| |
C © updated 04042004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/depdiknas |
|
| |
Nama:
Prof. Dr. Suharso
Lahir:
Bayolali, Jateng, 13 Mei 1912
Wafat:
Seboto, Ampel, Bayolali 27 Februari 1971
Penghargaan:
Pahlawan Nasional (SK Presiden RI No.088/TK/Tahun 1973, tanggal 6
November 1973)
Pendidikan:
=AMS Bagian B di Yogyakarta
= Indisch Arts dari Nederlandsch Indische Arsten School di Surabaya, 1939
= Mendalami ilmu prothese di Inggris 1950
Karir:
= Asisten di RSUP Surabaya 1939
= Dokter di Sambas
= Dokter di RS Jebres, Solo
= Dokter Palang Merah
= Pendiri Pusat Rehabilitasi (rehabilitation Center) di Solo
Sumber:
Depsos, Depdiknas dan Album Pahlawan Bangsa
|
|
| |
|
|
|
|
Prof. Dr. Suharso (1912-1971)
Dokter Para Pejuang
Ia dokter pejuang dan dokternya para pejuang. Sebagai dokter Palang
Merah, ia terjun ke medan juang merawat penderita yang cedera dalam
pertempuran. Para penderita itu banyak yang sudah kehilangan tangan atau
kaki, menjadi orang cacat untuk selama-lamanya. Untuk meringankan
penderitaan mereka, dokter Suharso berupaya membuat tangan dan kaki
tiruan.
Dokter kelahiran desa Kembang, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, Jawa
Tengah, pada tanggal 13 Mei 1912, ini sungguh merasa kasihan melihat
keadaan para pejuang yang cedera dalam pertempuran itu. Dalam benaknya
timbul tekad untuk menolong mereka. Jangan sampai orang-orang yang cacat
itu merasa tidak berguna dan menjadi sampah masyarakat. Mereka tidak
boleh kehilangan harga diri.
Maka ia berupaya menolong mereka. Apalagi mereka cacat dalam menjalankan
tugas membela kepentingan bangsa dan negara. Untuk menolong mereka, ia
pun mengadakan percobaan membuat tangan dan kaki tiruan.
Atas pengabdiannya, ia pun dianugerahi gelar Pahlawan Nasional melalui
SK Presiden RI No.088/TK/Tahun 1973, tanggal 6 November 1973. Ia memang
seorang pejuang. Semenjak menyelesaikan studi di AMS (setingkat Sekolah
Menengah Umum) Bagian B di Yogyakarta, lalu melanjut ke Nederlandsch
Indische Artsen School di Surabaya dan lulus sebagai Indisch Arts tahun
1939, ia bekerja sebagai asisten di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP)
Surabaya. Karena bertengkar dengan seorang suster Belanda, ia
dipindahkan ke Sambas (Kalimantan Barat). Di sana ia bertugas sampai
saat Jepang mendarat di Indonesia.
Kemudian Pemerintah Pendudukan Jepang mengeluarkan daftar orang
terpelajar di Kalimantan yang akan mereka bunuh. Salah seorang di antara
mereka adalah Dokter Suharso. Mengetahui hal itu, dengan berbagai cara
ia berhasil berangkat ke Jawa. Kemudian bekerja di Rumah Sakit Jebres,
Solo. Tetapi di situ ia masih tetap diincar oleh Kenpeitai Jepang. Namun
ia berhasil terhindar dari bahaya maut.
Sesudah Indonesia merdeka, ia pun menyumbangkan tenaga untuk membantu
perjuangan. Lalu pada tahun 1950 ia berangkat ke Inggris untuk mendalami
ilmu prothese. Sekembali dari sana, kepeduliannya kepada penderita cacat
semakin tinggi. Ia mendidirikan Pusat Rehabilitasi (Rehabilitation
Center) di Solo, sebagai tempat merawat orang-orang yang menderita cacat
jasmani.
Kegiatan kemanusiaan ini mendapat perhatian dari pemerintah dan
masyarakat. Sehingga Pusat rehabilitasi itu mendapat banyak bantuan,
baik dari dalam maupun dari luar negeri. Dengan ukiran tinta emas atas
perjuangan dan pengabdiannya, ia meninggal pada tanggal 27 Pebruari 1971
dan dimakamkan di Kelurahan Seboto, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali. ►
crs, dari berbagai sumber
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|