| |
C © updated 07052007-27102004 -12092004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/mlp |
|
| |
Nama:
Dr Sofyan A. Djalil, SH, MA, MALD
Lahir:
Perlak, Aceh 23 September 1953
Istri:
Ratna Megawangi
Anak:
Tiga orang
Jabatan:
- Menteri Negara BUMN (2007-2009)
- Menteri Komunikasi dan Informatika Kabinet Indonesia Bersatu
(2004-2007)
Pendidikan:
Sarjana Hukum (SH), Fakultas Hukum Universitas Indonesia,
Jakarta, bidang studi Hukum Bisnis, tahun 1984
Master of Arts (M.A.), The Graduate School of Arts and Sciences, Tufts
University, Medford, Massachussets, AS, bidang studi Public Policy, tahun
1989
Master of Arts in Law and Diplomacy (M.A.L.D.), The Fletcher School of
Law and Diplomacy, Tufts University, Medford, Massachussets, AS, bidang
studi International Economic Relation, tahun 1991
Doctor of Philosophy (Ph.D), The Fletcher School of Law and Diplomacy,
Tufts University, Medford, Massachussets, AS, bidang studi International
Financial and Capital Market Law and Policy, tahun 1993
Sertifikat Keahlian:
Wakil Penjamin Emisi Efek, Panitia Standar Profesi Pasar Modal,
tahun 1996
Wakil Manajer Investasi, Panitia Standar Profesi Pasar Modal, tahun 1997
Pengalaman Kerja Profesional:
Managing Partner, Sofyan Djalil & Partners
Komisaris Independen, PT Kimia Farma, Tbk (Mei 2003-sekarang)
Pengurus, Lembaga Komisaris dan Direktur Indonesia, LKDI (2003-sekarang)
Anggota, Badan Arbitrasi Pasar Modal Indonesia, BAPMI (2003-sekarang)
Anggota Tim Ahli, Komite Nasional Good Corporate Governance
(2001-sekarang)
Anggota Tim Pakar, Departemen Kehakimand dan HAM RI (2001-sekarang)
Konsultan Good Corporate Governance untuk PT Perusahaan Gas Negara Tbk,
PT Elnusa, PT Jamsostek, PT Waskita Karya, PT Surveyor Indonesia, PT Pupuk
Kujang, PT Wijaya Karya, PT Pembangkitan Jawa Bali, PT Pelabuhan Indonesia
III, Perum Pegadaian, PT Indonesia Power, PT Pupuk Sriwijaya, PT Citra
Marga Nusaphala Persada Tbk (2001-2004)
Konsultan Corporate Communication, untuk PT Caltex Pacific Indonesia, PT
PLN Kantor Pusat (200-2004)
Direktur Eksekutif, Lembaga Komisaris dan Direksi Indonesia (2001-2003)
Komisaris Utama, PT Pupuk Iskandar Muda (1999-Juli 2004)
Komisaris, PT Perusahaan Listrik Negara (1999-Mei 2002)
Komisaris, PT Pelabuhan Indonesia III (1998-Mei 2001)
Anggota, Komite Nasional Kebijakan Good Corporate Governance (1999-2000)
Staf Ahli Menteri Negara Pendayagunaan BUMN bidang Komunikasi dan
Pengembangan SDM/Asisten Kepala Badan Pembina BUMN Bidang Komunikasi dan
Pengembangan SDM (Juni 1998-Februari 2000)
Kepala Divisi Riset dan Pengembangan, PT Bursa Efek Jakarta (Maret
1998-Juni 19988)
Konsultan, pada Asosiasi Modal Ventura Indonesia (AMVI); Brunei
Investment Agency (BIA); Tabungan Wajib Perumahan TNI-AD (TWP-AD), dan
lain-lain (1997)
Konsultan/Narasumber persiapan go public pada berbagai perusahaan PT
Garuda Indonesia, PT Telkom, Pasaraya, Pupuk Kaltim, Bank Tata, SZS
Consulting, Bank Jaya, dan lain-lain (1997)
Peneliti/Konsultan, Centre for Policy and Implementation Studies (CPIS)-Departemen
Keuangan, menangani berbagai proyek antara laiun Kupedes/Simpedes untuk
BRI, Program Restrukturisasi BUMN, Perdagangan Internasional dan Kerjasama
Regional, dan lain-lain (1997)
Kegiatan Akademis:
Dosen, pada Program Pasca Sarjana FH-Unpad (2001-sekarang)
Dosen, pada Program Pasca Sarjana FH-UI (2000-sekarang)
Dosen, pada Fakultas Ekonomi dan Program Magister Manajemen Universitas
Indonesia (FE-UI dan MM-UI) (1993-sekarang)
Dosen, pada Diklat Manajemen LPPM, Jakarta (1997)
Dosen, pada Diklat Pengembangan Kepemimpinan Profesional (DPKP)
BUMN-Departemen Keuangan (1997)
Dosen, pada Program Magister Manajemen Universitas Sahid dan LPPM
(1994-1995)
Dosen, pada Lembaga Manajemen Keuangan dan Akuntansi (LMKA), Yayasan
Pengembangan Insan Pasar Modal (Yuppies), LM-Gika, Equitas Institute
(1994-1995)
Lain-lain:
Ketua Majelis Pertimbangan Federasi (MPF) dari Federasi Serikat
Pekerja BUMN
Kolumnis dan narasumber, untuk berbagai penerbitan antara lain Bisnis
Indonesia, Tiras, Swa, Prospek, Uang dan Efek, Warta Ekonomi, dan
lain-lain
Narasumber, Tim Studi Konsep Ekonomi Terkelola, Ikatan Sarjana Ekonomi
Indonesia (ISEI) Pusat
Narasumber/Pembicara, pada berbagai seminar tentang pasar uang dan
modal, reksadana, dan masalah ekonomi dan hukum
Anggota delegasi ke “Workshop on Trade Policy for a Globalizing Economy:
Ensuring Openness of Markets to Global Competition” (OECD), Santiago,
Chile, 1996
Ketua delegasi ke “Workshop on Multilateral Agreement on Investment
(MAI-OECD), Hongkong, 1996
Anggota Tim Perencanaan dan Pelaksanaan Program Kredit Umum Pedesaan (Kupedes)
dan Simpanan Pedesaan (Simpedes), CPIS-BRI
Tulisan dan Publikasi:
Menulis berbagai artikel, memo kebijakan, artikel/kolom, makalah
seminar, jurnal, bahan pelatihan dan publikasi
Alamat Kantor:
Jalan Medan Merdeka Barat No.9, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3844227
Alamat Kantor:
Sofyan Djalil & Partners
Jalan Ciasem IV No. 22, Kebayoran Baru, Jakarta 12180
Telepon: (6221) 723.4689, 723.4574
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
Sofyan A Djalil
Mutiara Bangsa dari Aceh
Kisah hidup anak petani ini pantas dijadikan
inspirasi bagi penimba pengalaman. Mantan Asisten Kepala Badan Pembina
BUMN/ Staf Ahli Meneg BUMN, ini bak mutiara yang masih terpendam sebelum
diangkat menjadi Menkominfo (Menteri Komunikasi dan Informatika)
kemudian menjadi Menteri Negara BUMN Kabinet Indonesia Bersatu. Dia mutiara bangsa (berjiwa kebangsaan dan
negarawan) dari Aceh.
Suami Ratna Megawangi ini seorang profesional, dosen dan konsultan
spesialisasi implementasi good corporate governance dan
corporate communication. Dia
berobsesi, di mana pun berada, dapat memberikan nilai tambah (added value) sebagai amal soleh.
Kunci keberhasilannya adalah belajar dan bekerja keras serta menerima apa
adanya. Putera bangsa kelahiran Perlak, Aceh, 23 September 1953, ini
mewarisi kebersahajaan dan kecerdasan otak dari kedua orang tuanya,
terutama Sang Ibunda. Dia berpendidikan akademis luar negeri,
berpengalaman luas, bersih dan berdedikasi tinggi. Dia menguasai hukum
bisnis, kebijakan publik, pasar modal dan tentang pengelolaan perusahaan
yang baik dan bersih.
Namanya sempat mengemuka tatkala Tanri Abeng mengangkatnya sebagai Asisten
Kepala Badan Pembina BUMN/ Staf Ahli Menteri Negara Pendayagunaan BUMN, bidang Komunikasi
dan Pengembangan SDM, Juni 1998. Tugas pertama doktor lulusan The Fletcher
School of Law and Diplomacy, Tufts University, Massachussets, Amerika
Serikat (1993) bidang studi International Financial and Capital Market
Law and Policy, ketika itu terbilang unik.
Ia diminta menghadapi sejumlah demonstran yang menolak rencana privatisasi
BUMN. Privatisasi adalah ide besar baru namun masih sangat tak populer
ketika itu, sebab dianggap sebagai mengobral aset-aset negara. Demonstrasi
aksi penolakan berkali-kali dialamatkan ke kantor Menteri BUMN.
Tanri yang murni profesional, tak punya pengalaman dan latar belakang
politik, tak bisa bekerja dengan baik sebab selalu merasa terganggu oleh
kehadiran para demonstran yang dibumbui opini dari para partisan politik.
Beberapa pakar ekonomi dan politisi, di antaranya Didik J Rachbini dan Eky
Sjachrudin, menyarankan agar Tanri mencari seorang asisten khusus
mengatasi persoalan komunikasi.
Nama yang direkomendasikan adalah Dr Sofyan A. Djalil, SH, MA, MALD,
profesional muda, berpengalaman luas, berpendidikan akademis lulusan dari
luar negeri yang dikenal bersih dan berdedikasi tinggi. Dia disamping
mengerti seluk beluk hukum bisnis, kebijakan publik, pasar modal, dan
lain-lain, adalah juga mantan aktifis.
Lalu, dalam sebuah undangan makan siang Tanri dan Sofyan Djalil bertemu
untuk pertama kali dan berbicara serius. Tanri mengutarakan sedang
membutuhkan seorang asisten khusus untuk urusan pengembangan SDM dan
komunikasi. Sofyan lalu menyerahkan curriculum vitae-nya untuk dibaca.
Dari mulut Tanri langsung terucap kata “Oke, silakan datang hari Senin
depan.”
Belum ada kejelasan jabatan, pekerjaan, apalagi SK pengangkatan pada hari
pertama, Sofyan bekerja langsung berbicara menghadapi para demonstran.
Sebuah pekerjaan yang bagi mantan aktivis pergerakan ini tak begitu sulit
sebab ia sangat menguasai betul permasalahan BUMN. Ia tergolong pemberani
namun luwes berbicara. Ia paham tentang BUMN sebab ketika bekerja sebagai
associate fellow di lembaga penelitian CPIS (Center for Policy and
Implementation Studies, tahun 1993-1997), ia pernah duduk sebagai
ketua tim studi tentang peningkatan efisiensi BUMN. Persis sebelum
ditunjuk pun, selama beberapa bulan (Maret-Juni 1998) ia adalah Kepala
Divisi Riset dan Pengembangan PT Bursa Efek Jakarta (BEJ).
Bukan cuma berhasil secara persuasif menangani para demonstran penolak
kebijakan privatisasi BUMN, mantan aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII)
ini turut serta aktif mendinamisir kementerian BUMN untuk langsung
berjalan dengan baik walaupun lembaga ini baru seumur jagung.. Sebuah
prestasi baik bagi sebuah kementerian yang baru dibentuk.
Sebagai Asisten Kepala Badan/Staf Ahli Menneg BUMN bidang Komunikasi dan
Pengembangan SDM, nama Sofyan Djalil seringkali menghiasi halaman demi
halaman suratkabar. Demikian pula wajah dan pernyataannya kerap muncul di
media televisi berbicara lugas menjelaskan visi dan misi kementerian BUMN
termasuk menjelasakan philosofi dan cara melakukan privatisasi yang
transparan dan akuntabel. Ia lancar mengomunikasikan kebijakan
memberdayakan BUMN sebagai salah satu soko guru perekonomian nasional.
Staf inti Tanri ketika itu merupakan kombinasi unsur birokrat dan swasta,
yang dalam waktu singkat mampu menciptakan banyak hal berupa perbaikan dan
penambahan pengembangan institusi. Mereka juga merencanakan banyak hal,
yang didasarkan pada pemetaan kondisi BUMN yang kemudian disetujui oleh
Presiden Habibie yakni apa yang disebut dengan program profitisasi,
restrukturisasi dan privatisasi BUMN. Blue print BUMN yang disiapkan pada
priode tersebut dinilai oleh para pengamat sebagai yang paling
komprehensif dan realistis. Namun perencanaan dan program tersebut memang
tak sempat dijalankan hingga tuntas, sebab usia kabinet Habibie tidak
cukup panjang.
Ganti pemerintahan, sejak Februari 2000, Sofyan Djalil kembali tekun
sebagai profesional swasta dengan mengantongi segudang pengalaman berharga
yang luar biasa bermanfaat. Selama menjabat sebagai asisten menteri, ia
berkesempatan banyak belajar tentang berbagai hal baru. Misalnya, ia
pernah ditugaskan menjadi komisaris di BUMN PT Pelindo III (1998-Mei 2001)
dan PT PLN (1999-Juni 2002). Selain itu, dipercayakan tugas komisaris
utama PT Pupuk Iskandar Muda (1999-Juli 2004), dan komisaris independen PT
Kimia Farma Tbk (sejak Mei 2003-sekarang). Sebuah kepercayaan yang
didasarkan pada kompetensi, kapabilitas, kredibilitas, serta integritas
seorang profesional.
Sebagai sarjana hukum bidang hukum bisnis lulusan UI Jakarta (1984),
menggondol dua gelar master di bidang kebijakan publik (MA, 1989) dan
hubungan ekonomi internasional (MALD, 1991), bahkan doktor bidang studi international financial and capital market law and policy
(PhD, 1993), ia
mengaku awalnya tidak tahu apa-apa tentang pelabuhan dan kelistrikan.
Belajar segera tentang pelabuhan dan kelistrikan dalam dua tiga bulan
menjadi tahu berbagai permasalahan bisnis di kedua bidang itu. Pengalaman
sangat berharga lain, ia menjadi cukup memahami permasalahan dan
implementasi good corporate governance dan beragam persoalan hukum
perusahaan yang terjadi dalam praktek.
Pengalaman itu berharga sebab dia mampu mengelola dan menciptakannya
menjadi sebuah nilai tambah (added value) baru. Sofyan Djalil selalu
berprinsip menciptakan nilai tambah harus selalu dilakukan, dimanapun
berada, sebagai bentuk ibadah beramal soleh.
Sofyan yang profesional, mendirikan perusahaan jasa konsultan khusus
bidang implementasi good corporate governance dan corporate
communication, namanya “Sofyan Djalil & Partners” (SDP). Ia duduk
sebagai managing partner. Kantor konsultan ini memiliki sejumlah klien
BUMN dan perusahaan swasta terkemuka yang ingin menerapkan konsep good
corporate governance untuk meningkatkan efisiensi perusahaan, maupun
yang membutuhkan jasa komunikasi perusahaan.
Tercatat beberapa nama yang menjadi kliennya, misalnya, PT Perusahaan Gas
Negara (PGN), PT Elnusa, PT Jamsostek, PT Waskita Karya, PT Surveyor
Indonesia, PT Pupuk Kujang, PT Pembangkitan Jawa Bali, PT Pelabuhan
Indonesia III, Perum Pegadaian, PT Indonesia Power, PT Pupuk Sriwijaya, PT
Citra Marga Nusaphala Tbk, PT Caltex Pacific Indonesia, PT PLN, dan
lain-lain.
Profesional yang berpengalaman dalam persoalan hukum perusahaan, ini pun
aktif sebagai anggota Badan Arbitrasi Pasar Modal Indonesia (BAPMI,
2003-sekarang), anggota tim ahli Komisi Nasional Good Corporate
Governance (2001-sekarang), dan anggota tim pakar Departemen Kehakiman
dan HAM RI (2001-sekarang).
Sofyan tak pelit berbagi ilmu, pengalaman dan gagasan. Mengajar
dianggapnya sebagai share idea dan amal soleh. Mengajar tidaklah sulit
sebab dahulu semasa tinggal di Aceh, lulusan Pendidikan Guru Agama (PGA)
ini pernah sebagai guru selama dua tahun. Mengajar sama mudahnya dengan
menyampaikan khotbah dan ceramah siraman rohani kepada ummat, sebagai buah
masa pendidikan panjang di madrasah.
Pengalaman dan pendidikan masa lalu, ternyata menjadi sangat berguna di
kemudian hari. Ia mengajar sebagai dosen di berbagai fakultas hukum, di
beberapa program pasca sarjana, dan di lembaga pendidikan tinggi manajemen
bergengsi lainnya sambil sesekali berkhotbah.
Sofyan adalah dosen pada Fakultas Ekonomi dan Program Magister Manajemen
Universitas Indonesia (FE-UI dan MM-UI), sejak tahun 1993. Juga dosen pada
Pasca Sarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH-UI) sejak tahun
2000 dan pada Pasca Sarjana FH Universitas Padjadjaran, Bandung
(2001-sekarang). Sebelumnya, ia dosen pada Diklat Manajemen LPPM Jakarta
(1997), dosen pada Diklat Pengembangan Kepemimpinan Profesional (DPKP)
BUMN Departemen Keuangan (1997), dosen pada Program Magister Manajemen
Universitas Sahid dan LPPM (1994-1995), serta dosen pada Lembaga Manajemen
Keuangan dan Akuntansi (LMKA), pada Yayasan Pengembangan Insan Pasar Modal
(Yuppies), LM-Gika, dan pada Equitas Institute (1994-1995).
Sebagai seorang lulusan pendidikan tinggi dan berkarir di lingkungan
akademis, melengkapi aktivitas sehari-hari sebagai profesional, Sofyan
aktif menulis artikel di berbagai media massa dan menyajikan makalah di
beberapa seminar. Ia menulis berbagai tulisan, memo kebijakan, artikel
maupun kolom, makalah seminar, jurnal, bahan pelatihan dan publikasi.
Kesenangan menulis ini klop dengan kesenangan dan kebiasaan istrinya
yang telah memberinya tiga orang anak, Ratna Megawangi yang sehari-hari
aktif mengajar sebagai dosen di IPB Bogor dan seorang kontributor tetap
harian “Suara Pembaruan” Jakarta yang juga bergelar doktor Ph.D dari
kampus sama Tufts University, Massachussets, Amerika Serikat.
Nilai Luhur
Sofyan Djalil bersama Ratna Megawangi, aktif dalam kegiatan sosial
kemanusiaan. Keduanya bersama beberapa teman mendirikan Yayasan Nilai
Luhur Indonesia (The Indonesia Heritage Foundation) yang bergerak dalam
pengembangan pendidikan berbasis karakter. Yayasan ini telah menelurkan
model pendidikan holistic berbasis karakter lengkap dengan kurikulum dan
modul sampai saat ini masih pada tingkat Taman Kanak (TK). Sedangkan untuk
tingkat SD masih dalam priode uji coba (pilot project).
Di samping mengelola TK Karakter, yang juga berfungsi sebagai
laboratorium pendidikan yang tepat dan menyenangkan (appropriate and
joyful education). Yayasan Nilai Luhur juga memfalitasi sekolah TK
berbiaya murah sebagai bentuk pengembangan komunitas bagi masyarakat yang
tak mampu yang disebut dengan Semai Benih Bangsa (SBB). Tempat belajar SBB
tidak terlalu penting, bisa di halaman rumah, garasi, teras masjid, di
kolong menasah (Aceh) atau dimana saja. Yang paling penting adalah guru,
modul, dan proses belajar yang menyenangkan. SBB ini umumnya dimiliki oleh
masyarakat, sebagai bentuk tanggung jawab bersama terhadap pendidikan.
Hasil didikan pola SBB sangat menggembirakan. Menurut studi independen
yang dilakukan terhadap lulusan yang sekarang tersebar di berbagai SD ciri
karakter mereka adalah sangat jelas, yang berbeda dengan teman-teman
sebaya, dalam hal disiplin, rajin, toleran, dll sesuai dengan nilai
karakter yang ditanamkan.
Program SBB sekarang sudah mulai berkembang dan diadopsi sebagai bagian
dari program Community Development beberapa perusahaan minyak, seperti
Exxon Mobil, Star Energy, Conoco dan lain-lain. Sofyan bersama isteri
sangat gembira bahwa benih yang mereka tanam mulai menunjukkan hasil. Saat
ini jumlah SBB yang tersebar di berbagai daerah hampir mencapai angka 100
buah.
Yayasan Nilai Luhur Indonesia yang didirikan Sofyan dan Isteri dengan
sebuah misi yang jelas. Walaupun yayasan ini masih sangat kecil, yayasan
telah menerapkan standar pengelolaan berdasarkan nilai etika yang paling
tinggi. Tiap tahun yayasan diaudit oleh akuntan publik dan laporan
keuangannya dapat diberikan kepada siapa saja yang meminta, baik donatur
ataupun bukan. Kebiasaan yang baik ini, menurut Sofyan, seharusnya diikuti
oleh segenap institusi yang dipercayakan dana oleh masyarakat. Audit dan
transparansi sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada semua pihak yang
terlibat dengan Yayasan.
Di samping program SBB, Yayasan Nilai Luhur Indonesia juga mengelola
sebuah model Taman Kanak-Kanak (TK) Karakter di Jakarta. Sesuai dengan
namanya, TK dan SBB yang didirikan dan dikelola pasangan Sofyan Djalil dan
Ratna Megawangi ini adalah produk nilai lulur bangsa serta sekaligus untuk
membangkitkan kembali nilai-nilai luhur Indonesia yang belakangan semakin
tenggelam oleh hedonisme, pragmatisme, ingin sukses secara instan dengan
mengabaikan semangat kerja keras dan penghormatan terhadap nilai-nilai
luhur, moral dan etika.
Spesialisasi pengelolaan TK menanamkan pembentukan karakter sejak dini,
ini ditempuhl Sofyan Djalil dan Ratna Megawangi sebab mengetahui
keberhasilan seseorang dalam hidup ternyata bukan ditentukan oleh otak
saja. Menurutnya, ada penelitian terhadap orang-orang yang sukses dalam
berbagai bidang, mereka umumnya memiliki 13 faktor untuk bisa sukses, 10
di antaranya menyangkut watak atau karakter dan hanya tiga yang menyangkut
kemampuan otak. Karakter yang dibutuhkan seperti, pekerja keras, pantang
menyerah, jujur, dapat dipercaya, toleran, dapat bekerja sama adalah
ciri-ciri yang umumnya ditemukan pada orang-orang yang sukses.
Warisan Kecerdasan
Pulang dari Amerika menggondol gelar bergengsi Ph.D, Sofyan lantas
menekuni banyak hal di antaranya peneliti di CPIS, mengajar, memberikan
jasa konsultansi, menekuni organisasi profesi, bergelut di pasar modal,
dan macam-macam profesi lain. Beragam peluang terbuka baginya asal, sekali
lagi mau bekerja keras, berpinsip menciptakan nilai tambah, dan semua
adalah ibadah amal soleh. Di manapun berada ia selalu berprinsip melakukan
yang terbaik. Dia tak pernah mencari pekerjaan. Tetapi setiap kali ada
pekerjaan ia akan melakukan dengan sebaik-baiknya. Katanya, “I do my
best.”
Sepulang dari Amerika membuatnya “kaget” lain. Ibunya yang tak
berpendidikan, yang tahun 1960-an mengikuti Program Pemberantasan Buta
Huruf (PBH), itu dilihatnya sudah bisa menafsirkan ayat-ayat suci Al-Qur’an
langsung dari Al-Qur’an. Ibunya tak lagi memerlukan buku teks. Itu, hasil
belajar yang luar biasa bagi ibunya yang sudah berumur di atas 60 tahun
yang didapatkan dari pengajian. Kemampuan yang demikian dari yang
sebelumnya buta huruf, semakin membuat Sofyan Djalil yakin dan bangga
bahwa belajar dan bekerja keras bisa membawa keberhasilan kepada siapapun.
“Berarti, ibu saya walaupun tidak berpendidikan otaknya pintar sekali.
Saya mungkin termasuk orang yang mendapatkan keturunan yang baik dari
genetika otak, walaupun saya lahir jauh nun di gunung sana, dari sekolah
agama bisa sekolah ke Amerika di universitas yang terbaik pula dan sukses,”
kata Djalil, tak bertendensi menyombongkan diri, tetapi untuk memberi
inspirasi kepada semua orang bahwa siapa pun bisa sukses dan berhasil jika
mau belajar dan bekerja keras.
Dipanggil “James”
Prinsip hidup sederhana selalu beramal soleh dengan menciptakan nilai
tambah, diakui Sofyan diperoleh sebagai hasil proses pendidikan dan
pengasuhan orangtua, yang dahulu berjuang keras sekuat tenaga
menyekolahkannya.
Jika melihat deretan gelar akademis, aktivitas bisnis, profesionalisme,
kehidupan sosial dan hingar bingar politik yang ditekuni akhir-akhir ini,
rasanya tak akan mengira kalau Sofyan berasal dari sebuah keluarga yang
sangat sederhana, tinggal di sebuah desa pedalaman gunungan terpencil di
Perlak, Aceh. Orang tuanya adalah petani biasa yang hanya memiliki
setengah hektar sawah untuk menghidupi keluarga. Untuk membutuhi keperluan
keluarga, ayahnya juga berprofesi tukang pangkas di desa, dan ibu
memelihara beberapa ekor bebek.
Telur-telur bebek peliharaan ibunya inilah yang tiap hari dikumpulkan,
dijual ke pasar untuk membiayai sekolah Sofyan di madrasah Ibtidaiyah,
Tsanawiyah, hingga Pendidikan Guru Agama (PGA). Ia bisa besar dan
bersekolah tak lain karena telur bebek, ditambah doa dan perjuangan ekstra
keras sang Ibunda. Begitu lulus PGA, selama dua tahun mengajar sebagai
guru agama di Aceh. Karena tak kunjung diangkat menjadi pegawai negeri,
Djalil memutuskan keluar lalu menekuni profesi baru bekerja di sebuah
pabrik karet selama dua tahun, juga di Aceh.
Tahun 1976, ia pindah ke Jakarta untuk mengubah nasib. Kedatangannya ke
Jakarta terkait dengan keikutsertaan sebagai delegasi Aceh dalam Muktamar
Nasional Pelajar Islam Indonesia (PII), tahun 1976. Selama sekolah di
madrasah, Djalil adalah aktivis PII Aceh membuatnya memiliki kelebihan
dibanding siswa lain. Dengan aktif di PII ia berhasil membuka horison
berpikir dan cara pandang terhadap dunia. Usai mukhtamar Djalil bukannya
pulang ke kampung. Tetapi, justru tinggal menetap di Jakarta.
Di Jakarta, oleh kawan-kawannya ia dijuluki “James”, artinya Penjaga
Mesjid, sebab saban hari hanya berkutat hidup dan tidur di lingkungan
mesjid Menteng Raya, Jakarta Pusat persis dekat kantor pusat PII.
Setahun menganggur hanya tidur di mesjid sebagai “James”, tahun 1977
Sofyan memperoleh pekerjaan di Kejaksaan Agung RI. Pekerjaan bantu-bantu
mengurus mesjid di Pusdiklat Kejaksaan Agung. Setahun kemudian, tahun
1978, usai bekerja di sore hari ia kuliah melanjutkan pendidikan di
Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH-UI), mengambil bidang studi hukum
bisnis dan tamat tahun 1983.
Setamat kuliah, dia segera meninggalkan Kejaksaan Agung. Ia menjadi
peneliti pada CPIS (Center for Policy and Implementation Studies), Departemen Keuangan. Ia, antara lain, berkesempatan ikut terlibat dalam
berbagai proyek penelitian seperti Kupedes dan Simpedes dari BRI, masalah
Keluarga Berencana, Evaluasi Sekolah Dasar Inpres, Program Restrukturisasi
BUMN, Perdagangan Internasional dan Kerjasama Regional dan lain-lain.
Ketika tahun 1985 CPIS berencana menyekolahkan beberapa orang penelitinya
ke luar negeri, namanya ikut terpilih dari sekian banyak peminat. Diantara
syarat sekolah ke luar negeri, Djalil terlebih dahulu mengikuti Graduate
Record Examination (GRE), untuk itu ia harus dan belajar matematika. Pada
usia sudah menginjak 31 tahun pertamakali ia bersentuhan dengan matematika.
“Baru setelah saya belajar matematika, tahu kalau minus kali minus jadi
plus, karena background pendidikan saya adalah guru agama,” tutur Sofyan
Djalil, jujur. Namun karena mau belajar dan bekerja keras, kendati di baru
berkesempatan belajar dasar-dasar matematika di usia 31 tahun, ia bangga
bisa mengambil kuliah di Tufts University, sebuah universitas terkemuka
yang orang Amerika pun tidak mudah masuk ke situ. Ia menamatkannya tahun
1993. Dia adalah pantas dibanggakan sebagai doktor pertama dari The
Fletcher School of Law and Diplomacy - Tufts University yang berasal dari
Indonesia.
Tentang keberhasilan hidupnya, ia berprinsip di mana ada kemauan di situ
pasti ada jalan, where there is a will there is a way, asal mau saja dan
bekerja keras. Prinsip ini diinspirasi oleh guru bahasa Inggrisnya semasa
PGA, Danil Syarief yang selalu menyebutkan where is a will there is a way
berkali-kali untuk menyemangati setiap siswa.
Dari berbagai pengalaman yang dipetik dan dilakoninya, dia pun berpikir,
kalau suatu saat jadi orang, maka ia akan menulis biografi yang bisa
memberikan inspirasi kepada banyak orang kecil, yang berguna dan pantas
untuk di-share dengan orang lain.
Indonesian Dream
Baginya hidup di bumi Indonesia adalah hal yang menarik dan patut
disyukuri. Negeri ini tak sekalipun memperlakukan tindakan diskriminatif
kepada warganya. Semua warga mempunyai kesempatan sama untuk maju dan
berkembang, asal mau belajar dan bekerja keras. Tidak ada sekelompok
aristokrasi yang menghambat, sehingga tidak relevan istilah kelompok
mayoritas atau minoritas. Siapapun bisa naik ke pentas nasional melalui
jalur pendidikan. Dicontohkannya nama Rokhmin Dahuri, Menteri Kelautan dan
Perikanan anak seorang nelayan kecil dari Desa Gebang, Kecamatan Babakan,
Cirebon, Jawa Barat.
Demikian pula mantan bosnya Tanri Abeng, yang kampungnya pernah dikunjungi
Sofyan di pegunungan di Sulawesi Selatan. Sofyan yang merasakan kehidupan
semasa kecilnya miskin, ternyata masa kecil manajer terkemuka Tanri
ternyata tidak jauh berbeda dari dirinya.
Kemauan belajar dan bekerja keras, kata Djalil, bisa melahirkan Indonesian
Dream sebagai kunci sukses keberhasilan hidup, sebagaimana bangsa Amerika
memiliki jargon American Dream. “Kalau kita kerja keras kita bisa,” kata
Djalil.
Nilai Tambah
Sebagai tipikal pekerja keras yang mau belajar dan hidup bersemangat
tinggi, menjelang pemilihan umum presiden 2004, Sofyan menambah aktivitas.
Ia terlibat sebagai relawan aktif di kubu pasangan calon presiden Susilo
Bambang Yudhoyono dan wakil presiden Muhammad Jusuf Kalla. Pilihan
dijatuhkan kepada pasangan ini sebab percaya tim ini lebih baik.
Ia menyerahkan segenap waktu dan tenaga membantu pemenanganan pasangan ini.
Sebab dalam pandangannya, bangsa Indonesia membutuhkan perubahan besar
sesegera mungkin agar tidak terpuruk lebih dalam menjadi negara miskin
total. Sofyan mengaku membantu SB Yudhoyono murni sebagai profesional,
bukan partisan partai politik. Karenanya, ia tak mengharapkan pamrih
apa-apa.
Kalaupun diberikan kesempatan untuk menciptakan nilai tambah di suatu
tempat di mana pun itu, ia berjanji akan melakukan yang terbaik. “I will
do my best,” katanya, sebab itu adalah amal soleh. Sikapnya ini sama
persis dengan apa selalu dicamkan di negera demokrasi terbesar dunia,
Amerika Serikat. Di tempatnya dahulu kuliah, itu seseorang menjadi
presiden, gubernur, atau bupati karena mempunyai ide memperbaiki bangsa.
Jabatan politik diraih untuk pengabdian bukan untuk mencari duit. “Kita,
mungkin belum sampai ke sana,” aku Sofyan Djalil.
Besar serta luasnya aktivitas dan keterlibatan selalu dia maksudkan untuk
menciptakan nilai tambah sebagai amal soleh. Sebuah prinsip hidup yang
sangat sederhana dan bersahaja. Ia menyebut diri sebagai seorang yang tak
pernah mempunyai cita-cita sejak kecil mau menjadi apa. Ia membiarkan
hidupnya mengalir begitu saja. Hidup ini adalah ibarat orang sedang
tercepur ke sungai, maka, tugasnya adalah mengepakkan tangan dan kaki
mengikuti arus air sungai agar tak tenggelam dan terbawa arus. Hingga tiba
saatnya nanti, ia tersangkut di suatu tempat.
Begitu tersangkut bekerja di suatu tempat, maka, adalah tugas dan
kewajiban amal soleh untuk menciptakan nilai tambah di situ. Hingga tiba
saatnya, kembali datang ombak besar atau air bah yang menghayutkannya.
Setiap tersangkut di tempat manapun Sofyan selalu berusaha menciptakan
nilai tambah sebagai amal soleh.
Ia sangat bangga jika mampu menciptakan nilai tambah. Seperti, tercapai
efisiensi di lingkungan perusahaan klien. Ia akan senang memperoleh upah
dari jasa konsultansinya itu. Menurut Sofyan jika seseorang kaya karena
menciptakan nilai tambah yang membawa manfaat kepada orang banyak, maka
kekayaan itu adalah rahmat Tuhan. Namun menurutnya adalah dosa tujuh
turunan jika seseorang memperoleh kekayaan dengan cara menghancurkan orang
lain, atau merusak lingkungan dan merusak sistem baik yang ada.
Rasa tidak sesuai dengan hati nurani salah satu penyebab ia tak mau
membuka firma hukum, walau kredibel dan sangat berkapasitas untuk itu.
“Karena, kalau saya bikin law firm ada banyak sekali grey area di situ,”
kata Djalil.
Sofyan Djalil merasa bersyukur mempunyai kantor kecil yang telah
mempekerjakan 17 orang. Secara financial kehidupan rumah tangganya sudah
independen. Bersama istri Ratna Megawangi, keduanya sepakat agar selalu
membuat sesuatu yang bermanfaat. Tangan di atas “memberi” jauh lebih baik
dibanding jika di bawah “menerima”. Sofyan percaya betul, Tuhan pasti
menolong jika kita menolong orang lain. “Saya percaya betul, bahwa semua
urusan akan mudah kalau kita pihak yang benar”.
Berkaitan dengan jabatan publik, Sofyan percaya itu adalah sebuah
amanah, “trust” kata orang Inggris yang harus dilaksanakan dengan
sebaik-baiknya untuk kepentingan orang banyak. Janganlah dengan jabatan
publik digunakan untuk memperkaya diri sendiri sebab itu tak akan pernah
cukup,” kata Djalil. Ia menyederhanakan hidupnya, yang penting anak-anak
bisa besar, independen, hidup mandiri, baginya itu sudah alhamdulillah.
“Jadi, itu prinsip-prinsip hidup saya.”
►ht-mlp
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|