|
|
 |
Mengupas Kekompleksan Soeharto
Judul:
Suharto, A Political Biography, Penulis: R.E.Elson, Penerbit: Cambridge
University Press, United Kingdom, tahun 2001, Jumlah halaman: x, 389
halaman.
Memeriksa kepribadian dalam konteks politik dan kebudayaan, menulis buku
tentang Soeharto sambil meletakkannya dalam kategori biografi politik
adalah suatu pekerjaan kompleks. Kekompleksan itu terutama karena beban
menulis tentang tokoh yang berkuasa selama tiga puluh dua tahun, dengan
daya tampak politik, political visibility, yang begitu tinggi. Semuanya
ditambah lagi dengan kepatuhan rakyat sekitar seratus juta yang dalam
tempo tiga puluh tahun bertumbuh menjadi dua ratus juta yang dengan sabar
dan patuh menerima penderitaan dan penindasan; semuanya membuat pekerjaan
tersebut menjadi semakin tidak sederhana.
Kekompleksan kerja ditingkatkan lagi oleh pribadi Soeharto yang
kompleks pula sebagaimana ditunjuk pada bagian paling depan pada alinea
pertama dari pengantar yang ditulis oleh penulis buku ini:
Atas peri yang aneh, malang adanya bahwa Suharto jatuh dari kekuasaannya
begitu dramatis, dalam konteks begitu penuh kekerasan, dan dengan akibat
langsung yang begitu mengharu-biru Indonesia. Karena dia berkuasa begitu
lama dan, pada puncaknya, dengan kewibawaan yang begitu lengkap dan
magisterial, maka keragaman persoalan Indonesia yang agaknya tak dapat
diusut-tuntas (untractable) pada akhir tahun 1990-an jatuh bertaburan di
depan pintunya.
Dialah yang menciptakan sistem otoritarianisme negara yang
tertutup dan menakutkan; dialah yang menutup rakyatnya dalam ketumpulan
yang mematikan gerak dalam ideologi Pancasila; dialah yang mencukur gundul
negerinya bagi kepentingan anak-anaknya dan konco-konconya dan
cucunguk-cucunguknya yang mendirikan bulu kuduk. Sungguh, dialah yang
menjadi alasan mengapa Indonesia memerlukan reformasi total dan babak baru
dengan wajah lebih manusiawi. Kepergiannya membuka kesempatan yang sudah
lama ditunggu-tunggu untuk selama-lamanya mencampakkan dan mengirim bab
memalukan dalam sejarah modern Indonesia ke dalam sudut-sudut kelam [sejarah]
yang pantang mengundang kenangan (to cast off and forever commit to
oblivion a shameful chapter in modern Indonesian history, hlm vi).
Dalam diri Soeharto terdapat kompleks kekerasan, bangunan ideologi, negara
dalam berlapis-lapis sistem kekuasaan yang dibangun dengan rapi dan
berdarah-darah. Pribadinya sendiri adalah pribadi kompleks meski orang
selalu dikecohkan oleh kesederhanaan yang tampak. Ketika dia meninggalkan
panggung pun Soeharto masih berada dalam bayang-bayang antara ada dan
tiada. Ada dan tiadanya mengemuka dalam spekulasi tentang komplotan,
kekerasan, dan darah. Kehadiran dan ketidakhadirannya senantiasa membawa
persoalan sejak dia naik ke panggung politik dan turun dari sana.
Pendekatan penulisan
Buku ini berdiri sejajar dengan sangat sedikit biografi politik yang
pernah terbit yang dipersembahkan kepada negarawan dan politisi Indonesia
modern. Dalam khazanah bacaan tentang sejarah dan politik Indonesia tidak
banyak ditemukan buku-buku semacam itu. Beberapa bisa disebutkan berikut
ini: Bernard Dahm, seorang sarjana Jerman, menulis, Sukarnos Kampf um
Indonesiens Unabhaengigkeit, 1964, (Perjuangan Sukarno untuk Kemerdekaan
Indonesia); Harry A Poeze, dari Belanda menulis buku supertebal yang
berjudul Tan Malaka, strijder voor Indonesië's vrijheid; Levensloop van
1897 tot 1945, 1976, ( Tan Malaka Pejuang Kemerdekaan Indonesia, Masa
Hidup dari 1897 sampai 1945); Rudolf Mrázek menulis buku tebal Sjahrir,
Politics and Exile in Indonesia, 1994.
Mungkin satu-satunya penulis dalam negeri yang berdiri sejajar dengan
semua penulis luar negeri tersebut di atas adalah Profesor Deliar Noer
dengan karyanya, Mohammad Hatta, Biografi Politik (1990), terbitan
LP3ES-boleh jadi yang paling lengkap tentang Mohammad Hatta. Kini di
hadapan kita terbuka buku yang ditulis selama lebih kurang lima tahun oleh
Robert Edward Elson, sejarawan Australia, dari Griffith University,
Australia-dimulai pada saat tanda-tanda kejatuhan masih jauh.
Buku Profesor Elson bukan buku pertama tentang Soeharto. Hanya tiga tahun
setelah berkuasa terbit buku RO Roeder, The Smiling General (1969), yang
memusatkan perhatiannya pada naiknya Soeharto ke puncak kekuasaan. Pada
tahun 1989 terbit buku atas nama Soeharto, Pikiran, Ucapan, dan Tindakan
Saya, otobiografi seperti dipaparkan kepada G Dwipayana dan Ramadhan KH;
buku ini boleh dikatakan selain menjadi refleksi diri juga menjadi
apologia Soeharto terhadap berbagai peristiwa, pandangan orang tentang
dirinya, dan di banyak tempat melebih-lebihkan peran yang dimainkannya.
Pada tahun 1996 terbit buku yang dipersembahkan kepada Soeharto dengan
editor Riant Nugroho Dwidjowijoto, Managemen Presiden Soeharto, Penuturan
17 Menteri. Buku ini menjadi hagiography, puja-pujian yang diberikan
kepada Soeharto yang berlangsung sedemikian tingginya sehingga para
penulis di sana tidak paham dan tidak mampu lagi membedakan management dan
statecraft; apakah itu otoritas untuk mengambil keputusan secara bebas
dalam manajemen, dan apakah itu state power untuk mengambil keputusan
mengikat dengan daya paksaan state apparatus.
Namun, buku yang sedang ditinjau ini bukan biografi dalam arti biasa,
tetapi suatu buku yang dengan cermat memilih pendekatan yang dipakai;
mencoba mengambil pendekatan narrative history yang memusatkan diri pada
eksposisi mendetail, penuh nuansa terhadap dialektika, suasana dan
lingkungan kompleks dan berubah-ubah dalam kehidupan dan karier Soeharto.
Penulis buku ini yakin bahwa dengan pendekatan ini Soeharto bisa dipahami
ketika pendekatan lain gagal memahami kekompleksan dan ketersembunyian
orang ini (the complexity and hiddenness of the man,
hlm viii).
Atas dasar itu dia mengumpulkan, memeriksa, dan terutama menafsirkan dan
tidak segan-segan memberikan kesimpulan tentang berbagai persoalan baik
yang terang-terangan berdasarkan dokumen maupun memberikan hipotesis dan
kalau perlu perkiraannya sendiri. Karena itu hampir semua bab disertai
dengan kesimpulan yang diberikan oleh penulis itu.
Masa kanak-kanak
Soeharto yang jelas-jelas tampak adalah Soeharto yang penuh dengan
teka-teki sejak saat melihat matahari untuk pertama kalinya. Berayahkan
Kertosudiro dan ibu Sukirah tidak dengan sendirinya menghentikan diskusi
dan debat tentang siapa ayah Soeharto. Tanpa berpretensi untuk mengubahnya
menjadi suatu pendekatan psikoanalitik buku ini mempersoalkan hal tersebut
sebagai pembuka wacana tentang Soeharto. Semuanya terutama karena hubungan
yang erat dengan kehidupan awal Soeharto yang bukan saja sulit, tetapi
luar biasa penuh gangguan (a remarkably disturbed one) untuk menempa
kepribadiannya.
Salah satu gangguan tersebut adalah kenyataan Soeharto kecil tidak pernah
menikmati stabilitas loci dan dalam kesepiannya mengembara dari rumah ke
rumah. Dia tidak pernah diterima dengan sungguh-sungguh oleh setiap rumah
yang ditempatinya. Dia pasti mengalami rasa dibedakan dan mungkin juga
rasa seteru dari satu keluarga ke keluarga lainnya sebagai seorang anak
Jawa yang ngenger bergilir dari keluarga ke keluarga, solus sub rupe,
sendirian di bawah karang-karang laut, kalau pengembaraan Aeneas karya
Vergilius boleh dikutip di sini. Soeharto adalah anak satu-satunya dari
pasangan Kertosudiro dan Sukirah, tak beradik dan tak berabang.
Ketika ibu Sukirah meninggal kelak tahun 1946-ketika Soeharto sudah
menjadi tentara TNI dan Republik bertempur menahan agresi Belanda dari
Semarang ke selatan-dia tidak mampu mengingat apakah dia hadir di sisinya
untuk menghantarnya mengembuskan nafas terakhir, atau hanya mengunjungi
batu nisan ketika ibunya sudah dikuburkan. Bahkan tempat kubur ibunya pun
Soeharto tidak ingat. Ibunya dikuburkan di Gunung Pale, namun kepada
Ramadhan KH pada tahun 1989 dikatakan dikuburkan di Kemusuk (hlm 17).
Soeharto memang mengambil jarak psikologis begitu jauh dengan ibunya yang
ketika dia baru berusia empat puluh hari sang ibu sudah mengalami
penderitaan emosional berat yang tidak memungkinkannya memelihara bayi
Soeharto dan sang bayi diserahkan ke tangan saudara perempuan sang kakek
dari pihak bapak, bibi besar (paternal great aunt). Tentang ini pun
Soeharto tidak mampu mengingat apa yang terjadi. Kepada Roeder dikatakan
neneknya (paternal grandmother) yang memeliharanya. Nasib malang menimpa
lagi Soeharto kecil yang ketika berusia lima bulan orangtuanya sudah
bercerai dan sang bapak menikah lagi dan praktis hilang dari peredaran
sesudah itu.
Dua tahun berselang ibunya menikah lagi dan menjadi istri dari suami lain,
Atmoprawiro, yang kelak melahirkan Probosutedjo sebagai anak nomor empat
dari sembilan bersaudara; dari rumah sang bibi besar dia kembali ke
pangkuan ibunya yang kini bersuami baru seperti dikatakan di atas; dari
rumah ibunya lantas berpindah ke keluarga bibinya, adik perempuan bapaknya,
yang bersuamikan Prawirohardjo yang melahirkan Sudwikatmono-kelak
memainkan peran besar dalam bisnis Orde Baru; lantas dari sana balik lagi
ke keluarga ibunya yang kini jarang memiliki waktu untuk mendidiknya
karena beban hamil dari tahun ke tahun; lantas terakhir kalinya kembali
lagi ke keluarga Prawirohardjo untuk mendapatkan pendidikan sekolah rakyat
dan kelak mencari pekerjaan di bank rakjat, Volkscredietbank.
Akibatnya adalah perpindahan Soeharto dari satu keluarga ke keluarga
lainnya untuk membimbing dan mendidiknya yang menurut catatan buku ini
sekurang-kurangnya enam kali dalam tempo sepuluh tahun berpindah pangkuan
dan berganti tangan pendidiknya.
Dengan tingkat perpindahan yang begitu sering ditambah lagi dengan seluruh
rumor tentang asal muasalnya yang kelak tahun 1974 disebarluaskan secara
terbuka oleh majalah Pop, maka Profesor Elson mengambil kesimpulan berikut
ini:
... Rasanya masuk akal bahwa dia adalah anak haram (illegitimate child)
dari seorang desa terpandang, boleh jadi seorang dengan koneksi di luar
desa, atau seseorang yang memiliki sumber daya dan wewenang untuk terus
datang dan berkontak dengan orang-orang desa. ... (hlm 5)
Semuanya dibantah Soeharto di Binagraha, bulan Oktober 1974. Namun,
peristiwa tersebut begitu menggetarkan politik Orde Baru tahun 1974
sehingga surat izin cetak dan surat izin terbit majalah Pop dicabut
sekaligus tanpa perkara di pengadilan, dan dengan begitu menambah jumlah
surat kabar yang diberedel sejak bulan Januari tahun yang sama. Pemimpin
redaksinya diperiksa Kejaksaan Agung. Pemimpin umumnya, seorang perwira
militer, diserahkan kepada pihak ABRI untuk "ditangani". Kekuatan
ideologis utama Orde Baru, Departemen Penerangan, dan kekuatan
represif-Kopkamtib yang berdiri di atas hukum dan kejaksaan-dikerahkan
untuk membantah.
Karya awal militer
Pengalaman berpindah-pindah meletihkan Soeharto muda, namun dari seluruh
pengalaman berpindah-pindah maka diterimanya di KNIL, Koninklijk
Nederlandsch Indische Leger, Angkatan Perang Belanda di Hindia, adalah
pengalaman paling penting di mana dia mendapatkan pendidikan militer dari
Belanda pada umur yang relatif muda, sembilan belas tahun, pada 1 Juni
1940, dan kelak mendapat pendidikan untuk mencapai pangkat sersan.
Soeharto lantas dipindahkan ke Cisarua dan masuk menjadi serdadu pasukan
cadangan Belanda.
Namun, ketika berada di Cisarua, Belanda sudah harus
menyerah kepada Jepang pada Februari 1942. Soeharto tidak ingin ditangkap
Jepang lalu melarikan diri menuju Yogyakarta. Ketika Jepang membuka
lowongan Kempeitai (polisi militer Jepang), Soeharto melamar dan mungkin
dengan bantuan ayah Sudwikatmono bisa diterima di sana.
Atas saran kepala polisi militer, dia masuk menjadi anggota Peta (Pembela
Tanah Air) pada bulan Oktober 1943, dalam umur dua puluh dua tahun. Ketika
Jepang kalah dan Peta dibubarkan Soeharto sekali lagi kembali ke
Yogyakarta dan mulai terlibat dalam suasana hiruk-pikuk kemerdekaan
Indonesia. Dia berada dalam kelompok kaum pergerakan Yogyakarta yang
menghimpun mahasiswa, aktivis, pejuang, dan intelektual di bawah
kepemimpinan aktivis Yogyakarta Dayno yang dikenal sebagai kelompok Pathuk
di Yogyakarta dan kemudian masuk menjadi anggota tentara RI.
Titik-titik penting sejarah politik Soeharto
Soeharto bukan jenis orang yang asyik-masyuk berpolitik. Ketika kaum muda
sebayanya terlibat dalam gerakan nasionalis, dia sibuk mencari kerja.
Namun, dalam perjalanan hidupnya politik besar (macro politics) yang
terjadi di luar melibatkan dirinya, atau lebih tepat menghisap Soeharto ke
dalamnya, dan sebagaimana akan dilihat kelak Soeharto dengan cerdik
memanfaatkan peristiwa tersebut untuk keuntungannya.
Dalam perjalanannya sekurang-kurangnya tiga tonggak sejarah utama-di
antara banyak tonggak yang diberikan buku ini-dalam kehidupan Soeharto:
pertama, peristiwa 3 Juli 1946; Peristiwa ini sendiri terlalu kompleks
untuk diceritakan di sini. Singkatnya suatu pergulatan besar terjadi
antara kaum radikalis-yang berdiri di bawah pengaruh dan naungan Tan
Malaka yang juga mendapat simpati besar Jenderal Sudirman. Gerak kaum
radikal yang menginginkan Indonesia "merdeka seratus persen" berhasil
menculik Perdana Menteri Sjahrir sebagai tanda antikebijakan diplomatiknya
yang, menurut mereka, sudah salah kaprah.
Di mana Soeharto berdiri sebagai komandan pasukan yang bermarkas di Wiyoro,
di timur Yogyakarta? Soeharto sebenarnya dengan teliti mempelajari gerak
angin yang bertiup. Kepatuhannya sebagai bawahan kepada Jenderal Sudarsono,
Panglima Divisi III, tetap dijaga, namun akan menjadi sangat berbahaya
bilamana diketahui oleh pemerintah karena Sudarsono dituduh menjadi bagian
dari kaum radikalis. Menolak Sudarsono juga akan menyulitkannya karena
Sudirman juga merestui gerak kaum radikalis.
Ketika semua mereka, yang terlibat dalam membuat pernyataan untuk
menggantikan pemerintah yang dirumuskan di markas Wiyoro, bertolak menuju
istana Yogyakarta, Soeharto tidak ikut serta. Ketika semua perencana "kudeta"
tersebut berada di bawah ancaman pemerintah maka Soeharto serta-merta
bertindak menjadi sahabat pemerintah dengan menangkap para perencana
komplotan. Dan, bila diingat, inilah untuk pertama kalinya RI mengenal
tahanan politik ketika tokoh-tokoh seperti Tan Malaka dan lain-lain
dipenjara tanpa diadili dan menjadi peristiwa pers pertama ketika Adam
Malik ditahan karena mengkritik kebijakan pemerintah.
Seperti yang disimpulkan oleh Robert Elson, sikap, pilihan, dan keputusan
Soeharto menggambarkan tabiatnya yang tetap dipertahankan kelak, yaitu:
"Pentingnya sikap berjaga-jaga ketika taruhan tinggi dan titik-titik
persilangan pendapat tidak jelas, hanya memberikan komitmen ketika pihak
yang menang menjadi jelas, keharusan memperliat urat sjaraf di bawah
tekanan, kegunaan tetap mempertahankan kepercayaan dan perhatian (favor)
dari dua kekuatan yang bertikai sampai saat paling akhir. Memang persis,
sifat-sifat yang menjadi sesuatu yang khas dirinya kelak di kemudian hari
sudah mulai tampak: kehati-hatian, dingin, ketegasan mengambil keputusan
dengan penuh perhitungan ketika tiba saatnya. (hlm 20)
Kedua, adalah Serangan Umum Satu Maret 1949 yang, menurut pandangan
penulis tinjauan ini, tidak terlalu penting-bukan karena peristiwa
tersebut tidak penting, namun tingkat kepentingannya ditiup terlalu besar
oleh Soeharto sendiri terutama tentang perannya dan kelak menjadi
keputusan ex post factum pada masa Orde Baru yang sudah ditantang oleh
hampir semua orang dengan dasar-dasar sangat kuat. Namun, Profesor Elson
sangat bermurah hati terhadap Soeharto dalam hal ini asal saja Soeharto
tidak terlalu gegabah mengangkat dirinya secara tidak perlu dalam kasus
ini. (hlm 38)
Ketiga, Gerakan Tiga Puluh September 1965. Inilah saat yang paling
menentukan yang membawa Soeharto ke panggung kekuasaan Republik Indonesia
selama puluhan tahun. Beberapa pertanyaan krusial di sini harus dijawab
untuk melangkah lebih jauh. Apakah Soeharto terlibat di dalam
persekongkolan pembunuhan para jenderal? Apakah sekurang-kurangnya
Soeharto tahu bahwa para atasannya akan dibunuh dan lalai melakukan
pencegahan karena posisinya sebagai Panglima Kostrad mengharuskannya
melakukan itu. Malah pertanyaan terakhir apakah Soeharto adalah agen ganda
milik PKI dan TNI sekaligus?
Semua pertanyaan ini dijawab secara negatif oleh Profesor Elson. Soeharto
tidak terlibat dalam komplotan, dan dia juga tidak bisa dituduh lalai, dan
juga bukan agen kembar. Khusus untuk pertanyaan kedua Kolonel Latief,
rekan Soeharto, memainkan peran penting, terutama setelah kejatuhan
Soeharto karena dalam tahun-tahun terakhir dunia politik Indonesia
mendapatkan informasi yang begitu gencar tentang kunjungannya ke rumah
sakit dan menjadi suatu debat besar.
Namun, "pertengkaran" Soeharto-Latief
mirip-mirip pertengkaran suami-istri yang berlangsung tanpa saksi yang
mampu membenarkan dan menyalahkan salah satu pihak. Soeharto tidak
memberikan perhatian yang sungguh-sungguh kepada informasi Latief,
demikian Elson, karena berita Dewan Jenderal, dan kudeta dan lain-lain
adalah santapan harian pada tahun-tahun itu. Kesimpulan yang diambil
adalah sebagai berikut:
Pandangan yang mengatakan Suharto terlibat menghadapi kesulitan besar:
keberhasilannya menggerakkan tentara pada pagi hari 1 Oktober dan
menempatkannya di bawah kendalinya setelah itu. Bagaimanapun juga, hampir
tidak mungkin komandan seperti Sarwo Edhie, seorang yang sangat dekat
dengan Yani, menyerahkan nasibnya kepada Suharto kalau sekiranya dia
menaruh curiga, waktu itu ataupun kelak, bahwa dia terlibat dalam
komplotan. Tentu, sama tidak mungkin bahwa Nasution, yang kehilangan
seorang puteri (dan ajudannya) ketika rumahnya diserang, tidak membuka
suara kalau dia yakin bahwa Suharto tahu sebelumnya atau terlibat di dalam
gerakan percobaan kudeta. (hlm 118)
Soeharto dan sejarah
Dengan menguasai semua peristiwa sejak itu, dengan kemampuan mengambil
momen yang tepat-untuk tidak lagi membuat kesalahan sehingga karisma Bung
Karno mendapatkan angin balik-Soeharto mulai merancang segala-galanya
menurut pandangannya. Salah satu yang terpenting adalah dengan habisnya
semua kekuatan Ahmad Yani, Soeharto menetapkan timnya sendiri terutama
dalam militer dan juga di kalangan sipil seperti kaum teknokrat, yang dia
percaya dan yang pernah bekerja sama dengannya pada masa tugas sebelumnya.
Setelah itu baru dia merancang kekuatan terutama dalam militer dan sipil,
dan mengembalikan Indonesia ke dalam lingkaran modal internasional.
Buku ini berhasil membentangkan narrative history dengan suatu eksposisi
yang kaya sumber. Seperti sudah dikemukakan di depan Prof Elson
mengemukakan semacam kesimpulan yang bisa dikutip di sini yaitu bahwa "Suharto
was both an extraordinarily complex and extraordinarily simple man" (297).
Dengan argumen yang kompleks Elson membuka dan menguliti kesederhanaan
Soeharto seperti berikut ini. Kesederhanaan Soeharto terutama dicerminkan
dalam bahasa yang dia pergunakan dan kuasai. Hampir tidak ada bahasa lain
yang dikuasainya kecuali bahasa Jawa-bahasa Indonesia hanya dalam
kesempatan resmi, bahasa Inggris lebih menjadi penderitaan daripada
kesenangan dan meski pernah berdinas dalam tentara Belanda, bahasa
Belanda-nya sangat terbatas. Meski demikian, Profesor Elson sedikit
berlebih-lebihan ketika dalam bidang ini kekurangan Soeharto dibandingkan
dengan kelebihan Soekarno, Hatta, dan Sjahrir yang menelan ratusan buku
sejak masa muda dalam berbagai bahasa asing. Perbandingan lebih adil bila
dibuat dengan Jenderal Yani, sang polyglot, yang tanpa kesulitan bertukar
bahasa Belanda dan Inggris.
Inteligensinya adalah inteligensi yang bersifat kaku, instrumentalis, dan
strategis. Dalam hubungan dengan hal tersebut daya ingatannya tinggi dan
dilengkapi dengan penguasaan detail yang mengagumkan. Meskipun demikian
kemampuan hubungan sosialnya sangat terbatas, hanya pada orang-orang yang
pernah dikenalnya dia berpaling. Profesor Elson menolak keras argumen
essentialized cultural accounting yang dikemukakan beberapa sarjana Barat.
Pandangan tersebut membebankan semua penjelasan tentang orang seperti
Soeharto semata-mata dari segi kebudayaan Jawa dan tidak bisa dan bahkan
tidak boleh dipahami dari segi lain, apa pun namanya.
Setelah membaca buku yang begitu informatif dan begitu perseptif yang juga
menantang kritik dan counter research bagi siapa pun kelak para pembaca
sedikit dibuat bertanya-tanya mengapa untuk menutup bukunya yang begitu
kaya dalam menjelaskan keberhasilan Soeharto, Profesor Elson memakai
konsep luck and skill, nasib dan keterampilan (297-308). Pertanyaannya
apakah perlu demikian, karena nasib lebih mencerminkan kepasrahan, sesuatu
yang akrab dengan pandangan Jawa yang sedikit-sedikit ditolak Profesor
Elson sebagai essentialized cultural accounting.
Kedua, apakah dengan ruang jangkauan yang begitu terbuka luas seperti
pertarungan ekonomi-politik Indonesia di tengah Perang Dingin tahun
1960-an dan 1970-an dan Indonesia sebagai proyek Orde Baru militeristik
semata-mata dibangun oleh keterampilan Soeharto. Membuka persoalan dengan
pertanyaan ini hanya membuka ladang yang sama sekali baru yang berada di
luar maksud tinjauan ini karena untuk itu diperlukan suatu karya yang sama
sekali lain.
Pada akhirnya beberapa kalimat ini perlu disusul. Kalau Soeharto mampu dan
dengan sabar membaca buku ini, mungkin dia akan menyesal karena tidak
pernah memberikan kesempatan wawancara kepada Profesor Elson yang dengan
susah payah berusaha menjaga keseimbangan bukunya. Kiranya tidaklah
berlebihan bila dikemukakan di sini bahwa dengan Suharto, A Political
Biography karya Profesor Elson ilmu sejarah, ilmu politik, dan terutama
biografi sebagai metoda bagi psikologi politik mendapatkan sumbangan yang
sungguh luar biasa.
*** Tokoh Indonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), Repro Kompas
|
|
 |
| Penulis |
 |
Penulis Resensi: Daniel Dhakidae, Kepala Litbang Kompas.
Penulis Buku: Profesor Robert Edward Elson, guru besar the School of Asian
and International Studies di Universitas Griffith, Brisbane, Australia,
dan Direktur Griffith Asia Pacific Research Institute, Universitas
Griffith. Dia menulis buku yang sangat mengesankan tentang dampak sosial
industri gula di Jawa. Seluruh penulisan buku ini terutama berdasarkan
dokumen dan tidak sekali pun mendapatkan kesempatan wawancara langsung
dengan Soeharto, meskipun berulang kali diminta. Pada tahun 1998 Soeharto
sebenarnya ingin memberikan wawancara, berdasarkan surat balasan dari
Cendana; akan tetapi para pengikut di sekitarnya selalu menghalangi
dilangsungkannya wawancara tersebut.
 |
| Resensi |
 |
►
Sadli
►
 |
| Artikel
Lainnya |
 |
|
|