| |
C © updated 26102006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ |
|
| |
Nama:
H. Muhammad Soeharto
Lahir:
Kemusuk, Argomulyo, Godean, 1 Juni 1921
Jabatan Terakhir:
Presiden Republik Indonesia (1966-1998)
Alamat:
Jalan Cendana No.8, Menteng
Jakarta Pusat
|
|
| |
|
|
|
|
HM Soeharto
Perwira Handal Ahli Strategi
Mantan Presiden Soeharto sudah melewati usia 85 tahun. Senyumnya masih
mengembang pada wajahnya yang mulai tampak keriput. Kejaksaan Agung
sudah menghentikan penuntutan atas perkaranya. Pak Harto termasuk di
antara tokoh pejuang TNI yang menerima anugerah Bintang Sakti Maha Wira
Ibu Pertiwi.
Muncul di depan publik pada acara akad nikah cucunya—Dany
Rukmana dan artis Lulu Tobing—akhir bulan lalu, Pak Harto
yang pernah memerintah negeri ini 32 tahun, tampak segar
dan sehat. Namun sang jenderal besar yang murah senyum ini tak lagi
mampu berkomunikasi dengan baik lantaran kerusakan jaringan syaraf otak
akibat stroke yang dideritanya sejak lima tahun lalu. Hari itu, Pak
Harto mengenakan pakaian adat Jawa, bertindak sebagai saksi pernikahan
putra pasangan Hj. Siti Hardiyanti dan H. Indra Rukamana.
Jenderal Besar TNI Soeharto, berada di urutan kedua setelah mendiang
Panglima Besar Soedirman dalam urutan 61 penerima anugerah Bintang Sakti
Maha Wira Ibu Pertiwi. Pilihan itu jatuh ke Pak Harto karena dinilai
sebagai Perwira Handal Ahli Strategi. Penerima anugerah Bintang Sakti
lainnya, termasuk Jenderal Besar TNI Abdul Haris Nasution (alm),
Laksamana Muda (Anumerta) Josaphat Sudarso, Laksamana TNI (Laut) R.
Subiyakto dan Laksamana TNI (Udara) Suryadi Suryadarma. Pada peringatan
ulang tahun TNI ke 61, tanggal 5 Oktober 2006, TNI menerbitkan buku
Bintang Sakti Mahawira Ibu Pertiwi yang memuat 61 penerima anugerah
tersebut, dan riwayat singkat kejuangan mereka.
Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto, dalam kata sambutannya, menilai
penulisan buku tersebut sebagai refleksi historis pengabdian para
pejuang agar dapat dijadikan referensi otentik dan sumber inspirasi bagi
generasi penerus TNI. Dengan demikian dapat diperoleh gambaran tentang
dinamika kiprah pengabdian para pejuang bangsa, khususnya para penerima
Bintang Sakti yang berperan dalam perjuangan membela, mempertahankan dan
mengisi kemerdekaan Indonesia.
Menurut Panglima TNI, dengan memahami sejarah perjuangan para penerima
Bintang Sakti, generasi penerus bangsa diharapkan mampu memetik hikmah
nilai-nilai kepejuangan dan ketokohan para pendahulu TNI. Mereka yang
bertugas di daerah operasi, tulis Djoko, telah menunjukkan tekad yang
kuat, semangat pantang menyerah, kerelaan berkorban dan pengabdian tulus
ikhlas yang dilakukan dengan penuh dedikasi dan tanpa pamrih.
“Dalam situasi keterbatasan yang dimiliki TNI pada saat itu, para tokoh
pejuang TNI telah menanamkan dasar-dasar yang kuat dalam membentuk jati
diri TNI. Nilai-nilai semangat pengabdian dan profesionalitas yang perlu
diwariskan bagi generasi penerus untuk diaktualisasikan dalam pengabdian
sesuai dengan tantangan tugas yang dihadapi,” tulis Panglima TNI
Marsekal Djoko Suyanto.
Bintang Sakti berupa piagam tanda kehormatan yang diberikan oleh
Presiden Republik Indonesia. Para penerima anugerah Bintang Sakti,
berdasarkan kriteria sebagai berikut; (1) Anggota TNI yang menunjukkan
keberanian dan ketebalan tekad melampaui dan melebihi panggilan
kewajiban dalam melaksanakan tugas militer disertai kesabaran serta
keikhlasan mengorbankan jiwa di dalam maupun di luar pertempuran tanpa
merugikan tugas pokok.
(2) Warga Negara Republik Indonesia, bukan anggota TNI, yang menjalankan
tugas kemiliteran. (3) Bisa dianugerahkan secara anumerta kepada anggota
TNI dan bukan anggota TNI yang gugur atau meninggal dunia sebagai akibat
langsung di dalam maupun di luar pertempuran. (4) Bintang Sakti dapat
dianugerahkan untuk kedua kali, ketiga kali, dan seterusnya kepada
anggota TNI dan WNI bukan anggota TNI, setiap kali dia memenuhi syarat
sebagaimana ditentukan dalam UU Negara RI No 65 Tahun 1958. Ketentuan
anugerah ulangan ini bahwa tindakan atau tugas yang diberikan anugerah
tersebut tidak ada hubungannya, sangkut pautnya, ataupun merupakan
kelanjutan dari tindakan-tindakan atau tugasnya untuk mana telah
diberikan suatu anugerah.
Perwira Handal Ahli Strategi
Jenderal Besar Soeharto yang lahir di desa Kemusuk, 6 Juni 2001,
menjabat Presiden Republik Indonesia kedua selama 32 tahun. Pembawaannya
tenang, tutur katanya terukur dan selalu bertindak sesuai aturan, Pak
Harto dijuluki the smiling general (jenderal yang murah senyum). Dia
sosok pria Jawa yang kalem dan berpenampilan sederhana. Namun di balik
itu semua, Pak Harto berhasil mengemban dengan baik berbagai pertempuran
sengit dan tanggung jawab militer yang berat dan keras.
Rasa cinta dan ingin menyaksikan bagian lain dari tanah air adalah salah
satu motivasi yang menggugah Soeharto untuk mendaftarkan diri menjadi
prajurit Koninklijk Nederlans Indische Leger (KNIL). Atas penampilan
fisik yang sehat dan tegap yang disertai kecerdasan otak, Soeharto
belia, sejak 1 Juni 1940 diterima sebagai siswa militer di Gombong, Jawa
Tengah. Enam bulan setelah menjalani latihan dasar, dia tamat sekolah
militer sebagai lulusan terbaik dan mendapat pangkat Kopral di usia 19
tahun.
Pos penempatan pertama Kopral Soeharto adalah Batalyon XIII, Rampal
Malang. Kemudian Soeharto masuk sekolah lanjutan Bintara, juga berada di
Gombong. Karena sikap keprajuritan dan disiplinnya yang tinggi dalam
waktu yang relatif singkat dia mendapat kenaikan pangkat.
Pasukan Inggris mendarat di Jakarta, 29 September 1949, atau empat tahun
setelah Indonesia merdeka, untuk mengemban amanah kapitulasi Jepang.
Kemudian mendarat di Semarang, Surabaya dan Bandung. Pasukan Inggris di
bawah komando Brigadier Jenderal Bethel bergerak dari Semarang menuju
Ambarawa dan Magelang untuk menjem-put sekutunya, yaitu interniran
Belanda.
Ternyata pasukan Inggris bersikap kurang ramah, memicu amarah rakyat dan
berujung insiden bersenjata. Mereka menguasai obyek-obyek penting di
Kota Magelang. Ketika pecah pertempuran Ambarawa, Letkol Soeharto
memimpin Batalyon X. Bersama pasukan-pasukan lain, pasukan Soeharto
bertempur melawan pasukan Sekutu di Ambarawa. Untuk merebut kembali
obyek-obyek vital di dalam kota, pasukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR)
didatangkan dari Banyumas, Salatiga, Surakarta dan Yogyakarta. Pasukan
Inggris di Magelang dan Ambarawa, terkepung.
Empat kompi pasukan Soeharto berhasil menduduki Banyubiru. Pasukan
Sekutu dipukul mundur dari Ambarawa. Sejak peristiwa itu, Soeharto mulai
dikenal sebagai perwira yang cakap di lapangan dan mendapat perhatian
dari Panglima Besar Soedirman.
Belanda kembali melancarkan agresi militer kedua, Februari 1949.
Yogyakarta berhasil dikuasai. Letkol Soeharto dan pasukannya mengadakan
konsolidasi di luar Yogya. Sepuluh hari setelah peristiwa tersebut,
Soeharto dan pasukannya menyiapkan serangan balasan ke pos-pos pasukan
Belanda di luar Yogya. Soeharto menyusun siasat secara seksama sebelum
melakukan serangan umum ke Kota Yogya.
Menjelang fajar menyingsing 1 Maret 1949, pasukan Letkol Soeharto mulai
bergerilya masuk kota Yogya. Serangan berjalan gencar dan lancar
sehingga kota Yogya dapat diduduki selama enam jam. Kota Yogya berhasil
direbut kembali, dan pasukan TNI merebut berton-ton amunisi dari pasukan
Belanda. Namun ketika pasukan Belanda kembali dengan mesin perang dan
amunisi lengkap, Letkol Soeharto segera memerintahkan pasukannya mundur
kembali ke pangkalan masing-masing di luar kota Yogya.
Serangan umum tersebut, lebih dikenal dengan Serangan Umum 1 Maret 1949,
sebetulnya serangan yang bersifat politis untuk mendukung perjuangan
diplomasi RI di PBB. Dan secara psikologis mengobarkan semangat juang
rakyat untuk mendukung TNI; memulihkan, memupuk dan meningkatkan
kepercayaan rakyat terhadap TNI, karena TNI masih setia pada tugasnya
menumpas musuh.
Peran penting lainnya yang pernah diemban Brigjen Soeharto ketika dia
ditunjuk sebagai Panglima Mandala untuk membebaskan Irian Barat dari
cengkraman penjajah Belanda. Soeharto berhasil. Irian Barat kembali ke
pangkauan Ibu Pertiwi, 1 Mei 1963.
Tugas fenomenal selanjutnya yang berhasil diemban oleh Jenderal Soeharto
adalah menumpas Gerakan PKI 30 September 1965. Saat itu, Soeharto
dihadapkan pada situasi genting. G.30.S/PKI, dinihari 1 Oktober,
menculik enam perwira senior TNI-AD untuk melicinkan jalan kudeta mereka
melawan pemerintahan Presiden Soekarno.
Kolonel Latief yang memimpin operasi penculikan, membuang jenazah enam
jenderal dan seorang kapten ke sebuah sumur tua di tengah kebun karet
terlantar Lubang Buaya, Jakarta Timur, di mana para sukarelawan Pemuda
Rakyat dan Gerwani, Ormas underbow PKI, sedang melakukan latihan tempur.
Sementara itu pimpinan kudeta, Letkol Untung, pagi hari 1 Oktober 1965,
berhasil menguasai stasiun pusat RRI untuk mengumumkan pembentukan
kekuasaan Dewan Revolusi Indonesia Pusat yang disertai Dewan-Dewan
Revolusi Daerah.
Pangkostrad Mayjen Soeharto memimpin operasi penumpasan G.30.S/PKI. Para
pemimpin G.30.S/PKI pun ditangkap. Situasi Jakarta dan seluruh tanah air
berhasil dipulihkan. Tanggal 11 Maret 1966, Jenderal Soeharto mengemban
surat perintah 11 Maret dari Presiden Soekarno untuk membubarkan PKI,
dan memulihkan stabilitas keamanan nasional dan kondisi politik
Indonesia. Bung Karno melantiknya sebagai Menteri Utama Bidang Hankam
dalam kabinet 100 menteri (Ampera), Juli 1966. Para demonstran siswa dan
mahasiswa dan berbagai elemen masyarakat menuntut Bung Karno turun dan
kabinet 100 menteri dibubarkan.
Di luar karir militernya, Soeharto dikukuhkan oleh MPRS menjadi Presiden
RI menggantikan Bung Karno, Maret 1967. Putra dari pasangan Kertosudiro
dan Sukirah ini, sejak itu menjadi pemimpin sipil sampai mengundurkan
diri tanggal 21 Mei 1998. Di bawah pemerintahan Presiden Soeharto,
Indonesia mengalami banyak kemajuan. Pembangunan di berbagai bidang
kehidupan mengalami kemajuan pesat sampai munculnya krisis moneter yang
menimpa sejumlah negara Asia, termasuk Indonesia, Thailand dan Malaysia,
pertengahan tahun 1997. Krisis moneter tersebut memicu lahirnya krisis
politik dan keamanan yang berujung pada pengunduran diri Pak Harto.
Di bidang kemiliteran, sosok Soeharto telah memimpin berbagai
pertempuran dengan penuh keberanian. Pengorbanan, kegigihan dan
pengabdiannya kepada negara dan bangsa, menjadikannya salah satu putra
terbaik bangsa yang layak mendapat anugerah kehormatan Jenderal Besar
TNI dan Bintang Sakti.
Beberapa bulan lalu (11/5-2006), Andi Samsan Nganro, hakim tunggal
pra-peradilan sekaligus Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Selatan,
membatalkan SKP3 dari Kejaksaan, membuka kembali perkara Pak Harto.
Namun sesuai dengan fatwa Mahkamah Agung, perkara Pak Harto hanya bisa
dibuka kembali bilamana jaksa mampu menghadirkan terdakwa di sidang
pengadilan.
Pihak Kejaksaan sendiri sudah memutuskan untuk menghentikan penuntutan
terhadap perkara Pak Harto. Sedangkan tim dokter, baik pribadi maupun
negara, sudah memberi rekomendasi medis bahwa kerusakan otak Pak Harto
permanen, tidak bisa disembuhkan.
Menjalani hari-hari senjanya, Pak Harto lebih mendekatkan diri pada
Allah SWT, beribadah, berdoa, berzikir dan beramal untuk sesama manusia. ►mti/sh
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
` |