| |
C © updated 12092009 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/mlp |
|
| |
Nama:
Dr Sofyan A. Djalil, SH, MA, MALD
Lahir:
Perlak, Aceh 23 September 1953
Istri:
Ratna Megawangi
Anak:
Tiga orang
Jabatan:
- Menteri Negara BUMN (2007-2009)
- Menteri Komunikasi dan Informatika Kabinet Indonesia Bersatu
(2004-2007)
Pendidikan:
Sarjana Hukum (SH), Fakultas Hukum Universitas Indonesia,
Jakarta, bidang studi Hukum Bisnis, tahun 1984
Master of Arts (M.A.), The Graduate School of Arts and Sciences, Tufts
University, Medford, Massachussets, AS, bidang studi Public Policy, tahun
1989
Master of Arts in Law and Diplomacy (M.A.L.D.), The Fletcher School of
Law and Diplomacy, Tufts University, Medford, Massachussets, AS, bidang
studi International Economic Relation, tahun 1991
Doctor of Philosophy (Ph.D), The Fletcher School of Law and Diplomacy,
Tufts University, Medford, Massachussets, AS, bidang studi International
Financial and Capital Market Law and Policy, tahun 1993
Sertifikat Keahlian:
Wakil Penjamin Emisi Efek, Panitia Standar Profesi Pasar Modal,
tahun 1996
Wakil Manajer Investasi, Panitia Standar Profesi Pasar Modal, tahun 1997
Pengalaman Kerja Profesional:
Managing Partner, Sofyan Djalil & Partners
Komisaris Independen, PT Kimia Farma, Tbk (Mei 2003-sekarang)
Pengurus, Lembaga Komisaris dan Direktur Indonesia, LKDI (2003-sekarang)
Anggota, Badan Arbitrasi Pasar Modal Indonesia, BAPMI (2003-sekarang)
Anggota Tim Ahli, Komite Nasional Good Corporate Governance
(2001-sekarang)
Anggota Tim Pakar, Departemen Kehakimand dan HAM RI (2001-sekarang)
Konsultan Good Corporate Governance untuk PT Perusahaan Gas Negara Tbk,
PT Elnusa, PT Jamsostek, PT Waskita Karya, PT Surveyor Indonesia, PT Pupuk
Kujang, PT Wijaya Karya, PT Pembangkitan Jawa Bali, PT Pelabuhan Indonesia
III, Perum Pegadaian, PT Indonesia Power, PT Pupuk Sriwijaya, PT Citra
Marga Nusaphala Persada Tbk (2001-2004)
Konsultan Corporate Communication, untuk PT Caltex Pacific Indonesia, PT
PLN Kantor Pusat (200-2004)
Direktur Eksekutif, Lembaga Komisaris dan Direksi Indonesia (2001-2003)
Komisaris Utama, PT Pupuk Iskandar Muda (1999-Juli 2004)
Komisaris, PT Perusahaan Listrik Negara (1999-Mei 2002)
Komisaris, PT Pelabuhan Indonesia III (1998-Mei 2001)
Anggota, Komite Nasional Kebijakan Good Corporate Governance (1999-2000)
Staf Ahli Menteri Negara Pendayagunaan BUMN bidang Komunikasi dan
Pengembangan SDM/Asisten Kepala Badan Pembina BUMN Bidang Komunikasi dan
Pengembangan SDM (Juni 1998-Februari 2000)
Kepala Divisi Riset dan Pengembangan, PT Bursa Efek Jakarta (Maret
1998-Juni 19988)
Konsultan, pada Asosiasi Modal Ventura Indonesia (AMVI); Brunei
Investment Agency (BIA); Tabungan Wajib Perumahan TNI-AD (TWP-AD), dan
lain-lain (1997)
Konsultan/Narasumber persiapan go public pada berbagai perusahaan PT
Garuda Indonesia, PT Telkom, Pasaraya, Pupuk Kaltim, Bank Tata, SZS
Consulting, Bank Jaya, dan lain-lain (1997)
Peneliti/Konsultan, Centre for Policy and Implementation Studies (CPIS)-Departemen
Keuangan, menangani berbagai proyek antara laiun Kupedes/Simpedes untuk
BRI, Program Restrukturisasi BUMN, Perdagangan Internasional dan Kerjasama
Regional, dan lain-lain (1997)
Kegiatan Akademis:
Dosen, pada Program Pasca Sarjana FH-Unpad (2001-sekarang)
Dosen, pada Program Pasca Sarjana FH-UI (2000-sekarang)
Dosen, pada Fakultas Ekonomi dan Program Magister Manajemen Universitas
Indonesia (FE-UI dan MM-UI) (1993-sekarang)
Dosen, pada Diklat Manajemen LPPM, Jakarta (1997)
Dosen, pada Diklat Pengembangan Kepemimpinan Profesional (DPKP)
BUMN-Departemen Keuangan (1997)
Dosen, pada Program Magister Manajemen Universitas Sahid dan LPPM
(1994-1995)
Dosen, pada Lembaga Manajemen Keuangan dan Akuntansi (LMKA), Yayasan
Pengembangan Insan Pasar Modal (Yuppies), LM-Gika, Equitas Institute
(1994-1995)
Lain-lain:
Ketua Majelis Pertimbangan Federasi (MPF) dari Federasi Serikat
Pekerja BUMN
Kolumnis dan narasumber, untuk berbagai penerbitan antara lain Bisnis
Indonesia, Tiras, Swa, Prospek, Uang dan Efek, Warta Ekonomi, dan
lain-lain
Narasumber, Tim Studi Konsep Ekonomi Terkelola, Ikatan Sarjana Ekonomi
Indonesia (ISEI) Pusat
Narasumber/Pembicara, pada berbagai seminar tentang pasar uang dan
modal, reksadana, dan masalah ekonomi dan hukum
Anggota delegasi ke “Workshop on Trade Policy for a Globalizing Economy:
Ensuring Openness of Markets to Global Competition” (OECD), Santiago,
Chile, 1996
Ketua delegasi ke “Workshop on Multilateral Agreement on Investment
(MAI-OECD), Hongkong, 1996
Anggota Tim Perencanaan dan Pelaksanaan Program Kredit Umum Pedesaan (Kupedes)
dan Simpanan Pedesaan (Simpedes), CPIS-BRI
Tulisan dan Publikasi:
Menulis berbagai artikel, memo kebijakan, artikel/kolom, makalah
seminar, jurnal, bahan pelatihan dan publikasi
Alamat Kantor:
Jalan Medan Merdeka Barat No.9, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3844227
Alamat Kantor:
Sofyan Djalil & Partners
Jalan Ciasem IV No. 22, Kebayoran Baru, Jakarta 12180
Telepon: (6221) 723.4689, 723.4574
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
Sofyan A Djalil (01)
Bukan Kacang Lupa Kulit
Tidak banyak orang mengenal Sofyan Djalil sebelum dia diangkat menjadi
Menkominfo (2004-2007) dan Menneg BUMN (2007-2009). Dia mulai dikenal
setelah aktif sebagai relawan Lembang 9 (tim sukses JK) yang kemudian
bergabung dalam tim sukses SBY-JK dalam Pilpres 2004. Ketika itu,
TokohIndonesia.com menyebutnya sebagai mutiara yang masih terpendam.
1)
Sebagai Menkominfo dia dinilai sukses sehingga diangkat menjadi Menneg
BUMN pada reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu 2007.2} Tidak tanggung-tanggung, dia pun
segera merencanakan merger dan privatisasi 100 BUMN.
3) Namun rencana ini tak pernah terwujud. Selama menjabat BUMN, dia
lebih banyak meneruskan kebijakan menteri pendahulunya. Publik tidak
banyak mengetahui apa yang dilakukannya, selain melihat kultur dan
kinerja BUMN tetap seperti sediakala.
Kemudian dalam Pilpres 2009, Sofyan Djalil tidak terlibat langsung lagi
sebagai tim sukses Capres. Hal ini bisa dimaklumi karena Wakil Presiden
Jusuf Kalla (JK) bersaing dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
(SBY). Ketika Pilpres 2009 usai, di mana Jusuf Kalla kalah dan SBY
menang, beredar berita bahwa beberapa menteri menjauhi Wapres JK,
termasuk Sofyan Djalil. Berbagai kalangan yang mengetahui kedekatannya
dengan JK menudingnya sebagai orang yang lupa kacang akan kulitnya.
Namun, tudingan ini dibantah, bahkan isterinya Ratna Megawangi turun
tangan, memberi penjelasan bahwa tidak benar Sofyan Djalil menjauhi JK.
Dalam beberapa kunjungan Wapres JK, Sofyan Djalil memang tidak hadir
karena memang sedang mengurus sekolah anak ke Amerika. Intinya, Sofyan
Djalil bukanlah orang bertipe kacang yang lupa kulitnya. Bukan pula
orang yang gila jabatan. Dijelaskan, keluarganya adalah berkarakter baik dan
menjunjung tinggi etika moral.
Entah ada kaitannya, Menteri BUMN Sofyan A Djalil pun beberapa waktu
kemudian mengutarakan tengah mempersiapkan diri untuk tidak menjadi
menteri pada masa Kabinet SBY-Boediono 2009-2014. "Saya menyiapkan diri
untuk tidak menjadi menteri. Untuk itu, semua program untuk menteri
selanjutnya akan saya persiapkan. Jadi menteri yang akan datang tinggal
menjalankannya," kata Sofyan kepada para wartawan ketika ingin memasuki
lift di Gedung Kementerian BUMN, Rabu (2/9/2009). Namun, "Jika terpilih
lagi Alhamdullilah. Semuanya itu terantung hak preogratif presiden,"
ujarnya berharap sembari menutup pintu lift.
Lalu, kebetulan, tak lama berselang, gempa dengan kekuatan 7,3 SR
berpusat di laut sekitar 140 km dari Tasikmalaya, mengguncang pulau
Jawa, termasuk Gedung BUMN. Semua, pegawai BUMN berhamburan ke luar
gedung. Tetapi Sofyan Djalil dan pengawalnya tidak terlihat ikut
berhamburan, dia bertahan di ruang kerjanya. Lalu, berselang beberapa
menit, dia dan pengawalnya melambaikan tangan dari jendela kantornya.
Dekat dengan Jusuf Kalla
Sofyan Djalil belum banyak dikenal orang sebelum diangkat menjadi
Menkominfo (2004-2007) dan Menneg BUMN (2007-2009). Isterinya, Ratna
Megawangi, justru lebih dikenal publik karena sering menulis di koran.
Sofyan Djalil mulai dikenal publik setelah dekat dengan Jusuf Kalla di
Lembang 9. Lembang 9 adalah tim sukses Jusuf Kalla ketika mengikuti
konvensi Capres Partai Golkar 2004 yang berkantor di Jalam Lembang No.9,
Menteng, Jakarta Pusat.
Kemudian, setelah JK dilamar SBY menjadi Cawapres, Tim Lembang 9
bergabung dalam tim sukses SBY-JK pada Pilpres 2004. Sofyan Djalil ikut
di dalamnya sebagai relawan. Dalam kesempatan itu, TokohIndonesia.com
mulai mengenalnya selepas wawancara dengan JK, karena JK menugaskannya
berhubungan dengan TokohIndonesia.com.
Ternyata, dia sudah
pernah menjabat Staf Ahli Menteri Negara Pendayagunaan BUMN bidang
Komunikasi dan Pengembangan SDM/Asisten Kepala Badan Pembina BUMN Bidang
Komunikasi dan Pengembangan SDM (Juni 1998-Februari 2000).
Pria kelahiran Perlak, Aceh 23 September 1953, ini juga lulusan Doctor
of Philosophy (Ph.D), The Fletcher School of Law and Diplomacy, Tufts
University, Medford, Massachussets, AS, bidang studi International
Financial and Capital Market Law and Policy, tahun 1993. Dia juga
seorang peneliti dan konsultan.
Setelah mengetahui berbagai latar belakangnya, wartawan
TokohIndonesia.com mewawancarai dan menulis biografinya dengan judul:
Mutiara Terpendam dari Aceh. Kemudian, setelah dia diangkat menjadi
menteri diperbaharui menjadi: Mutiara Bangsa dari
Aceh.
Lead artikel itu berbunyi demikian: ”Kisah hidup anak petani ini pantas
dijadikan inspirasi bagi penimba pengalaman. Mantan Asisten Kepala Badan
Pembina BUMN/ Staf Ahli Meneg BUMN, ini bak mutiara yang masih terpendam
sebelum diangkat menjadi Menkominfo (Menteri Komunikasi dan Informatika)
kemudian menjadi Menteri Negara BUMN Kabinet Indonesia Bersatu. Dia
mutiara bangsa (berjiwa kebangsaan dan negarawan) dari Aceh.
Suami Ratna Megawangi ini seorang profesional, dosen dan konsultan
spesialisasi implementasi good corporate governance dan corporate
communication. Dia berobsesi, di mana pun berada, dapat memberikan nilai
tambah (added value) sebagai amal soleh.
Sangat diyakini, kedekatan Sofyan dengan JK telah memungkinkan dia
dipercaya menjadi Menkominfo, setelah SBY – JK memenangi Pilpres 2004.
Selain memang karena kapasitasnya, sebagaimana digambarkan dalam
biografinya di TokohIndonesia,com, dia memang terbilang menonjol dalam
kegiatan Tim Sukses SBY-JK. Walaupun pasti disadari bahwa banyak orang
punya kapasitas lebih dari dia, tetapi tidak punya kesempatan jadi
menteri.
Kepada TokohIndonesia.com, Sofyan sendiri mengaku sebelum dipanggil ke
Cikeas, awal Oktober 2004, dalam rangka penyusunan kabinet SBY-JK, dia
belum pernah ketemu (empat mata, serius) dengan SBY. Namun, pada saat
itu, JK sudah mempercayakannya mengurusi beberapa hal. Kedekatan JK
dengan Sofyan Djalil makin tertangkap publik ketika proses penyelesaian
masalah Aceh Merdeka.
Ketika TokohIndonesia.com wawancara kembali dengan Jusuf Kalla setelah
tiga setengah tahun menjabat Wakil Presiden, termasuk mempercakapkan
bagaimana kinerja Sofyan Djalil sebagai Menkominfo dan Menneg BUMN.
Wapres menyatakan cukup bagus.
Sofyan Djalil memang tampak selalu mendampingi Wapres Jusuf Kalla dalam
berbagai kunjungan, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Nama Sofyan
Djalil pun semakin melambung dikenal publik dalam jabatannya sebagai
Menteri Komunikasi dan Informatika (2004-2007). Dia dinilai berhasil
memimpin Depkominfo. Walaupun ada kebijakannya yang mengundang kegelian
ketika melarang tayangan televisi lewat tengah malam demi penghematan,
serta penolakannya atas penggunaan open source software. Namun, secara
umum, dia dianggap cukup berhasil meneruskan sebagian apa yang sudah
digariskan dan diprogramkan Menkominfo pendahulunya
Syamsul
Muarif tentang Grand Strategy Telematika Indonesia.
Bahkan, menurut pengakuan Sofyan sendiri, Presiden juga menyatakan cukup puas atas
kinerjanya sebagai Menkominfo selama dua setengah tahun, dilihat dari
indikator kepastian regulasi frekuensi dan penerimaan negara. Presiden
merasa puas dengan terobosan yang dibuat Sofyan berupa transparannya
manajemen ferekuensi sehingga komunikasi dan informatika kembali kepada
rule based.
Sofyan mengungkapkan hal itu ketika dipanggil SBY ke Cikeas, dalam
rangka pergantian dan rotasi anggota KIB. Dalam pergantian menteri itu
Sofyan dipindahposisikan menjadi Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara
(Meneg BUMN), 7 Mei 2007.
Beberapa pengamat meyakini pula, pengangkatan Sofyan menjadi Menneg
BUMN, selain karena keberhasilnnya sebagai Menkominfo, juga lebih karena
kedekatannya dengan Jusuf Kalla. Sehingga ketika tersebar kabar berita,
Sofyan Djalil ikut menjauhi Jusuf Kalla setelah kalah dalam Pilpres
2009, cukup mengejutkan. Untunglah isterinya Ratna Megawangi segera
menjelaskan bahwa Sofyan tidak benar menjauhi Jusuf Kalla. Rupanya, dia
bukan orang bertipe kacang lupa kulitnya.
Dijelaskan, Sofyan dan keluarganya sangat menjunjung tinggi etika moral.
Perjalanan hidup Sofyan sendiri sesungguhnya cukup menggambarkan betapa
dia telah melampaui perjuangan sejak kanak-kanak, menjadi pejaga mesjid
hingga digelari ”James” sampai menjadi menteri.
Kendati dalam bahasa Aceh sangat sulit mencari kata asli (Aceh) untuk
menyatakan terimakasih, Sofyan bukanlah tipe orang yang tidak tahu
berterimakasih. Jika tidak salah, sebagai putera bangsa, dia adalah
orang yang sering berterimakasih. Bahkan selalu bersyukur atas apa yang
diperolehnya.
Namun, sebagaimana digambarkan Yudiantoro, seorang yang pernah bekerja
untuk Sofyan Djalil dari tahun 2001-2005, Sofyan Djalil bukan tanpa
kelemahan, salah satunya adalah (penilaian pribadi) ketidakmampuan
beliau untuk merubah secara drastis kebijakan-kebijakan Kementrian
Negara BUMN. ”Beliau juga termasuk orang yang sangat susah untuk
mempercayai orang (bahkan dalam satu kesempatan, beliau pernah berkata
bahwa beliau tidak punya sahabat karib), sehingga perputaran kebijakan
berada dalam lingkaran yang sangat kecil dan sulit diukur
akuntabilitasnya.” tulis Yudiantoro.
4)
Janjikan 100 BUMN Merger dan Privatisasi
Situs resmi pemerintah (indonesia.go.id) pada 21-08-2007, merilis
pernyataan Menteri Negara BUMN, Sofyan Djalil, bahwa pemerintah secara
bertahap akan melakukan revitalisasi dan merger terhadap sekitar 100
Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk efisiensi.
"Kita sudah siapkan sejumlah BUMN yang akan dimerger dengan tujuan agar
lebih efektif dan efisien pengelolaannya," katanya kepada wartawan di
lokasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jeneponto di
Dusun Punagaya, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, Minggu
(21/8/2007).
5)
Pernyataan ini dikemukakannya berulang kali. Walaupun kemudian
rencananya makin diciutkan dari sebelum 100 BUMN menjadi 37 BUMN yang
akan dimerger dan diprivatisasi.
BUMN yang akan diprivatisasi itu antara lain: Kawasan Industri Medan, Kawasan
Industri Makassar, Kawasan Industri Wijaya Kusuma, BNI Persero, Adhi
Karya, PT Asuransi Jasa Indonesia, BTN, Jakarta Lloyd, Krakatau Steel,
Industri Sandang, PT Inti, Rukindo, dan Bahtera Adi Guna, Kemudian, PT
Perkebunan Nusantara III, PT Perkebunan Nusantara IV, PT Perkebunan
Nusantara VII, dan Sarana Karya, Semen Batu Raya, Waskita Karya,
Sucofindo, Surveyor Indonesia, Kawasan Berikat Nusantara, Pembangunan
Perumahan (melalui IPO), Kawasan Industri Surabaya, dan Rekayasa
Industri. Yodya Karya, Kimia Farma dan Indo Farma (keduanya mau merger),
PT Kraft Aceh, PT Dirgantara Industri, Boma Vista, PT Barata, PT Inka,
Dok Perkapalan Surabaya, Dok Perkapalan Koja Bahari, Biramaya Karya, dan
Industri Kapal Indonesia (Kominfo Newsroom, 21/1/2008).
Namun, rencana ini mengundang kontroversi. Bahkan ada yang mengulasnya
sebagai fakta dan kebohongan privatisasi di Indonesia.
6) Sehingga sampai dia mengakhiri tugas sebagai Menneg BUMN rencana
itu belum terwujud.
Maka, sehubungan dengan pernyataannya telah mempersiapkan diri untuk
tidak menjadi menteri lagi, dia diharapkan untuk membenahi dulu semua
permasalahan yang terjadi di sejumlah BUMN, khususnya di BUMN strategis,
agar menteri yang menjabat nanti tidak mendapat warisan masalah. ►ti/crs
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|