A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Galeri
 ► CEO-Manajer
 ► Pengusaha
 ► Company Profile
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah TI
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 24012006  
   
  ► e-ti/ey.com  
  Nama:
Sudhamek AWS
Lahir:
Rembang 20 Maret 1956
Pekerjaan:
Chief Executive Officer (CEO) Garudafood Group

Penghargaan:
- Entrepreneur of the Year (EoY) 2004 versi Ernst & Young
- “CEO Idaman 2005” versi Majalah Warta Ekonomi
- 10 Besar CEO Idaman versi Majalah Warta Ekonomi

Kegiatan Lain:
Ketua Umum Majelis Buddhayana Indonesia (MBI)

 
 
     
 
BERITA
Sudhamek AWS

Peduli, Bencana di Aceh-Nias

 

Setibanya dari perjalanan spiritual bersama keluarga di Bangalore, India, Senin pagi 27 Desember 2004, Sudhamek AWS memutuskan harus berbuat sesuatu untuk korban gempa dan Tsunami di Aceh dan Nias.

Keprihatinan atas terjadinya gempa dan badai Tsunami, serta keinginan untuk membantu korban terus berkecamuk dalam benaknya. Serta merta dia terdorong untuk segera “terbang” ke Aceh. Fisik yang letih selepas menempuh perjalanan jauh selama sepekan lebih dan belum sepenuhnya pulih dari sakit harus mengalah pada kuatnya dorongan untuk bisa melakukan tugas-tugas kemanusiaan.

Dari laporan media massa disimaknya baik-baik bagaimana
dahsyatnya dampak bencana maut itu. Minggu 26 Desember 2004 pukul 07.50 wib rentetan gempa bumi berkekuatan di atas 8,7 pada skala Richter mengguncang Provinsi Naggroe Aceh Darussalam. Belum juga reda rasa takut akibat gempa,
tiba-tiba muncul gelombang pasang (Tsunami) melumat hampir seluruh wilayah Aceh dan Nias, Sumatera Utara.

Tak pelak, beberapa kota di sepanjang pesisir Aceh, Nas, serta pulau-pulau kecil di sekitarnya lumat ditelan banjir lumpur. Lebih dari 100 ribu jiwa tewas mengenaskan di Aceh, dan ratusan lainnya mengalami nasib sama di Nias.

Bencana dahsyat ini tentu saja tidak luput dari perhatian
seluruh unsur di dalam keluarga besar Garudafood Group. Meski baru tiba dari India, Sudhamek AWS menggerakkan segenap komponen di dalam perusahaan untuk mengumpulkan seluruh kemampuan yang ada guna membantu meringankan beban korban bencana tsunami Aceh-Nias.

Setelah rapat singkat dengan beberapa eksekutifnya di Garudafood mengenai bantuan apa yang bisa diberikan untuk membantu meringankan beban korban, Sudhamek memutuskan untuk memantau langsung pengiriman bantuan ke Aceh-Nias.

Akan tetapi, belum kondusifnya Banda Aceh yang diperparah oleh rusaknya infrastruktur di sana membuat Sudhamek tertahan di Medan, Sumatera Utara. Tiket Jakarta-Medan hari itu menjadi barang langka yang begitu diperebutkan banyak orang, terutama keluarga korban dan wartawan.

Kendati hanya bisa sampai Medan, di kota ini Sudhamek memimpin langsung upaya penggalangan dan pengiriman bantuan untuk korban yang dilakukan tim gabungan yang terdiri dari umat Buddhayana dan karyawan Garudafood wilayah Medan.

"Tidak ada lagi yang bisa digunakan di Aceh kini, semua luluh lantak akibat gempa dan Tsunami. Korban saat ini tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk menerima bantuan kita,"
ujar Sudhamek AWS, di sela pembicaraan mengenai strategi pengiriman bantuan korban Tsunami dengan Menko Kesra Alwi Shihab, Menteri Agama Maftuh Basyuni, dan Menteri PU Djoko Kirmanto, serta tokoh agama Buddha di Medan, Rabu pagi 29 Desember 2004.

Selain dikenal sebagai pengusaha, Sudhamek AWS tercatat sebagai Ketua Umum Majelis Buddhayana Indonesia (MBI). Aktivitasnya di bidang sosial-kemanusiaan selama ini salah
satunya memang disalurkan melalui organisasi agama Buddha paling tua di Indonesia tersebut.

Hubungannya yang luas dengan pelbagai kalangan membuat pengumpulan bantuan dana dan barang untuk korban Tsunami berjalan mulus. Beberapa principal dan perusahaan trading yang menjadi business partner Garudafood di luar negeri pun berhasil digandengnya untuk bersama-sama membantu korban Tsunami sehingga jika digabungkan dengan yang disiapkan Garudafood terkumpul bantuan hampir senilai Rp2 miliar. Selain mengumpulkan uang dan barang, di beberapa lokasi di Jakarta dan Medan Sudhamek mendirikan posko bantuan untuk korban bencana gempa dan Tsunami.

Selain menggalang bantuan, bersama umat Buddhayana dia tenggelam dalam doa di tengah banjir informasi media massa yang memberitakan peningkatan jumlah korban meninggal dan hilang hari demi hari. Lebih dari 100.000 orang tewas, jutaan lainnya menanti pertolongan di kamp pengungsi.

"Apa yang terjadi di Aceh dan Nias benar-benar dahsyat, dan semakin menegaskan betapa manusia itu “nothing” dibanding kekuasaan Yang Maha Kuasa,” ujar Sudhamek lirih.

Tingginya penghayatan Sudhamek terhadap fungsi civic responsibility telah mendorong karyawan Garudafood
untuk ikut aktif membantu masyarakat korban Tsunami di Aceh dan Nias. Ini dibuktikan melalui penggalangan dana dan pengadaan kegiatan donor darah yang melibatkan karyawan Garudafood di seluruh unit bisnis. Dana sumbangan disampaikan langsung ke korban Tsunami yang dirawat di beberapa rumah sakit di Jakarta antara lain RSPAD Gatot Subroto, RS Jantung Harapan Kita, RS Fatmawati, RSCM, dan RSI Pondok Kopi. Di samping itu karyawan pun melakukan pendampingan terhadap para korban yang mengalami luka-luka dan trauma psikis.

Apa yang telah dilakukan Sudhamek menjadi contoh bagaimana menerapkan konsep civic responsibility yang diusung Garudafood dalam praktik kehidupan sehari-hari. Konsep ini mewujud dalam bentuk upaya perusahaan untuk berinteraksi secara positif dengan lingkungan bisnisnya baik di dalam maupun di luar. Sehingga perusahaan bisa ikut membentuk, dan mewarnai perkembangan masyarakat di
sekitarnya. ►e-ti/tsl, sumber garudafood.com


*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)