| |
C © updated 28062008-25072005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/kcm |
|
| |
Nama:
Soetardji Calzoum Bachri
Lahir,
Riau, 24 Juni 1941
Agama:
Islam
Pendidikan:
FISIP Unpad jurusan Administrasi Negara
Profesi:
Redaktur, Penyair
Karya Tulis:
= O (1973),
= Amuk (1977),
= Amuk (1979),
= O Amuk Kapak (1981)
= Hujan Menulis Ayam (Kumpulan Cerpen, 2001)
= Isyarat (Kumpulan Esai)
Penghargaan:
= Kumpulan sajak Amuk (1977), memenagkan hadiah puisi DKJ 1976/
1977
= Hadiah Sastra ASEAN (1979),
= Hadiah Seni (1993),
= Anugerah Sastra Chairil Anwar dan dianggap sebagai pelopor angkatan
70-an (1998)
= Anugerah Akademi Jakarta (2007)
|
|
| |
|
|
|
|
| SOETARDJI HOME |
|
|
 |
Soetardji Calzoum Bachri
Presiden Penyair Indonesia
Pria kelahiran 24 Juni 1941 ini digelari 'presiden penyair Indonesia'.
Menurut para seniman di Riau, kemampuan Soetardji laksana rajawali di
langit, paus di laut yang bergelombang, kucing yang mencabik-cabik dalam
dunia sastra Indonesia yang sempat membeku dan membisu setelah Chairil
Anwar pergi.
Dia telah meraih sejumlah pengharaan atas karya-karya sastranya.
Antara lain Hadiah Sastra ASEAN (1979), Hadiah Seni (1993),
Anugerah Sastra Chairil Anwar (1998), serta Anugerah Akademi Jakarta
(2007). Dia memiliki gaya tersendiri saat membacakan puisinya, kadang
kala jumpalitan di atas panggung, bahkan sambil tiduran
dan tengkurap.
Penyair kondang lulusan FISIP Unpad jurusan Administrasi Negara, ini
pada ulang tahun ke-67 Sutardji Calzoum Bachri, Selasa (24/6/2008) malam,
yang diperingati di Pekanbaru, Riau, mendapat apresiasi dan kejutan.
Kejutan pertama dari rekan-rekannya di Dewan Kesenian Riau berupa
penerbitan kumpulan puisi Atau Ngit Cari Agar dan buku ...Dan, Menghidu
Pucuk Mawar Hujan yang berisi kumpulan tulisan mengupas perjalanan
sastranya. Atau Ngit Cari Agar adalah kumpulan puisi yang dia buat dalam
kurun 1970-an hingga 2000-an. Puisi-puisi itu tak ada dalam buku
kumpulan puisinya, Amuk (1977) dan Amuk Kapak (1981).
Kejutan tak terduga kedua ialah dari seorang pencinta seni Riau yang tak
disebutkan namanya berupa uang Rp 100 juta. Soetardji tentu
berterimakasih atas apresiasi itu, walau dia terlihat biasa saja saat
menerima hadiah Rp 100 juta itu. "Sehebat-hebat karya sastra yang
dihasilkan seniman tak berarti jika tidak mendapat apresiasi masyarakat,"
ujarnya berterimakasih. Menurutnya, dia termasuk beruntung karena
mendapat apresiasi.
Ketua Dewan Kesenian Riau Eddy Akhmad RM, mengatakan, pihaknya
menabalkan Juni sebagai bulan Sutardji. Penabalan ini tak bermaksud
mengultuskan Sutardji. Ini, katanya, pengakuan seniman Riau terhadap
kemampuannya menjadi rajawali di langit, menjadi paus di laut yang
bergelombang, menjadi kucing yang mencabik-cabik dalam dunia sastra
Indonesia yang sempat membeku dan membisu setelah Chairil Anwar pergi. ►e-ti/binsar
halomoan
***
Dalam karyanya berjudul Ayo (1998) dia bertanya: Adakah yang lebih tobat dibanding airmata adakah yang lebih mengucap
dibanding airmata adakah yang lebih hakekat dibanding airmata adakah
yang lebih lembut adakah yang lebih dahsyat dibanding airmata.
(Ayo, Sutardji Calzoum Bachri, 1998)
Soetardji membacakan puisinya pada malam terakhir dalam rangkaian Festival
Nopember 1999, Rabu (17/11/1999).
Euphoria reformasi, di tangan penyair, sepertinya telah mencapai titik
antiklimaks. Pembacaan puisi malamitu adalah buktinya. Gelar baca
puisi yang menampilkan 'presiden penyair Indonesia' Soetardji Calzoum
Bachri itu jauh dari teriakan euphoria reformasi, dan jauh dari
sajak-sajak sosial yang gusar.
Kalau belakangan ini hampir seluruh ekspresi seni nasional menyerukan
perjuangan dan tuntutan rakyat atas dominasi kekuasaan pemerintah, maka
malam itu di gedung Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM),
suara-suara para penyair -- juga pada sajak-sajak Abdul Hadi WM, Leon
Agusta dan Ahmadun YH yang malam itu tampil bersama Soetardji -- lebih
banyak mengendap dalam sajak-sajak yang kontemplatif.
Kalaulah Sutardji menyempatkan diri mengemukakan keprihatinannya atas
perjuangan para mahasiswa melalui sajak Ayo, itu masih dalam jumlah yang
kecil dibanding puisi-puisi lain yang juga dibacanya. Pun sajak-sajak
hening yang dibawakan oleh Leon, Ahmadun, dan Abdul Hadi. Bahkan,
Sutardji membacakan puisi romantis yang diterjemahkannya dari bahasa
Spanyol tentang seorang perempuan lembut yang sarat cinta.
Pembacaan puisi-puisi kontemplatif itu terasa menyejukkan dan lebih
mengena secara universal ketimbang sekadar sajak-sajak yang mereaksi
peristiwa sosial-politik yang tengah terjadi di masyarakat. Sutardji
yang membawakan beberapa karya terbarunya mengatakan sajak yang bermutu
perlu proses pengendapan dan penghayatan, tak sekadar instan mereaksi
yang ada. ''Ada atau tak ada peristiwa, sajak tetap bisa dibikin karena
kita terus berpikir dan bertafakur,'' paparnya.
Namun, kalau berbicara soal gaya dan pembawaan bersajak, Sutardji
tetaplah Sutardji. Edan, namun bermakna dalam. ''Setiap orang harus
membikin sidik jarinya sendiri, karakternya sendiri. Biar tak tenggelam
dan bisa memberi warna,'' kata pengklaim diri Presiden Penyair Indonesia
ini.
Menggandeng dosen IKJ Tommy F Awuy sebagai pengiring musik, Sutardji
membaca sajak-sajaknya dengan ditingkahi denting piano. Tak ketinggalan
pula suara seraknya menyanyikan beberapa lagu evergreen Barat, antara
lain My Way. Dan, ini merupakan daya tarik tersendiri bagi 'penyair
mantra' yang belakangan sering diledek sebagai calon presiden Riau itu.
Gayanya yang jumpalitan di atas panggung, bahkan berpuisi sambil tiduran
dan tengkurap, seperti telah menempel menjadi trade mark Sutardji. ''Aku
tak pernah main-main sewaktu membikin sajak, aku serius. Tapi, ketika
tampil aku berusaha apa adanya, santai namun memiliki arti,'' katanya.
Apakah puisinya itu baik atau buruk, bagi Sutardji, ia berupaya dalam
penyajiannya tak berjarak dengan penonton. ''Kehadiran sajak itu harus
akrab dengan penonton, tak berjarak dengan kehidupan,'' tambahnya. Tapi,
beberapa penonton menilai penampilan Soetardji kali ini tidak setotal
ketika 'bertarung dalam satu panggung' dengan Rendra dan Taufiq Ismail
tahun lalu. Soal ini, dengan nada kelakar ia berkilah, ''soalnya
honornya kecil, ya tampilnya setengah maksimal saja.''
Penyair sufistik Abdul Hadi WM, yang membawakan sajak-sajak lama
(1981-1992), menenangkan suasana dengan tuturan kecintaan pada Allah SWT
dan kekhidmatannya pada masjid. Menampilkan delapan puisi dengan gaya
kalem ia sempat juga mengkritik keras kualitas kader bangsa. Simak saja
dari sepenggal karyanya berjudul Dalam Pasang yang dibacakannya. ''Kita
adalah penduduk negeri yang penuh pemimpin. Tapi tak seorang pun kita
temukan dapat memimpin. Kita.......''
Kritik serupa juga hadir dalam sajak berjudul Kembali tak Ada Sahutan
Disana yang mengungkapkan bahwa suksesi yang tak berlandaskan pada
kearifan dan keadilan sama halnya lari dari kehancuran yang satu ke
kehancuran lainnya. ''Bertikai memperebutkan yang tak pernah pasti dan
ada. Dari generasi ke generasi. Menenggelamkan rumah sendiri. Ribut tak
henti-henti....,'' ujar Abdul Hadi.
Berbagai interpretasi tak terhindarkan bermunculan dari karya
kontemplatif. Saat Abdul Hadi membacakan puisi Elegi, muncul perkiraan
adanya korelasi dengan kian nampaknya eksistensi para seniman bekas
anggota ormas terlarang yang menjadi musuh para pendukung Manifes
Kebudayaan.
Musuh-musuhku, namun sahabat-sahabat setiaku juga.
Saban kali datang melukaiku dan kemudian menyembuhkan:
''Mari kita bangun jembatan,'' dan kami pun segera membangun jembatan
dan runtuh juga.
Mereka tak tahu dan aku pun sudah lupa ....
Dan seperti aku pula mereka adalah pemburu kekosongan dan kesia-siaan
Mereka ingin membunuhku, karena mengira aku ingin membunuh mereka Aku
ingin membunuh mereka karena mengira mereka ingin membunuhku Mari kita
tolong mereka, mari kita tolong diri kita
Leon Agusta yang membuka acara pembacaan puisi ini tampil diam dan gagah.
Membawakan beberapa puisi serial, ia mengajak penonton mengolah pikiran
dan kebijakan atas segala fenomena kehidupan. Ayah peragawati kondang
Hukla ini, tanpa banyak kata pengantar, menyajikan tuntas semua karyanya.
Dari berbagai sumber, antara lain Republika 19 Nov 1999.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|