| |
C © updated 20022005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/sb |
|
| |
Nama:
Soetrisno Bachir
Lahir:
Pekalongan, 10 April 1957
Perusahaan:
= Grup Ika Muda
= Grup Sabira
Organisasi:
= Partai Amanat Nasional
= Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) |
|
| |
|
|
|
|
| BERITA SB |
|
|
 |
Soetrisno Bachir
Kembalikan PAN ke Rakyat
Sutrisno Bachir yang baru saat-saat menjelang kongres Maret 2005 muncul
menjadi aktivis partai, harus bersaing ketat dengan Fuad Bawazier yang
mantan birokrat rejim Orde Baru dan Hatta Rajasa Sekjen PAN periode
1999-2005 yang ikut mencalonkan diri pada 21 Maret 2005 di menit-menit
akhir, atau diistilahkan di ‘injury time’. Buktinya, kongres yang semula
dijadwal 7-10 April 2005 (Kamis-Minggu) harus diperpanjang sehari karena
alotnya pemilihan ketua umum.
Sutrisno Bachir dan para pendukung berhasil melewati ganjalan pertama
setelah sidang pleno pada hari Sabtu siang (9/4), berhasil menghapus
salah satu klausul yang ada dalam rancangan Tata Tertib (Tatib)
Pemilihan Ketua Umum Partai, persisnya pada pasal 4 ayat 1 huruf f, yang
mensyaratkan kandidat ketua umum harus pernah menjabat pengurus DPP dan
atau pengurus harian DPW, atau telah mengikuti pelatihan kader PAN.
Andai saja klausul itu lolos itu adalah alamat Sutrisno Bachir, yang
memulai kejayaan imperium bisnis Grup Ika Muda dan Grup Sabira dari
usaha batik, sama sekali menjadi tak berkesempatan mencalonkan diri.
Usai penetapan Tatib tiga nama lalu mencuat sebagai kandidat terkuat
calon ketua umum yaitu Sutrisno Bachir, Hatta Rajasa dan Fuad Bawazier
yang didampingi empat nama lain Didik J. Rachbini, Moeslim Abdurahman,
Afni Achmad dan Samuel Koto. Namun Hatta Rajasa mengambangkan diri
akankah terus maju atau mundur di tengah pencalonan.
Lalu tibalah saatnya sore pada pukul 18.46 WIB, masih di hari yang sama
Sabtu 9 April 2005 bertempat di kamar 601 Hotel Patra Semarang. Di situ
para Ketua DPW PAN se-Indonesia sedang berkumpul hendak berbicara
langsung kepada Amien Rais menyangkut ke arah mana mereka akan
memberikan dukungan suara. Kegelisahan terlihat di raut wajah
ketua-ketua DPW yang rata-rata sudah menampakkan kesan kelelahan itu.
Pada saat semua kuping dan telinga peserta kongres sedang diarahkan ke
kamar 601, itulah sesungguhnya Amien sedang mengadakan pertemuan rahasia
dan sangat strategis dengan Hatta Rajasa. Para ketua DPW baru menyadari
perhatiannya sedang dialihkan, setelah tiga jam menunggu.
Amien Rais yang mantan Ketua MPR berembuk dengan Hatta untuk membahas
suasana yang mulai terasa ‘sangat genting’ menjelang pemilihan ketua
umum. Sebab peta yang terbaca menunjukkan kekuatan Fuad tetap sangat
signifikan untuk menjadi ketua.
Setelah pertemuan yang ditunggu berjam-jam usai suasana justru semakin
tegang. Hatta dan Amien yang terlihat lelah keluar ruangan dalam kawalan
ketat tokoh-tokoh penting PAN, seperti Mendiknas Bambang Sudibyo serta
anggota DPR Drajat Hari Wibowo dan Abdillah Toha. Jika Hatta segera
kembali ke markasnya di Hotel Grand Candi, sambil bungkam tanpa
sedikitpun memberikan informasi pers, demikian pula sikap tim sukses
yang biasanya mudah memberikan informasi, Amien Rais segera menemui para
ketua DPW.
Klimaks di Tengah Malam
Klimaks dari semuanya akhirnya terjadi pada pukul 00.45 WIB Minggu dini
hari (10/4), Hatta menyatakan resmi mundur dari pencalonan. Hatta
kemudian menegaskan dan mengulang pernyataan mundurnya itu pada
kesempatan menyampaikan visi dan misi, pada pukul 03.30. Ia menyebutkan
ingin berkonsentrasi sebagai Menteri Perhubungan Kabinet Indonesia
Bersatu, sekaligus mendukung Sutrisno Bachir sebagia Ketua Umum PAN.
“Secara pribadi, saya mendukung Pak Soetrisno Bachir menjadi Ketua Umum
PAN. Sedang alasan saya mundur, karena saya akan berkonsentrasi di
kabinet,” ujar Hatta disambut hangat para pendukung Bachir.
Pengunduruan diri Hatta tak urung menuai protes dari sejumlah dewan
pimpinan wilayah (DPW) dan dewan pimpinan daerah (DPD) yang sebelumnya
kuat sekali ingin mendudukkan Hatta sebagai ketua umum baru partai.
Pendukung Hatta berteriak-teriak, menyebutkan, kalau Hatta mundur
berarti mengingkari demokrasi. “Pak Hatta jangan mundur. Ini demokrasi,
Pak...!” ujar mereka. Sekjen PAN 2000-2005 itu tetap kukuh pada
keputusannya untuk mundur dari pencalonan.
Sadar suara yang semula mendukung Hatta diperkirakan akan lebih banyak
beralih ke Sutrisno Bachir, Fuad Bawazier lalu menyampaikan penilaiannya
bahwa proses demokrasi dalam Kongres II PAN Semarang telah berjalan
sangat tidak lancar, bahkan tidak demokratis. Ketika menyampaikan visi
misi, Fuad mengindikasikan penilaiannya tadi dari adanya tekanan
terhadap kandidat ketua umum Hatta Rajasa untuk mundur dari pencalonan
ketua umum PAN.
“Proses ini sangat tidak fair, tidak layak dilakukan PAN. Cara
seperti ini sangat memalukan,” ujar Fuad, yang sebelumnya diperkirakan
akan menang tipis bila Hatta terus melaju sebab suara akan terbagi
hampir merata di antara dirinya dengan Sutrisno, dan Hatta. Fuad
dihitunga akan unggul tipis dari dua pesaingnya itu.
Begitu Hatta resmi mundur tim sukses Sutrisno Bachir kemudian berjuang
keras di floor sidang pleno yang sedang membahas tata tertib pencalonan,
Minggu dini hari. Mereka berkeras memasukkan klausul baru, pemungutan
suara hanya dalam satu putaran. Klausul itulah yang sesungguhnya sangat
diinginkan Fuad sebelum kemunduran Hatta, karena yakin pasti akan unggul
walau sangat tipis. Usul itu akhirnya diterima floor, yang sudah mulai
memunculkan gema dukungan kepada Sutrisno Bachhir. Dengan demikian,
dalam satu putaran siapa pun peraih suara terbesar dalam pemilihan
berhak menjadi ketua.
Selain dari Hatta, Sutrisno diperkirakan juga memperoleh dukungan suara
dari Didik J Rachbini, yang tetap didekati kubu Amien bahkan hingga
pemilihan masih berlangsung. Entah dari mana sumbernya, di lapangan
beredar pula selebaran bernada provokasi, berisi struktur formatur
dimana di situ terdapat nama Hatta Rajasa dan Didik serta 10 nama lain
dari berbagai unsur di PAN.
bahkan, nama Didik di lapangan diisukan akan masuk sebagai Sekjen
walau akhirnya terbukti sehari kemudian yang menempati posisi strategis
itu adalah Zulkifli Hasan. Sedangkan, Hatta akhirnya terbukti benar
duduk dalam Majelis Pertimbangan Partai (MPP), duduk sebagai Wakil Ketua
MPP bersama-smaa dengan AM Fatwa. Ketua MPP sudah ditetapkan aklamasi
sebelumnya, Amien Rais. Fuad Bawazier pun sesungguhnya tak kurangliatnya
mencari limpahan suara, seperti dari pendukung Moeslim Abdurrahman dan
Samuel Koto.
Ketika menyampaikan visi misi sebagai calon ketua umum Sutrisno Bachir
sudah mulai tampil mantap dan merasa percaya diri, kendati seringkali ia
mendapat cemoohan dari peserta kongres dengan teriakan “huu….” Pimpinan
sidang berkali-kali harus mengetok palu meminta peserta kongres agar
mendengarkan Soetrisno menyampaikan visi dan misinya. Di situ Sutrisno
antara lain menekankan PAN harus down to earth bersama-sama rakyat, PAN
harus memberikan sesuatu yang konkrit buat rakyat, lebih dari sekedar
wacana.
Kalau rakyat menderita PAN harus membantu mereka dengan memberi
sesuatu, bukan dengan wacana. Sutrisno juga menjanjikan akan berusaha
meraih 100 kursi DPR pada Pemilu 2009, dan memenangi 10 persen pemilihan
kepala daerah. Sutrisno Bachir meminta peserta kongres memilihnya bukan
karena dekat dengan Amien Rais, tapi karena ingin meneruskan
perjuangannya.
Kemenangan yang Anti Klimaks
Sidang pleno pemilihan ketua umum dimulai Minggu (10/4) pukul 06.00 WIB,
dan penghitungannya baru selesai pukul 15.30 WIB, itu sebagai
antiklimaks hasilnya sepertinya sudah bisa ditebak. Dari 1.411 peserta
yang berhak memilih, Soetrisno Bachir mendapat 745 suara (52,80%),
diikuti Fuad Bawazier 551 suara (39,05%), Didik J Rachbini 59 suara
(4,18%), Moeslim Abdurrahman 17 suara (1,20%), Afni Achmad 8 suara
(0,57%), Samuel Koto 5 suara (0,35%), suara tidak sah 25 (1,77%), dan
abstain 1 suara (0,07%).
“Pemilihan ketua umum bukan berarti permusuhan karena kita semua
saudara. Kami akan mengakomodasi semua masukan untuk membesarkan PAN
pada masa yang akan datang,” itulah bunyi pernyataan pertama dari
Soetrisno Bachir seusai penghitungan suara dan membuatnya sah terpilih
sebagai ketua umum baru PAN. Hanya itu komentar singkat Sutrisno Bachir,
setelah sebelumnya didahului dengan kata “Alhamdulillah. Selanjutnya ia
segera ‘diamankan’ ke cottage tempatnya menginap, berada di bagian
belakang Kompleks Hotel Patra Jasa, Semarang.
Amien Rais seusai pemilihan menyatakan puas atas suksesi di kongres yang
berlangsung demokratis, terbuka untuk umum, dan tidak ditutup-tutupi. Ia
pun berharap PAN yang ditangani kaum muda seperti Soetrisno, itu akan
lebih inovatif, kreatif, dan tambah maju.
Kemudian, Sutrisno Bachir bersama istrinya Anita Rosana Dewi keluar dari
ruang kamarnya menginap Bungalow 614-615, hendak menuju Bungalow 616-617
menemui Fuad yang letaknya persis bersebelahan itu. Tampak di markas
Fuad itu para pendukung Fuad sedang berkumpul. Pertemuan keduanya yang
baru saja ‘berseteru’ akhirnya urung terjadi sebab para pendukung Fuad
masih dilanda emosi. Mereka sempat meneriaki Soetrisno dengan kata-kata
keras. Alvin Lie, yang ikut keluar dari rombongan Soetrisno pun tak
luput dari cacian. Walau demikian Soetrisno menyatakan tidak perlu
mempersoalkan kejadian itu karena mereka adalah saudara-saudaranya. ►ti/ht
|
|