| SOSIAL MTI 24 |
|
|
 |
Kegiatan Sosial
Pak Harto di Al-Zaytun
KEGIATAN SOSIAL 02: Kepedulian sosial dan pendidikan tampaknya tetap
bergelora dalam diri mantan Presiden Soeharto. Kendati kondisi
kesehatannya sudah sangat menurun, ternyata tidak menghalanginya untuk
mengunjungi dan bersilaturahmi dengan eksponen dan santriwan/ti Ma’had
Al-Zaytun (MAZ). Bahkan, pinisepuh Al-Zaytun itu, berkenan menginap
semalam di kampus itu.
Selain untuk bersilaturahmi, bapak pembangunan Indonesia itu,
didaulat meresmikan Gedung Perkuliahan Universitas Al-Zaytun Indonesia,
yang dinamai Gedung Perkuliahan Jenderal Besar HM Soeharto. Upacara
peresmian itu dihadiri 30-an ribu undangan, eksponen dan santri
Al-Zaytun, Selasa, 23 Agustus 2005.
Bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang ke-6, Pondok Pesantren
Peradaban Berskala Dunia itu dikunjungi seorang tokoh terbesar Indonesia
yang masih hidup saat ini.
Pak Harto datang sekitar pukul 16.30 Senin 22 Agustus 2005, dengan
helikopter didampingi dua putrinya Hajjah Siti Hardiyanti Rukmana (Mbak
Tutut) dan Hajjah Siti Hediati (Mbak Titik). Syaykh al-Ma’had Abdussalam
Panji Gumilang bersama isteri dan para eksponen MAZ menyambutnya di
helipad di kampus itu. Kemudian dengan kendaraan yang sudah disediakan
meluncur ke Wisma Al-Islah di kampus itu. Di loby wisma para dosen dan
ekponen Yayasan Pesantren Indonesia lainnya menyambutnya berbaris rapih
dan hormat.
Pak Harto, berpegangan dengan Syaykh Panji Gumilang, langsung naik lift
ke lantai lima, tempatnya menginap semalam. Suatu hal yang sangat jarang
dilakukannya, baik saat masih aktif sebagai presiden apalagi setelah
mengundurkan diri dan terserang stroke. Tapi di Al-Zaytun, tampaknya dia
seperti masuk ke rumah pribadi sendiri.
Bahkan apa saja makan yang disajikan, saat jamuan makan malam, sekitar
pukul 19.00 Wib, disantapnya tanpa terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan
oleh tim medis yang juga ikut menyertainya. Sambil menikmati menu makan
malam, sesekali Pak Harto bertepuk tangan memberi aplaus kepada musisi
Al-Zaytun yang mengalunkan lagu-lagu berirama keroncong dan Jawa.
Di sebuah meja bundar yang disetting sedemikan rupa di tengah ruangan
jamuan makan di Wisma Al-Islah itu, seringkali Pak Harto terlihat
tertawa dan manggut-manggut manakala mendengar obrolan Syaykh al-Ma’had
Panji Gumilang. Mbak Tutut yang ada di sebelahnya, kadang kala terlihat
memberi penjelasan atas sepatah dua kata Pak Harto yang diucapkan
terbata-bata. Tampaknya, Pak Harto sangat sulit berkata-kata. Walaupun
pembicaraan lawan bicaranya sangat dipahaminya.
Kemudian, Pak Harto memanggil Haryono Suyono, Mantan Menko Kesra dan
Taskin, merapat duduk di antara Syaykh dan Pak Harto. Tampaknya ada
sesuatu yang dibicarakan. Isi pembicaraan itu, diungkap Syaykh Panji
Gumilang, saat memberi sambutan pada acara peresmian Gedung Perkuliahan
Jenderal Besar Soeharto, esok harinya (23/8), bertepatan hari lahir Ibu
Tien Soeharto. Rupanya, Syaykh menyampaikan niat Yayasan Pesantren
Indonesia untuk membangun Rumah Sakit (hospital) di kampus itu, yang
akan diberi nama Rumah Sakit Ibu Tien Soeharto. Pak Harto menyetujui dan
menyambutnya dan menunjuk Haryono Suyono untuk mendukungnya.
Sangat Ceria
HM Soeharto, yang di masa mudanya dikenal sebagai jenderal lapangan
(field general), itu meski secara fisik nyaris rapuh termakan usia dan
penyakit yang menggerogoti tubuhnya tetap tampak bersemangat, berwibawa
dan sangat ceria saat mengikuti acara peresmian gedung perkuliahan itu.
Upacara itu berlangsung meriah. Mulai pukul 7.30 pagi, segenap aktivitas
pesantren yang berlokasi di Indramayu, Jawa Barat, itu telah berkumpul
di Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin, yang memiliki daya tampung 150.000
jamaah.
Spanduk besar berkain warna hijau dengan tulisan “Perasmian Gedung
Perkuliahan Jenderal Besar H.M. Soeharto Universitas Al-Zaytun oleh
Bapak Jenderal Besar H.M. Soeharto” terbentang di atas Mihrab Masjid
Rahmatan Lil ‘Alamin, Ma’had Al-Zaytun (MAZ).
Sekitar lima ribu orang santri MAZ memenuhi lantai dasar masjid terbesar
di dunia, yang pembangunannya menelan biaya sebesar kurang lebih 14 juta
dolar AS atau Rp 135 miliar itu. Sementara itu, di bagian luar masjid,
sebanyak dua ribu santri berseragam kepanduan berbaris memanjang dua
lajur saling berhadapan, dari gerbang luar sampai pintu masuk masjid. Di
hadapan mereka terbentang karpet merah yang berakhir di depan panggung
kecil, persis di depan mihrab.
Saat waktu menunjuk tepat pukul 9.30 pagi. Suasana khidmat. Yang
dinanti-nantikan datang. Iring-iringan kendaraan yang membawa Pak Harto
beserta rombongan memasuki halaman Masjid Rahmatan Lil ‘Alamain. Pak
Harto dengan perlahan-lahan sekali menuruni tangga bis milik MAZ yang
ditumpanginya. Bertopangan pada tongkat di tangan kanannya, dan tangan
kiri dipegang oleh Syaykh Ma’had AS Panji Gumilang, Pak Harto berjalan
dengan langkah tertatih-tatih memasuki masjid.
Senyum karismatis Pak Harto menebar ke seluruh hadirin yang menyesaki
ruang dalam masjid. Ribuan bendera merah-putih dilambai-lambaikan oleh
seluruh santriwan dan santriwati MAZ yang hampir dua jam menanti dengan
penuh sabar di dalam masjid yang memiliki luas 99 meter x 99 meter itu,
sebagai bentuk penyambutan atas kedatangan Jenderal Besar HM Soeharto.
Di barisan belakang, berjalan seiring mengikuti langkah perlahan Pak
Harto dan Syaykh MAZ, selain rombongan keluarga, tim medis, para
pengawal, dan para eksponen MAZ tampak antara lain dua putri beliau,
Hajjah Siti Hardiyanti Rukmana (akrab disapa Mbak Tutut) dan Hajjah Siti
Hediati (akrab disapa Mbak Titik), mantan Menko Kesra Taskin/mantan
Kepala BKKBN/Wakil Ketua Yayasan Damandiri Haryono Suyono, mantan
Menteri Koperasi Soebijakto Cakrawardoyo, Bendahara Yayasan Supersemar
Subagio.
Acara diawali pembacaan kitab suci Al Quran dan pembacaan sari
tilawahnya oleh dua santriwan/wati MAZ. Selanjutnya, Syaykh AS Panji
Gumilang tampil ke atas mimbar, menyampaikan pidato sambutan selaku
pimpinan MAZ.
“Anak-anakku pelajar putri dan pelajar putra yang saya dicintai, para
guru, dosen, karyawan yang disanjung tinggi, pada hari ini Ma‘had
Al-Zaytun dalam memasuki umur yang keenam tahun mendapatkan satu karunia
besar dari Tuhan Yang Mahaesa. Perintis, pelaku dan Bapak Pembangunan
Indonesia menghadiri, mengunjungi, dan bermalam di kampus Ma‘had
Al-Zaytun. Ini merupakan suatu pendorong yang sangat bermakna bagi
kader-kader bangsa Indonesia yang sedang belajar di Ma’had Al-Zaytun
ini,” ucap Syaykh AS Panji Gumilang mengawali sambutannya.
“Kepada Bapak kita, Bapak Haji Muhammad Soeharto, Jenderal Besar TNI,
kita sampaikan terima kasih sebesar-besarnya atas kepedulian terhadap
anak bangsa yang sedang membangun, yang sedang meneruskan cita-cita
pembangunan yang selama ini Bapak rintis. Doakan kami semua, sebagai
generasi penerus perjuangan bangsa ini mampu meneruskan apa yang menjadi
cita-cita dan visi Bapak selama meritis pembangunan Indonesia dari sejak
diamanatkan menjadi pemimpin bangsa ini sampai detik ini, dan sampai
kapan pun.”
Seusai pidato Syaykh MAZ, acara dilanjutkan pidato Pak Harto yang
dibacakan oleh putrinya Mbak Tutut. Sebelum menyampaikan pidato Pak
Harto, Mbak Tutut menyampaikan permohonan maaf Pak Harto yang tulus
karena tidak bisa berkomunikasi secara langsung, dan membacakan langsung
pidatonya.
Mbak Tutut juga mengisahkan sedikit latar belakang sejarah pembangunan
gedung perkuliahan tersebut. Pembangunan Gedung Perkuliahan Jenderal
Besar H.M. Soeharto Universitas Al-Zaytun diprakarsai Syaykh AS Panji
Gumilang, selaku pimpinan MAZ. Di satu kesempatan, Syaykh MAZ meminta
ijin langsung kepada Pak Harto agar nama beliau dapat dicantumkan
sebagai nama gedung tersebut, yang akan dibangun oleh MAZ, Pak Harto
memberi izin dan menunjuk Yayasan Purnabakti Pertiwi untuk membantu
proses pembangunan. Masih kata Mbak Tutut, Yayasan Purnabakti Pertiwi
didirikan oleh almarhumah Ibu Hajjah Siti Fatimah Hartinah (Ibu Tien
Soeharto), pada 23 Agustus 1983.
Yayasan yang bertujuan menyelenggara-kan kegiatan yang bersifat
pendidikan sosial maupun agama itu diketuai oleh Ibu Tien Soeharto
sampai akhir hayatnya.
Tanggal 23 Agustus kiranya punya makna khusus bagi MAZ. Alasannya,
tanggal dan bulan peresmian Gedung Perkuliahan Jenderal Besar H.M.
Soeharto Universitas Al-Zaytun (23 Agustus 2005) bertepatan dengan ulang
tahun Yayasan Purnabakti Pertiwi yang ke 32. Dan lebih kebetulan lagi,
menurut Mbak tutut, tanggal 23 Agustus adalah hari kelahiran almarhumah
Ibu Tien Soeharto.
Gedung Perkuliahan Jenderal Besar H.M. Soeharto memiliki luas 25.000 m2
dan berlantai delapan itu direncanakan akan dipergunakan sebagai ruang
kuliah dan laboratorium Fakultas Pertanian Terpadu, Fakultas Teknik,
Fakultas Kedokteran, Fakultas Teknologi Informasi, Fakultas Bahasa dan
Ilmu Pendidikan, ruang pimpinan perkantoran serta ruang serba guna.
Pak Harto berharap, seperti disampaikan oleh Mbak Tutut, dengan adanya
gedung itu akan bertambah lengkaplah sarana pendidikan MAZ sehingga
tidak hanya akan dihasilkan ahli-ahli agama tetapi juga akan dilahirkan
generasi penerus bangsa yang memiliki keahlian dalam berbagai disiplin
ilmu pengetahuan.
Dalam pidatonya, Pak Harto tak lupa menyampaikan petuah kepada generasi
muda MAZ khususnya dan Indonesia umumnya. Pak Harto melihat, dewasa ini
Indonesia menjadi tempat berkumpulnya berbagai macam cita dan nilai
serta berbagai macam paham ideologi.
“Bahkan Indonesia juga menjadi tempat perebutan kepentingan berbagai
kekuatan dunia. Akibatnya tidak sedikit kelompok dalam masyarakat kita
yang mulai ragu terhadap ajaran dan nilai-nilai yang selama ini kita
yakini,” tandas Pak Harto.
“Sebaliknya, mereka juga masih bimbang untuk mengambil nilai-nilai yang
baru. Keadaan yang demikian itu menyebabkan timbulnya kelompok
masyarakat yang tidak stabil.”
Kondisi tersebut, Pak Harto mencermati, jelas akan membawa pengaruh yang
tidak menguntungkan bagi perkembangan bangsa dan negara Indonesia yang
telah dibangun, yang telah dipertahankan kemerdekaannya, dan yang telah
dikembangkan sebagaimana wujudnya sekarang secara bersama-sama oleh
rakyat Indonesia.
Khusus kepada segenap civitas akademika Ma’had yang dalam keseharian
dinamikanya dihuni sekitar 12.691 orang itu, Pak Harto menitipkan pesan
yang sangat bermakna: “Ilmu pengetahuan dan agama tidaklah harus
bertentangan. Ilmu pengetahuan membawa kenyamanan hidup, agama membawa
kebahagiaan hidup. Tanpa ilmu pengetahuan dan teknologi kita akan selalu
hidup dalam keterbelakangan. Tanpa agama kita akan hidup dalam kecemasan
dan kekhawatiran. Saya sangat berharap siswa-siswi Ma’had Al-Zaytun di
bawah bimbingan para pimpinan dan guru yang profesional akan dapat
mewujudkan cita-cita pembangunan bangsa dan negara yang kita cintai
bersama ini.”
Sebagai tanda peresmian Gedung Perkuliahan Jenderal Besar HM Soeharto
Universitas Al-Zaytun, Pak Harto didaulat untuk membuka tabir prasasti.
Kemudian, acara dilanjutkan dengan mengunjungi dan membuka pintu Gedung
Perkuliahan Jenderal Besar H.M. Soeharto di Universitas Al-Zaytun,
sekitar 300 meter dari Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin. Pak Harto membuka
pintu gedung tersebut sebagai simbol dimulainya pemanfaatan gedung
tersebut.
Menurut Syaykh MAZ, keberadaan Universitas Al-Zaytun mendapat sambutan
besar dari masyarakat luas di seluruh Indonesia. Universitas Al-Zaytun
yang diresmikan Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo, 27 Agustus
2005, bertepatan HUT MAZ, itu memiliki enam fakultas (Fakultas Pertanian
Terpadu (S1) sebanyak 184 mahasiswa; Fakultas Pertanian Terpadu Diploma
261; Fakultas Teknik Terpadu (S1) 73 mahasiswa; Fakultas Teknik Terpadu
Diploma 44 mahasiswa; Fakultas Kedokteran (S1) 139 mahasiswa; Fakultas
Teknologi Informasi (S1) 117 mahasiswa; Fakultas Bahasa Terpadu (S1) 137
mahasiswa. ►mti/af, ms, mlp
***Majalah Tokoh Indonesia |