| |
C © updated
08092006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/esero |
|
| |
Biodata
Nama:
Prof. Dr Suhardiman, SE
Lahir:
Surakarta, 16 Desember 1924
Agama:
Islam
Jabatan:
Ketua Dewan Penasehat Depinas SOKSI
Alamat Rumah:
Jalan Kramat Batu Nomor 1, Cipete, Jakarta Selatan
- Jalan Iskandarsyah Raya 97, Jakarta Telp: 713731- 734913
Alamat Kantor:
SOKSI
Gedung Basmar Plaza , Lt 3
Jl. Mampang Prapatan Raya No 106
Jakarta Selatan 12760
Telp. (021) 798 1883
Faks. (021) 797 0985
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03
04
PERSPRKTIF:
05
06
07
08 WAWANCARA:
09
DEPTHNEWS: 10
11
12
13 == Prof. Dr Suhardiman, SE (06)
Regenerasi Kepemimpinan Bangsa
Prof Suhardiman memaparkan pemikirannya bahwa proses regenerasi di
dalam pembangunan politik dapat dibagi dalam empat kurun waktu. Generasi
pertama mulai era kemerdekaan 1945 sampai tahun 1970; regenerasi kedua
1970-1995; regenerasi ketiga 1995-2020; dan regenerasi keempat
2020-2045.
Regenerasi kepemimpinan bangsa dimaksudkan oleh
Suhardiman untuk mencegah kemungkinan gejolak
sosial yang dapat mengancam stabilitas nasional, khususnya stabilitas
politik. Regenerasi pertama dalam periode antara 1945-1970, dikenal
sebagai era kepemimpinan sipil, pemerintahan jatuh dan bangun.
Regenerasi kedua antara 1970-1995 disebut Suhardiman sebagai era
pemantapan stabilitas yang dinamis. Maka tidak heran di dalam era ini
banyak kader militer berperan dalam pemerintahan.
Pembenaran keterlibatan mereka di panggung politik (MPR/DPR) dan
pemerintahan alasannya untuk mengubah perjalanan sejarah yang penuh
dengan gonjang-ganjing selama kurun regenerasi pertama (1945-1970).
Suhardiman di dalam bukunya, Pembangunan Politik Satu Abad, yang ditulis
tahun 1996, memang memberi periodesasi regenerasi kedua sampai tahun
1995. Artinya memasuki regenerasi ketiga, 1995-2020, kepemimpinan bangsa
bisa berjalan mulus. Tetapi regenerasi ketika tidak berjalan seperti
yang dipikirkan dan digagas oleh Suhardiman, sehingga terjadi pergantian
kepemimpinan yang gonjang-ganjing tahun 1998. Dan regenerasi berikutnya
(2020-2045) juga akan keluar dari relnya, sehingga perlu dilakukan
periodesasi baru.
Era kepemimpinan ketiga yang digambarkan Suhardiman ketika itu, ditandai
sebagai era kepemimpinan sipil. Era yang memiliki ciri khas
profesionalitas dan persaingan bebas. Pada era ini bangsa Indonesia akan
memasuki era perdagangan bebas ASEAN, tahun 2003, dan era perdagangan
Asia Pasifik (APEC) pada tahun 2020. Era kepemimpinan keempat
(2020-2045), digagas oleh Suhardiman sebagai era kemandirian dan era
pemeliharaan potensi dan kekayaan bangsa, khususnya Pancasila dan UUD
1945. Pada era ini, yaitu satu abad setelah proklamasi kemerdekaan,
bangsa Indonesia akan mencapai masa kejayaan atau Indonesia Raya Tiga.
Suhardiman ketika itu (tahun 1996) melihat perbedaan mengenai konsep dan
proses regenerasi dan suksesi. Hal ini telah menimbulkan perbedaan
pendapat tentang momentum yang terbaik dan paling memungkinkan ditinjau
dari kepentingan nasional, regional dan internasional. Perbedaan itu
menyangkut mengenai kapankah saat terjadinya regenerasi/alih generasi
secara tuntas, dan suksesi tanpa menimbulkan gejolak sosial yang dapat
merugikan kepentingan masyarakat, bangsa dan NKRI. Soal perbedaan itu,
menurut Suhardiman, masih bisa diatasi selagi Pak Harto masih hidup,
karena kekuatan dan kewibawaan Orba memang bertumpu padanya.
Suhardiman telah mengingatkan sejarah pergantian kepemimpinan di dalam
perjalanan politik di bumi Nusantara, sejak era kerajaan (pra penjajahan),
penjajahan, sampai era kemerdekaan yang selalu ditandai dengan
pertumpahan darah. Pertumpahan darah ini, menurut Suhardiman, terjadi di
samping karena ambisi pribadi maupun kelompok yang terlalu berlebihan,
juga disebabkan oleh masuknya pihak ketiga.
Di era kerajaan masuknya pihak ketiga di dalam upaya perebutan kekuasaan
sering menjadi pemicu pertempuran di kalangan anggota keluarga kerajaan
sendiri, sehingga memakan korban tidak sedikit dari rakyat yang tidak
bersalah. Pada masa penjajahan, pihak ketiga adalah penjajah yang sering
masuk dalam pertikaian antar keluarga pewaris tahta kerajaan agar raja
yang akan memerintah berada di bawah kendalinya. Untuk mencapai
tujuannya, kerap kali penjajah menjatuhkan pilihan kepada orang yang
tidak atau belum semestinya berada pada puncak kekuasaan. Juga,
Suhardiman memaparkan bahwa kemunculan dua pemimpin bangsa—Soekarno dan
Soeharto—pasca era kemerdekaan, diwarnai oleh pertumpahan darah.
Tetapi yang menarik, menurut Suhardiman, kemunculan keduanya sama-sama
diakui sebagai pemimpin berkaliber internasional, tidak pernah
mencalonkan diri atau atau mengupayakan diri menjadi presiden.
Sejarahlah yang telah meminta atau mengondisikan mereka untuk menjadi
presiden.
Kemunculan Soekarno sebagai presiden, ditandai dengan revolusi panjang
yang memakan korban harta dan jiwa yang tidak sedikit.
Bahkan, beberapa tahun setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus
1945, bangsa Indonesia masih harus membayar mahal kemerdekaan yang telah
direbut itu dengan korban jiwa yang cukup banyak, yaitu sampai tahun
1949, ketika kerajaan Belanda resmi mengakui kedaulatan Indonesia.
Naiknya Soeharto ke tampuk kepemimpinan negara juga ditandai dengan
pertumpahan darah. Pertumpahan darah antar sesama bangsa sendiri ini
terjadi karena saudara sebangsa yang menganut paham komunis (PKI) hendak
mengganti Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, dan menjadikan
Indonesia sebagai negara komunis. (Kudeta G-30-S/PKI, tahun 1965).
Ramalan Joyoboyo
Tentang sejarah perjalanan bangsa Indonesia, pujangga besar Joyoboyo,
telah memaparkan ramalannya. Beberapa ramalannya terbukti kebenarannya,
di antaranya, mengenai pejajahan kulit putih Belanda di Indonesia dan
penjajahan Jepang selama 3,5 abad. Dalam hal kepemimpinan bangsa,
Joyoboyo telah menggambarkan bahwa setelah lepas dari penjajahan Jepang,
bangsa Indonesia akan dipimpin oleh satrio kinanjoro dan satrio
kinayungan.
Figur pemimpin seperti itu, menurut Suhardiman tampak pada sosok Bung
Karno dan Bung Hatta. Kedua pemimpin tersebut adalah satrio yang dalam
perjuangannya telah mengalami keluar-masuk penjara. Selanjutnya Joyoboyo
meramalkan bahwa pemimpin bangsa setelah itu, satrio sing mukti lan
wibowo. Sosok yang diramalkan Joyoboyo ditemukan pada diri Pak Harto.
Bagaimanakah sosok pemimpin Indonesia di masa datang, dan bagaimana pula
proses kenaikannya? Mengenai hal ini, Joyoboyo telah memprediksi bahwa
pemimpin bangsa yang ketiga adalah seorang satrio piningit, yaitu
pemimpin yang dipingit Tuhan. Karena merupakan figur yang dipingit, maka
sosok pemimpin masa depan itu, sering menjadi pertanyaan yang amat
menggoda dan memancing para politisi dan pengamat untuk mereka-reka.
Joyoboyo telah memberi gambaran berdasarkan rangkaian (akhiran) nama
dari para pemimpin bangsa di masa lalu, masa kini dan masa datang—notonogoro.
Akhiran, no, telah diambil oleh Soekarno. Akhiran, to, sudah diambil
oleh Soeharto. Berdasarkan uraian suku kata ini maka pemimpin ketiga
kelak adalah pemimpin yang suku kata akhir namanya, no. Mungkin yang
sudah diambil oleh Susilo Bambang Yudhoyono. Karena tiga presiden
sebelumnya: B.J. Habibie, KH Abdurahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri.
Tetapi Suhardiman mengabaikan Yudhoyono sebagai satrio piningit yang
diramalkan Joboyo.
Joyoboyo juga menyatakan bahwa kemunculan satrio piningit akan diawali
oleh goro-goro (gejolak). Suhardiman (1996) mengingatkan bangsa ini
waspada menghadapi kemungkinan tersebut. Goro-goro tersebut memang
terjadi menjelang dan sesudah kejatuhan Pak Harto. Tetapi Suhardiman
sudah mengingatkan goro-goro (kekacauan) tidak sampai menimbulkan
kemunduran.
Suhardiman sudah mengingatkan bahwa goro-goro ini harus diatasi, dan mau
tidak mau, harus dihadapi dan dikendalikan agar jangan sampai
menimbulkan korban yang lebih besar.
“Kita harus mengupayakan agar proses kelahiran seorang pemimpin di masa
datang tidak menyebabkan ibu pertiwi mengalami pendarahan. Menjadi
catatan bagi kita bahwa pendarahan tersebut biasanya memakan korban
rakyat kecil yang tidak berdosa,” tulis Suhardiman, tahun 1996.
Reformasi mulai bergejolak akhir 1997 dan memuncak tahun 1998.
Konsentrasi kekuasaan terutama, menurut UUD 1945, terletak pada presiden,
baik sebagai kepala negara, kepala pemerintahan, mandataris MPR maupun
sebagai Panglima Tertinggi ABRI (TNI). Suhardiman sudah memberi isyarat
bahwa kelompok antikemapanan mengarahkan sasaran tembak mereka kepada
lembaga kepresidenan dan pribadi Pak Harto.
Secara tidak langsung Suhardiman sudah memberi isyarat bagi Pak Harto,
sebagai king maker (penentu permainan), dapat menentukan siapa yang
menjadi Presiden, Wakil Presiden dan Panglima ABRI. Suhardiman
mengibaratkan dunia bisnis, Pak Harto menghadapi Sidang Umum MPR 1998,
bebas memilih tetap menjadi Presiden atau—Presiden Komisaris, Presiden
Direktur atau King Maker di belakang layar.
Suhardiman telah menyarankan Pak Harto menjadi king maker di belakang
layar seperti peran yang dimainkan oleh Lee Kuan Yew di Singapura dan
Deng Xiaoping di China. Banyak pihak yang mengatakan belum melihat calon
yang pantas menjadi presiden, bilamana Pak Harto duduk di belakang layar.
Tetapi menurut Suhardiman, dulu tidak ada orang yang tahu Soekarno, dan
kemudian Soeharto, akan menjadi Presiden. Jadi hal ini tidak perlu
terlalu dirisaukan, apalagi saat ini sudah ada penuntun yang
berpengalaman.
Waktu itu, Suhardiman menginginkan Pak Harto mencari kader penggantinya
secara arif. Kalau tidak dicari sekarang, tulis Suhardiman, nanti dalam
proses dialektis, kader pengganti yang muncul sendiri, malah bisa
merusak tatanan yang ada karena tidak terbimbing. Dan, persiapan ke arah
ini terasa sangat penting, karena dia melihat berbagai organisasi, baik
organisasi kemasyarakatan, sosial politik, keagamaan, baik organisasi
yang mengagungkan dirinya sebagai yang paling demokratis telah mengalami
kericuhan, kalau tidak disebut kegagalan, dalam melaksanakan kaderisasi
dan suksesi di dalam tubuh organisasi tersebut.
Suhardiman juga melihat bahwa aktivitas Koalisi Pelangi (kelompok anti
kemapanan) sudah mengarahkan sasaran tembaknya kepada Pak Harto. “Hal
ini harus segera dialihkan,” tulis Suhardiman. Caranya? Ada beberapa
cara dapat dilakukan, antara lain, berhalangan sementara atau tidak
tampil sementara, dan mempercayakan secara konstitusional kepada Wakil
Presiden. Namun, apapun dan bagaimanapun situasi dan kondisi yang ada,
kepemimpinan Pak Harto sebagai pemegang remote control kekuasaan. (Nyatanya,
Pak Harto memilih tetap jadi Presiden, dan hanya tiga bulan kemudian, 21
Mei 1998, meletakkan jabatan). ►
mti/sh
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|