A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Galeri
  P R O F E S I
 ► Guru-Dosen
 ► Konsultan
 ► Peneliti-Ilmuwan
 ► Majalah TI
 ► Nusantara
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 16092007  
   
  ► e-ti/rpr  
  Nama:
Prof Dr Sri Edi Swasono
Lahir:
Ngawi, Jawa Timur, 16 September 1940


 
 
     
     
 
SRI EDI SWASONO HOME

Prof Dr Sri Edi Swasono

Guru Ekonomi Rakyat

 

Prof. Dr. Sri-Edi Swasono adalah Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Mantan anggota MPR-RI dari FUG, Pimpinan Gerakan Reformasi Nasional (GRN) dan Ketua Umum SOKSI-Reformasi, kelahiran Ngawi, Jawa Timur, 16 September 1940, ini adalah guru ekonomi rakyat. Inti pemikirannya tentang kemandirian dan ekonomi rakyat telah banyak dipublikasikan, di antaranya pada Kongres Kebudayaan V, Bukittinggi, tgl 20– 22 Oktober 2003

 

Menurutnya, saat ini kemandirian ekonomi nasional telah menjadi tuntutan riil. Ketergantungan pada keterdiktean oleh pihak luar-negeri digugat sebagai penyelewengan mendasar dari cita-cita kemerdekaan nasional, sekaligus memperpuruk martabat, prestise dan harga diri bangsa. Platform nasional tentang pinjaman luar-negeri yang harus bersifat “sementara” dan “pelengkap” tidak ditaati lagi.

Sejak awal kemerdekaan, kemandirian sejati telah tegas digariskan sebagai cita-cita nasional yang harus direalisasi, mewujudkan onafhangkelijk¬heid, melepaskan diri dari ketergantungan. Selanjutnya pada awal Orde Baru, yang mewarisi kebangkrutan ekonomi Orde Lama, telah muncul ide mengenai perlunya kita memperoleh pinjaman dari luar-negeri untuk mengangkat perekonomian Indonesia.

 

Bersamaan dengan itu muncul pula gagasan tentang bagaimana kita harus berhati-hati terhadap pinjaman luar-negeri. Misalnya di dalam penggarisan Tracee Baru di awal Orde Baru (1966) yang digagas oleh Universitas Indonesia, yang banyak dipelopori oleh tokoh-tokoh dari Fakultas Ekonomi, sempat dikemukakan tentang syarat-syarat untuk menerima pinjaman luar-negeri, yang intinya menyangkut bunga rendah (bukan altruisme) tidak mengikat dan digunakan untuk pembiayaan projek-projek pembangunan ekonomi yang masing-masing mampu mengembalikan sendiri hutang dan bunganya. Tracee Baru yang digelar dan dipelopori orang-orang FEUI masih tegas-tegas mempertahankan Deklarasi Ekonomi (sebagai acuan politik) yang intinya adalah politik ekonomi “berdikari” atau “mandiri”.
 

Ironis

Suatu hal yang ironis terjadi di Indonesia yaitu ahli ekonomi dapat membuat kebijakan ekonomi, ahli politik dapat membuat kebijakan politik, tetapi ahli kebudayaan tidak dapat membuat kebijakan tentang kebudayaan. Para budayawan lebih suka membuat puisi, menulis sehingga kebudayaan telah direduksi sebagai kesusasteraan.

 

Hal itu dikemukakan Sri Edi Swasono dalam Seminar Pendalaman Ekonomi Rakyat 7 Mei 2002. Padahal, menurut Sri Edi, kebudayaan tidak sebatas sastra tetapi yang paling penting adalah harkat dan martabat bangsa yang sekarang ini seolah-olah bukan bagian dari kebudayaan dan pemikiran inferior bukan menjadi masalah lagi.

 

Hal lain yang menyesatkan adalah kebudayaan dipindahkan ke departemen kepariwisataan dan yang membuat kurikulum pendidikan bukan dari departemen kebudayaan. Inilah hal menyesatkan yang dapat menghancurkan bangsa karena manusia Indonesia sudah tidak berbudaya.

Dalam rangka pendalaman ekonomi rakyat sekarang terjadi antagonis pusat dengan daerah, daerah memaki-maki pusat (padahal orang daerah adalah orang yang dahulu berkuasa di pusat). Dengan demikian tercipta budaya tidak konsisten. Inilah kejahatan moral yang waktu pemerintahan Soeharto berkoporasi di pusat. Pusat adalah suatu yang abstrak bukanlah lokalitas. Budaya pusat adalah sistem pemerintahan yang jawa sentris karena pemimpinnya orang Jawa.

Kaitan antara demokratisasi dengan ekonomi rakyat, akonomi rakyat adalah ekonomi lokal yang menguntungkan masyarakat lokal artinya harus ada nilai tambah dari kegiatan ekonomi yang tertinggal di daerah. Tidak seperti bisnis humburger yang tertinggal adalah hanya upah buruh karena tenaga kerja Indonesia mau dibayar murah.

 

Dengan demikian dalam rangka mengembangkan ekonomi rakyat harus ada kesadaran dari pemerintah pusat untuk mengidentifikasi potensi-potensi yang ada di daerah karena pemerintah daerah belum mampu mengidentifikasi sendiri sehubungan sudah terlalu lama ditekan. Jadi dengan adanya otonomi daerah harus menjadikan rakyat semakin kopen.

 

Di sini terlihat semakin pentingnya hubungan antara daerah dengan pusat (bukan berarti sentralisme) karena ekonomi lokal tidak dapat berkembang di daerah saja tetapi harus berkembang menjadi ekonomi nasional, regional maupun internasional.

 

Sehingga yang menjadi batas dalam kebudayaan adalah kekeluargaan tetapi dalam ekonomi adalah keunggulan komparatif dan skala ekonomi. Sekarang ekonomi rakyat kocar-kacir karena terjadi isolasisme dan eksklusifisme dari pemerintah daerah, sehingga kerja sama antar pemerintah daerah tidak terjadi karena daerah melihat batas-batas daerah secara vertikal. ►ti

 

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

 

 

         

Sri-Edi Swasono

Membangun Ekonomi Rakyat

Saat ini kemandirian ekonomi nasional telah menjadi tuntutan riil. Ketergantungan pada keterdiktean oleh pihak luar-negeri digugat sebagai penyelewengan mendasar dari cita-cita kemerdekaan nasional, sekaligus memperpuruk martabat, prestise dan harga diri bangsa. Platform nasional tentang pinjaman luar-negeri yang harus bersifat “sementara” dan “pelengkap” tidak ditaati lagi.