| |
C © updated
12062004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/tempo |
|
| |
Nama;
Sophan Sophian
Lahir:
Makassar 26 April 1944
Agama:
Islam
Isteri:
Widyawati
Ayah:
Manai Sophiaan
Ibu:
Munasiah Paiso
Profesi:
Bintang Film dan Politikus
Jabatan:
Mantan Ketua Fraksi PDIP MPR
Film:
Pengantin Remaja
Alamat:
Jalan Taman Wijaya Kusuma IV No. 34 A Cilandak Barat, Jakarta
Selatan |
|
| |
|
|
|
|
Sophan Sophian
Kiprah Politik Sang Aktor Film
Dia seorang aktor film yang piawai bermain kepura-puraan
atau bersandiwara. Ia menghayati
kepura-puraan sebagai seni. Kemudian ia terjun dalam dunia politik
praktis,
menjadi Ketua Fraksi PDIP MPR, lalu mengundurkan diri. Kemudian ia pun meloncat memainkan adegan
(peran) baru masuk tim sukses dan bintang iklan Capres-Cawapres PAN.
Namun, menjelang Kongres Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)
ke-2 di Bali, Maret 2005, dengan amat percaya diri sebagai loyalis,
pejuang dan pembaharu partai (PDIP), ada pula yang masih menjagokannya
sebagai salah satu calon Ketua Umum PDIP menggantikan Megawati
Soekarnoputri.
Ketika berperan sebagai bintang film, dia melihat kepura-puraan sebagai
seni dan dia sangat menghayatinya. Sehingga ia sukses sebagai bintang
film. Kemudian ia terjun dalam dunia politik praktis, sampai sempat
diberi kesempatan (dipercayakan)
menjadi Ketua Fraksi PDIP MPR-RI. Dalam peran yang dipercayakan
kepadanya di PDIP itu, namanya makin melambung dan sempat mewarnai
kancah politik nasional. Namun di dunia politik (parlemen)
itu, tampaknya ia menghadapi kepura-puraan (sandiwara) yang terjadi dalam kenyataan, hal
yang sebenarnya sangat dihayatinya dalam film. Ia pun hidup dalam dua dunia, yakni
kenyataan kepura-puraan dan seni peran kepura-puraan yang dihayatinya. Lalu
dalam kenyataan itu,
ia pun mundur dari lembaga legislatif. Sampai di situ,
banyak orang masih terkesima seperti merasakan adanya sinyal nurani
kejujuran. Belakangan, ia meloncat
melakoni adegan (peran) baru masuk tim sukses Amien-Siswono,
Capres-Cawapres PAN (Partai Amanat Nasional) untuk bersaing dengan
Capres-Cawapres lainnya, di antaranya Capres-Cawapres PDIP. Kali ini, juga dalam suatu
kenyataan, sekaligus dalam suatu seni peran sebagai bintang iklan mendukung
Amien-Siswono.
Memang, meminjam lirik lagu Achmad Albar, dunia ini adalah panggung
sandiwara. Walaupun lirik lagu itu tidak selalu benar. Sebab panggung
sandiwara tidak selalu sebagai suatu kenyataan dan kenyataan tidak
selalu menjadi panggung sandiwara. Terkadang ketulusan
nurani tanpa pamrih masih menampakkan sosok sebagai kenyataan.
Ah... ketulusan nurani yang antara ada dan tiada! Entahlah itu yang disebut
sebagai seni peran (aktor) dan politik (politikus) yang harus mampu
berkompromi. Bak kata para filsuf, suatu misteri kehidupan manusia yang
paradoksal. Berbeda, bahkan bertentangan, tetapi berjalan secara
bersamaan. Begitulah kiranya, kiprah dan potret seorang aktor film
(pemain sandiwara) kenamaan, dalam dunia politik. “Boleh jadi dia tidak cocok
menjadi seorang politisi,” kata Jimly Ashidiqie, sebagaimana dikutip
Suara Pembaruan, ketika Sophan
mengundurkan diri dari parlemen.
Sophan sendiri mengatakan pengunduran
dirinya karena menilai parlemen sebagai lembaga politik tidak sejalan
dengan nuraninya. Namun, ketika itu, pria kelahiran Makassar 26 April
1944, ini menyatakan hanya mengundurkan diri dari parlemen tapi tidak
mundur dari keanggotaan PDI-P.
''Saya hanya mundur dari MPR/DPR, saya tidak mundur dari partai, saya
tetap orang PDI-P,'' ujarnya. Ia menegaskan: “Saya tidak pernah memiliki
pretensi apapun terhadap pengunduran diri saya. Saya mengundurkan diri
karena saya sudah merasa tidak mampu lagi beradaptasi dengan konstalasi
sosial, ekonomi dan politik yang sedang berlangsung saat ini.”
Banyak pihak menyebutkan, mundurnya Sophan itu karena kekecewaan yang
terakumulasi. Antara lain, perberbedaan paham dengan Megawati akibat
ulah orang-orang ''indekos'' di PDI-P. Juga karena PDIP tidak mendukung
pembentukan Panitia Khusus (Pansus) penyelidikan dana nonbujeter Badan
Urusan Logistik (Bulog) di DPR.
Mundurnya Sophan, kata para pengamat (namanya pengamat bisa salah
atau benar), tidak hanya merupakan kerugian
bagi DPR dan MPR, tetapi juga merupakan kerugian bagi Megawati
Soekarnoputri dan PDI-P. Sebab meskipun ia seorang seniman, tetapi
termasuk bisa menjadi kaliber politik karena kemungkinan mewarisi watak
politik dari Manai Sophiaan ayahandanya.
Maka tak heran, bila pengunduran dirinya dari parlemen (Fraksi PDIP)
membuat politisi dari partai lain meliriknya dengan cerdik (cerdas dan
berani serta taktis) sebagai
bagian dari permainan dan kepentingan politik. Dan, ia pun secara sadar
meloncat mendukung dan menjadi bintang iklan Capres-Cawapres partai lain
(Partai Amanat Nasional).
Selepas Pemilu Legislatif
2004, namanya sempat melambung tinggi disebut-sebut menjadi salah satu yang berpeluang
mendampingi Abdurrahman Wahid sebagai Cawapres dari Partai Kebangkitan
Bangsa. Ia sudah beberapa kali bertemu dengan Gus Dur, seperti juga
banyak orang penting lainnya. Namun, akhirnya PKB memilih Marwah Daud Ibrahim,
salah seorang kader Golkar yang seringkali 'melawan' Akbar Tandjung,
ketua umumnya sendiri.
Selepas itu, belakangan, suami bintang film Widyawati (pasangannya dalam film
Pengantin Remaja), ini memainkan peran dan kepentingan politik yang
menarik dan bernuansa seni, yang disebutnya berpolitik dengan nurani. Ia
menjadi pendukung Capres dan Cawapres Partai Amanat Nasional (PAN), Amien
Rais-Siswono Yudo Husodo pada Pemilu Presiden 2004. Dalam peran ini, ia pun tampil sebagai bintang
iklan Amien Rais-Siswono.
Dalam peran baru ini, banyak pihak menduga, ia bakal didudukan dalam kabinet
Amien-Siswono (jika terpilih) sebagai Menteri Seni dan Budaya. Sebuah
jabatan yang memang dianggap sangat cocok buatnya, asalkan ia
melakoninya sebagai sebuah kenyataan, bukan seni peran, akting atau
sandiwara dalam sebuah film atau drama.
Entahlah! Bukankah ia sudah pernah menjadi seorang politikus yang sempat berada pada posisi politik yang
sangat kuat dalam konstalasi politik nasional ketika diberi kesempatan (dipercaya) menjabat
Ketua Fraksi PDIP MPR?
Selama di parlemen, ia sempat dikenal sebagai politikus
yang relatif bersih dan mempunyai integritas. Ketika itu, banyak orang
merasa yakin bahwa ‘darah politik’ ayahandanya, Manai Sophiaan, yang
mantan Sekjen Partai Nasional Indonesia, mengalir dalam dirinya. Konon,
ayahandanya itu pulalah yang mendorongnya untuk terjun dalam dunia
politik.
Nama besar ayahandanya dan popularitasnya sebagai bintang film (pemain
sandiwara), telah membentuk citra dirinya, cukup terkenal. Walaupun
tampaknya ia lebih menghayati peran sebagai bintang film, yang terbawa
dalam dunia politik yang belakangan juga dilakoninya. Jadilah ia menjadi
seorang politisi yang secara nurani menolak kepura-puraan dalam
kenyataan, tetapi secara bersamaan sangat menghayati kepura-puraan itu
dalam peran sebagai aktor film (sandiwara).
Maka, kalaupun akhirnya penghayatan sebagai bintang film itu terbawa-bawa
dalam peran politiknya, hal ini bisa dimaklumi. Sebab sejak mahasiswa,
Sophan sudah menjadi bintang film. Sampai usianya yang makin lanjut, ia
melakoni dunia film baik sebagai pemain, sebagai sutradara, maupun
sebagai produser dengan baik. Memang, seni peran (bintang film) itulah
habitatnya. Di situlah dia punya nama dan 'rumah idaman', go home!
Nasionalisme
Biacara soal nasionalisme, ia memandang relevan sepanjang masa. Nasionalisme itu, kata
dia, paham untuk mencintai bangsa. Tapi jangan chauvinistis. Sekarang,
bisa dihitung dengan jari orang yang sungguh-sungguh mencintai bangsanya.
Kebanyakan mencintai diri sendiri, mencintai kelompoknya.
“Jadi, saya kira masih sangat relevan membicarakan nasionalisme. Dan itu
harus terus-menerus ditumbuhkembangkan, diberikan pelajaran kepada kaum
muda. Kita lihatlah orang Jepang, betapa mengglobalnya mereka. Tetapi
nasionalisme orang Jepang diperlihatkan dengan kecintaan terhadap tanah
air, bagaimana mereka membangun bangsanya, bagaimana mempertahankan
budayanya di tengah-tengah globalisasi. Mereka bangga bahasanya dan
tetap melaksanakan tata kramanya,” katanya kepada Tempo.
Nasionalisme itu paham mencintai kebangsaan. Artinya, kalau kita
mencintai kebangsaan, tentunya harus berbuat sesuatu yang terbaik bagi
bangsa dan negara. Tapi sekarang kan tidak. Kalau kita bandingkan dengan
nasionalisme di zaman founding fathers, nasionalisme sekarang tidak ada
apa-apanya.
Ia merasa nasionalisme kita sekarang nol. Kenapa? Karena mayoritas orang
Indonesia tidak berpikir pada bangsanya lagi. Tapi berpikir bagaimana
memperkaya diri sendiri, memperkaya kelompoknya. Itu kenyataan yang kita
lihat sekarang. Padahal, sebetulnya, ketika reformasi bergulir kita
semua optimis akan memasuki era baru, era di mana nasionalisme yang
selama 35 tahun itu terlupakan akan bangkit kembali. Dan kita tidak
mengharapkan nasionalisme sempit, chauvinistis. Kita mengharapkan
nasionalisme yang berdasarkan kemanusiaan karena memang itu tuntutan
kemerdekaan. Kita baca jelas di Pembukaan UUD 1945.
Dalam hal ini, menurutnya, pemimpin harus memberikan contoh, masyarakat
harus mengimplementasikan sesuai aturan-aturan yang berlaku. Tapi
sekarang, ia melihat pemimpin tidak memberikan contoh, sementara
masyarakat sendiri tidak punya pengertian yang tulus tentang paham
nasionalisme. ► tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|