A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Perusahaan
 ► Organisasi
     ► PAN
     ► HIPMI
     ► Lainnya
 ► Buku
 ► Galeri
 ► Link
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah TI
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 20022005  
   
  ► e-ti/sb  
  Nama:
Soetrisno Bachir
Lahir:
Pekalongan, Jawa Tengah, 10 April 1957
Agama:
Islam
Jabatan:
Ketua Umum DPP
 Partai Amanat Nasional (PAN)
 
 
     
 
SB HOME

 

Welcome

This site is currently under construction. Please check back at a later time.

 

 

Soetrisno Bachir

Bertekad Jadikan PAN Terdepan

Pendiri Grup Sabira ini terpilih menjadi Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) periode 2005-2010 menggantikan Amien Rais. Dia terpilih melalaui voting yang alot dalam Kongres PAN ke-2 di Semarang, 10 April 2005, bertepatan hari ulang tahun kelahirannya yang ke-48. Pria berjiwa ‘keumatan-kebangsaan’ ini bertekad menjadikan PAN terdepan, ikhlas dan amanah.

 

Soetrisno Bachir

Kembalikan PAN ke Rakyat

Sutrisno Bachir yang baru saat-saat menjelang kongres Maret 2005 muncul menjadi aktivis partai, harus bersaing ketat dengan Fuad Bawazier yang mantan birokrat rejim Orde Baru dan Hatta Rajasa Sekjen PAN periode 1999-2005 yang ikut mencalonkan diri pada 21 Maret 2005 di menit-menit akhir, atau diistilahkan di ‘injury time’. Buktinya, kongres yang semula dijadwal 7-10 April 2005 (Kamis-Minggu) harus diperpanjang sehari karena alotnya pemilihan ketua umum.

 

 

 

         
PAN Targetkan Peroleh 100 Kursi DPR

Isu Penon-aktifan Soetrisno Bachir Ditanggapi Dingin

Jakarta, Kompas - Partai Amanat Nasional menargetkan memperoleh 18,2 persen suara nasional atau setara dengan 100 kursi di Dewan Perwakilan Rakyat pada pemilihan umum legislatif tahun 2009.

Menurut Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Amanat Nasional (DPP PAN) Soetrisno Bachir di sela-sela Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I PAN di Jakarta, Sabtu (15/4), target itu bukanlah tanpa perhitungan. "Strateginya adalah daerah. Kalau dulu pusat, sekarang daerah lebih banyak bergerak," ujarnya.

Pada pemilu legislatif 2004, PAN mengantongi 7.303.324 suara nasional atau setara dengan 6,44 persen dari total 113.462.414 jumlah suara nasional yang sah. Dengan perolehan itu, PAN berhak atas 52 kursi di parlemen.

Konsolidasi partai merupakan langkah utama yang akan digunakan PAN dalam mencapai target itu. Bahkan, di tingkat wilayah dan daerah telah dilakukan proses regenerasi kepemimpinan. Tidak hanya itu, rakernas yang saat ini tengah dilangsungkan pun dibangun dalam sikap dan ketegasan untuk terus menjaga komitmen guna membangun partai tersebut.

Dalam rakernas itu dibentuk 13 kelompok kerja, antara lain kelompok kerja rencana strategis pemenangan pemilu, pemilihan kepala daerah, penerimaan anggota, dan pembinaan wilayah.

Hal itu senada dengan pernyataan Ketua Majelis Pertimbangan Partai DPP PAN Amien Rais yang optimistis PAN mampu memenangkan Pemilu 2009, sebagaimana disebutkan dalam pernyataan pers partai tersebut. Optimisme Amien didasarkan pada hasil konsolidasi internal partai yang telah dilakukan DPP PAN. Kaderisasi yang mereka lakukan telah menghasilkan pengurus muda yang dinamis.

Menurut Wakil Sekjen PAN untuk Badan Informasi-Komunikasi Strategis (BASIS) Teguh Juwarno, PAN pun saat ini mulai meleburkan diri hingga ke bawah. "Dulu PAN dikenal elite karena kadernya-kadernya yang terdidik. Sekarang PAN terus mengembangkan diri hingga semua lapisan," tuturnya.

Teguh juga menjelaskan, pada sisi internal PAN membentuk apa yang disebut direktur-direktur eksekutif yang akan bertugas membangun sistem dan infrastruktur informasi.

Tugas mereka, antara lain memberi dukungan data, baik untuk tingkat pusat dan daerah. Mereka akan menyinergikan program-program agar tidak saling tumpang tindih.

Pada sisi eksternal, Teguh mengungkapkan, PAN terus mengembangkan jaringan wirausaha yang disebut dengan forum bisnis.

Solid

Meskipun sempat diwarnai dengan isu usulan penon-aktifan Soetrisno Bachir, Rakernas I PAN berjalan lancar. Bahkan, isu tersebut ditanggapi dingin oleh para peserta rakernas.

Menurut anggota Komisi I Fraksi PAN di DPR, Dedy Djamaluddin Malik, semua anggota telah sepakat untuk meningkatkan konsolidasi partai dan tidak meributkan isu tersebut.

Isu yang sempat dilontarkan AM Fatwa itu, menurut Dedy, merupakan bentuk dinamika partai itu sendiri.

"Masing-masing orang memiliki caranya sendiri menunjukkan kecintaan mereka pada partai," kata Dedy. (JOS)
      Soetrisno Bachir Terpilih Jadi Ketua Umum PAN

SEMARANG (Media): Pengusaha asal Pekalongan Soetrisno Bachir akhirnya terpilih menjadi Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) periode 2005-2010. Dia berhasil menyingkirkan lima kandidat lainnya, yakni Fuad Bawazier, Didik J Rachbini, Afni Achmad, Moeslim Abdurrahman, dan Samuel Koto.


Dalam pemilihan pada hari terakhir Kongres II PAN yang dilaksanakan kemarin, di ruang Poncowati Hotel Patrajasa Semarang, Soetrisno mendapat 745 suara dari 1.411 suara. Dia mengungguli Fuad Bawazier 551 suara, Didik J Rachbini 59 suara, Afni Achmad 8 suara, Moeslim Abdurahman 17 suara, dan Samuel Koto 5 suara. Sedangkan suara yang tidak sah sebanyak 25 suara.
Terpilihnya Soetrisno Bachir, yang sebelumnya tidak begitu terkenal di dunia politik, semakin mengukuhkan asumsi publik bahwa posisi dan peran mantan Ketua Umum DPP PAN Amien Rais sangat sentral. Tanpa dukungan Amien Rais yang kuat, sulit bagi Soetrisno untuk bersaing dengan lima kandidat lainnya.
Peluang Soetrisno menggantikan Amien Rais sudah terbaca jauh sebelum kongres. Kedekatannya dengan Amien, menyulitkan kandidat lainnya mendapatkan dukungan dari utusan DPW, DPD, dan pengurus DPP PAN sendiri.
Sehingga tidak mengherankan bila saat menyampaikan visi dan misi pukul 03.00 WIB, dini hari (10/4), lima kandidat lainnya mengkritik keberpihakan Amien kepada Bachir. Kandidat seperti Fuad dan Samuel Koto terang-terangan mengatakan, proses demokrasi dalam Kongres II PAN ini sebagai demokrasi yang semu. Faud, Didik, Samuel, dan Afni bahkan menilai Amien tidak konsisten menegakkan demokrasi.
Soal diterima atau tidak hasil penghitungan suara itu, menurut Fuad, diserahkan sepenuhnya kepada DPW, DPD, dan DPP yang memiliki hak suara. "Saya secara pribadi tidak berhak mengatakan akan menerima atau menolak. Itu sepenuhnya kewenangan pemilik suara apakah mereka menilai pemilihan ini berjalan dengan fair atau tidak, apakah pemilihan berjalan demokratis atau tidak," kata Fuad usai penghitungan suara.
Dilecehkan
Kontroversi pencalonan Soetrisno ini, juga terlihat saat para kandidat menyampaikan visi dan misinya, sebelum pemilihan. Pihak panitia tampaknya sudah men-setting Soetrisno sebagai pembicara terakhir. Sehingga tidak mengherankan bila pimpinan sidang Sayuti Alsyatri menawarkan kepada floor agar penyampaian visi dan misi dilakukan berdasarkan urutan abjad nama mereka.
Didik merupakan sosok yang paling siap secara konseptual dalam memaparkan visi dan misinya. Didik membagi perjuangan partai ke depan dalam politik kepartaian dan politik kebangsaan. Terkait dengan politik kepartaian, di masa yang akan datang tidak ada lagi kekuatan individu di atas konstitusi partai.
Ketika tiba giliran Soetrisno menyampaikan visi dan misinya, massa langsung meneriakkan kata "hu...hu...," Soetrisno tetap berjalan menuju podium. Namun teriakan yang bernada melecehkan itu kembali muncul ketika Soetrisno memuji-muji Amien Rais. Soetrisno terpaksa menghentikan pidatonya sejenak. "Saya sudah menduga akan diteriaki hu...hu.... Saya sudah siap untuk itu."
Setelah dirinya terpilih, Soetrisno datang ke paviliun Fuad Bawazier No 616, yang tidak jauh dari paviliunnya 609, di Hotel Patrajasa itu. Namun Fuad menolak menerima Soetrisno. "Saya datang untuk mengatakan, pertarungan kita di kongres sudah selesai. Saya ingin mengajak semua kandidat kembali bahu-membahu membangun PAN. Tapi, kalau Pak Fuad tidak mau menerima saya, tidak apa-apa," tegas Soetrisno.(Ril/HT/X-4