| WAWANCARA MTI 24 |
|
|
 |
Probosutedjo
Pak Harto Hidupnya Sederhana
WAWANCARA 01: Selama 32 tahun menjabat Presiden, Pak Harto dituding
telah menumpuk kekayaan sampai 9 milyar dolar di Swiss dan menimbun
triliunan rupiah di bunker-bunker rumahnya. Beliau juga disebut sebagai
penguasa yang otoriter dan telah memberi fasilitas kepada anak-anak dan
saudaranya sehingga semuanya menjadi kaya raya. Apa dan bagaimana hal
ini sesungguhnya?
Pak Harto sendiri, ketika masih sehat, sudah pernah memberi
penjelasan mengenai kekayaannya. Tapi tetap saja sebagian elit dan
aktivis yang menyebut diri reformis, terlihat tidak mau mempercayainya.
Belakangan, setelah terserang stroke, dan dalam usia senja, Pak Harto
sudah sulit diajak bicara. Ia sudah lebih banyak beribadah saja. Pak
Harto mengundurkan dari jabatan presiden karena sejumlah orang
kepercayaannya, yang secara sengaja sebelumnya dibina dan dibesarkan
serta dipersiapkan untuk melanjutkan pembangunan nasional yang
berkelanjutan, ternyata mengkhianatinya.
Akibatnya, belakangan Pak Harto menjadi lebih banyak menutup diri.
Beliau tampaknya menjadi kurang percaya kepada pihak luar yang masih
sulit diidentifikasi loyalitas dan kesetiaannya kepada Pancasila dan UUD
1945, serta tujuan pembangunan nasional untuk mengentaskan kemiskinan.
Sesungguhnya seperti apa keseharian kehidupan dan kekayaan Pak Harto
itu? Kami mewawancarai H Probosutedjo, adik kandung satu ibu Pak Harto,
yang sejak usia belia sudah tinggal serumah dengan Pak Harto, di
Jogyakarta semasa perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Bahkan ketika ramai-ramai peristiwa pemberontakan PKI tahun 1965 berikut
berbagai peristiwa yang melatari sebelumnya serta perjuangan menegakkan
Orde Baru setelahnya, Probo juga pernah tinggal serumah dengan Pak Harto
dan Ibu Tien di Jalan Haji Agus Salim Nomor 98, Jakarta. Ketika itu, Pak
Probo sudah mulai berbisnis sendiri, sementara anak-isteri masih
ditinggalkannya di Pematang Siantar, Sumatera Utara.
Probosutedjo merupakan orang terdekat Pak Harto yang mengetahui persis
seluk-beluk kehidupan kepribadian Pak Harto. Demikian pula tentang
kejernihan pikiran-pikiran Pak Harto yang begitu gigih mengentaskan
kemiskinan.
Dari Pak Probo kami menggali lebih dalam bagaimana sebenarnya kekayaan
dan keseharian Pak Harto. Juga tentang pemikiran Pak Harto mengenai
bangsanya, khususnya bagaimana Pak Harto melihat Bangsa Indonesia yang
sudah berusia 60 tahun. Hasil wawancara kami rangkum dalam beberapa
tulisan. Sebagian kami petik berikut ini.
MTI: Selama 32 tahun memerintah, Pak Harto kemudian dipersepsikan
sebagai pemimpin yang sangat otoriter dan diktator. Bagaimana menurut
Bapak sesungguhnya?
PROBO: Tuduhan otoriter dan diktator muncul sebenarnya karena mereka
tidak memahami strategi pembangunan yang dilaksanakan oleh Pak Harto.
Pak Harto waktu itu menghendaki supaya keadaan bisa tenang. Karena
tujuan ketenangan adalah untuk pembangunan. Poin pertama dari trilogi
pembangunan berbicara tentang stabilitas keamanan. Seandainya keadaan
tidak tenang maka pasti kita tidak bisa membangun dan investor asing
pasti tidak mau masuk.
Keadaan sekarang sudah terbukti menunjukkan investor asing tidak mau
masuk. Malah apa yang sudah ada menjadi lari.
Kalau orang memperhatikan kenyataan-kenyataan seperti itu maka bisalah
merenungkan, bahwa stabilitas keamanan memang perlu sekali.
Untuk mencapai stabilitas keamanan, terpaksa Pak Harto menggunakan
militer. Karena militer yang bersenjata. Militer untuk tugas mengamankan
pembangunan. Hanya saja waktu itu ABRI tidak mau menjelaskan bahwa
sekarang kita sedang menjalankan pembangunan, karena itu mbok ya jangan
diganggu pembangunan itu. Kalau misalnya ada anggota masyarakat yang mau
menuntut, atau menyampaikan suatu permasalahan yang mungkin menurut
pendapat mereka itu benar, mestinya ABRI menjelaskan bahwa sekarang kita
sedang mengimbau pengusaha-pengusaha asing supaya masuk ke Indonesia.
Sehingga stabilitas keamanan perlu agar investasi tidak terganggu masuk
ke Indonesia.
Masuknya pengusaha asing bukan untuk menguasai ekonomi tapi menciptakan
lapangan kerja supaya pendapatan rakyat meningkat. Kalau pendapatan
meningkat, kemiskinan berkurang. Kenyataaan memang, waktu pemerintahan
Pak Harto kemiskinan berkurang terus. Walau belum habis tapi terus
berkurang berangsur-angsur. Tidak seperti sekarang terjadi justru
sebaliknya.
Waktu jaman Pak Harto ada juga tenaga kerja yang mencari pekerjaan ke
luar negeri tetapi tidak seberapa. Tidak seperti sekarang, bahkan sudah
sampai ke Malaysia membludak. Kalau dulu masih bisa dicegah karena
pekerjaan di Malaysia ternyata sama dengan di Indonesia. Terkecuali yang
ke Timur Tengah, banyak tersedia pekerjaan menjadi perawat atau pekerja
di rumah sakit. Itu tidak terlalu merendahkan bangsa Indonesia.
Jadi tuduhan diktator atau otoriter muncul, sebenarnya karena mereka
kurang memahami saja. Kesalahan ada pada pembantu-pembantu Pak Harto
yang tidak mau menjelaskan. Saya juga tidak menduga pembantu-pembantu
Pak Harto ternyata akalnya sangat dangkal mengenai strategi pembangunan
yang ditempuh Pak Harto. Padahal Pak Harto sering cerita itu pada saya.
MTI: Lalu kenapa TNI/ABRI sampai dibuat ikut berpolitik, ada fraksi
di DPR/MPR?
PROBO: Keberadaan ABRI sampai dimasukkan ke lembaga DPR/MPR, itu
tujuannya tidak lain untuk menjaga keutuhan Pancasila dan UUD 1945. Pak
Harto sering menjelaskan itu sama saya karena saya selalu tanya apa
tidak berlebihan memasukkan ABRI ke DPR/MPR, apa nanti tidak dikatakan
diktator atau otoriter.
Kalau orang tidak mengerti memang begitu. Tapi tujuannya mencegah jangan
sampai UUD 1945 dan Pancasila diubah karena merupakan pemersatu bangsa
yang luar biasa multimajemuk ini.
Di seluruh dunia tidak ada yang kemajemukannya seperti Indonesia. Yang
pertama pulaunya begitu banyak. Tinggal di pulau-pulau yang manapun ada
penduduk yang pengetahuannya berbeda-beda. Kekayaan dan taraf hidup juga
berbeda-beda, adat istiadatnya berbeda bahasanya pun berbeda.
Inilah sebabnya mengapa Pancasila dan UUD 1945 merupakan keharusan yang
paling cocok dipakai di Indonesia. Agama Islam memang mayoritas di sini
tetapi tidak bisa diterapkan untuk membangun bangsa Indonesia yang
majemuk.
Dan Pak Harto sudah mempelajari betul-betul, negara yang terbelakang
karena dijajah orang asing dulunya kalau tidak dipimpin dengan cara yang
terarah dan terkendali tidak mungkin bisa maju.
Contohnya, Filipina sampai sekarang begitu-begitu saja. India, Pakistan
dan Bangladesh juga tidak bisa maju-maju. Tetapi negara yang terkendali
dan terarah tujuannya, yaitu untuk mengentaskan kemiskinan bisa cepat
sekali pertumbuhan ekonominya.
Contoh yang paling mencolok sekarang adalah RRC. Negara itu
terkendalinya keras sekali dan arahnya adalah kesejahteraan rakyat. RRC
sekarang sudah sejahtera bahkan sampai mempunyai kelebihan segala. Itu
hebat padahal negara tersebut demikian luas, jumlah penduduknya 1,3
milyar, tapi semua bisa teratur.
Kemajemukan itulah yang membikin Pak Harto seakan-akan memaksakan,
mengharapkan atau mengharuskan supaya Pancasila dan UUD 1945 dijadikan
sebagai dasar bersama sehingga keutuhan harus dijaga. Pak Harto bukan
diktator sebenarnya, juga bukan otoriter.
MTI: Belakangan terutama dalam era reformasi ini, Pak Harto
seringkali pula dicitrakan sebagai koruptor kelas kakap terlebih-lebih
setelah anak-anaknya terjun menjadi pengusaha?
PROBO: Citra demikian pun muncul karena sejak dari dulu tidak pernah ada
penjelasan yang tuntas mengenai hal itu. Kejadian demikian sesungguhnya
mulai berkembang tatkala Pak Benny Moerdani hendak mengakhiri masa
jabatannya sebagai Panglima ABRI.
Menjelang habis jabatannya, Pak Benny menurut keterangan beberapa
perwira tinggi pernah menanyakan kepada Pak Harto mengenai anak-anak Pak
Harto yang berdagang. Katanya, yang saya ceritakan ini adalah beredar di
luaran, Pak Harto marah waktu ditanya oleh Pak Benny demikian. Ini,
tidak ada yang meng-counter atau mengecek apakah benar begitu yang
terjadi.
Kemudian muncul lagi berita tentang Pak Harto yang menumpuk kekayaan.
Itu juga sudah lama terdengar sejak tahun 1985 tapi belum begitu santer.
Tahun 1990 mulai santer dan berlangsung terus sampai tahun 1993.
Mengenai berita menumpuk kekayaan sebenarnya bukan dituduhkan kepada Pak
Harto semata. Juga kepada Ibu Tien Soeharto karena dia selalu meminta
sumbangan kepada pengusaha-pengusaha. Padahal tidak lain tujuannya waktu
itu adalah digunakan untuk pembangunan kemanusiaan, supaya nanti rakyat
yang tidak bisa membangun bisa menikmati hasilnya.
Pemerintah sendiri karena tidak ada dana untuk membangun itu maka Ibu
Tien-lah yang terjun dengan meminta perhatian pengusaha-pengusaha yang
sudah berhasil mengambil sebagian dari keuntungannya untuk membangun.
Misalnya TMII, RS Harapan Kita dan yang lain. Kemudian membantu kegiatan
Yayasan Kemanusiaan Gotong Royong pada setiap kali terjadi kecelakaan
atau bencana alam.
Tetapi oleh orang-orang yang tidak memahami masalah mengisukan
seakan-akan Ibu Tien meminta dan mengumpulkan uang dari orang-orang kaya
untuk kepentingan pribadi. Bu Harto sampai-sampai diejek dengan sebutan
“Bu Ten Persen”
Suatu ketika, sekitar tahun 1992/1993 berlangsung rapat DPP Golkar di
Cendana, Mashuri berani bertanya dan mengkritik langsung Pak Harto. Dia
menyebutkan bahwa sekarang sudah terjadi kepincangan antara kaya-miskin.
Pak Harto di luaran diisukan hanya mengutamakan dan mengistimewakan
kepentingan orang-orang China keturunan.
Ini, katanya lagi, sebenarnya sudah berbahaya sebab rakyat kecil pun
sudah menganggap hanya Pak Harto saja yang menguasai kekayaan Indonesia.
Sampai tukang taksi pun berani mengatakan Pak Harto menumpuk kekayaan
dengan melindungi Cina-Cina.
Lantas Pak Harto menjawab, itu harus dijelaskan supaya rakyat mengerti
dan itu merupakan kewajiban dari menteri-menteri. Tapi Mashuri
mengatakan lagi bahwa Pak Harto tidak pernah naik taksi, sebab kalau
saja pernah naik taksi pasti akan mendengar suara tukang taksi itu
bagaimana.
Pak Harto dikatakan seperti itu dalam rapat akhirnya marah. Nah, dari
situlah tersiar lagi kabar bahwa Pak Harto betul-betul menumpuk kekayaan
sehingga tidak bisa dikritik. Ditambah lagi dengan terjunnya
anak-anaknya berdagang atau menjadi pengusaha.
Anak-anak seorang penguasa berdagang sebetulnya tidak ada larangan sebab
undang-undang dan hukumnya tidak ada yang membatasi. Yang penting apakah
anak-anak itu menggunakan fasilitas dari bapaknya atau tidak.
Kenyataannya anak-anak tidak pernah langsung meminta. Tapi dari
menteri-menteri itulah yang ingin mengambil hati Pak Harto, maka mereka
sering mancing-mancing anak-anak itu.
Jangankan sama anak-anak, sama saya saja yang hanya saudara,
menteri-menteri itu sering-sering menghormati yang tujuannya tidak lain
mengambil hati Pak Harto. Padahal saya tidak mau minta fasilitas. Jadi
pada jamannya Pak Harto saya sama sekali tidak pernah mendapat
fasilitas.
MTI: Memang Pak Probo tak pernah meminta fasilitas dari Pak Harto?
PROBO: Sama sekali tidak pernah! Dulu, misalnya, sewaktu saya dipercaya
mengatur impor cengkeh orang menduga itu fasilitas dan saya mendapat
keuntungan yang besar. Saya lalu tunjukkan bukti bahwa saya mendapat
izin mengatur tata niaga cengkeh tujuannya untuk memutuskan hubungan
dagang lewat pihak ketiga, supaya kita mengimpor langung dari negara
asal Zanzibar dan Madagaskar. Sebelumnya impor cengkeh lewat Singapura
dan Hongkong dan kita banyak dipermainkan di situ.
Saya ditugasi memutuskan itu dan berhasil. Sesudah itu Pak Harto
memerintahkan lagi Pak Thoyib Hadiwidjaja, waktu itu Menteri Pertanian,
minta saya untuk menanami cengkeh di seluruh Indonesia. Kemudian saya
galang daerah-daerah menanam cengkeh. Akhirnya semua menanam cengkeh
dari Sabang sampai Merauke, cengkeh menjadi berlebihan dan pemerintah
bingung. Dipeganglah oleh Tommy sampai pohonnya dibabati.
Sebenarnya waktu itu tata niaga cengkeh sudah berhasil betul-betul. Jadi
mestinya pemerintah berterimakasih pada saya. Sebab saya dapat komisinya
juga hanya dua persen. Itupun saya serahkan lagi kepada Setneg, yang
kemudian oleh Setneg digunakan untuk membangun Rumah Sakit Pusat
Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta. Jadi RSPAD itu hasil dari
cengkeh.
MTI: Berita tentang kekayaan Pak Harto sempat pula menghebohkan.
Majalah Time memberitakan beliau memiliki simpanan kekayaan miliaran
dolar AS di bank-bank Swiss. Berapa besar sesungguhnya kekayaan Pak
Harto yang terkumpul selama menjabat Presiden?
PROBO: Orang yang mengatakan kekayaan Pak Harto bermiliar dolar, itu
sama sekali tidak mempunyai pengetahuan, atau ia berbicara secara tidak
berdasar sama sekali.
Karena bagaimana mungkin Pak Harto bisa menumpuk kekayaan sampai
sebegitu banyak, dan kapan mengambilnya karena anggaran pendapatan dan
belanja negara (APBN) tiap tahun pas-pasan. Semua pendapatan dan
pengeluaran diatur dengan APBN.
Lalu, yang memegang APBN siapa dan yang melaksanakan anggaran belanja
siapa? Bukan Pak Harto tapi menteri-menterinya. Jadi bagaimana Pak Harto
mengumpulkan kekayaannya? Kalau secara normal berpikir begitu sajalah.
Tapi karena dikatakan oleh Amien Rais kekayaannya ada 9 miliar dolar AS
di Swiss, kemudian dilacak oleh Muladi dan Andi Ghalib ternyata sampai
di sana tidak ada. Seluruh bank-bank di Swiss ditanya tidak ada kekayaan
atas nama Soeharto.
Kemudian oleh Abdurrahman Wahid, saat menjabat presiden menyebut lagi di
rumah Pak Harto ada bunker-bunker untuk menyimpan uang yang jumlahnya
triliunan rupiah. Dicek di mana-mana di seluruh rumahnya dan di tempat
anak-anaknya tidak ada bunker. Coba, itukan semua betul-betul hanya
untuk menjatuhkan, membunuh karakter Pak Harto. Artinya orang itu tidak
bisa berterimakasih pada seseorang, beginilah bangsa ini akhirnya,
karena para elit dan pemimpin tidak bisa menghargai jasa seorang
presiden pendahulunya.
Bukan hanya itu. Ada lagi polisi seorang komandan reserse dari Mabes
Polri yang suka cerita sama saya, bahwa Pak Harto bersama Probo, Tutut
dan Pak Dwi menyimpan uang di Solo jumlahnya 8 triliun rupiah. Kemudian
polisi mengirim pasukan terdiri 20 orang ke sana untuk melacak seluruh
Solo dimana tempat menyimpan uang Pak Harto, Pak Probo, Tutut dan Pak
Dwi itu. Dicari seluruh Solo tidak ada.
Karena orang itu yang cerita sama saya lalu dia saya tanya, “Sampeyan
tahu tidak uang Rp 1 triliun beratnya seperti apa, apalagi Rp 8 triliun
berapa ton itu.”
“Karena satu bundel uang Rp 50 ribuan satu ikat seratus, jadi 100 kali
Rp 50 ribu sama dengan Rp 5 juta, 10 ikat sama dengan Rp 50 juta. Lima
puluh juta beratnya dua kilo, kalau Rp 1 miliar beratnya berapa? Lalu
kalau semuanya dihitung sudah duapuluh ton. Jadi bagaimana mengangkut
uang seberat 20 ton, kan bisa ketahuan,” saya bilang lagi.
“Iya, pak, saya waktu itu tidak berpikir ke situ,” kata dia. Nah, itulah
semuanya fitnah saja.
Isunya masih belum berhenti sampai di situ. Ada lagi yang mengatakan Pak
Harto menyimpan kertas bahan baku yang digunakan untuk mencetak uang
kertas entah berapa ton jumlahnya. Yang tanya sama saya itu polisi juga,
pangkatnya kolonel malah masih keponakan saya.
“Bapak kan punya kertas itu, sekarang ada yang mau beli untuk dicetak
jadi uang kertas,” kata dia. “Lho, yang punya siapa?”, saya tanya.
“Katanya bapak”. “Di mana simpannya, ambil saja nanti tidak usah
dibeli,” kata saya.
Jadi mengenai isu Pak Harto menumpuk kekayaan sudah lama dilansir oleh
beberapa orang yang tidak bertanggungjawab. Barangkali sudah sejak tahun
1990.
Pak Alamsjah dulu sering saya ajak bicara mengenai hal ini. “Ini, Pak
Harto sering dituduh menumpuk kekayaan. Bagaimana caranya menghilangkan
citra negatif itu,” kata saya.
Habis saya ajak bicara begitu jawaban Alamsjah: “Pak Harto jasanya besar
sekali. Kalau tidak ada Pak Harto orang Islam ini habis dibunuh PKI.
Tujuh jenderal saja bisa mereka bunuh, apalagi hanya umat Islam. Coba
kalau waktu itu tidak ketahuan PKI yang jadi biang keladi G 30-S/PKI,
orang Islam ini habis. Jadi Pak Harto jasanya besar, mestinya
sepersepuluh kekayaan Indonesia ini diserahkan sama Pak Harto.”
Lalu saya bantah. “Pak Alamsjah jangan asal ngomong begitu, nanti
dipikirnya benar Pak Harto menumpuk kekayaan.”
Tapi dibalasnya, “Ah, jangan pedulilah mereka itu.”
Itulah akhirnya lebih menjalar lagi isu mengenai Pak Harto menumpuk
kekayaan.
Waktu Pak M. Jusuf menjadi Ketua BPK, dia juga saya datangi. Saya minta
supaya Pak Jusuf mengklirkan Pak Harto yang dituduh menumpuk kekayaan.
Pak Jusuf kan orangnya pendiam. Jadi sudah saya kasih tahu juga Pak
Jusuf bahwa saya pernah lapor Pak Alamsjah jawabannya begitu, dan ini
kan tidak benar. “Iya, Alamsjah ini kalau ngomong sering-sering tidak
dipikirkan dulu akibatnya,” kata Pak Jusuf.
Begitulah menjalar terus bahwa Pak Harto dituduh menumpuk kekayaan
sampai orang yang tidak mengerti masalahnya pun, seperti Pak Amien Rais
menuduh Pak Harto menyimpan uang di Swiss sebanyak 9 milyar dolar AS
padahal sesudah dicek terbukti tidak ada.
MTI: Pada saat pemerintahan Pak Harto, banyak pengusaha, terutama
yang nonpribumi, menjadi konglomerat?
PROBO: Saya sesungguhnya selalu mengkritik Pak Harto. Mengingatkan dia
bahwa kemerdekaan direbut oleh bangsa Indonesia yang pribumi. Tidak ada
nonpri yang berjuang merebut kemerdekaan. Yang mengusir penjajah semua
pribumi. Jadi kemerdekaan merupakan perjuangan orang-orang pribumi. Oleh
sebab itu mereka harus menikmati isi kemerdekaan menikmati hasil
pembangunan. Inilah yang selalu saya ingatkan.
Pak Harto ingat juga rupanya. Oleh sebab itu dalam pembangunan ekonomi
selalu diingatkannya, supaya pengusaha-pengusaha yang sudah mempunyai
pabrik yang sudah menikmati hasil-hasil pembangunan supaya ingatlah
kepada bangsanya yang masih menderita. Karena mereka yang dulu ikut
berjuang mengusir penjajah sangat mengharapkan dan merindukan
kesejahteraan.
Pak Harto mengatakan hal itu di Tapos tahun 1993, tanpa menggunakan kata
pribumi tapi bangsanya yang masih menderita. Barangkali semua orang
masih ingat waktu Pak Harto memanggil pengusaha-pengusaha begitu banyak,
orang-orang keturunan semua dinasehati begitu. Pak Harto sudah ingatkan
juga agar jangan sampai nanti timbul iri hati terjadi kesenjangan sosial
yang begitu jauh.
Pak Harto, sambil mengingatkan menyebut-nyebut pula nama Liem Bian Koen,
sebagai contoh yang dulu modalnya hanya baju (jaket) kuning tetapi sudah
mempunyai pabrik. Kepada Liem Bian Koen, Pak Harto meminta supaya ingat
bangsanya yang masih menderita.
Pak Harto selalu mengingatkan demikian, sesuai dengan Pancasila,
khususnya sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab. Jadi harus
adil. Tapi sekarang Pancasila sudah tidak ada lagi, yang dipakai hak
asasi manusia. Hak tiap-tiap orang harus diakui dan dibela berdasarkan
hukum.
Jadi berdasarkan hak orang tidak perlu lagi memikirkan orang lain. Untuk
kepentingan pribadi saja semuanya. Justru inilah sekarang pada era
reformasi ini yang terjadi. Akhirnya menimbulkan kesenjangan, jurang
pemisah antara si kaya dan si miskin semakin melebar. Dulu saya berani
bicara mengenai sila kedua kemanusiaan yang adil dan beradab. Kalau
sekarang tidak berani lagi karena yang diutamakan adalah hak asasi
manusia, tanpa kemanusiaan yang adil dan beradab. Hak tidak disertai
dengan kewajiban dan tanggungjawab.
Tampaknya Indonesia mau meniru Amerika dimana demokrasi dan hak asasi
manusia dihargai setinggi-tingginya dan sudah merupakan harga mutlak
yang tidak boleh ditawar-tawar.
Tapi jangan lupa, di Amerika hak sudah diikuti dengan kewajiban dan
tanggungjawab. Setiap warga negara tahu kewajiban dan tanggungjawabnya
sampai di mana. Di Indonesia belum tahu apa kewajiban dan tanggungjawab
maka akhirnya morat-marit. Jadi, yang terjadi nanti ada jurang pemisah
antara yang kaya dan miskin.
MTI: Belakangan Pak Harto sering dicitrakan dengan kabar-kabar buruk
dan negatif, oleh orang-orang yang tidak paham mengenai bagaimana
pikiran, semangat dan tindakan Pak Harto mengentaskan kemiskinan.
Padahal beliau sudah dianugerahi gelar Bapak Pembangunan Nasional. Apa
sesungguhnya yang melatari pemberian gelar tersebut?
PROBO: Mengenai latar belakang sampai-sampai Pak Harto dikatakan Bapak
Pembangunan. Apakah betul dia ingin dikatakan Bapak Pembangunan? Bukan
dia tetapi orang lain dan pembantu-pembantunya, terutama Pak Ali
Murtopo, yang mengusulkan diberi gelar Bapak Pembangunan. Tetapi memang
kenyataannya setelah Pak Harto diangkat menjadi Presiden, pembangunan
itu tidak henti-hentinya.
Mula-mula semua proyek yang ditangani oleh Bung Karno yang tidak bisa
diselesaikan, diselesaikannya. Misalnya pembangunan Gedung DPR/MPR oleh
Pak Harto disempurnakan. Mesjid Istiqlal diselesaikan. Di Cilegon proyek
bantuan dari Rusia oleh Pak Harto diselesaikan.
Sesudah itu Pak Harto membikin jalan tol Jagorawi. Semua orang banyak
yang tidak setuju. Bayangin saja kalau tidak ada Jagorawi, sekarang ini
mobil-mobil itu mau lewat mana coba. Belum lagi pembangunan
proyek-proyek waduk air di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan
lain-lain.
Karena pembangunan begitu banyak mengundang investor-investor sampai
banyak sekali yang investasi ke Indonesia, maka pembangunan kelihatan
begitu nyata sehingga Pak Ali Murtopo mengusulkan agar kepada Pak Harto
diberi gelar Bapak Pembangunan.
Kalau kita telusuri sampai sekarang terbukti presiden-presiden pengganti
Pak Harto tidak ada yang membuat pembangunan-pembangunan yang berarti.
Misalnya Habibie, apa yang dibangun, malah jamannya Pak Harto dia
dikasih proyek dan kekuasaan untuk bangun IPTN. Gus Dur apa yang
dibangun, tidak ada.
Megawati malah apa yang dibangun Pak Harto dijualnya, misalnya Indosat.
Padahal Indosat dibangun karena waktu itu Pak Harto sudah memikirkan
hubungan telekomunikasi sangat penting sekali. Bukan hanya untuk
antarpulau tetapi juga ke luar negeri. Indosat itu dengan susah payah
dibeli hingga didirikan Palapa.
Itulah makanya Pak Harto dinamakan Bapak Pembangunan. Jadi kenyataan
yang dibangun Pak Harto itu ada. Presiden yang sekarang boleh dikatakan
tidak ada yang dibangun. Yudhoyono sampai sekarang belum ada
pembangunan-pembangunan. Dulu jaman Pak Harto hutang memang ada tapi
betul-betul digunakan untuk pembangunan.
Setelah Bung Karno sudah tidak lagi menjadi Presiden dan Pak Harto
diangkat sebagai Pejabat, mulailah Pak Harto memegang pemerintahan. Pak
Harto waktu itu langsung mengusulkan supaya empat atau lima tahun
kemudian diadakan Pemilihan Umum.
Betullah diadakan Pemilihan Umum tahun 1971 dan Pak Harto terpilih
sebagai Presiden oleh MPR. Setelah menjadi Presiden teruslah Pak Harto
memikirkan bagaimana nasib rakyat Indonesia. Terutama niatnya itu untuk
mengentaskan kemiskinan. Usaha mengentaskan kemiskinan bukan hanya
ucapan tapi sungguh-sungguh sehingga segala tindakannya diwujudkan.
Ambil contohnya pada tahun 1973/1974, pemerintahan Pak Harto langsung
mengembangkan tanaman padi unggul yang sangat tinggi produksinya,
dinamakan PB-5. Ini asalnya dari Filipina yang di sana namanya IR.
Suatu ketika saya datang ke Cendana makan bersama-sama dengan Pak Harto
dan Bu Harto. Saya cerita mengenai harga beras yang naik.
“Masa, beras kan sudah dikendalikan. Sekarang produksi padi sudah
meningkat, masa naik,” jawab Pak harto balik bertanya.
“Ya, barusan saya beli beras Cianjur, harganya naik,” saya bilang.
“Salahnya sendiri mengapa makan beras Cianjur, kan sudah dianjurkan
makan PB-5. Kamu harus berikan contoh makan PB-5,” kata Pak Harto.
Itulah gambaran konsistennya Pak Harto dalam usaha meningkatkan produksi
beras.
Kesederhanaannya juga begitu. Antara tahun 1975-1980, saya sudah tinggal
di Jalan Agus Salim Nomor 121. Kemudian saya membeli tanah di Jalan
Diponegoro, milik Pak Memet Tanumihardja yang minta tolong supaya
rumahnya dibeli karena sudah pensiun. Saya beli, kemudian saya bangun.
Waktu membangun, tidak tahu Pak Harto dapat laporan dari siapa sebab
saya tidak pernah cerita, saya ditegur.
“Kamu bikin rumah di Jalan Diponegoro begitu besar mau bikin apa. Rakyat
sedang menderita masih miskin kamu bikin rumah yang begitu besar
dikelilingi jalan. Kiri kanan jalan depan belakang juga jalan, siapa
yang nyuruh kamu? Kamu tidak memikirkan nasib rakyat miskin yang masih
menderita ini.” Saya dimarahi terus begitu.
Saya lalu jelaskan, “Rumah mana yang besar itu? Itu rumah cuma di Jalan
Diponegoro, tidak ada di kiri-kanan dan di depan-belakang jalan.” Dia
pun terdiam. Dia tidak menyebutkan siapa yang melaporkan tapi saya tahu
yang melapor adalah orang Setneg.
Itulah di antaranya, dia betul-betul memikirkan kemiskinan. Bagaimana
sangat memprihatinkannya kemiskinan buat Pak Harto. Pak Harto itu
bekerja setiap malam, belum ada presiden penggantinya yang seperti itu.
Setiap pulang dari Istana jam empat sore, sampai di rumah istirahat
sebentar, nanti jam tujuh sudah menerima tamu sampai jam 10 malam.
Tamunya bukan lain adalah menteri yang dipanggil satu persatu untuk
diajak diskusi bagaimana caranya membangun pertanian, membangun ekonomi
supaya maju. Itu saja terus-menerus. Sehingga kalau saya ketemu harus
setengah tujuh sudah ketemu, atau jam enam waktunya itu saja. Setelah
itu sudah tidak ada waktu lagi.
Setiap sore selalu ada laporan yang mapnya bertumpuk-tumpuk lalu paginya
sudah keluar lagi. Jadi memang kerjanya betul-betul ingin menyelesaikan
masalah.
Terus ada lagi satu peristiwa. Waktu itu saya beternak ayam ras. Impor
ayam boiler dari Amerika lalu dikembangkan di sini. Saya dirikan PT
Cipendawa untuk beternak ayam, kami bikin kandang ayam di Mega Mendung,
Puncak, Bogor, Jawa Barat tahun 1974. Kandang kalau malam ada lampu
supaya nanti paginya bisa bertelur, supaya sehat dan tidak dimasuki
binatang-binatang musang. Dan kalau tidak dikasih lampu ayamnya tidak
mau makan.
Itu rupanya ada yang lapor sama Pak Harto bahwa saya bikin rumah besar
sekali di Mega Mendung. Rumahnya terang sekali kelihatan ada lampu dari
pinggir jalan yang menuju ke Puncak di sebelah kiri. Saya ditegor juga
karena itu.
“Kamu bikin rumah begitu besar di Mega Mendung. Mau bikin apa itu,
istana ya?”, kata beliau. “Rumah yang mana? Mana ada rumah di Mega
Mendung, itu kandang ayam,” kata saya. Baru dia kaget.
“Kandang ayam kenapa kamu kasih lampu?” tanyanya lagi.
“Kalau tidak dikasih lampu nanti malamnya tidak mau makan dan paginya
tidak mau bertelur.” Baru diam dia. “Kasih tahu itu sama orang Setneg,”
saya bilang lagi. Haha…ha… orang Setneg lagi yang laporan.
Jadi itulah beliau, betul-betul memikirkan bagaimana caranya
mengentaskan kemiskinan. Dalam setiap kali rapat, menteri-menteri selalu
diingatkan tentang kesederhanaan. Beliau itu hidupnya sederhana sekali. ►mti/crs/ht/sh/sp,ms
***Majalah Tokoh Indonesia |