| |
C © updated
08092006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/esero |
|
| |
Biodata
Nama:
Prof. Dr Suhardiman, SE
Lahir:
Surakarta, 16 Desember 1924
Agama:
Islam
Jabatan:
Ketua Dewan Penasehat Depinas SOKSI
Alamat Rumah:
Jalan Kramat Batu Nomor 1, Cipete, Jakarta Selatan
- Jalan Iskandarsyah Raya 97, Jakarta Telp: 713731- 734913
Alamat Kantor:
SOKSI
Gedung Basmar Plaza , Lt 3
Jl. Mampang Prapatan Raya No 106
Jakarta Selatan 12760
Telp. (021) 798 1883
Faks. (021) 797 0985
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03
04
PERSPRKTIF:
05
06
07
08 WAWANCARA:
09
DEPTHNEWS: 10
11
12
13 == Prof. Dr Suhardiman, SE (04)
Yakin Hidup 100 Tahun
Entah kenapa tiba-tiba Prof Dr H Suhar-diman, SE merasa didatangi
seorang malaikat. Malaikat itu fungsinya, menurut dia, memang
macam-macam. Yang datang kepadanya kebetulan malaikat pencabut nyawa.
Malaikat itu seolah ngomong ke-padanya bahwa kedatangannya sebenarnya
untukmencabut nyawanya. Tapi mendadak ada perintah supaya ditunda.
Pertimbangannya, “karena kamu masih dibutuhkan oleh bangsa dan negaramu
di sana,” ujar Suhardiman menirukan kata-kata sang malaikat. Ditunda
berapa lama? Seratus tahun? “Jadi umur saya nanti seratus lebih,
ha-ha-ha...!” katawanya berderai.
DR Suhardiman bukan saja dikenal sebagai tokoh nasional, organisator
ulung dan politikus yang disegani. Ia juga digelari sebagai “dukun
politik” dengan ramalan-ramalannya politiknya yang sering membuat heboh.
Ia juga termasuk pentolan, pembina salah satu jenis olah raga beladiri
yang mengandalkan tenaga dalam. Bahkan ia juga diposisikan sebagai
“suhu” di olahraga beladiri tersebut.
Ini menjadi salah satu keunikan Suhardiman. Walau menyandang sejumlah
gelar akademis, predikat profesor dan doktor yang merupakan simbol dari
dunia rasional dan ilmiah, toh ia percaya juga terhadap hal-hal yang
berbau gaib dan supernatural.
Ketika jatuh sakit, yang secara klinis lumrah terjadi pada setiap orang,
Profesor Suhardiman dengan nada berkelakar, menghubung-hubungkan
sakitnya itu dengan dunia santet. Namun, kepercayaan pada diri
sendirinya begitu tebal. Ia tak pernah yakin ada orang yang mampu
menyantetnya.
Ketika terkena penyakit jantung tahun 1995, misalnya, ia justru
melakukan meditasi, perenungan dan instrospeksi. Ia bertanya-tanya dalam
hati, apa yang salah sehingga ia harus didera penyakit. Uniknya lagi,
seperti pernah dituturkannya, meditasinya bahkan diiringi lagu-lagu.
Tapi lagunya hanya berlangsung dalam hati dan tidak diiringi musik.
Menurutnya banyak juga orang yang senang melakukan meditasi dengan
diiringi musik. Tapi ia sendiri tidak.
Meditasi dan pengaturan pernafasan merupakan dua hal yang tak bisa
dipisahkan, tandasnya. Kenapa? Menurut Suhardiman, pernafasan teramat
penting bagi mahluk hidup. Soalnya, kehidupan dimulai dengan tarikan
nafas dan kematian juga ditandai dengan hembusan nafas terakhir.
Menurutnya, begitu lahir, oleh Tuhan, kita masing-masing sudah dibekali
sekian banyak persediaan “keluar masuk nafas”. Semakin banyak persediaan
itu umur seseorng akan makin panjang. Begitu juga sebaliknya, makin
sedikit stok “keluar masuk nafas” yang didapatkan, seseorang tidak akan
berumur panjang.
Dengan Orajira
Yang tak kalah penting menurutnya yakni keseimbangan jiwa dan rasa.
Untuk itu, Suhardiman menegaskan pentingnya Orajira, olahraga jiwa dan
rasa. “Olahraga hanya untuk kebutuhan lahiriah, tapi jiwa belum. Untuk
itu jiwa juga perlu menjalani kegiatan olah rasa,” tandasnya.
Berbekalkan prinsip seperti itu, maka eyang yang sudah ubanan ini selalu
optimis akan kesehatannya. Bahkan sangat optimis. “Ngggak ada cerita
saya akan terkena sakit ini, sakit itu”, tandasnya. Karena itu, ia
sangat kaget dan tak habis pikir, kok bisa jatuh sakit seperti di tahun
1995 itu. Penyakit jantung lagi, langganan orang kaya dan para politikus.
Tapi, ia masih belum yakin. Soalnya, ia begitu telaten menjaga
keseimbangan hidup, jiwa dan raga. Ia pun segera introspeksi dan
memperbaiki hal-hal yang dirasa menyimpang. Latihan ini dan itu. Dan itu
semua dikategorikannya sebagai in-put. Sedangkan output-nya, bahkan yang
paling besar yakni kegiat-an politik, berpolitik.
“Dalam politik kan jatuh bangun. Makan pikiran dan pera-saan” ujarnya
menjelas-kan. Selain itu, juga rokok. Dulu ia mampu menghabiskan lima
bungkus kretek filter sehari. Lalu fast-food, makanan seperti ampla, dsb.
Ia mengaku terus terang bahwa out-put-nya lebih besar daripada in put.
Tapi ia masih merasa beruntung karena ini diimbangi oleh in-put. “Kalau
tidak, mungkin Tuhan telah memanggil saya,” ujarnya terkekeh.
Tapi akhirnya, ia terkena sakit juga. Tak kepalang tanggung, terjadi
tiga hari berturut-turut. Habis mandi pagi, tulang di beberapa bagian
terasa dipukul-pukul (dengan tenaga dalam), lalu memar. Lima menit,
sakitnya memang sempat hilang. Tapi esoknya, habis mandi, sakit lagi, 10
menit. Hari ketiga, 15 menit.
“Pada hari ketiga sudah ditangani oleh profesor yang di Tangerang itu,
Profesor Lui” katanya.
Ketika sakitnya dihubung-hubungkan dengan Gendeng Pamungkas, ia menampik.
Terhadap Pamungkas, ia memang negatif thinking. Tapi dalam kaitan dengan
penyakitnya, orang ini samasekali dianggap bersih.
Satu kali, ia pernah kedatangan seseorang yang termasuk tokoh di dunia
hitam. Selama tiga setengah jam ia dijejali kisah dan cerita tentang
santet. Mulai santet dalam negeri, bahkan santet di luar negeri. “Saya
cuma dengarin aja. Saya ‘kan awam” katanya enteng.
Tentang awal penyakitnya, “Gejalanya ia rasakan saat di Ever Green,
Puncak. Mau duduk sakit, mau tiduran juga nggak bisa. Sampai setengah
duabelas malam, ia mondar-mandir saja di living room.
Nalurinya memang sangat tajam. Ia kemudian merasa semutan pada kedua
tangan. “Iner-inerji saya bilang, saya sakit jantung”. Lalu ia
membangunkan anaknya Uke dan menelpon anaknya yang tinggal di rumah
dinas.
Malam itu juga ia digotong ke RS MMC Kuningan. Pakai ambulans. Di MMC ia
dirawat satu hari satu malam. Oleh anak-anaknya, dengan pertimbangan apa
kemudian dipindahkan ke RS Harapan Kita. Di sana ia ditangani dokter
Asikin.
“Prof Asikin bilang, tahan diri,Pak! Jawaban saya secara otak. Orang
udah lemas gini, kok diminta tahan diri?” ujarnya mengingat-ingat.
Namun dalam situasi gawat pun, nalurinya sebagai “orang pintar” masih
berfungsi. Ia pun melakukan sesuatu yang selama ini dia yakin,
pernafasan. Tarik nafas, kemudian pelan-pelan dikeluarkan. Itu
berlangsung kira-kira sepuluh kali. Ia masih sadar ketika disuntik. Tapi
cairan dalam suntikan yang harus melalui paru-paru itu tidak bisa
merembes masuk. “Karena terblokir oleh tumpukan nikotin di paru-paru
saya,” ujarnya. Sejak itulah ia berhenti total merokok. “Saya masih
ingin hidup,” katanya.
Menurut teori, dalam sebulan ia sudah harus dioperasi. Jangan sampai
kelewat. Ia pun diterbangkan ke Australia, hanya ditemani anaknya yang
pertama dan kedua.
Operasi semacam itu seharusnya cukup tiga setengah jam. Tapi ini rada
lain. Setelah tiga setengah jam, ia belum juga keluar dari kamar operasi.
“Anak-anak kan worry”. Dan tambah cemas setelah empat setengah jam dan
hingga lima setengah jam.
Jangan Sabtu
Ia pun mulai mencium semacam firasat. “Kalau harus punya gawe (meninggal-Red)
yang penting jangan sampai hari Sabtu.” Entah kenapa, ia seperti
ketakutan jika harus meninggal di hari Sabtu.
Setelah lima setengah jam, akhirnya keluar juga dari ruang operasi.
Rupa-rupanya ada satu vlektor bank yang hilang. Jangan-jangan
ketinggalan di dalam tubuhnya saat operasi. Kalau demikian, berarti ia
harus di blek lagi?
Setelah dicari-cari, benda tersebut akhirnya diketemukan di bali sarung
tangan dokter.
Sesudah menjalani operasi 1995, ia mengaku daya tahan tubuhnya melorot
drastis. Namun, setiap bangun pagi, ia masih kuat berjalan tanpa alas
kaki, selama beberapa jam. Sekarang, paling banter setengah jam, lalu
senam sampai keluar keringat.
Selain ke Australia, Suhardiman juga pernah berobat ke Jepang. Tahun
berapa, ia mengaku sudah lupa. Waktu itu, ia diobati oleh tiga anggota
tim dokter kepresidenan, antara lain Mayor Jenderal dr Rubiono Kertopati
yang kini almarhum. Gelagat adanya penyakit aneh waktu itu sudah
dirasakannya. Tapi oleh para dokter, tetap dirahasiakan. Yang pertama
kali diberitahu adalah Bobby, anak pertamanya. “Saya mengidap kanker
lever”.
Ketika itu, medical report oleh Profesor Obata dibantu oleh tiga orang
asisten, yang masih muda-muda. Yang satu ahli kanker, yang satu ahli
bagian dalam, yang satunya lagi analis. Sang profesor mengatakan ia
harus dirawat dua bulan. Tapi menurut yang muda-muda, cukup dua minggu.
Mereka akhirnya kompromi, cukup sebulan saja.
Dalam sebulan itu, ia sudah diberitahu apa saja yang akan dijalani.
Mulai dari minggu pertama, kedua, ketiga hingga minggu ke empat. “Di
sana itu dokter hanya boleh praktek di dua rumah sakit. Kalau di sini
dokter kan bisa ke mana saja,” ujarnya membandingkan pelayanan dokter.
Lalu tengah malam, ia pun berdoa. Aneh bin ajaib, tiba-tiba, sakitnya
hilang. Atau barangkali memang bukan kanker? Ia menjadi agak ragu. Lever
bengkak dan kanker ‘kan beda? Dalam hati, ia menggugat bercampur heran.
Tiga dokter, yang katanya profesional ternyata bodoh. Kok saya disangka
terkena kanker? “Ini pasti muzijat!”
Dasar paranormal. Entah kenapa tiba-tiba ia merasa didatangi seorang
malaikat. Malaikat itu fungsinya, menurut dia, memang macam-macam. Yang
datang kepadanya kebetulan malaikat pencabut nyawa. Malaikat itu seolah
ngomong kepada Suhardiman bahwa kedatangannya sebenarnya untuk mencabut
nyawanya. Tapi mendadak ada perintah supaya ditunda. “Pertimbangannya,
karena kamu masih dibutuhkan oleh bangsa dan negaramu di sana,” ujar
Suhardiman menirukan kata-kata sang malaikat.
Ditunda berapa lama? Seratus tahun? “Jadi umur saya nanti seratus lebih,
ha-ha-ha”
Oleh-oleh lainnya selama berobat di Jepang, yakni soal umur manusia yang
dikaitkan dengan profesinya. Mengutip ucapan Profesor Obata, umur yang
terpendek dialami para sumo. Alasannya, hidup mereka kurang harmonis.
Postur tubuhnya juga tidak harmonis dan sering berkelahi. Kelompok kedua
adalah dokter. Hah, kalau dokter masuk kelompok umur pendek, kenapa
Profesor Obata memilih profesi dokter?
Akhirnya ia faham. Beban mental yang harus dipikul seorang dokter berat
sekali. Antara lain kepada pasien dijanjikan bakal sembuh dalam waktu
dua minggu. Ternyata lewat dua minggu pasien masih juga sakit, bahkan
terkadang makin parah. Ini jadi beban pikiran dan tanggung jawab berat
buat dokter yang bersangkutan, sehingga memperpendek umurnya.
Kelompok umur pendek ketiga adalah wartawan. Mengapa? Menurut profesor,
ini juga akibat ketegangan mental yang luar biasa sewaktu menjalankan
tugas. Setiap isu harus melalui proses yang melelahkan dan terkadang
menegangkan. Satu isu yang diangkat jadi berita, bisa berdampak kurang
baik bagi media tempatnya bekerja. Kalau sampai medianya diancam atau
ditutup, wartawan yang bersangkutan akan merasa sangat bersalah.
“Jadi karena masalah tanggung jawab juga,” ujar Suhardiman yang selama
ini dikenal cukup akrab dengan para wartawan itu. ►
mti/sh-tum
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|