi itu
ditemani istrinya, Ny Juliah.
Meski usianya menginjak 80 tahun, Pak Kam -panggilan akrab Sukamdani
Gitosardjono- masih terlihat bugar. Ketika memberikan sambutan, dengan
setelan jas abu-abu bergaris putih vertikal, pria kelahiran Jetis,
Sukoharjo, Jawa Tengah, itu cukup tegak berjalan, tanpa harus ditopang
tongkat. Suaranya juga masih sangat jelas.
Rektor UIN Syarif Hidayatullah Komaruddin Hidayat, salah seorang
pengulas buku Sukamdani, mengomentarinya sebagai the living book (buku
yang hidup). Menurut dia, kisah hidup mantan ketua umum Kadin
(1982-1987) itu layak dijadikan panutan. Terutama tentang falsafah
hidupnya, yaitu urip iku nguripi (hidup itu adalah menghidupi). "Dalam
kehidupan, tidak ada nuansa merebut, merusak, dan mengeksploitasi sampai
habis," ujarnya, berusaha mengartikan.
Selain itu, lanjut dia, ada tujuh pilar kebahagiaan yang menjadi
pegangan Pak Kam dan ditulis dalam buku itu. Tujuh pilar itu keteraturan
dalam kehidupan, uang, pekerjaan, sahabat, kesehatan, kepribadian, dan
kebebasan pribadi. "Percuma punya uang kalau tidak punya pekerjaan,
sahabat, dan kesehatan. Percuma juga punya segalanya, tapi kepribadian
jelek. Itulah yang bisa dipelajari dari buku Pak Kamdani," tutur
Komaruddin.
Menkominfo Muhammad Nuh yang juga menjadi pembicara dalam bedah buku itu
menyebut Pak Kam sebagai model hidup. "Orang dihormati karena ilmu,
kepribadian, dan cita-citanya. Beliau pantas menjadi contoh bagi
generasi muda," puji mantan rektor ITS (Institut Teknologi Sepuluh
Nopember) itu. Generasi kedua, lanjut dia, layak mencontohnya karena tak
pernah lelah menuntut ilmu, mau mentransferkannya kepada generasi kedua,
dan cita-citanya membangun bangsa yang tak kenal putus asa.
Setelah acara bedah buku, Pak Kam langsung dikerubuti puluhan undangan
yang membawa buku dan meminta tanda tangannya. Wajahnya terlihat
sumringah. Sebelum membubuhkan tanda tangan, dengan ramah bapak lima
anak itu menanyai nama satu per satu. "Namanya siapa Bu biar saya tulis
di atas tanda tangan saya ya?" tanya dia kepada seorang dosen
pascasarjana di Usahid.
Saking asyiknya memberikan tanda tangan dan ngobrol dengan wartawan
serta undangan, Pak Kam sampai tak menghiraukan ajakan panitia untuk
berfoto bersama.
Ketika ditanya, mengapa harus ada buku berjudul 80 Tahun Sukamdani Sahid
Gitosardjono: Mempertautkan Bisnis dan Pendidikan? "Ini demi
mempertahankan tali silaturahmi," kata perintis hubungan dagang langsung
dengan Tiongkok tersebut.
Apa yang membuat Pak Kam mampu meraih kesuksesan sebagai pengusaha hotel
sekaligus pemilik beberapa lembaga pendidikan? "Yang penting selalu
ingat, percaya, dan patuh," ujarnya dengan mimik serius. Lebih lanjut,
dia meminta generasi muda selalu ingat pesan orang tua. Sejak kecil,
Sukamdani dididik tentang nilai-nilai luhur Jawa. Dia belajar banyak
pitutur (nasihat), pitedah (petunjuk), dan wulang warah (pendidikan)
dari orang tuanya.
Selain itu, patuh dalam melaksanakan ajaran-ajaran Tuhan dan patuh untuk
menghindari larangan-larangan-Nya, menurut dia, merupakan kunci sukses
yang lain. Dengan kepatuhan tersebut, selama hidup dia tidak pernah
pesimistis dan selalu menjalani dengan optimistis setiap ada kesulitan.
"Saya yakin semua kesulitan akan bisa diatasi berkat bantuan dan
kemudahan Allah SWT," yakinnya.
Dia lantas menceritakan tentang jatuh bangunnya grup Sahid ketika
diterpa krisis ekonomi pada 1998. Saat itu, tutur dia, berbagai proyek
yang dikembangkan Sahid mulai 1993-2000, seperti Proyek Apartemen Istana
Sahid, Hotel Sahid Makassar, Hotel Sahid Raya Solo, dan Menara Sahid,
terpaksa mengalami penundaan. Untuk meneruskannya, Pak Kam meminjam uang
ke Shcroder sebesar USD 40 juta.
"Kami saat itu sempat mengalami kesulitan untuk membayar sehingga
terpaksa meminta perpanjangan pembayaran, keringanan pembayaran, tukar
saham, dan tukar aset," ceritanya. Meski akhirnya berhasil keluar dari
krisis, Pak Kam memilih sikap konservatif dalam berutang. Yakni, selalu
mengelola struktur keuangan dengan rasio utang dan aset 30:70.
Kini, setelah sukses mengelola bisnis hotel, properti, dan pendidikan,
mantan delegasi RI untuk pemulihan hubungan dagang dengan Tiongkok 1990
tersebut hanya ingin kesejahteraan terpadu. "Saya dan keluarga sekarang
sedang berusaha mendirikan yayasan sejahtera terpadu yang bergerak di
bidang pendidikan," kata Pak Kam.
Terpadu yang dia maksud adalah kegiatan yang membuatnya bisa bahagia di
dunia sekaligus jadi bekal di akhirat. Yayasan kesejahteraan yang dia
bangun, salah satunya, terdiri atas pondok pesantren modern Sahid Gunung
Menyan. "Insya Allah sebentar lagi akan kami buka sekolah tinggi agama
islam terpadu modern Sahid pada 2008 atau 2009," ujarnya dengan nada
bangga. Harapannya, sekolah tersebut akan menjadi pusat pendidikan agama
internasional di Indonesia. (*) ►e-t
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|