| TOKOH UTAMA MTI 24 |
|
|
 |
HM Soeharto
G-30-S/PKI dan Isu Dewan Jenderal
TOKOH UTAMA 02: Tatkala Bung Karno berkunjung ke Semarang, Mayjen
Soeharto men-jabat Panglima Kodam Diponegoro. Pak Harto mencurahkan isi
hatinya tentang PKI. Sembari berjalan ia katakan kepada Bung Karno bahwa
ia melihat semakin hari PKI semakin menonjol. Tanyanya: “Apakah itu
tidak berbahaya?” Seperti dalam nada marah, Bung Karno menjawab: “PKI
mesti dimasukkan ke dalam Pancasila. Dan itu urusan saya.”
Meski pendapatnya tidak diterima, Soeharto lega karena telah
menumpahkan sesuatu yang sejak lama sangat mengganjal
perasaannya. Mayjen Soeharto tidak lama memegang komando Kodam
Diponegoro. Orang-orang PKI menyebarkan isu bahwa ia melakukan korupsi.
Isu ini sampai ke telinga Bung Karno. Mayjen Soeharto ditarik dan
disekolahkan di Seskoad, Bandung. Selepas Seskoad, tanggal 1 Mei 1963,
Mayjen Soeharto diangkat menjadi Panglima Komando Mandala, Wakil
Panglima I Kolaga (1964), kemudian Pangkostrad dengan pangkat Letnan
Jenderal (1965).
Situasi politik di dalam negeri tambah tidak menentu. PKI menggusur
partai-partai politik lain dan ormas-ormas dengan menyatakan dirinya
yang paling revolusioner, sedangkan lawan-lawannya dicap sebagai “kontra
revolusi”. PKI terus mengipas Bung Karno. Dan orang-orang yang ada di
sekitar Presiden tidak ada yang berani menyampaikan pendapat yang
berlainan. Gambaran peta politik waktu itu sudah jelas: adanya
perselisihan yang tajam antara AD, golongan Islam dan nasional yang anti
komunis dengan PKI dan rekan-rekannya, di pihak lain.
Tanggal 16 September 1963, terbentuk negara Federasi Malaysia. Ini
menimbulkan kemarahan besar pada Bung Karno. Pemerintah Indonesia
memutuskan hubungan diplomatik dengan Malaya, 17 September 1963. Bung
Karno menilai pembentukan Malaysia melanggar kesepakatan antara dirinya
dan PM Tengku Abdul Rachman di Tokyo, Juni 1963. Malaysia dianggap
sebagai proyek neokolonialisme Inggris. Bung Karno menunjukkan
kekesalannya, dengan menyebutkan di depan umum, bahwa “Pemerintah
Indonesia telah dikentuti.”
Di New York, para diplomat Indonesia bekerja ekstra keras untuk
menggagalkan masuknya Malaysia ke dalam Dewan Keamanan PBB. Ada
ultimatum dari Jakarta, “Jika DK-PBB menerima Malaysia, Indonesia akan
meninggalkan PBB.” Ternyata Malaysia diterima. Tanggal 1 Januari 1965,
Menlu Subandrio dengan resmi menyatakan sikap Indonesia keluar dari PBB.
Bung Karno menyerukan Komando Pengganyangan Malaysia, dikenal dengan
Dwi-Komando-Rakyat, atau Dwikora, dalam apel besar Sukarelawan di
Jakarta, 3 Mei 1964. Dwikora menetapkan: perhebat ketahanan Revolusi
Indonesia dan bantu perjuangan revolusioner rakyat Serawak untuk
menggagalkan negara boneka Malaysia. Situasi terasa amat berbahaya.
Suasana konfrontasi dengan Malaysia makin panas.
Tanggal 2 September 1964, dibentuk Komando Siaga (KOGA), panglimanya
Laaksamana (U) Omar Dhani. Wakil panglima, Laksamana (L) Mulyadi dan
Brigjen. A. Wiranatakusumah. Kepala stafnya Komodor (U) Leo Watimena.
Tanggal 28 Februari 1965, Presiden Soekarno mengubah KOGA dengan Komando
Mandala Siaga (KOLAGA). Panglimanya tetap Omar Dhani, Letjen Soeharto,
Wakil Panglima I, Mulyadi Wakil Panglima II. Kepala stafnya tetap Laksda
Leo Watimena dan wakil Kepala Staf Brigjen. A. Satari.
Sementara itu PKI terus meningkatkan agitasinya. Di pelbagai tempat
terjadi keributan. Di Kediri, seorang Kiai dan Imam dipukuli oleh
orang-orang PKI. Di Bandar Betsy, Sumatera Utara, Peltu. Sudjono
dikeroyok secara beramai-ramai oleh orang-orang PKI sampai meninggal.
Bung Karno mendapat masukan agar Indonesia lebih siaga. Pelbagai
informasi di antaranya datang dari PKI yang sedang giat-giatnya
menjalankan taktik, rencana pembentukan Angkatan V yang ditolak Angkatan
Darat.
PKI menuntut Nasakomisasi di segala bidang. Menuntut buruh dan tani
dipersenjatai. Asal muasalnya, PM China Chou En Lai menyarankan PKI
untuk membentuk Angkatan V di luar Angkatan Darat, Laut, Udara, dan
Kepolisian. Untuk pembentukan Angkatan Kelima, Chou En Lai menjanjikan
100.000 pucuk senjata ringan secara cuma-cuma. Pimpinan AD dengan tegas
menolak tuntutan PKI. Juga pimpinan AU dan AK, kecuali AU, Omar Dhani.
Lalu PKI mengembuskan isu tentang “Dewan Jenderal” dengan disiarkannya
apa yang disebut “Dokumen Ginchrist”. Ginchrist adalah Duta Besar
Inggris yang waktu itu bertugas di Indonesia. Dan dokumen yang memakai
namanya itu dikatakan ditemukan di rumah Bill Palmer, di Puncak, sewaktu
rumah importir film-film Amerika itu, diobrak-abrik Pemuda Rakyat.
Pimpinan PKI DN Aidit yang mengembuskan isu “Dewan Jenderal”,
dibicarakan dengan Subandrio yang merangkap ketua BPI (Badan Pusat
Intelijen). Isu itu sampai ke telinga Presiden Soekarno. Bung Karno
kemudian menanyakan kepada Pangad Letjen. A. Yani: “Apa benar ada Dewan
Jenderal dalam Angkatan Darat, antara lain, untuk menilai kebijaksanaan
yang telah saya gariskan?” Jenderal Yani menjawab, “Tidak benar, Pak.
Yang ada ialah “Wanjakti” (Dewan Jabatan dan Kepangkatan Perwira
Tinggi). Dewan ini mengurus jabatan dan kepangkatan perwira-perwira
Tinggi Angkatan Darat.”
Lalu isu itu dikembangkan lagi oleh Aidit, dengan menyebutkan,”ada
jenderal-jenderal yang tidak loyal pada Pemimpin Besar Revolusi. Dewan
Jenderal akan mengadakan coup.” Isu itu berkembang sekitar Mei, Juni dan
Juli, mencapai puncaknya pada bulan Agustus dan September 1965.
Tanggal 4 Agustus 1965, Presiden Soekarno jatuh pingsan dan
muntah-muntah. Rupanya kejadian ini menimbulkan pikiran yang mendesak
pada Aidit yang baru kembali dari Moskow dan Peking untuk mengadakan
tindakan, yakni merebut kekuasaan. Tampaknya ia berpikir, lebih baik
mendahului daripada didahului oleh AD. Maka, pada dinihari 1 Oktober
1965, terjadilah malapetaka di negeri ini, manifestasi dari
pikiran-pikiran mereka yang jahat.
Dinihari itu terjadi penculikan dan pembunuhan tujuh jenderal AD. Pak
Harto mendengar siaran G-30-S/PKI melalui RRI. Selang seperempat jam
usai siaran, Pak Harto menerima Letkol Ali Murtopo dan Brigjen Sabirin
Mochtar. Mereka diperintahkan menghubungi Komandan Batalyon yang berada
di sekitar Monas, agar menghadap kepada Panglima Kostrad.
Letkol Ali Murtopo dan Brigjen Sabirin Mochtar kembali menghadap dan
bercerita, bahwa Danyon 454 dan 530 tidak ada di tempat, mereka sedang
ke Istana. Pak Harto tidak puas. Ia minta lagi keduanya agar menyuruh
Wadanyon 454 dan 530 menghadap. Selang setengah jam Wadanyon 454 Kapten
Kuntjoro dan Wadanyon 530 Kapten Suradi datang di kamar kerjanya. Pak
Harto bertanya: “Tugasmu di sini apa?” Hampir berbarengan mereka
menjawab, “mengamankan Presiden, karena akan ada kup dari Dewan
Jenderal.”
“Itu semua tidak betul,” jawab Pak Harto sambil menatap kedua kapten
itu. “Kamu tahu, Presiden Soekarno saat ini tidak ada di Istana. Coba
kamu cek sendiri ke Istana kalau tidak percaya. Lagi pula Dewan Jenderal
itu tidak ada, yang ada Wanjakti, saya sendiri anggotanya. Saya
mengetahui betul, gerakan Untung (Letkol) pasti didalangi oleh PKI.”
Setelah diam, Pak Harto melanjutkan ucapannya: “Ini merupakan
pemberontakan, jadi, saya memutuskan untuk menghadapinya.” Langkah
pertamanya, menyelamatkan dua batalyon yang dilibatkan dalam petualangan
Letkol Untung, pemimpin Dewan Revolusi Indonesia.
Tanggal 6 Oktober 1965, Presiden Soekarno memanggil kabinet untuk
bersidang di Istana Bogor. Pak Harto juga dipanggil untuk memberikan
laporan mengenai situasi. Hadir juga Lukman dan Nyoto dari PKI, Menlu
Subandrio dan dr. Leimena. Semestinya suasana murung karena baru kemarin
para Pahlawan Revolusi dimakamkan. Yang terjadi malah suasana gelak dan
tawa. Pak Harto mendapat kesempatan memberi laporan bahwa orang-orang
PKI pasti punya hubungan dengan penculikan dan pembunuhan tersebut.
Nyoto menyangkal tanggungjawab PKI terhadap kudeta yang gagal itu.
Malahan dia menuduh dilakukan oleh “Dewan Jenderal”. Presiden Soekarno
dalam kesempatan itu mengarahkan telunjuknya kepada Nyoto, dan berkata,
“Nyoto, kau tolol, mengobarkan peristiwa yang terkutuk itu. Peristiwa
ini menghancurkan nama komunis. Itu satu tindakan kekanak-kanakan.” ►mti/sh,
dari berbagai sumber, di antaranya Otobiografi Soeharto.
***Majalah Tokoh Indonesia |