| |
C © updated 10092006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ricky l photo |
|
| |
Nama :
Ir H Soemino Eko Saputro, MM
Lahir:
Solo, 10 September 1947
Agama:
Islam
Jabatan:
Dirjen Perkeretaapian, Departemen Perhubungan
Isteri:
Hj RA Erna P, Lahir di Kediri 27-09-1951, menikah 30-09-1977
Anak:
- Ferry Eko Ernanto, Medan 04-02-1980
- Ricky Apriyanto, Medan 29-04-1984
Ayah:
Partodihardjo Alm, Petani
Ibu:
Asih
Bapak Mertua:
RM Daryomo Soeryo Darmojo (Alm), 28-03-1925, Purn ABRI
Ibu Mertua:
R NGF Poedjiningsih (Almh), 09-10-1926
Pendidikan:
- SD Solo 1959
- SMP Surakarta 1962
- SMA Surakarta 1965
- S 1 Teknik Sipil ITS, Surabaya, 1976
- S 2 Manajemen Pemasaran STIE IPWI Jakarta 2000
Pengalaman jabatan/pekerjaan:
1. Mahasiswa ikatan dinas, 01-05-1975 sd 31-08-1976
2. Pelaksana Ktetr, 01-09-1976 sd 14-03-1977
3. PJIP Surabaya, 15-03-1977 sd 29-12-1977
4. IKP 10 Malang, 13-12-1977 sd 17-10-1978
5. IKD 11 Jember, 18-10-1978 sd 29-09-1981
6. IKD Sumut, 30-09-1981 sd 03-01-1985
7. Kasi Konstruksi, 04-01-1985 sd 11-05-1987
8. Ka. Eksploatasi Sumbar, 12-05-1987 sd 26-06-1988
9. Pjs. Dir. Teknik, 27-06-1988 sd 14-07-1991
10. Dir Teknik, 15-07-1991 14-07-1991
11. Dirut Perum Kereta Api, 27-01-1995 sd 03-09-1998
12. Staf Ahli Dirjen Hubdat, 04-09-1995 sd 03-09-1998
13. Kapuslitbang Manajemen Trans. Multi, 31-08-2001 sd 01-11-2002
14. Staf Ahli Menteri Bid. Ekonomi, 19-11-2002-2005
15. Dirjen Perkeretaapian, Dephub, 2005
Tanda jasa/penghargaan
- Satya Lancana Karya Satya 10 Tahun, 1995
- Satya Lancana Wirakarya, 1996
- Satya Lancana Pembangunan,1998
- Satya Lancana Karya Satya 20 Tahun, 1998
Kegemaran (hobby):
Olahraga
Alamat Kantor:
Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Dephub RI, Jalan Medan
Merdeka Barat No 8, Jakarta Pusat
Alamat Rumah:
Jl. Lengkong Dalam No. 23, Kelurahan Cikawo, Kecamatan Lengkong,
Bandung, Jawa Barat
Jalan Bumi No. 26,
Kebayoran Baru, Jakarta
Selatan
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03
04
05
06
07
08
09
10 11
12
13
14
15
16
17 =
Soemino Eko Saputro (02)
Memilih Kereta Api, Bukan Pertamina
Setelah meraih gelar insinyiur sipil dari ITS Surabaya, Soemino Eko
Saputro, berkesempatan memilih satu dari tiga tawaran ikatan dinas.
Pilihannya jatuh ke Perum Kereta Api. Dia malah mengabaikan PT Pertamina
dan PT Semen Gresik yang menurut pandangan umum lebih memiliki masa
depan yang menjanjikan.
Soemino tidak menyesal meskipun setelah jadi karyawan gajinya sempat
dibayar cicil. Keteguhan hatinya membawa
hikmah. Soemino pernah menduduki posisi tertinggi di Perusahaan Umum
Kereta Api, sebagai Direktur Utama.
Setelah mengalami pasang dan surut, bintang Soemino bersinar kembali.
Departemen Perhubungan membentuk Direktorat Jenderal Kereta Api, dan
menunjuk Soemino sebagai Direktur Jenderalnya yang pertama. Menteri
Perhubungan Ir Hatta Rajasa agaknya tidak salah pilih, karena Soemino
dengan segudang pengetahuan dan pengalaman, siaga penuh 24 jam, berpikir
dan bekerja untuk kemajuan kereta api.
Semula pria kelahiran Delanggu, Jawa Tengah, tanggal 10 Septem-ber 1947
ini, tak pernah berkhayal untuk bekerja di Perum Kereta Api. Titik
singgung antara Soemino muda dan dunia kereta api awalnya sederhana
saja. Ibunya seorang pedagang beras, lebih memilih jasa kereta api untuk
mengirim beras sampai ke Jakarta. Di situlah Soemino sering berhubungan
dengan armada angkutan peninggalan Belanda tersebut.
Setelah lulus Insinyiur Jurusan Teknik Sipil di ITS, Soemino mendapat
tawaran tiga ikatan dinas sekaligus yakni Pertamina, Semen Gresik dan
Kereta Api. Dengan Semen Gresik, Soemino sudah disodori akte kesepakatan
ikatan dinas di depan notaris, tinggal membubuhkan tanda tangan. Soemino
sempat bingung, namun akhirnya malah menjatuh-kan pilihan pada kereta
api.
Belum lama bekerja di kereta api, Soemino pusing juga karena gajinya
selalu dibayar cicil dua kali. Padahal waktu itu, di Departemen PU,
seorang insinyur sipil mendapat posisi yang bagus. “Waktu itu
pembangunan sedang pada puncaknya,” kata Pak Mino dalam wawancara khusus
dengan tim wartawan Majalah Tokoh Indonesia. Apalagi Semen Gresik
me-nawarkan posisi yang bagus padanya.
Memang sebelum menanda-tangani akte kesepakatan ikatan dinas, Soemino
bertanya kepada salah seorang pegawai senior di Perumka: “Bagaimana
prospek kereta api?”
Jawabannya: Pertama, ini per-usahaan pemerintah yang sangat dibutuhkan
oleh rakyat, jadi sam-pai kapan pun hidup, tidak bakal-an mati. Kedua,
seorang sarjana, kalau masuk di kereta api, yang pasti tidak akan
kelaparan. Ketiga, di kereta api, tidak banyak sarjana yang masuk. Jadi
kalau ada sarjana yang masuk, peluang untuk berkarir jauh lebih lebar
dibandingkan dengan yang lain. Keempat, (yang diambil Soemino sebagai
bahan pertimbangan untuk memenangkan pilihan di kereta api), kalau masuk
ke PU, sarjana luar biasa banyaknya, sehingga persaingan untuk
memperoleh posisi bagus mungkin berat.
Akhirnya, Sumino berpikir ke depan, memutuskan masuk ke kereta api.
Begitu menandatangani akte ikatan dinas di kereta api, sepulangnya dari
situ, Soemino grogi juga. Masuk sekolah ikatan dinas, dia diledek
teman-temannya: “Ngapain masuk kereta api, gajinya diangsur dua kali.”
Namun Soemi-no jalan terus. Dua temannya, Jasmani dan Indrayono,
bersama-sama dia masuk ke kereta api. Namun, Jasmani lari meninggalkan
ikatan dinas, sedangkan Indrayono memilih bagian mesin, dan berta-han di
kereta api sampai sekarang.
Soemino mengenang, walaupun sama-sama ikatan dinas, Allah SWT memberikan
jalan yang berbe-da-beda pada orang yang berbeda-beda. Kawan Soemino
laju karirnya tidak maksimal, tidak seperti dirinya yang kebetulan
mendapat keberuntungan yang lumayan.
Lulus pendidikan ikatan dinas, Soemino belum juga yakin mau masuk ke
mana. Dia tidak lang-sung melaporkan kelulusannya ke Perum KA yang
memberinya ikatan dinas. Dia sempat ‘bersembunyi’ di Malang. Lantas dia
dipanggil dan dibawa ke Bandung untuk meneri-ma penugasan. Dia masuk
Perum Kereta Api tahun 1975, dan aktif tahun 1976.
Soemino diminta menemui Pak Sayid, Kepala Subdit Jalan dan Bangunan.
Soemino menggambar-kan Pak Sayid sebagai seorang yang mengerti benar
mengenai perkereta-apian, khususnya perihal track (jalur). Di situ
Soemino diharuskan bertugas selama enam bulan. Agak-nya, setiap dia
menemui pimpinan, waktunya dipotong. Kemudian menghubungi kantor Perumka
di Manggarai, masa tugasnya juga diperpendek.
Sehingga waktu tugas yang semestinya enam bulan dipersing-kat menjadi
tiga bulan. Setelah bertugas tiga bulan, dia melapor ke Pak Sayid,
meminta keterangan tentang penugasan berikutnya, atau mau dikemana-kan.
Lantas Pak Sayid bertanya padanya: “Kamu senangnya di mana?” Soemino
menjawab, “kalau tidak di Jakarta, ya Surabaya.”
Kenapa? Soemino menginginkan tempat yang ramai, penuh tantangan dan
punya banyak hal yang harus dilakukan. Seminggu kemudian, Soemino
ditempatkan di Surabaya. Ini hal yang jarang terjadi, karyawan yang baru
lulus dan menjalani masa percobaan tiga bulan langsung ditempatkan di
Surabaya.
Di Surabaya, dia ditempatkan pada kualifikasi A. Di situ ada pengawas A,
pengawas B, pengawas C. Soemino langsung ditempatkan pada peng-awas A.
Tetapi, Soemino tidak genap enam bulan bertugas di situ. Lantas dia
diangkat menjadi Kepala Inspeksi di Malang (13-12-1977 sd 17-10-1978).
Rupanya Soemino selalu bernasib mujur. Belum lama di Malang, dia disuruh
berangkat ke Jepang untuk menem-puh pendidikan tentang Makna
Perencanaan. Kembali ke Malang sepulang dari sekolah di Jepang, tidak
berapa lama kemudian, dia dipindahkan ke Jember sebagai Kepala IKD 11.
Di Jember, dia bertugas selama tiga tahun (18-10-1978 sd 29-09-1981).
Di Jember, Soemino menarik pengalaman dan pelajaran berhadapan dengan
orang-orang Jember keturunan Surabaya dan Madura. Soemino merasa
tertantang berurusan dengan para karyawan yang keba-nyakan keturunan
Madura. Dia belajar bagaimana mengelola dan mengoordinir sumber daya
manusia (SDM).
Saat itu kondisi perkereta-apian sangat jelek. Di Jember, Soemino
menjabat sebagai Kepala Bagian Jalan dan Bangunan. Kepala Eksploitasi
ada di Surabaya, kala itu dipimpin Edi Ruslani, membawahi Madiun,
Surabaya, Malang dan Jember. Edi orangnya keras bukan main. Setiap pagi
Edi jalan kaki untuk mengecek jalur (jalan) kereta api, karena itu dia
tahu persis kondisi jalur. Dan secara berkala melakukan inspeksi.
Daerah Jember, awalnya mencakup jalur kereta api mulai dari Jember -
Kalisat - Bondowoso - Panarukan, Kalisat - Banyuwangi, dan Rambu Puji -
Lumajang. Bilamana ada inspeksi oleh Kepala Eksploitasi, yang dipanggil
mendampingi adalah Kepala Jalan dan Bangunan. Dia harus berada di
gerbong kereta paling belakang. Saat itu ada kereta seperti eksekutif,
namanya KA Nusantara, khusus untuk inspeksi. Mereka duduk di belakang
menghadap ke jalan. KA yang paling tidak enak, kereta yang paling
belakang.
Biasanya pada setiap inspeksi pasti ada korban. Korbannya, kalau tidak
Kepala Seksi, ya Kepala Distrik. Kalau kondisi kereta jelek, kotor dan
tidak karuan, pejabat yang bertanggung jawab, besok atau lusa hilang
karena diganti. Inspeksi bertujuan memfinalisasi orang itu, mau terus
atau tidak.
Di saat ada inspeksi, karena wilayahnya di Jember, Soemino harus
menjemput di Prengil. Siap siaga di Prengil. Begitu kereta berhenti yang
turun duluan Kepala Eksploitasi. Setelah salaman, semuanya masuk lagi.
Yang lain nongkrong di belakang, sedangkan Soemino sepanjang perjalanan,
mendampingi Kepala Eksploitasi.
“Itu pekerjaan bagian Jalan dan Bangunan. Gerbong kotor dimarahi,
apalagi kalau goyang, isi gelas tumpah, pasti dimarahi,” kenang Soemino.
Demikianlah kerasnya disiplin di kereta api saat itu. ►mti/crs-sh-ri
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|