| |
C © updated 20022005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/sb |
|
| |
Nama:
Soetrisno Bachir
Lahir:
Pekalongan, Jawa Tengah, 10 April 1957
Agama:
Islam
Jabatan:
Ketua Umum DPP
Partai Amanat Nasional (PAN)
Istri:
Anita Rosana Dewi (Menikah 1989)
Anak:
1. Meisa Prasati
2. Layaliya Nadia Putri
3. Maisara Putri
4. Muhammad Izzam
Orangtua:
Ayah Bachir Achmad (alm) dan Ibu Latifah Djahrie
Pendidikan:
-Sekolah Dasar (SD), di Pekalongan (1969)
-Sekolah Lanjuta Tingkat Pertama (SLTP), di Pekalongan (1972)
-Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA), di Pekalongan (1975
-Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti (tidak selesai)
-Fakultas Ekonomi Universitas Pekalongan ((Unika)
Pengalaman Kerja:
-Usaha Batik (1976-1980)
-Vice President Direktor Ika Muda Group (sejak 1981)
-Presiden Direktur Grup Sabira (Merupakan induk bagi 10 perusahaan
bergerak di bidang keuangan, investasi, perdagangan, konstruksi,
properti, ekspor impor, pelabuhan, dan agrobisnis)
Perusahaan Grup Ika Muda:
1. PT Ika Bina Muda (real estat & developer)
2. PT Ika Graha Muda (real estat & developer)
3. PT Ika Sarana Muda (real estat & developer)
4. PT Ika Muda Corpora (ekspor-impor)
5. PT Ika Citra Fishtama (coldstorage & processing)
6. PT Ika Muda Rotanindo (industri rotan)
7. PT Sawo Jajar (tambak udang)
8. PT Ika Muda Hatchery (hatchery)
9. PT Ika Muda Wisata (biro perjalanan)
10. PT Ika Perfecta Rimba (industri Chopstick)
11. PT Buah Harum (perkebunan)
12. PT Ika Chirza Putra (tambak udang)
13. PT Ika Muda Apraisindo (appraisal)
14. PT Top Mode Indonesia (media massa)
Organisasi:
= Partai Amanat Nasional
= Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) |
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
Soetrisno Bachir
Bertekad Jadikan PAN TerdepanPendiri Grup Sabira ini
terpilih menjadi Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN)
periode 2005-2010 menggantikan Amien Rais. Dia terpilih melalaui voting yang alot dalam
Kongres PAN ke-2 di Semarang, 10 April 2005, bertepatan hari ulang tahun
kelahirannya yang ke-48. Pria berjiwa ‘keumatan-kebangsaan’
ini bertekad menjadikan PAN terdepan, ikhlas dan amanah. Pria kelahiran
Pekalongan 10 April 1957, ini berasal dari keluarga Muhammadiyah yang
cukup dekat dengan kalangan nahdliyin. Dari ayahnya, dia
mewarisi nilai keagamaan dan naluri kewirausahaan. Ayahnya seorang
pedagang yang taat beragama. Pengusaha ini terbilang masih
hijau dalam dunia politik. Dia mengaku bukan ‘orang politik’
melainkan seorang profesional. Namun bila profesionalitas memang
diperlukan untuk mengembangkan PAN menjadi partai berpengaruh, ia
menyatakan siap menjalankan amanah itu dengan seluruh kemampuan dan
keterbatasannya.
Ia banyak menghabiskan waktunya di sekitar Pekalongan. Ia
menamatkan pendidikan Sekolah Dasar (SD) 1969, SLTP 1972 dan SLTA 1975
semuanya di Pekalongan. Sempat kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas
Trisakti, namun tak sampai selesai. Dia kembali ke Pekalongan untuk
menyelesaikan pendidikan S-1 di Fakultas Ekonomi Universitas Pekalongan
(Unika), Jawa Tengah.
Ia adalah suami bagi Anita Rosana Dewi, dinikahi tahun 1989, dan ayah
bagi empat orang anak maisng-masing Meisa Prasati, Layaliya Nadia Putri,
Maisara Putri, dan Muhammad Izzam.
Sutrisno yang akrab disebut sebagai “SB” ini menjanjikan akan berusaha
meraih 100 kursi DPR untuk Pemilu 2009, dan memenangi 10 persen
pemilihan kepala daerah.
“Pilihlah saya bukan karena dekat dengan Amien Rais, tapi karena saya
ingin meneruskan perjuangannya,” ujar Bachir, lalu disambut tepuk tangan
ramai para pendukung.
Pengusaha dan Aktivis
Soetrisno Bachir dikenal sebagai pengusaha. Sepanjang tahun 1976 hingga
1980 ia aktif menggeluti usaha batik. Lalu, ia bersama kakaknya
Kamaluddin Bachir sejak 1981 mulai mengibarkan bendera bisnis Grup Ika
Muda, kini menaungi tak kurang 14 badan usaha perseroan terbatas. Grup
itu bergerak di bidang budidaya udang, properti (realestat),
ekspor-impor, rotan, peternakan dan media massa.
Sutrisno kemudian mengembangkan bisnis sendiri melalui Grup Sabira,
induk bagi 10 perusahaan yang bergerak di bidang keuangan atau
investasi, perdagangan, konstruksi, properti, ekspor impor, pelabuhan,
dan agrobisnis.
Soetrisno memang lahir dan besar di tengah-tengah keluarga pedagang di
Pekalongan, Jawa Tengah. Ia adalah pedagang sekaligus aktivis
organisasi. Anggota Majelis Ekonomi PP Muhammadiyah ini adalah aktivis
organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII) dan Himpunan Mahasiswa Islam
(HMI).
Ia juga aktivis di sejumlah organisasi profesi bisnis,
misalnya sebagai tokoh dan pengurus Himpunan Pengusaha Muda Indonesia
(Hipmi), Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), Kadin, hingga Real
Estate Indonesia (REI).
Simbiose citra sebagai pedagang dan aktivis selalu melekat dalam diri
Sutrisno Bachir. Ia banyak menyumbangkan materi hasil berdagang ke
berbagai organisasi sosial keagamaan. Ketika Ikatan Cendekiawan Muslim
Indonesia (ICMI) lahir ia memberikan banyak dukungan. Demikian pula di
lingkungan HMI, Muhammadiyah, serta PII dalam 25 tahun terakhir sangat
mengenal Sutrisno sebagai penyumbang yang dermawan.
Setiap
organisasi sosial keagamaan, kalau memerlukan dukungan finansial, dan
lalu menemui ayah empat orang anak ini, sepanjang rencana kegiatannya
bermanfaat jelas maka dijamin pasti tidak akan pulang dengan tangan
hampa.
Keringanan tangan menyumbang itulah yang ‘memperkenalkan’ Sutrisno
Bachir dengan sosok Amien Rais. Apalagi, ia mendapat amanah dari ibunya
Latifah Djahrie yang berpesan untuk bantu Pak Amien. “Ibu saya berpesan
agar saya selalu membantu Pak Amien,” ujar Sutrisno.
Sejak tahun 1998 kendati bisnisnya sedang dihantam badai
krisis ia tetap komit menuruti perintah ibunya. Ia sangat percaya, bila
kita sering membantu yang lain Allah akan membalas berlipat-lipat. “Saya
sering membuktikan hal itu,” kata Sutrisno Bachir yang sangat hormat
kepada ibunya.
Ia yakin kesuksesannya sebagai pengusaha tidak lepas dari restu ibu. Ia
ingat persis hadits Nabi, bahwa ridho Allah adalah ridho orangtua. Ia
juga mengamini hadits lain, yang telah menjadi semacam ungkapan klasik
keagamaan, bahwa ‘surga berada di bawah telapak kaki ibu’. Sabda Rasul
Muhammad SAW di atas bukanlah sekadar rangkaian kata-kata namun nyata
terbukti dalam kehidupan Sutrisno sehari-hari.
‘Romantisme’ politik antara Amien Rais dan Sutrisno Bachir sudah
berlangsung lama. Amien Rais menyebutkan Sutrisno selalu berada di
sampingnya untuk memberikan dukungan. Sejak PAN lahir 1998 termasuk
selama kampanye Pemilu 1999, walau bukan sebagai pengurus Sutrisno aktif
memberikan bantuan finansial.
Ingin bergerak lebih luas
Panggilan hati Sutrisno terjun ke politik praktis dengan sasaran sebagai
ketua umum PAN, selain karena ingat pesan Ibu juga karena nalurinya
sebagai pengusaha tak ingin hanya bergerak pada tataran wacana semata.
Dia yakin partai modern tidak bisa ditegakkan hanya dengan wacana.
Sukses partai pada masa depan tidak cukup ditopang popularitas
pemimpinnya, maupun banyaknya pernyataan yang dikutip media. Partai
modern memerlukan kerja nyata yang sistematis, yang mampu memahami
secara detail kebutuhan masyarakat. Karena itu PAN harus mampu
menempatkan kader-kader terbaiknya dalam jumlah memadai, baik dalam
legislatif maupun eksekutif. Dan, hal itu tidak bisa dibangun hanya
dengan popularitas tapi harus dengan kerja keras.
Ia memasuki gelanggang politik bukan sebagai orang politik atau
politisi, namun murni profesional yang kemudian berpolitik. Ia melihat
profesionalitas memang diperlukan untuk mengembangkan PAN menjadi partai
berpengaruh, dan ia sudah siap untuk menjalankan amanah itu dengan
seluruh kemampuan dan keterbatasannya.
Sutrisno lalu menerjemahkan keinginannya membesarkan dan memodernkan PAN
pada empat pokok garis perjuangan. Yakni, partai dan pemenangan pemilu,
pengaderan yang andal, partai yang dicintai rakyat, serta membangun
organisasi PAN yang modern. Garis perjuangan itu dia operasionalkan lagi
ke dalam sejumlah program.
Program-program itu, penataan sistem kerja partai,
pengembangan sistem informasi kepartaian, pelatihan-pelatihan kader dan
pengurus, pengembangan kapasitas DPP, DPC, DPD sebagai ujung tombak
partai, serta membangun dan mengukuhkan citra sebagai (satu-satunya)
partai modern di Indonesia.
Kuatnya visi Sutrisno Bachir membangun PAN menjadi partai modern
membuatnya tetap menolak anggapan seolah-olah kader partai haruslah dari
kalangan pebisnis. Ia hanya berprinsip, bila partai ingin bisa membiayai
sendiri maka PAN harus mau membesarkan pengusaha. Bila ada sepuluh
persen saja dari pengurus partai pengusaha, maka jumlah itu sudah cukup
untuk membiayai suatu partai. Dengan konsep yang dimiliki Sutrisno Bachi
sudah siap melaksanakan target untuk meraih 100 kursi DPR pada Pemilu
2009, dan memenangkan 10 persen Pilkada. ►ti/ht
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|