| |
C © updated 08072006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
Ir Soeratin Soesrosoegondo
Lahir:
Yogyakarta, 17 Desember 1898
Istri:
RA Srie Woelan
Pendidikan:
- KWS (Koningen Wilhelmina School) di Jakarta
-Sekolah Teknik Tinggi di Hecklenburg, dekat Hamburg, Jerman, 1927
Prestasi:
-Perintis dan Pendiri PSSI
- |
|
| |
|
|
|
|
| SOERATIN HOME |
|
|
 |
Ir Soeratin Soesrosoegondo
Pahlawan Sepak Bola
Rapat Paripurna Nasional PSSI 2005 mengusulkan kepada pemerintah untuk
mengangkat pendiri PSSI, Ir Soeratin Soesrosoegondo, sebagai pahlawan
nasional (Kep/09/Raparnas/XI/2005). Siapa Soeratin? Dia perintis dan
pendiri organisasi sepakbola di Indonesia (PSSI).
Soeratin lahir di Yogyakarta 17 Desember 1898. Ayahnya, R
Soesrosoegondo, guru Kweek- school dan pengarang buku, antara lain
Bausastra Bahasa Jawi. Istrinya, RA Srie Woelan, adalah adik kandung Dr
Soetomo, tokoh pendiri Budi Utomo. Soeratin menamatkan KWS (Koningen
Wilhelmina School) di Jakarta dalam waktu lima tahun. Tahun 1920 ia
belajar di Sekolah Teknik Tinggi di Hecklenburg, dekat Hamburg, Jerman,
tamat sebagai insinyur sipil tahun 1927 dan kembali ke Tanah Air 1928.
Sekembali dari Eropa, ia bergabung dengan perusahaan konstruksi
terkemuka milik Belanda, antara lain membangun jembatan dan gedung di
Tegal dan Bandung. Pada saat bersamaan, Soeratin merintis pendirian
organisasi sepak bola tahun 1930.
Organisasi itu boleh dikatakan wujud Sumpah Pemuda 1928. Nasionalisme
coba dikembangkan melalui olahraga sepak bola. Seperti ipar Soeratin, Dr
Soetomo berkeliling Pulau Jawa menemui banyak tokoh dalam rangka
menekankan pentingnya pendidikan, disusul pendirian Budi Utomo, Soeratin
juga menemui tokoh-tokoh sepak bola pribumi di Solo, Yogyakarta,
Magelang, Jakarta, dan Bandung.
Pertemuan diadakan secara sembunyi untuk menghindari sergapan Intel
Belanda (PID). Tanggal 19 April 1930, beberapa tokoh dari berbagai kota
berkumpul di Yogyakarta untuk mendirikan PSSI (Persatoean Sepakraga
Seloeroeh Indonesia). Istilah sepakraga diganti sepak bola dalam Kongres
PSSI di Solo tahun 1950.
Pertemuan ini diwartakan harian Sediotomo (22/4/1930), "Djam 9
voorzitter PSM Toean Daslam boeka vergadering seperti biasa. Speker
merasa gembira, bahwa ia poenja seroean boeat adakan satoe badan
persatoean dari voetbal-bonden Indonesiers telah dapat perhatian penoeh.
Ia pertjaja itu tjita-tjita sekali ini tentoe tidak gagal lagi. Lebih
djaoeh diterangkan goenanja sport jang dalam pribahasa Djawa dipandang
djoega kekoeatan akan tjapai kemadjoean bangsa."
PSSI lalu melakukan kompetisi secara rutin sejak 1931 dan ada instruksi
lisan yang diberikan kepada pengurus, jika bertanding melawan klub
Belanda tidak boleh kalah. Soeratin menjadi ketua umum organisasi selama
11tahun berturut-turut.
Jasa-jasa Soeratin
Kegiatan mengurus PSSI menyebabkan Soeratin keluar dari perusahaan
Belanda dan mendirikan usaha sendiri. Setelah Jepang menjajah Indonesia
dan perang kemerdekaan terjadi, kehidupan Soeratin menjadi amat sulit,
rumahnya diobrak-abrik Belanda. Ia aktif dalam TKR (Tentara Keamanan
Rakyat) dengan pangkat Letnan Kolonel.
Setelah penyerahan kedaulatan, ia menjadi salah seorang pimpinan DKA
(Djawatan Kereta Api). Setelah sakit sekian lama dan tidak mampu menebus
obat, ia meninggal tahun 1959 dalam kemiskinan. Rumahnya berukuran 4 x 6
meter di Jalan Lombok Bandung, terbuat dari gedhek (dinding bambu).
Tidak ada yang ditinggalkan kecuali organisasi yang dicintai, PSSI.
Sepak bola yang langka ditulis dalam sejarah Indonesia, sebetulnya
terkait nasionalisme dan integrasi bangsa sebagaimana dikatakan Freek
Colombijn (The Politics of Indonesian Football, Archipel 59, Paris,
2000), "Football and society, or football and politics, are so
interwoven that it would be possible to tell Indonesia’s recent history
of integration, nationalism, and modernization in terms of the
development of football."
Semula sepak bola berkembang di Inggris. Peraturan sepak bola diciptakan
FA (Football Association) tahun 1863. Aston Villa adalah klub pertama
yang memberlakukan karcis bayar masuk tahun 1874. Tahun 1904 berdiri
federasi sepak bola sedunia, FIFA.
Di Hindia Belanda, klub pertama didirikan tahun 1895 oleh John Edgar di
Surabaya. Di Padang, klub pertama dibentuk Padangsche Voetbal Club tahun
1901.
Klub di Hindia Belanda itu masih bersifat segregasi. Tiap kelompok ras
memiliki klub yang juga bertanding sesama mereka (Eropa, Tionghoa, dan
pribumi). Tahun 1921 di Padang ada liga yang menarik bayaran dari
penonton (10 sen bagi pribumi, menonton sambil berdiri, 20 sen untuk
"bukan pribumi", dan 50 sen dapat kursi). Belum ada stadion permanen,
tetapi di sekeliling lapangan dipasang bambu.
Dalam konteks masa penjajahan, jasa Soeratin antara lain: pertama, ia
berani menggunakan label Indonesia pada organisasi yang didirikan, bukan
Hindia Belanda.
Kedua, pertandingan yang rutin dan periodik dilakukan antarklub pribumi
antarkota merupakan realisasi Sumpah Pemuda 1928 sekaligus bagian proses
penumbuhan integrasi nasional (hal sama menjadi tujuan PON setelah
Indonesia merdeka).
Ketiga, tujuan organisasi persepakbolaan yang digagas dan diwujudkan
adalah mencapai kedudukan yang setara dengan orang Eropa (juga
Tionghoa).
Pengangkatan Soeratin sebagai pahlawan nasional diharapkan menjadi
momentum guna membangkitkan kembali sepak bola di Tanah Air, yang suatu
saat membuat prestasi membanggakan. (Asvi Warman Adam, Ahli
Peneliti Utama LIPI Redaktur Pelaksana Majalah Sportif 1982-1983, Kompas
8 Juli 2006). ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|