A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Galeri
 ► CEO-Manajer
 ► Pengusaha
 ► Company Profile
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah TI
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 24012006  
   
  ► e-ti/ey.com  
  Nama:
Sudhamek AWS
Lahir:
Rembang 20 Maret 1956
Pekerjaan:
Chief Executive Officer (CEO) Garudafood Group

Penghargaan:
- Entrepreneur of the Year (EoY) 2004 versi Ernst & Young
- “CEO Idaman 2005” versi Majalah Warta Ekonomi
- 10 Besar CEO Idaman versi Majalah Warta Ekonomi

Kegiatan Lain:
Ketua Umum Majelis Buddhayana Indonesia (MBI)


 
 
     
 
BIOGRAFI

 

Sudhamek AWS

CEO Garudafood Group

 

Chief Executive Officer (CEO) Garudafood Group, ini terpilih sebagai salah satu “CEO Idaman 2005” versi majalah Warta Ekonomi. Sebelumnya, pria kelahiran Rembang 20 Maret 1956, ini terpilih sebagai Entrepreneur of the Year (EoY) 2004 versi Ernst & Young. Sudhamek AWS pun menjadi salah satu dari 34 peserta kontes World Entrepreneur of the Year (WEOY) 2005 di Monte Carlo, Monaco 28 Mei 2005.

 

Dinilai memiliki karakter entrepreneur sukses dan tangguh, Sudhamek dinobatkan sebagai Entrepreneur of the Year (EoY) 2004 versi Ernst & Young setelah menyisihkan finalis lainnya oleh Dewan juri yang terdiri dari Mari Pangestu, Eva Riyanti Hutapea, Noke Kiroyan, Stanley Atmadja dan Sihol Siagian.

 

Para finalis lainnya adalah: Garibaldi Thohir (PT Wahana Ottomitra Multiartha), Hariono (Dayu Group), Irawan Purwono (PT Nusantara Compnet Integrator), Johannes Oentoro (Yayasan Pelita Harapan), Mochtar Riady (Lippo Grup), Moetaryanto (Group Petrolog), Rijanto Joesoef (PT Surya Multi Indopack), Rudy Wanandi (PT Asuransi Wahana Tata), Saripin Taidy (PT Probesco Disatama), Setyono Djuandi Darmono (PT Jababeka Tbk), Simarba Atong Tjia (President Director & Owner, Cahaya Buana Intitama), Sumadi Kusuma (PT Ocean Global Shipping/ Global Putra International Group), UT Murphy Hutagalung (Presdir Arion Paramita Holding Company), dan Zakiah Ambadar (Managing Director, PT Lembanindo Tirta Anugrah).


Dewan juri juga menetapkan, pria kelahiran Rembang 20 Maret 1956 itu berhak mewakili Indonesia dalam forum World Entrepreneur of The Year (WEOY) di Monte Carlo, Monaco, 28 Mei 2005.

Pada gelanggang CEO terbaik sedunia, World Entrepreneur of the Year (WEOY) 2005 yang diikuti 34 peserta pemenang di tingkat negara (country winners), itu Sudhamek AWS membawa misi mengharumkan nama bangsa. Dia memaparkan visi Garudafood dalam hal komitmen, keterlibatan (partisipasi), dan menjadi model.

 

Paparannya mengtundang pujian dari sejumlah peserta. Sebab meski Garudafood menjadikan kacang sebagai bisnis inti, karyawannya mencapai 16.000 orang dan melibatkan lebih kurang 3.000 petani. Produk Kacang Garuda saat ini bahkan telah menjangkau lebih dari 25 negara di lima benua.

Sudhamek pun didaulat para wartawan dalam wawancara seputar bagaimana kiatnya menangani bisnis kacang tersebut sehingga mencapai kelas dunia.

 

Sudhamek seperti dilaporkan harian Kompas dari Paris Minggu pagi (29/5/2005) menyatakan, ia bangga menjadi wakil Indonesia di forum dunia itu. Ia bangga bisa menerangkan tentang sebuah perusahaan yang dimulai dari bawah, kemudian bisa berkembang sedemikian rupa karena menekankan kebersamaan, kejujuran, inovasi, reputasi, dan kredibilitas.

Acara seperti ini tidak menekankan kalah dan menang dalam kontes, tetapi siapa yang terbaik dari yang terbaik untuk dipilih menjadi penerima award WEOY.

Di ajang WEOY tersebut pebisnis papan atas Amerika Serikat, H Wayne Huizenga, meraih Ernst and Young World Entrepreneur of The Year tahun 2005. Acara kelas dunia itu digelar Ernst and Young di Monte Carlo, Monako, Sabtu (28/5/2005) pukul 19.00 sampai Minggu pukul 00.30.

CEO Idaman 2005
Sementara, berdasarkan survei majalah Warta Ekonomi 2-20 Mei 2005, Sudhamek AWS, terpilih sebagai salah satu “CEO Idaman 2005” . Bersama Sudhamek AWS, juga terpilih “CEO Idaman 2005” antara lain Budi Setiadharma (Presdir PT Astra International Tbk), Anthony Salim (Presdir PT Indofood Sukses Makmur Tbk), Kristiono (Dirut PT Telekomunikasi Indonesia Tbk.), Sigit Pramono (Dirut PT Bank BNI Tbk), Hilmi Panigoro (Presdir PT Medco Energi International Tbk), Djohan Emir Setijoso (Dirut PT Bank Central Asia Tbk.), Maurits Lalisang (Presdir PT Unilever Indonesia Tbk). Kecuali Garudafood dan Pertamina, para CEO yang terpilih sebagai CEO Idaman rata-rata berasal dari perusahaan publik.

Survei dilakukan dengan metode wawancara langsung (in-depth interview) kepada 287 manajer perusahaan besar (minimal memiliki 300 karyawan dan beromzet di atas Rp20 miliar per tahun) di kawasan Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi (Jabotabek). Responden adalah karyawan perusahaan pada level manajer hingga general manager, dan perusahaannya mewakili sektor industri yang diperkirakan tumbuh tinggi pada tahun ini.

Eksplorasi data mengenai “CEO Idaman” diawali dengan menggali informasi tentang kondisi industri dan perusahaan tempat responden bekerja. Selanjutnya responden diminta mengidentifikasi kriteria “CEO Idaman” yang bisa menjawab tantangan dan problem yang dihadapi industri dan perusahaan tempat responden bekerja. Di sini terbuka kemungkinan responden tak pernah bekerja secara langsung di bawah kepemimpinan CEO yang terpilih dalam survei CEO Idaman 2005.

Sebelumnya, tahun 2004, Sudhamek AWS juga termasuk dalam urutan 10 Besar CEO Idaman para eksekutif perusahaan besar. Yakni: (1). Budi Setiadharma (Presdir PT Astra International Tbk.) 4,63%; (2). Anthony Salim (Presdir PT Indofood Sukses Makmur Tbk) 12,89%; (3). Kristiono (Dirut PT Telekomunikasi Indonesia Tbk.) 11,85%; (4). Sigit Pramono (Dirut PT Bank BNI Tbk) 5,57%; (5). Hilmi Panigoro (Presdir PT Medco Energi International Tbk) 5,23%; (6). Djohan Emir Setijoso (Dirut PT Bank Central Asia Tbk.) 3,83%; (7). Maurits Lalisang (Presdir PT Unilever Indonesia Tbk) 3,48%; (8). Sudhamek AWS (Presdir/CEO PT Garudafood) 3,48%; (9). Agus Martowardojo (Dirut PT Bank Mandiri Tbk.) 2,79%; (10).Widya Purnama (Dirut PT Pertamina) 2,79%. (WARTA EKONOMI No.12/XVII/13 Juni 2005)

Best of the Best


Di bawah kendali kepemimpinannya, Kacang Garuda dari Garudafood Group berhasil meraih predikat “Best of the Best ICSA 2005”. Sebab inilah keenam kalinya Kacang Garuda  meraih Indonesian Customer Satisfaction Award (ICSA) Predikat “Best of the Best" ini diberikan hanya kepada merek-merek yang berhasil meraih dan mempertahankan anugerah kepuasaan pelanggan Indonesia atau Indonesian Customer Satisfaction Award (ICSA) tiga kali berturut-turut atau lebih. Sebelumnya Kacang Garuda telah meraih ICSA pada tahun 2000, 2001, 2002, 2003, dan 2004.

Menurut Budiman, Head of Marketing Garudafood Group, sukses Kacang Garuda mempertahankan ICSA untuk keenam kalinya merupakan hasil dari jerih payah dan konsistensi perusahaan dalam mempertahankan kualitas produk.

“Kami juga bertekad selalu memberikan yang terbaik bagi para penggemar Kacang garuda terutama dalam hal kualitas produk dan kepuasan pelanggan,” ungkap Budiman di Jakarta (30/9).

Sukses meraih ICSA hingga enam kali dan predikat “Best of the Best ICSA” bagi Kacang Garuda semakin mempertegas dominasinya di pasar kacang bermerek nasional. Hal ini dicapai berkat inovasi yang terus dilakukan dengan mengutamakan kepuasan pelanggan. Hingga kini Kacang Garuda masih menjadi market leader di pasar kacang bermerek.

ICSA sendiri bisa menjadi tolok ukur pertumbuhan sebuah industri, termasuk industri makanan dan minuman serta distribusi yang digeluti Garudafood Group. Maklum, jika semua produsen berlomba-lomba memberikan kepuasan terbaik bagi para pelanggannya, maka produsen pun akan mendapat manfaatnya.

Bagi Garudafood, keberhasilan meraih predikat “Best of the Best ICSA” pada tahun 2005 ini merupakan tantangan untuk terus berinovasi dalam hal strategi dan pengembangan produk, yang bisa memberi nilai tambah (added value) dan kepuasan bagi pelanggan (customer satisfaction).

Sejak dua tahun terakhir Kacang Garuda juga mengusung sederet program terkait dengan tekadnya sebagai “Health Icon”. Untuk itu Kacang Garuda menjalin kerjasama dengan Yayasan Jantung Indonesia (YJI) dan Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi).

ICSA merupakan anugerah yang digelar Frontier (lembaga riset independen ternama) dan majalah SWA untuk produk yang mampu memberi kepuasan kepada pelanggan.

Tingkat kepuasan pelanggan itu sendiri diukur melalui tiga faktor, yakni kepuasan terhadap kualitas produk/layanan (QSS), dan kepuasan terhadap harga berdasarkan kualitas yang diterima (VSS), serta persepsi bahwa salah satu merek dinilai terbaik secara keseluruhan dibanding merek lainnya (PBS).

ICSA 2005 didasarkan pada hasil survey atas 10 ribu responden berusia 15-65 tahun yang tersebar di enam kota besar di Indonesia (Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, Makassar) periode Juni-Juli 2004.
 

Entrepreneur of the Year (EoY) 2004
Garudafood Group began as a family business established by the late Darmo Putro based on the production of tapioca flour in Pati, Central Java. In 1987, the company focused on roasted peanuts with the launch of the product called Kacang Garing Garuda, now more popularly known as Kacang Garuda.


When Sudhamek, the youngest child of the founder, joined Garudafood in 1994, the company was just beginning to export. To ensure that Kacang Garuda could be enjoyed by consumers throughout Indonesia Sudhamek then established its own distribution company.


To extend the product range Sudhamek invested in research and development to produce coated peanuts. The new products enjoyed a good response from the market and exceeded Kacang Garuda in terms of sales volume.


Sudhamek also embarked on acquiring control of peanut plantations by forming cooperatives with peanut growers to purchase their peanut harvest at more competitive prices. The Garudafood group actively promotes mutually beneficial business partnership systems.


Through hard work, and professionalism, Sudhamek has delivered impressive results for Garudafood. By 1998 Kacang Garuda had 65% of the peanut snack market in Indonesia.
During the height of the economic crisis in May 1998, Sudhamek diversified into jelly foods. Garudafood group has grown consistently in recent years by continuously investing in research and development for new products and by leveraging a strong brand identity with customers. More than 15,000 employment opportunities have now been created by the group.

 ►e-ti/tsl, sumber garudafood.com dan ey.com


*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)