ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
 
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
 
  P R O F E S I
 ► Advokat
 ► Akuntan
 ► Arsitek
 ► Bankir
 ► CEO-Manajer
 ► Dokter
 ► Guru-Dosen
 ► Konsultan
 ► Kurator
 ► Notaris
 ► Peneliti-Ilmuwan
 ► Pialang
 ► Psikolog
 ► Seniman
 ► Teknolog
 ► Wartawan
 ► Profesi Lainnya
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah
 ► Redaksi
 

 


 
  C © updated 22102004  
   
  ►e-ti  
  Nama:
Sugiharto, MBA
Lahir:
Medan, 29 April 1955
Jabatan:
Menteri Negara Pembinaan BUMN RI
Agama:
Islam

Pendidikan:
 S-2, Master of Business Administration (MBA) dari Universitas van Amsterdam, Belanda, 1997

Pengalaman kerja:
 Direktur Keuangan dan Administrasi PT Medco Energi Internasional, Tbk sejak 1991
 Komisaris pada beberapa anak perusahaan PT Medco Energi Internasional, Tbk
 PT Medco Duta, sejak 1991
 PT Medco Intidinamika, sejak 1991
 PT Chemco Leasing
 Kantor Akuntan Publik Drs Utomo, Mulia && Co, 1974-1982

Alamat Kantor:
Kementerian Negara Pembinaan BUMN
Gedung Wisma Danamon Aetna Lt. 26
Jalan Jend. Sudirman Kav. 45-46
Jakarta
Telp. (021) 577.2775

Alamat Rumah:
Jl Cineru I No 3, Senopati, Jakarta Selatan

Sumber:
Kompas, Rabu, 06 Oktober 2004 dan 22 Oktober 2004, Indo Pos Jumat 22 Oktober 2004






 
 
     
Sugiharto

Arsitek Perusahaan Masa Depan


Direktur Keuangan Medco Energy Internasional Tbk yang juga kader PPP ini, dijulyuki Harian Kompas sebagai 'Arsitek Perusahaan Masa Depan'. Tak lama kemudian, dipercaya menjabat  Menteri Negara BUMN menggantikan Laksamana Sukardi, kader PDIP. Namun, menurutnya, dia diangkat menjadi Meneg BUMN bukan karena preferensi politik (PPP) tetapi sebagai seorang profesional.

 

"Saya sudah tiga tahun tidak terlibat di Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Kalaupun saya ada di sana, itu sebagai anggota dewan pakar, kapasitas saya adalah seorang profesional. Jadi, saya yakin bisa membuat keputusan yang independen, dan tidak akan mau diintervensi oleh kepentingan di luar kapasitas profesional saya," katanya seusai dilantik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Kamis (21/10/2004) di Istana Negara, Jakarta.

 

Privatisasi Dikaji Kembali

Pelaksanaan program privatisasi BUMN maupun divestasi bank yang dilakukan oleh pemerintah tidak boleh lagi dilakukan secara serampangan. Oleh sebab itu, pemerintah baru di bawah Menteri Negara BUMN akan mengkaji kembali rencana dan pelaksanaan program privatisasi dan divestasi tersebut.

Menurutnya, pihaknya akan mengkaji atau menunda dan menyempurnakannya kembali program privatisasi divestasi yang dinilai kurang optimal. "Jadi, tidak harus dibatalkan," katanya. Sebaliknya, jika memang program itu bagus, program itu akan kita lanjutkan kembali.

Sugiharto menegaskan bahwa pada prinsipnya pelaksanaan privatisasi dan divestasi BUMN itu harus memenuhi tiga persyaratan, yaitu waktu (timing), harga (price), dan jumlah (size)-nya.

"Dengan tiga syarat itu, kita akan melihat pelaksanaan privatisasi dan divestasi. Ini supaya jangan sampai ada aset negara yang dijual serampangan," tambahnya.

Adapun mengenai pelaksanaan kajiannya, Sugiharto mengatakan pihaknya masih harus mempelajari dulu laporan mengenai rencana dan pelaksanaan privatisasi dan divestasi setelah serah terima jabatan Menneg BUMN dari pejabat lama Laksamana Sukardi kepadanya.

Menurut Sugiharto, privatisasi merupakan amanah undang-undang yang dikerjakan dengan persetujuan DPR. Namun, dalam pelaksanaannya ke depan diharapkan privatisasi bisa dilakukan secara bersih dan bertanggung jawab, serta disosialisasikan kepada stakeholder yakni rakyat Indonesia.

Ketika ditanya apakah pihaknya segera mengganti pejabat-pejabat eselon I di Kementerian Negara BUMN, Sugiharto mengatakan," Itu terlalu awal untuk mengganti pejabat. Kita akan kaji semua aspeknya dulu."

Dikatakan, sebagai langkah awal, dia akan melakukan penilaian dan berbicara satu per satu dengan para deputi dan pejabat eselon II di lingkungan Menneg BUMN untuk menilai kembali kinerja masing-masing deputi dan eselon tersebut.

Kotak pengaduan
Menjawab pertanyaan mengenai apa yang akan dilakukan untuk mencegah intervensi dan penyalahgunaan BUMN menjadi sapi perah kelompok politik dan kepentingan, Sugiharto mengatakan, ada berbagai langkah yang mungkin ditempuh. Hal pertama yang akan dilakukan antara lain adalah membuka kotak pengaduan 5000. Selanjutnya, akan dibentuk tim yang akan menginvestigasi pengaduan yang ada dari kotak pos tersebut.

Namun demikian, dia tidak menjamin semua kasus bisa diatasi dengan kotak pengaduan tersebut, karena pengaduan itu tetap harus disertai bukti-bukti yang nyata.

"Buat saya terlalu prematur mengatakan BUMN sebagai sarang korupsi, tapi saya harus dan wajib bahkan sudah disumpah untuk menjadikan BUMN ini menjadi lebih baik. Kotak pengaduan 5000 ini saya harap menjadi faktor pencegah atau pengendali kantor kementerian ini supaya tidak menjadi pusat korupsi," katanya.

 

Arsitek Perusahaan Masa Depan

Pengalaman kerja sembilan tahun di institusi keuangan Chemical Bank and Bankers Trust Company, New York, ternyata mengasah keahlian Sugiharto dalam menganalisis sebuah perusahaan yang andal. Bahkan, dia juga menjadi penakluk para bankir untuk mencairkan pinjaman dana. Tidak salah kalau Arifin Panigoro tetap sabar menunggu lima bulan ketika melamar pria kelahiran 29 April 1955 itu untuk hijrah ke Grup Medco.

"Ketika pertama kali masuk ke Medco, perusahaan ini memiliki spaghetti structure sehingga semua jadi semrawut. Perusahaan ini kehilangan energi karena harus mengurus hal-hal yang bukan bisnis intinya," ujar Sugiharto.

Pria ini sadar betul kalau pasar tidak mengapresiasi perusahaan yang tak fokus pada bisnis inti dalam dunia investasi manajemen karena bisa terjadi kanibalisasi. Pasar hanya mau orang yang fokus karena hal itu berarti kinerja sebuah perusahaan efisien, biaya efisien, dan pendapatan maksimal.

Akan tetapi, dengan pengalamannya sebagai konsultan manajemen, Sugiharto kemudian berusaha menjadikan Medco sebagai perusahaan yang ideal dilihat dari "best practice". Kemampuannya selama tujuh tahun sebagai konsultan manajemen dan sembilan tahun sebagai bankir membuat dirinya sangat paham bagaimana menaklukan bankir dan mengelola mind set di pengelola perusahaan itu.

Sugiharto dalam wawancara yang dimulai sekitar pukul 23.30 di kantornya seusai dia bekerja, mengaku sebagai murid Bambang Subyiyanto ketika kuliah akuntansi di Universitas Indonesia. Bagi dirinya, pribadi Bambang adalah mentor yang banyak memberikan ilmu, antara lain mengajarkan dirinya mengenai evaluasi proyek untuk memecahkan persoalan perusahaan.

Bambang jugalah yang mengenalkan dirinya dengan Arifin Panigoro. Pada waktu itu Arifin Panigoro memiliki 20 perusahaan, tetapi dari 20 perusahaan yang untung hanya dua perusahaan, sisanya hanya menjadi beban karena rugi.

MEMBUAT Medco jadi perusahaan sebesar seperti saat ini bukanlah perkara mudah bagi Sugiharto. Perlu banyak pengorbanan dan sentuhan-sentuhan halus sebagai ahli keuangan untuk memuluskan mimpi membuat Medco jadi perusahaan masa depan.

Misalnya, mengubah kultur yang saat itu masih kental dengan nuansa friendship, hingga keuangan perusahaan yang awalnya dinilai jauh dari kata "profesional". Ketika masuk, dia melakukan terobosan, seperti mengubah kultur friendship menjadi korporat. Namun dia mengakui, satu hal yang membuat dirinya optimis untuk mengubah perusahaan tersebut karena sudah memiliki etos kerja yang baik.

Sebagai tokoh yang mengubah budaya di Medco, langkah pertama yang dilakukan untuk mengubah perusahaan yang banyak dikelola oleh keluaran ITB itu adalah dengan memisahkan Medco menjadi dua bagian besar. Antara lain, menjadikan industri migas sebagai bisnis inti dan yang kedua adalah bisnis yang tidak berhubungan langsung dengan bisnis inti. Dia menyebut bisnis yang tak berhubungan dengan sektor migas sebagai bisnis hobi saja.

Sugiharto juga mulai mengambil ancang-ancang untuk melakukan akuisisi guna melebarkan sayap perusahaan. Gebrakan awal dimulai pada tahun 1992, dengan melakukan akuisisi lapangan Tesoro Petroleum yang memiliki produksi minyak sebesar 4.700 barrel.

Dia pun melakukan efisiensi sebanyak mungkin dengan cara mengalokasikan dana yang semula digunakan untuk membayar gaji sembilan orang ekspatriat untuk diputus. Dana itu kemudian digunakan untuk menambah produksinya dengan cara melakukan pengeboran.

Sugiharto tak puas sampai di situ, dengan sense of business yang dimiliki, Medco melakukan terobosan fenomenal pada tahun 1995 dengan mengakuisisi lapangan Stanvac ExxonMobil. Saat itu langkah Medco menjadi bahan tertawaan banyak orang karena lapangan tua itu dinilai dibeli terlalu mahal.

Saat itu Medco kembali mengakuisisi sebuah lapangan tua milik Stanvac ExxonMobil di kawasan Sumatera Selatan dengan nilai 88 juta dollar AS. Produksi lapangan itu mencapai 11.000 barrel dengan sisa cadangan sekitar 20.000 barrel sehingga dinilai merugikan, tetapi belakangan justru menguntungkan.

"Kami ditertawakan orang dengan keputusan akuisisi itu. Saya tetap membiarkan, karena apa yang dia tertawakan justru menjadi keuntungan bagi saya. Kenapa? Mereka lupa, sebenarnya yang mau kami beli bukan lapangan itu tetapi 460 tenaga kerja di Stanvac yang rata-rata memiliki pengalaman kerja 20 tahun. Mereka memiliki knowledge base dan kultur kerja yang sangat bagus. Mereka adalah modal SDM yang sangat berguna bagi pertumbuhan perusahaan ke depan," kenang Sugiharto.

Di tangan Sugiharto, Medco juga menjadi perusahaan yang terbuka pada tahun 1994. Langkah ini merupakan salah satu upaya Sugiharto untuk meraih akses modal sebanyak mungkin untuk mengembangkan Medco. "Akses kapital membuat kita tidak kesulitan karena orang akan berebut menawarkan uang akibat kita buka akses itu ke publik," ujar Sugiharto.

Rencana initial public offering (IPO) tidak semudah membalikkan telapak tangan bagi Medco. Sugiharto harus rela menjadi contoh perubahan atas rencana itu. Misalnya, dengan lembur hingga larut malam.

"Saat itu jam 16.00 orang-orang sudah pulang kantor di Medco. Ruang kerja saya saja yang waktu itu masih menyala lampunya hingga pukul 00.00. Bahkan, satpam sudah hafal dengan kebiasaan saya," ujar Sugiharto.

Malam semakin larut, berjam-jam sudah dia membuka lembaran-lembaran suksesnya dalam membesarkan Medco. Obrolan terus bergulir hingga sampai pada isu pemerintahan baru. Pemerintah baru, menurut Sugiharto, harus back to basic untuk memperbaiki perekonomian nasional ini.

"Dalam seratus hari pertama, pemerintah harus mendemonstrasikan orang-orang yang diyakini diterima pasar. Ini akan menaikkan persepsi indeks. Sekarang investment grade kita sudah B, untuk ke BB tinggal satu langkah lagi. Dana yang beredar di Asia mencapai triliunan dollar AS dan masih menunggu mau diparkir di mana. Jika investment grade kita makin tinggi, maka Indonesia akan menjadi rebutan orang," ujar Sugiharto menutup wawancara saat jarum jam menunjukkan pukul 02.30 dini hari. ►tsl (Buyung w kusuma/banu astono)

 

Tunggu Pengumuman

Indo Pos: RUMAH di Jl Cineru I No 3 malam itu agak lain daripada biasanya. Kediaman pengusaha Grup Medco di kawasan Senopati, Jakarta Selatan, tersebut, sejak pukul 18.00 tampak sibuk. Yang paling mencolok adalah kedatangan para wartawan dari media cetak dan elektronik.

Itulah rumah Sugiharto, calon menteri yang kemudian dilantik menjadi menteri BUMN dalam Kabinet Indonesia Bersatu pimpinan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla. Rumah salah satu eksekutif perusahaan migas milik keluarga Arifin Panigoro itu besar dan mewah. Garasinya saja cukup untuk minimal empat mobil mewah.

Di dalam rumah, meski yang hadir tidak terlalu banyak, kesibukan terlihat di lantai dua rumah bercat kuning tersebut. Sugiharto juga terlihat sibuk menerima ucapan selamat melalui telepon genggamnya. Di halaman rumah tampak beberapa mobil mewah seperti Toyota Cygnus dan Mercedes-Benz S600 yang biasa digunakan Sugiharto ngantor.

Pria kelahiran Medan 20 April 1955 tersebut mengaku, yang hadir malam itu adalah teman-temannya, termasuk rekan sejawat di Grup Medco. "Memang, sejak sore, beberapa teman datang berkunjung untuk memberikan ucapan selamat," kata direktur keuangan PT Medco Energy International Tbk tersebut.

Nama Sugiharto sempat bergeser-geser. Awalnya, pria yang juga anggota Dewan Pakar PPP itu disebut-sebut akan menjadi menteri koperasi dan UKM. Sehari menjelang pengumuman, posisinya bergeser menjadi menteri energi dan sumber daya mineral (ESDM).

"Datang ke rumah saja Mas. Kita tunggu pengumumannya sama-sama. Banyak teman di sini yang juga menunggu pengumuman," jelas Sugiharto saat koran ini menghubunginya Rabu malam lalu.

Ketika tiba di rumah Sugiharto, suasananya sudah ramai. Beberapa tetangganya juga berdatangan. Tepat pukul 22.00, dua jam setelah pengumuman kabinet molor, sang empunya rumah sudah berani memberikan keterangan pers. Kepada para wartawan, dia bercerita banyak soal industri.

"Saya ditelepon Pak Sudi Silalahi. Beliu mengabarkan bahwa saya diminta mengembangkan industri di Indonesia," ungkapnya. Pernyataan Sugiharto itu menjelaskan bahwa dia digeser lagi menjadi menteri perindustrian. Di akhir percakapan, Sugiharto menyebut bahwa kalau ada perubahan, Sudi, pembantu terdekat SBY yang kemudian jadi sekretaris kabinet, akan mengabarinya lagi.

Setelah memberikan keterangan pers, salah satu bos Medco itu bersama keluarganya menunggu pengumuman kabinet lewat televisi. Sugiharto menyediakan TV 29 inci di garasi rumahnya. Dia juga menyediakan makanan ringan. Sugiharto terkesan tidak sabar untuk melihat pengumuman.

Dua jam sebelum pengumuman kabinet, banyak staf Departemen ESDM yang hadir ke kediaman Sugiharto. Hal itu berkaitan dengan kabar yang menyebut "orang" Arifin Panigoro itu akan menjadi menteri ESDM. Tapi, semua seting awal berubah total. Tidak ada yang mengira sebelumnya, tiba-tiba Sugiharto ditempatkan sebagai menteri BUMN.

Posisi barunya itu tanpa pemberitahuan lagi dari Sudi. Dia tahu posisinya setelah dibacakan langsung oleh SBY di istana. Karena pergeseran tersebut, Sugiharto lalu mengadakan jumpa pers lagi. Dalam keterangan pers kali kedua itu, dia meralat ucapan sebelumnya yang menyebut bahwa dirinya akan menjadi menteri perindustrian. "Sebenarnya, di mana saja, saya siap menjalankan kepercayaan itu," tegasnya. Sugiharto mengaku, dirinya akan menjadikan BUMN sebagai aset unggulan bangsa.
 


*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

 
Copyright © 2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero