| |
C © updated 03032008 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ey.com |
|
| |
Nama:
Sudhamek AWS
Lahir:
Rembang 20 Maret 1956
Pekerjaan:
Chief Executive Officer (CEO) Garudafood Group
Penghargaan:
- Entrepreneur of the Year (EoY) 2004 versi Ernst & Young
- “CEO Idaman 2005” versi Majalah Warta Ekonomi
- 10 Besar CEO Idaman versi Majalah Warta Ekonomi
Kegiatan Lain:
Ketua Umum Majelis Buddhayana Indonesia (MBI)
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
Sudhamek AWS
Kami Akan Masuk ke Bisnis CPO dan Farmasi
Lukisan merpati dan kuda terpampang di dinding ruang kerja Sudhamek, di
lantai 3 Wisma Garudafood, Jl. Bintaro Raya No. 10. Kedua lukisan
tersebut, menurut peraih Entrepreneur of The Year 2004 versi Ernst &
Young ini, menggambarkan falsafah perusahaannya: peaceful (merpati) dan
dynamic (kuda). Ada lagi sebuah lukisan lain, seorang pendeta India, Sai
Baba, yang ia sebut sebagai guru spiritualnya.
Memang, nilai-nilai filosofis kental mewarnai cara Sudhamek mengelola
Garudafood. Senin sore (2/4) lalu, Sudhamek bertutur panjang soal ini
kepada Prayogo P. Harto dari Warta Ekonomi, termasuk rencananya memasuki
bisnis CPO (crude palm oil) dan farmasi. Petikannya:
Apa makna spiritual company bagi Anda?
Meminjam istilah Jim Collins, saya ingin Garudafood tak sekadar good,
tetapi great. Good itu perusahaan yang berkembang dan profit, sedang
great di atas good. Dalam konteks Garudafood, great itu spiritual
company (SC). Di Garudafood, spiritualitas kami bangun dengan sadar dan
berjalan sejak 17 tahun lalu. Padahal, penelitian konsep SC baru
berkembang lima tahun belakangan.
Bagaimana menerjemahkan SC dalam operasional perusahaan?
Analoginya seperti pohon bambu. Pada tiga-empat tahun awal, bambu tumbuh
ke bawah, memperkuat akar, dan baru ke atas. Makanya, diterjang angin
sekuat apa pun bambu tak rubuh. Artinya, kalau perusahaan mau kukuh,
kita harus perkuat akarnya dulu. Di Garudafood, akarnya adalah
nilai-nilai spiritual, filosofi, dan misi perusahaan. Nilai-nilai ini
kami buatkan kurikulum, modul-modul, metode sosialisasi, organisasi,
sistem, bujet, maupun infrastrukturnya. Di atas itu, butuh komitmen dari
shareholder. Jika dilakukan secara konsisten, kultur akan terbentuk.
Memang ini jangka panjang, karena kami membangun habit.
Contoh praktisnya?
Di sini, tiap karyawan akan menerima tiga pelatihan kompetensi: spesifik,
general, dan core. Nah, core competence adalah pelatihan untuk membentuk
nilai-nilai karyawan agar sejalan dengan budaya perusahaan. Nilai-nilai
ini bersumber pada spiritualitas yang universal dan ada di semua agama.
Misalnya, kejujuran. Untuk itu kami membangun CCDD (Corporate Competency
Development Department). CCDD berperan membuat modul-modul dan pelatihan.
Selanjutnya, hasilnya di-review untuk melihat apakah nilai-nilai itu
berhasil dicangkokkan atau belum. Kemudian, kenaikan pangkat dan bonus
karyawan tak hanya ditentukan secara kuantitatif dengan KPI (key
performance indicator), tetapi juga kualitatif, yaitu attitude atau
perilaku. Contoh lain, sebelum dan setelah rapat, kami selalu berdoa
bersama. Mungkin saya CEO yang paling sering berdoa… hahaha.
Bagaimana jika ada karyawan yang tak sesuai dengan nilai-nilai
perusahaan?
Ini ajaran Buddha. Suatu ketika Buddha ditanya bagaimana caranya
mendidik murid. Lantas, Buddha bertanya kepada Keshi, salah satu
muridnya yang pawang kuda, bagaimana cara dia mendidik kuda. Keshi
menjawab: “Pertama, kuda akan saya didik dengan cara lembut. Kalau tidak
berhasil, akan saya kombinasikan dengan cara keras. Jika belum berhasil,
saya pakai tangan besi. Kalau gagal juga, kuda itu saya bunuh.” Lantas,
Buddha berkata: “Begitu juga yang saya lakukan dalam mendidik. Cuma
bedanya, saya tidak membunuh, tetapi akan saya keluarkan dia dari
komunitas ini.” Artinya, seorang nabi pun memiliki sikap tegas. Begitu
juga dengan mengurus perusahaan, kita harus tegas. Kita tak bisa
mengambil risiko kapal ini tenggelam karena mempertahankan 1-2 orang
yang buruk. Ibaratnya, jika tak bisa dibina, ya dibinasakan… hahaha.
Sudhamek anak bungsu dari 11 bersaudara (7 laki-laki, 4 perempuan).
Ia akrab dengan berbagai kalangan, seperti (alm.) Nurcholish “Cak Nur”
Madjid, dan Gus Dur. Bersama Cak Nur, Sudhamek yang kelahiran Rembang,
20 Maret 1956, ini membidani Seville Nations Plus Schools, sebuah
sekolah plus. “Kami ingin membangun pendidikan yang menyeimbangkan
prestasi akademik dan pembentukan watak. Ini agar anak-anak kita tak
hanya pintar, tetapi juga memiliki hati yang hangat,” ujar ketua Majelis
Buddhayana Indonesia (MBI) ini. Lulusan S1 ekonomi (1981) dan hukum
(1982) dari Universitas Satya Wacana, Salatiga, ini sempat “melanglang
buana” di PT Gudang Garam Tbk. (GG) selama 12 tahun. Posisi terakhirnya
adalah presdir PT Trias Santosa Tbk., anak usaha GG. Tahun 1997, ayah
dua putra dan seorang putri ini kembali ke pangkuan bisnis keluarga.
Mengapa Anda tak langsung bergabung dengan bisnis keluarga?
Ada dua pertimbangan. Pertama, saya ingin mencari pengalaman di luar.
Kedua, bisnis keluarga ini masih kecil. Kalau saya masuk, akan menambah
beban orang tua karena harus mencarikan “mainan” untuk saya.
Bagaimana ceritanya hingga Anda bisa kembali ke sini?
Seorang eksekutif Garudafood membujuk kakak-kakak saya supaya meminta
saya bergabung. Waktu itu, orang tua saya sudah meninggal dunia. Rupanya
mereka terbujuk, selain ada kebutuhan untuk mengubah bisnis keluarga.
Kemudian, mereka meminta saya memimpin Garudafood. Saya bersedia dengan
satu syarat: hubungan kami nanti adalah atasan-bawahan. Saya berpikir
rasional, bagaimanapun, saya anak bungsu. Kalau hubungannya masih
senioritas, saya tak akan bisa berbuat banyak.
Lalu?
Mereka sempat khawatir. Tetapi, setahun kemudian mereka datang lagi dan
menerima syarat saya. Nah, “tiket” ini saya kantongi dulu. Dipakai atau
tidak, itu urusan nanti. Namun, dalam perjalanannya tidak dipakai,
karena saya lebih suka memimpin by heart. Itu justru efektif. Mungkin
mereka sudah membayangkan akan diperintah adik terkecilnya, ternyata
tidak… hahaha. Mereka tentu kaget, tetapi kaget menyenangkan. Akhirnya,
kami bisa membangun suasana kondusif. Pengalaman kerja di luar selama
lebih dari 12 tahun membuat saya yakin perusahaan tak bisa berjalan
tanpa dukungan penuh dari shareholder. Jadi, keberhasilan saya membangun
perusahaan ini juga karena dukungan total kakak-kakak saya.
Apa yang Anda bawa dari luar ke bisnis keluarga?
Semangat profesionalisme. Saya menghargai kakak-kakak yang mendukung
semua kebijakan saya, termasuk keputusan-keputusan yang merugikan mereka.
Mereka saya minta mengalah dan memberikan kesempatan kepada profesional.
Bahkan, kemarin di RUPS, saya katakan, “Oleh karena tahun ini kondisi
perusahaan kurang baik, maka tidak ada kenaikan gaji bagi mereka.”
Sementara itu, karyawan tetap kami naikkan gajinya sekitar 10%. Kalau
mereka egois, mereka bisa saja menolak. Tetapi, meski mungkin dalam
hatinya agak kecewa, mereka menerima. Ini membuat saya terharu.
Berarti kondisi Garudafood sedang turun?
Bukan cuma kami. Seluruh perusahaan nasional belum pulih karena kenaikan
harga BBM. Kemarin saya baca Maxell, produsen kaset, omzetnya tinggal
sepertiga. Jadi, kalau Pak Jusuf Kalla mengatakan pengusaha jangan
mengeluh, sebenarnya keluhan itu karena ada api maka ada asap. Bisnis
itu seperti roda. Kadang di atas, kadang di bawah. Kalau sedang di bawah,
ya jangan ngotot seperti sedang di atas.
Bagaimana kinerja Garudafood tahun lalu?
Omzet kami masih naik 24% atau sekitar Rp2,7 triliun. Tahun ini kami
memproyeksikan akan naik 33% atau menjadi sekitar Rp3,6 triliun. Namun,
profit kami turun, tetapi kami proyeksikan tahun ini akan sedikit naik
dibanding tahun lalu.
Sudhamek adalah generasi ke-5 dalam bisnis keluarga di Garudafood. Di
tangan penikmat buku-buku manajemen dan filsafat inilah perusahaan
berkembang pesat. Dari 1 pabrik, 700 karyawan, dan 5 item produk, kini
Garudafood memiliki 8 pabrik, 19.000 karyawan, dan memproduksi lebih
dari 200 item produk. Dari semula hanya produsen kacang kulit, melebar
ke bisnis biskuit, minuman, snack, distribusi, hingga berencana merambah
bisnis CPO dan farmasi. Namun, penganut paham pluralisme ini sempat
dikritik akibat strategi tollmanufacturing, memproduksi Ting Ting, salah
satu produk Garudafood, di Cina.
Mengapa menempuh strategi tollmanufacturing di Cina?
Cina dan India akan menjadi kekuatan utama dunia. Jadi, sebetulnya kita
cukup berkonsentrasi pada dua negara ini saja. Kalau mereka jadi nomor 1
dan 2, setidaknya kita bisa nomor 5 atau 6. Nah, Cina kini
konsentrasinya di manufaktur dengan cost leadership. Namun, ke depan,
Cina ingin jadi the center of research world. Artinya, dari barang
murah-murah menuju produk berkualitas. Kalau India, strateginya adalah
outsource.
Lantas?
Dalam bisnis, jika berperang melawan kompetitor yang terlalu kuat, kita
tak akan menang. Sekarang, siapa yang bisa melawan Cina? AS saja tak
berkutik. Jadi, strateginya cuma dua, melarikan diri atau jadi teman
mereka. Kami pilih jadi teman. Caranya, kami gandeng mereka jualan di
sini, tetapi produknya merek kami. Jadi, kendali ada di tangan kami.
Artinya, kalau dia macam-macam, saya masih bisa cari produsen lain.
Kalau dia mau jual produk sendiri, tidak mudah karena konsumen itu beli
merek. Jadi, strategi komplementer ini justru untuk menyelamatkan
pilar-pilar ekonomi nasional.
Apa resep Anda menyalip kacang Dua Kelinci?
Pertama, benahi distribusi. Indonesia negara kepulauan. Kunci di bisnis
consumer goods adalah distribusi yang bisa menjangkau seluruh lokasi.
Sekuat apa pun marketing kita, kalau produk belum ada di pasar, tak ada
artinya. Merata dulu, baru beriklan. Kedua, membangun brand. Ketiga,
inovasi. Sekarang, posisinya, apa pun produk kami, ditiru Dua Kelinci.
Kami buat Katom (kacang atom), mereka juga bikin Sukro. Kami buat Pilus,
mereka bikin Tik Tak. Satu-satunya yang tidak mereka ikuti di biskuit.
Mungkin masih ngeri karena ada Danone, Arnotts, dan Nabisco. Belum lagi
pemain kuat lokal, seperti Mayora dan Khong Guan.
Produk apa yang jadi kontributor utama pendapatan Garudafood?
Item-nya masih kacang kulit eceran Rp500. Tetapi, kalau dari kategori,
yang tertinggi biskuit. Kacang nomor 2-3 atau sekitar 20%, sama dengan
minuman. Orang sering salah persepsi, jika bicara Garudafood, yang ada
di benaknya pasti kacang. Ini problem bagi saya. Sebab, Garudafood itu
corporate brand, bukan product brand lagi. Ini otokritik untuk divisi
marketing kami.
Ada rencana ekspansi ke bisnis lain?
Saya sedang membangun SBU-SBU (strategic business unit) baru. Saya akan
masuk ke CPO, farmasi, dan industri lain. Tetapi, kami tak akan jadi
konglomerasi yang tanpa batas. Kami hanya akan fokus di industri baru
yang strategis.
Sudah mempersiapkan generasi penerus bisnis keluarga ini?
Pendekatan kami sekarang adalah profesionalisme. Kalau ada orang luar
yang bagus dan kami butuh, mereka yang naik. Perusahaan ini sudah masuk
generasi ke-6, jumlahnya ada 23 orang, tetapi hanya tiga orang yang
bekerja di sini. (Jum'at, 4 Mei 2007 09:38 WIB - warta ekonomi.com)
►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|