| SOSIAL MTI 24 |
|
|
 |
Kegiatan Sosial
Wawancara Pak Harto Tentang
Yayasan yang Didirikannya
KEGIATAN SOSIAL 01: Banyak orang yang salah memahami keberadaan
yayasan-yayasan yang didirikan oleh Pak Harto.
Yayasan yang telah memberikan kontribusi besar dalam
pemberian bantuan sosial itu malah dianggap sebagai
lembaga penghimpun kekayaan Pak Harto.
Sehubungan dengan pemahaman keliru itu, Pak Harto menegaskan bahwa
semua yayasan itu tidak ada yang menjadi miliknya, milik keluarga juga
tidak, milik pengurus juga tidak. Melainkan semuanya milik yayasan, yang
tujuannya sudah jelas, sosial.
Pak Harto mendirikan yayasan-yayasan itu karena terpanggil menyantuni
dan mengentaskan yatim piatu dari ketidakmampuannya. Anak-anak yang
tadinya tidak punya ayah, bisa disantuni. “Saya bahagia bisa menyantuni
sebagai pengganti daripada ayah mereka, mulai saya dari Panglima Kostrad
sampai menjadi Presiden,” ungkap Pak Harto, 48 hari setelah meletakkan
jabatannya sebagai Presiden RI, tepatnya hari Rabu 8 Juli 1998. Ketika
itu, HM Soeharto yang tadinya banyak berdiam diri bersedia diwawancarai
tujuh orang wartawan, di antaranya wartawan TokohIndonesia Ch Robin
Simanullang dan Dandy Hendrias, di rumah kediaman, Jalan Cendana 8,
Jakarta.
Pak Harto menjelaskan ide dasar mendirikan beberapa yayasan itu adalah
setelah melihat korban Trikora. Presiden RI Ke-2 ini mengaku sempat
terenyuh melihat janda dan anak-anak yatim yang kehilangan orangtua
selepas pembebasan Irian Barat. Orangtua dan suami mereka gugur di medan
tempur. Pak Harto merasa bertanggungjawab terhadap kelangsungan hidup
dan pendidikan anak-anak yang ditinggalkan.
Maka, Pak Harto bersama kawan-kawannya kemudian mendirikan Yayasan
Trikora untuk menyantuni mereka. Kemudian, terlihat pola tersebut pas,
yayasan-yayasan lain pun didirikan Pak Harto untuk membantu masyarakat
yang memerlukan bantuan.
Tapi belakangan setelah Pak Harto meletakkan jabatan, melihat banyaknya
yayasan sosial yang dipimpin Pak Harto, banyak orang bertanya dan
curiga. Jangan-jangan yayasan itu digunakan untuk menumpuk kekayaan. Pak
Harto malah dituduh korupsi, menyelewengkan dana yayasan yang didirikan
dan dipimpinnya itu.
Ketika itu, Kejaksaan Agung sedang giat-giatnya melakukan penelitian,
tentang dugaan korupsi Pak Harto di yayasan-yayasan yang didirikan dan
dipimpinnya itu. Lama Pak Harto berdiam diri soal tuduhan yang
dinilainya sangat tidak berdasar itu. Namun, setelah sekian lama, Pak
Harto merasa perlu memberi penjelasan, supaya obyektif, seimbang dan
positif. “Saya akan menyampaikan apa yang saya ketahui,” katanya.
“Apakah itu nanti dikatakan sebagai pembelaan atau tidak, saya hanya
mengungkapkan apa yang saya ketahui dan saya lakukan secara obyektif,
supaya rakyat mengetahui.”
Selama dua jam lebih, Pak Harto mengungkapkan banyak hal mengenai
yayasan-yayasan sosial yang diketuainya, seperti Yayasan Dharmais,
Yayasan Supersemar, Yayasan Amalbakti Muslim Pancasila (YAMP), Yayasan
Dana Karya Abadi (Dakab), Yayasan Purna Bakti Pertiwi. Juga
yayasan-yayasan yang didirikan oreh Ibu Tien Soeharto (Armarhumah),
yakni Yayasan Harapan Kita, Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan
(YDGRK) dan Yayasan Damandiri. Bahkan yayasan-yayasan lain seperti
Yayasan Ibu Tien Soeharto yang didirikan putra-putrinya dan Yayasan
Mangadeg.
Sepanjang wawancara, yang juga dihadiri Sekretaris Yayasan Dharmais,
Indra Kartasasmita, Pak Harto tampak dalam kondisi kesehatan yang cukup
prima, sering tertawa. Lembar demi lembar catatan tulisan tangannya
mengenai yayasan-yayasan yang dipersiapkannya, dibuka, sambil memberi
penjelasan. Inilah kesempatan pertama Pak Harto memberi penjelasan
langsung menyangkut yayasan-yayasan itu.
“Jadi ini sebenarnya cerita panjang,” katanya memulai. “Wong saya ingin
mendirikan yayasan itu, tidak pada saat menjadi presiden. Sebelum
menjadi presiden saya sudah tertarik untuk membantu mengembangkan
lembaga punya kegiatan sosial,” kata Pak Harto ketika mengungkapkan
latarbelakang pendirian yayasan yang dipimpinnya. Sambil mengajak
menengok ke belakang, Pak Harto menunjuk perjuangan pembebasan Irian
Barat sebagai pemicu pendirian yayasan-yayasan tersebut.
Pak Harto mengawalinya dengan berkisah soal perjuangan merebut kembali
Irian Barat itu. Pak Harto mencatat setelah perebutan Irian Barat ada
121 janda dan 325 anak yang menjadi yatim. Untuk menyantuni dan
membiayai pendidikan anak-anak tersebut diperlukan dana. “Untuk itulah
pada tahun 1963 saya bentuk Yayasan Trikora,” ujar Pak Harto.
“Korban-korban itu, prajurit-prajurit yang gugur, meninggal di medan
tugas. Walaupun gugurnya itu dalam tugas tapi perintahnya dari saya,
saya merasa bertanggung jawab. Saya menempatkan diri sebagai pengganti
ayah dan anak anak prajurit yang gugur itu,” katanya.
Yayasan Trikora dan Dwikora
Yayasan Trikora merupakan yayasan pertama yang didirikan oleh Pak Harto.
Yayasan ini didirikan, “karena saya terpanggil.” Sebab siapa yang akan
mengurus anak-anaknya itu. Ayahnya sudah gugur, lantas pada waktu itu
pensiunnya hanya berapa. Lantas pada waktu itu ada yang masih dalam
kandungan. Jadi ditinggal ayahnya itu masih dalam kandungan. Berarti
harus mulai dipikirkan dari lahir sampai dewasa. Berarti kira-kira
sekolahnya dari mulai taman kanak-kanak, SD, SMP, sampai SMA dan
perguruan tinggi. Kalau paling cerdas pendidikannya cepat. Tapi kalau
biasa 30 tahun. Jadi 30 tahun baru selesai mengurusi anak-anak yatim
piatu itu.
Setelah Trikora, lahir pula Dwikora pada masa konfrontasi dengan
Malaysia. Itu pun demikian. Pak Harto tidak duduk sebagai panglima, tapi
sebagai wakil. Dengan sendirinya juga bertanggung jawab. Ternyata
setelah dihimpun, ada 56 jandanya, ditambah 175 yatim piatu.
Jumlah seluruhnya Trikora sama Dwikora itu 500 anak yatim dan 177
jandanya. “Inilah dengan saya sendiri kemudian sebagai ayah dari
anak-anak itu, melalui yayasan memberikan bantuan beasiswa mulai dari
taman kanak-kanak, sampai perguruan tinggi,” jelas Pak Harto.
“Mereka itu perlu mengikuti pendidikan dan pelajaran. Jadi saya
mengumpulkan dana. Selanjutnya dalam bentuk dana abadi yayasan, bunganya
saja yang digunakan untuk membiayai kegiatan yayasan. Karena itu lantas,
walaupun pengurusnya tidak saya, yang penting kelangsungannya. Karena
bagiannya sedikit, pada waktu itu saya sarankan untuk tiga bulan sekali.
Nah tiga bulan itu digunakan sebagai modal untuk usaha. Dan bukan untuk
mencari keuntungan.
Semua berusaha untuk dompleng, semuanya usaha rantangan, usaha makanan.
Dari usaha catering mereka bisa mendompleng makan. Tiap tiga bulan
lantas diberikan lagi. Lantas ditaruh lagi, kemudian setelah tiga bulan
diberi lagi. Sehingga modalnya itu terus ada. Sehingga ini berjalan
dengan baik. Semua bisa merasakan, sampai kepada 500 orang dari pada
yatim piatu tersebut, bisa menyelesaikan studinya sesuai dengan
kemampuan, sampai ke perguruan tinggi.
Karena itu juga setelah 30 tahun ternyata banyak dari mereka yang
menjadi sarjana, dan juga menjadi perwira karena memang ada yang jadi
militer.
Setelah kita mengadakan peringatan, tahun 1998, dan dinyatakan ke 500
orang itu sudah menyelesaikan pendidikan dan menjadi orang. Artinya,
mereka bisa mempunyai bekal untuk hidup, melanjutkan perjuangan daripada
orang tuanya. Saya bergembira, karena tugas itu bisa dikembangkan
sendiri. Dan buat saya hanya mengajak kita bersama untuk bekerja
bergotong royong menghadapi persoalan,” ungkap Pak Harto.
Yayasan Seroja
“Tahun 1970-an kita mulai ada korban lagi dengan operasi Seroja di Timor
Timur. Di Timor Timur lantas banyak korban prajurit. Walaupun saya sudah
tidak bersangkutan langsung sebagai komandan, tetapi sebagai panglima
tertinggi saya ikut bertanggung jawab juga. Pengalaman Yayasan Trikora
dilanjutkan dengan mendirikan Yayasan Seroja untuk menyantuni
putra-putri atau yatim piatu dari pada Operasi Seroja itu. Tercatat
jandanya 870 dan yatim piatunya 2682.
“Sampai sekarang masih berjalan. Sekarang tahun 1998, kita catat dari
2682 itu masih 1478 yang masih perlu disantuni, dan ini saya perkirakan
setelah tahun 2005 akan selesai. Karena dimulai tahun 1976.
“Inilah pengalaman pertama mendiri-kan yayasan tadi. Jadi saya
terpanggil menyantuni, mengentaskan dari pada yatim piatu. Dan ini
merupakan kebanggaan tersendiri. Artinya, anak-anak yang tadinya tidak
punya ayah, saya bisa membantu menyantuni. Saya sebagai pengganti dari
pada ayah kalian.Dan mereka terasa bangga. Mempunyai ayah angkat, mulai
saya dari Panglima Kostrad sampai menjadi Presiden.”
Dengan sendirinya kalau mereka mengambil santunan itu, mereka mengambil
bantuan dari ayah mereka, dari Pak Harto. Di samping ada uang, mungkin
merasakan pemberian daripada ayah mereka.
“Saya merasa puas. Membantu mereka mengangkat kehidupan. Padahal orang
tuanya berjasa besar kepada negara,” kata Pak Harto. Ide itulah kemudian
yang menginspirasi Pak Harto beserta kawan-kawannya mendirikan
yayasan-yayasan lain, seperti Yayasan Supersemar, Yayasan Dharmais,
Yayasan Amalbakti Muslim Pancasila, serta yayasan lainnya.
Usaha menyejahterakan anak buah dan masyarakat sebetulnya sudah lama
dilakukan Pak Harto. Misalnya sewaktu masih menjadi Komandan Brigade di
Solo, Pak Harto telah mendirikan yayasan dan koperasi di kalangan
pasukannya dalam usana menambah kesejahteraan prajurit di luar
penghasilan yang diterima dari negara.
Koperasi yang didirikannya sewaktu menjadi Panglima Diponegoro kini
berkembang menjadi Koperasi Anggatan Darat yang kemudian dicontoh oleh
angkatan-angkatan lain.
Yayasan Trikora dan Yayasan Seroja saya lanjutkan di dalam pembangunan
kita, setelah saya dipercaya rakyat menjadi Presiden. Saya mengetahui,
pembangunan itu bertahap dan sesuai GBHN. Saya tentukan bahwa
pembangunan kita adalah pembangunan manusia yang seutuhnya dan
pembangunan masyarakat berdasar-kan trilogi pembangunan, yakni
stabilitas nasional, pertumbuhan dan pemerataan. Ketiga-tiganya tidak
bisa dipisahkan. Dengan adanya stabilitas nasional termasuk politik,
kita bisa membangun.
Saya menyadari, kemampuan negara dan pemerintah itu terbatas. Lalu
bagaimana? Dalam rangka membangun manusia seutuhnya, masyarakat
diikutsertakan dalam pembangunan, baik dalam rangka pemerataan
pembangunan maupun pemerataan dalam menikmati hasil pembangunan serta
ikut melaksanakan pembangunan. Jadi saya mengajak masyarakat yang sudah
menikmati hasil pembangunan itu, agar juga mengingat saudara-saudaranya.
Apalagi pembangunan kita adalah pengamalan Pancasila. Karena itu kita
ajak masyarakat.
Nah, sekarang mengenai pembangunan sesuai hubungannya dengan
kesejahteraan. Tidak hanya meningkatkan kesejahteraan, tapi juga
mencerdaskan kehidupan rakyat kita juga ikut serta dalam perdamaian
dunia, berdasarkan kemerdekaan dan perdamaian abadi yang berkeadilan
sosial. Tapi, mencerdaskan kehidupan bangsa, dituntut oleh masyarakat,
supaya usaha itu bisa dipusatkan 30 persen dalam bidang pendidikan. Nah
ini juga tidak mungkin. Karena itu, kita usahakan dana pendidikan. Upaya
mencerdaskan kehidupan bangsa itu harus didasarkan pada kemampuan
anggaran. Tidak hanya diserahkan kepada pemerintah tapi masyarakat dan
orangtua diikutsertakan.
Apalagi, tidak hanya mengenai tujuan dari perjuangan mencerdaskan
kehidupan bangsa, dalam pasal 31 UUD 1945 disebutkan, tiap-tiap warga
negara berhak mendapatkan pengajaran. Tapi harus dilihat, harus
dibuktikan, apakah kemampuan pemerintah cukup atau terbatas. Karena itu,
saya ajak masyarakat. Marilah, mereka yang sudah mampu ikut membantu
mereka yang belum mampu.
Di samping itu, kita membutuhkan kader-kader bangsa yang berkualitas.
Karena itu, kita harus menyiapkan kader-kader bangsa, sebab pembangunan
tidak hanya untuk meningkatkan kesejahteraan, tapi juga harus mampu
bersaing dengan negara dan bangsa lain. Kader-kader yang berkualitas
sangat diperlukan. Mereka tidak bisa hanya berasal dari keluarga yang
mampu, tapi hendaknya juga dari keluarga yang tidak mampu diberikan
kesempatan menjadi kader-kader bangsa. Tapi bagaimana, wong orangtuanya
juga tidak mampu?
Yayasan Supersemar
Pak Harto membentuk Yayasan Supersemar tahun 1974. Yayasan ini
memberikan beasiswa kepada anak-anak yang pandai, tetapi orangtuanya
tidak mampu. Rektor yang memilih penerima beasiswa itu, bukan Yayasan
Supersemar. Di antaranya ada anak pensiunan, anak pegawai negeri, bahkan
anak petani, pengusaha kecil dan sebagainya.
Alasan pendiriannya. Bagaimanapun, masyarakat itu harus diikutsertakan
dalam membangun bangsa. Kita harus mencari jalan untuk membiayai
kader-kader bangsa yang berbakat, namun orang tuanya tidak mampu. Untuk
itu kita bekerjasama dengan perguruan tinggi. Pihak perguruan tinggi
mencari mahasiswa berprestasi, namun orangtuanya tidak mampu, kita
berikan beasiswa.
Anak-anak yang sekolah kejuru-an, ketika lulus SMP menjadi siswa teladan
tapi tidak bisa melanjutkan pendidikannya. Mereka juga kita berikan
beasiswa dari Supersemar, asalkan melanjutkannya ke sekolah kejuruan.
Ini untuk mempersiapkan tenaga-tenaga menengah. Jadi yang kita berikan
adalah untuk mahasiswa yang pandai namun tidak mampu, juga untuk
anak-anak tamatan SMP yang teladan, yang orangtuanya tidak mampu tapi
mau masuk kejuruan.
Di samping itu, juga dikaitkan dengan program KB. Keluarga Berencana itu
tidak hanya berorientasi dua anak, tapi dua anak yang sejahtera. Karena
itu, anak peserta KB Lestari yang sudah 10 tahun dan 15 tahun kita
berikan beasiswa. Yang menyukseskan KB, kita berikan beasiswa. Tapi
untuk siswa yang di sekolah kejuruan saja. Dengan sendirinya, juga ikut
menyukseskan keluarga berencana.
Untuk itu, saya mencoba mengambil pengalaman dari Trikora tadi. Dana
abadi, diambil bunganya dijadikan santunan, kemudian kelebihan bunga itu
dimasukkan lagi ke tabungan.
Jadi menurut catatan, kalau saya tidak salah hitung, mulai tahun 1975
sampai tahun 1997, telah diberikan beasiswa kepada 233.463 mahasiswa.
Yang telah lulus 54.253 sarjana. Jadi Supersemar ini telah mencetak
sarjana sebanyak 54.000 lebih. Beasiswa sekolah menengah kejuruan untuk
536.670 siswa. Yang telah lulus diantaranya 154.750 siswa.
Beasiswa juga diberikan dalam rangka membangun mutu prestasi olahragawan
dalam pertandingan atau perlombaan nasional, Asean, Asia dan dunia. Juga
untuk mendorong olahragawan mempertahankan prestasinya yang mempunyai
medali emas. Dengan demikian, baik pelatih maupun olahragawan yang terus
mempertahankan prestasi tersebut, kita berikan beasiswa. Sudah ada 8.609
pelatih dan atlit yang mendapat beasiswa.
Di samping itu, juga ada program S-2 sebanyak 4.364 dan program S-3
sebanyak 737 serta bantuan untuk meningkatkan para dosen.
Anak asuh yang berkaitan dengan program KB ada 843.000, dihitung sampai
tahun 1997. Kita berikan pula bantuan kepada semua perguruan tinggi
untuk biaya administrasi mengurusi penerima beasiswa Supersemar
tersebut.
Untuk peningkatan kualitas perguruan tinggi, kita membantu pengadaan
laboratorium. Juga untuk pengadaan unit komputer. Sebanyak 27 perguruan
tinggi telah mendapatkan bantuan unit-unit komputer.
Para penerima beasiswa dan alumninyajuga membentuk organisasi. Namanya
Keluarga Mahasiswa dan Alumni Penerima Beasiswa Supersemar, KMA-PBS.
Sampai tahun 1994 telah tercatat anggotanya kurang lebih 796.489
mahasiswa dan alumni. Jadi merupakan suatu kekuatan sendiri.
Memang terus terang , kepada mereka tidak ada saya tekankan apa-apa.
Kecuali, supaya mereka menjadi kader Pancasila yang andal. Tidak ada
syarat, mereka harus membayar kembali, tidak ada. Ternyata, wawasannya
dalam rangka program IDT. Untuk memerangi kemiskinan, karena masih ada
sepertiga desa tertinggal. Bisa kita turunkan dari 60% menjadi 30%.
Sekarang sudah naik lagi jadi 40%.
Dari 60.000 desa masih ada 22.000 desa tertinggal. Desa desa tertinggal
itu diberikan dana revolving Rp 20 juta untuk masing-masing desa. Nah,
untuk ini perlu pendamping. Sebanyak 1.000 sarjana alumni penerima
beasiswa Supersemar dilatih, dan mereka tinggal di desa tertinggal
selama 3 tahun. Semua prestasi mereka luar biasa.
Dedikasinya baik, karena mereka merasa sudah menikmati bantuan.
Karena dia diharapkan menjadi kader Pancasila sehingga lantas ingin
berbakti kepada orang lain. Sebagai rasa syukur mereka dan tidak
terpakasa.
Sejak tahun 1975 hingga 31 Maret 1998, telah dikeluarkan biaya kurang
lebih Rp 422.668.467.640. Saldo per 31 Maret 1998 berupa deposito
Supersemar masih ada Rp 338.458.590.000. Berarti, bunganya masih cukup
untuk digunakan melanjutkan pemberian bantuan. Hanya dari depositonya.
Selain deposito, masih ada surat-surat berharga. Untuk apa? Usaha
mempertahankan dana abadi yang pada prinsipnya harus save. Dananya tidak
hanya didepositokan, tapi juga pada usaha-usaha yang tidak bertentangan
dengan UU. Antara lain adalah membeli saham-saham. Pada umumnya, kita
tidak mendirikan perusahaan, hanya membeli saham. Kecuali kalau ada
hubungannya dengan program pemerintah.
Mengenai soal dana Supersemar, saya bisa jelaskan. Yang Rp 338 milyar
itu, kalau bunganya 20% saja per tahun, ‘kan mencapai Rp 60 milyar.
Jumlah itu masih mampu untuk dilanjutkan bagi pemberian bantuan. Untuk
tahun ajaran 1998/1999, telah diputuskan, akan diberikan bantuan
beasiswa untuk 21.963 mahasiswa. Besar beasiswanya pun dinaikkan sesuai
dengan keadaan. Kalau dulu hanya Rp 45.000 untuk rayon A dan Rp
45.000.untuk Rayon B, kita naikkan menjadi Rp 60.000 tiap bulan untuk
seluruh rayon. Satu tahun, jumlahnya menjadi Rp. 720.000. Sama dengan
subsidi yang diberikan pemerintah, Rp 700.000 untuk masing masing
mahasiswa.
Untuk tahun yarg sama, jumlah anak asuh dan siswa kejuruan, 34.740
orang. Bantuan yang tadinya Rp 15.000 dinaikkan menjadi Rp 25.000,
sesuai dengan situasi dan kondisi sekarang. Sehingga tiap-tiap anak
setiap tahun menerima Rp 300.000. Untuk seluruh kepentingan itu,
Supersemar pada tahun 1998/1999 perlu menyediakan Rp. 30.453.000.000.
Saya hanya mengajak beberapa orang untuk ikut duduk mengurus itu. Jadi
yayasan itu merupakan badan hukum, tidak milik seseorang. Bukan milik
keluarga, bukan pula milik pengurus. Tidak. Jadi, semua yayasan itu,
berikut dana yang miliaran itu bukan milik saya, tetapi milik yayasan,
untuk mendukung semua program yayasan.
Yayasan Dharmais
Diperlukan upaya meningkatkan Kesejahteraan rakyat, terutama dalam
memerangi kemiskinan serta melaksanakan pasal 34 UUD 1945 yang
menyebutkan fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.
Saya sebagai Presiden, ‘kan waktu itu mengetahui kondisi negara.
Karena itu, dalam rangka meningkatkan pembangunan, melaksanakan trilogi,
masyarakat diikutsertakan mengatasi hal seperti itu. Apalagi,
pembangunan itu merupakan pengamalan Pancasila. Sesuai dengan trilogi
pembangunan, kita juga telah menghasilkan orang-orang yang sukses, yang
kemudian disebut konglomerat.
Negara mana pun mem-butuhkan pengusaha-peng-usaha besar, termasuk yang
disebut konglomerat itu. Tapi diisukan seolah-olah peme-rintah itu yang
membesarkan konglomerat. Sebetulnya konglomerat lahir karena pemerintah
menggugahnya. Produk yang dihasilkan per-usahaan itu untuk rakyat.
Sekarang, kepemilikannya diperluas dengan menjual sahamnya di bursa.
Dengan demikian, tidak ada lagi monopoli kepemilikan sa-ham konglomerasi
itu.
Tapi orang menilai seolah-olah saya itu keliru. Padahal itu merupakan
proses. Bukti-nya, konglomerat di sana habis, produksi tidak jalan.
Kebutuhan rakyat pun jadi tidak dapat dipenuhi.
Ini suatu bukti, bahwa saya yang disalahkan itu tidak seluruhnya salah.
Karena proses, lalu disalahkan seolah tidak ada keadilan. Keadilan itu
nantinya adalah dengan menjual saham di bursa itu. Dengan sendirinya
orang banyak yang memiliki.
Diajak Menyumbang
Untuk mengatasi ekonomi dan memerangi kemiskinan, terutama anak yatim
piatu, berdasarkan pengalaman tadi, saya ajak yang sukses itu. Mereka
yang sukses itu jangan hanya menikmati kesenangan hidup di dunia saja,
tapi coba memikirkan yang akhirat. Karena itu mereka saya ajak. Sebagian
dari penghasilan mereka disumbangkan kepada orang-orang miskin. Dalam
rangka PMA, bukan penanaman modal asing, tapi penanaman modal akhirat.
Untuk itu saya minta membantu dengan sebagian dari labanya. Dua persen
dari laba 100 juta rupiah ke atas supaya disumbangkan. Jumlahnya tidak
sedikit mereka dengan sukarela menyumbang.
Ada juga sumber lain, misalnya bank. Di anggaran dasar masing-masing
bank BUMN disebutkan, dalam keuntungan ada 5% dana sosial. Karena mereka
tidak mampu menyalurkannya, Menteri Keuangan menetapkan untuk disalurkan
lewat Dharmais.
Dengan demikian sumber dana Dharmais yang 5% dari keuntungan bank BUMN
itu —yang memang untuk sosial — bukan dengan memaksakan uang bank, tapi
memang karena sudah dicadangkan untuk sosial.
Sampai sekarang, dengan cara-cara yang demikian kita telah membantu
1.168 panti sosial di seluruh Indonesia dengan 51.433 penghuni. Karena
kita berprinsip tidak memonopoli pemberian bantuan, yakni hanya oleh
Dharmais yang membantu, maka tidak seluruh penghuni panti dibantu, hanya
75%. Tetapi terus-menerus, walaupun jumlahnya tidak banyak.
Bantuan itu dimulai dengan beberapa ribu rupiah. Terakhir jadi Rp
30.000. Dan kini kita genapi lagi menjadi Rp 45.000/bulan.
Selain itu, juga sudah ditingkatkan kesejahteraan penderita katarak.
Tidak hanya biaya operasi kataraknya, juga penginapan dan transport para
dokter. Untuk itu kita kerjasama dengan Perdami (Persatuan Dokter
Spesialis Mata). Tentunya dokter-dokter ini adalah anggota-anggota yang
sukarela, yang penuh pengorbanan.
Juga dibuatkan 5 unit mobil kesehatan yang dilengkapi dengan peralatan,
agar pasien di situ tidak kerepotan jauh-jauh ke rumah sakit. Hingga
tahun 1998 sudah dibantu 63.361 orang yang buta katarak menjadi melek
kembali.
Di samping itu, mulai tahun 1997-1998 dimulai pula ope-rasi bibir
sumbing, karena bibir sumbing banyak yang menim-bulkan masalah yang
kom-pleks. Tahun 1997-1998, pro-gramnya di Jabotabek dulu, bersama NTB
dan NTT. Ini sudah membantu 530 orang melalui operasi. Ada yang
dioperasi total, ada yang lokal. Umumnya, 75% diope-rasi totaI, jadi
biayanya lebih tinggi daripada lokal. Untuk tahun berikutnya akan kita
tingkatkan pelayanan terha-dap 1.000 pasien. Kerjasama kita dengan
Perhimpunan Dokter Ahli Bedah Plastik Indonesia (Perapi).
Yayasan Dharmais juga membantu orang cacat tubuh. Yakni lebih kurang
7.449 orang. termasuk tunanetra 3.365 orang dan juga cacat veteran.
Sebagian yang cacat veteran itu sudah punya rumah. Seluruh rumah yang
diminta 4.000 unit tapi yang telah kita selesaikan 2.810 unit ruman
sederhana. Pemda menyediakan tanahnya, Yayasan Dharmais menyiapkan
bangunannya. Kemudian diserahkan ke mereka ini.
Dharmais juga melatih transmigrasi yang hingga sekarang ada 24.092 KK,
jumlah jiwanya 86.110. Mereka yang mau transmigrasi kita latih di Bogor.
Magetan. Wates. Dilatih bersama anaknya dan keluarga selama tiga bulan.
Setelah dilatih lalu ditransmigrasikan dan umumnya mereka menjadi
teladan.
Da’i dan Imam
Ada juga kerjasama dengan Majielis Ulama Indonesia (MUI) untuk melatih
3.000 da’i dan 1.000 imam untuk daerah transmigrasi. Mereka di sana
diperlakukan sebagai transmigran. Tapi sebelum dia berhasil di sana,
karena menjadi da’i dan mengajar, diberikan dulu honor dengan kontrak
tiga tahun Rp100 ribu tiap bulan. Kita berikan juga satu sepeda untuk
bekal. Di samping sebagai alat transportasi dalam memberikan dakwahnya.
Seluruh bantuan Dharmais itu tiap tahun berjumlah kurang lebih 29.5
miliar rupiah.
Dharmais juga membangun Rumah Sakit Kanker Dharmais. Tanahnya milik
yayasan. Kemudian Dharmais mendirikan bangunannya berikut alat-alatnya.
Setelah selesai, diserahkan kepada Departemen Kesehatan. Jadi RS itu
bukan milik yayasan lagi.
Rumah sakit sendiri belum mampu melakukan seluruh kegiatan operasional
dengan biaya sendiri, bahkan harus dibantu dengan biaya tambahan. Untuk
itu, dibentuklah Dewan Penyantun, yang memberi bantuan agar RS bisa
berjalan. Nanti. kalau Departemen Kesehatan sudah mampu, ya silahkan
baik mengenai pemilikannya maupun pengelolaannya. Silahkan.
Yayasan Dharmais itu menyatukan depositonya, surat-surat berharga dan
saham menjadi dana abadi. Semua diaudit, diperiksa dan diteliti oleh
Kejaksaan Agung. Kalau yang deposito itu jelas, bunga deposito sudah
tahu. Dengan bunga deposito, program-program tahunan bisa dilaksanakan.
Dalam rapat 29 Juni 1999, rapat pengurus, rapat tahunan, sudah
diputuskan bantuan untuk penghuni panti dinaikkan dari Rp.30.000 menjadi
Rp.45.000 per orang/bulan. Yakni Rp.40.000 untuk makan dan Rp.5.000
untuk kesehatan.
Saat itu, pihak kejaksaan juga sedang memeriksa surat-surat berharga dan
segala sesuatu mengenai pendapatan dan pengeluaran tiap bulan dan
tahunan.
Yayasan Dakab
Mengenai Yayasan Dakab (Dana Karya Abadi), yang semula didirikan untuk
mendukung Keluarga Besar Golkar - bukan Golkar saja - dalam usaha
mempertahankan Pancasila dan UUD 1945, mengawal, melengkapi dan
membentengi diri dan perjuangan-perjuangan lainnya seperti Pemilihan
Umum dan sebagainya.
Yayasan Dakab itu sendiri bukan milik Golkar. Golkar hanya menerima dana
saja, menerima apa yang dibutuhkan. Dana paling besar diberikan Dakab
kepada Keluarga Besar Golkar. Tapi, tidak hanya kepada Golkar, melainkan
juga kepada yang lain. Walaupun sebagian besar bantuan itu diberikan
kepada Golkar dalam rangka mempertahankan Pancasila dan UUD 1945 tadi.
T: Termasuk Muhammadiyah?
J: Ya, sebagian. Sebagian pada waktu itu dibantu oleh Banpres dan
sebagian oleh Dakab, organisasi massa pemuda, Muhammadyiah, HMI dan
sebagainya dapat bantuan.
Jadi, ini bukan bantuan Dewan Pembina atau DPP Golkar, atau
pertanggungjawaban (Dakab) ke DPP Golkar: Tidak! Ini merupakan bantuan
dari pendiri untuk membantu Keluarga Besar Golkar dan sebagainya.
Rupanya, ada orang-orang dari Golkar yang menuntut, mana uangnya ini?
(Tertawa).
Disangkanya ini milik Golkar. Sampai rekening depositonya segala
ditanya berapa banyak (tertawa).
Saya jelaskan, Dakab mempunyai deposito dan surat-surat berharga,
mempunyai usaha, tidak mendirikan usaha sendiri. Seperti juga Dharmais
dan sebagainya. Jadi Dakab untuk pembangunan pengamalan Pancasila.
Kemudian Yayasan Dakab yang semula didirikan untuk membantu keluarga
besar Golkar, semenjak tahun 1998, diubah tujuannya untuk membantu
mengentaskan kemiskinan di beberapa propinsi yang dianggap rawan,
misalnya Jawa Timur, Jawa Tengah, NTT, dan sebagainya.
Melalui penempatan modal pada Bank Pembangunan Daerah (BPD) Yayasan ini
membantu kelompok keluarga miskin dengan modal usaha dengan bunga
rendah, sehingga keluarga miskin itu dapat makin mandiri dan akhirnya
bisa menyekolahkan anak-anaknya serta membantu membentuk sumber daya
manusia yang tangguh.
Yayasan AMP
YAMP itu didirikan dalam rangka membantu, pembangunan masjid. Marilah
kita memenuhi panggilan agama, untuk bersedekah dari penghasilan kita.
Walaupun penghasilan kita belum begitu banyak, tetapi lain dari mereka
yang belum mempunyai penghasilan, marilah kita sisihkan sedikit saja
untuk pembangunan masjid.
Masing-masing bersedekah. Itu saya ajukan, waktu itu disahkan oleh
Korpri maupun juga oleh ABRI. Anggota Korpri Golongan I bersedekah Rp
50, Golongan II Rp 100, Golongan III Rp 500 dan Golongan IV Rp 1.000.
Ternyata setelah terkumpul jumlahnya besar. Dari sekitar 4 juta PNS,
jumlahnya tidak sedikit. Dana itu kita gunakan untuk membangun sarana
peribadatan, masjid.
Sekarang ini, sudah ada 933 masjid yang dibangun dari sedekah itu.
Sedekah dari yang bukan Islam disalurkan melalui Yayasan Dharmais untuk
yatim-piatu. Dari dana YAMP itu sudah dibangun 933 masjid, diantaranya
870 sudah diresmikan, 63 sedang dalam pembangunan. Semuanya ada di 212
kabupaten dan di 52 kotamadya, di 26 propinsi.
Pemerintah Daerah atau organisasi silahkan menyediakan tanahnya, yang
membangun adalah yayasan. Kendati sudah membangun masjid, yayasan masih
mempunyai dana Rp 36 milyar. Jadi pembangunan masjid itu masih bisa
terus dilanjutkan.
Yayasan Harapan Kita
Ibu Tien memprakarsai pendirian Yayasan Harapan Kita, juga mengenai
kebudayaan, kesenian dan mengenai cinta tanah air, yakni dengan
membangun TMII dan Rumah Sakit Harapan Kita. Semuanya sudah diserahkan
kepada negara. Ibu berpandangan, pembangunan sumber daya manusia menuju
manusia yang berkualitas harus dimulai sejak anak berada di kandungan
sampai nanti sehat hingga dewasa. Maka dibangunlah Rumah Sakit Anak dan
Bersalin.
Di samping itu juga Rumah Sakit Jantung, karena penyakit jantung menjadi
penyebab kematian nomor dua. Kedua rumah sakit ini telah diserahkan
kepada pemerintah, seperti halnya TMII.
Di samping itu, Perpustakaan Nasional juta dibangun oleh yayasan dan
diserahkan kepada pemerintah. Jadi, tidak ada lagi yang menjadi milik
yayasan, apalagi menjadi milik keluarga. Namun, agar operasional
berjalan lancar dan investasinya tidak sedikit, maka yayasan membentuk
Dewan Penyantun di Rumah Sakit Harapan Kita, Rumah Sakit Kanker Dharmais
dan TMII. Ternyata, dewan-dewan penyantun masih harus menyantuni rumah
sakit. Santunan diberikan dengan harapan, kelak bisa mandiri dalam
pengelolaannya.
Karenanya, sekarang dilaksanakan ketentuan mengenai pemakaian dana rumah
sakit, yakni 65 persen untuk rumah sakit dan 35 persen untuk dewan
penyantun. Yang 35 persen untuk dewan penyantun itu dikembalikan lagi
berupa investasi dan juga untuk membantu rumah sakit-rumah sakit di
daerah yang melaksanakan operasi jantung, sepertl Medan, Padang,
Bandung, Semarang, Yogya, Surabaya, Bali, Ujung Pandang dan Manado.
Dana yang dikeluarkan oleh yayasan lebih besar daripada yang diterima.
Tetapi ada orang bilang, wah... perampok, mengambil 35 persen. Sudah
dijelaskan berulang-ulang, tapi orang-orang tidak mau mengerti. Bahkan
dijadikan isu politik.
Yayasan Damandiri
Pembangunan nasional yang berkesinambungan, dari satu tahapan Pelita ke
tahapan Pelita berikutnya telah berhasil menurunkan angka kemiskinan
dari 60 – 70 persen pada 1970-an menjadi 12-13 persen pada 1993-1994 dan
11 persen pada 1996. Namun pemerintah melihat pada tahun 1990-an,
penurunan angka kemiskinan itu makin melambat. Sehingga pemerintah
mengambil langkah-langkah konkrit dengan mengadakan pendekatan
pemberdayaan langsung kepada sasaran, yaitu keluarga atau penduduk
miskin. Salah satu adalah Program Inpres Desa Tertinggal dan terkenal
sebagai Program IDT.
Selain itu, keberhasilan Indonesia dalam menekan angka kelahiran ketika
itu memperoleh pujian internasional. Tanggung jawab berikutnya adalah
bagaimana membentuk keluarga kecil tadi menjadi Keluarga Sejahtera yang
dicita-citakan, menjadi keluarga sejahtera yang mandiri dan tangguh,
serta berperan sebagai sumber daya manusia yang berhasil guna dan
berdaya guna bagi pembangunan.
Sehubungan dengan itu, para pengusaha yang sangat menaruh perhatian
terhadap upaya pemberdayaan keluarga itu kemudian diajak berperan serta
dengan mendirikan Yayasan Dana Sejahtera Mandiri disingkat YDSM dan
populer dengan sebutan Yayasan Damandiri pada 15 Januari 1995. Akte
pendiriannya ditandatangani HM Soeharto, Prof.DR.Haryono Suyono,
Sudwikatmono dan Sudono Salim. Sementara Badan Pengurus, antara lain HM
Soeharto (Ketua), Prof. Dr. Haryono Suyono (Wakil Ketua I), Soedono
Salim (Wakil Ketua II), Sudwikatmono (Wakil Ketua III) dan Drs. Subiakto
Tjakrawerdaja (Sekretaris).
Dana awal Yayasan disumbang oleh para pendiri. Kemudian para pengusaha
dan mereka yang mempunyai keuntungan di atas Rp 100 juta per tahun
diajak untuk rela memberi sumbangan bagi usaha-usaha pengentasan
kemiskinan untuk keluarga-keluarga kurang mampu di luar desa tertinggal.
Dana sumbangan itu dikumpulkan oleh Yayasan Damandiri dan disimpan pada
PT BNI, kemudian disalurkan pada kelompok-kelompok Usaha Peningkatan
Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) dalam bentuk Kredit Usaha Keluarga
Sejahtera (KUKESRA). Pinjaman dan tabungan yang dilakukan
kelompok-kelompok UPPKS, dilayani oleh PT Pos Indonesia.
Visi yayasan ini adalah menggerakkan kepedulian dan kebersamaan
masyarakat untuk membantu pemerintah dalam penanggulangan dan
pengentasan kemiskinan di Indonesia. Jadi,Yayasan Dana Sejahtera Mandiri
menjadi wadah bagi masyarakat untuk bergotong royong dan bermitra usaha
guna mewujudkan tingkat kesejahteraan sejati dan taraf hidup mandiri
dari keluarga keluarga Prasejahtera, Sejahtera I atau keluarga kurang
mampu.
Sedangkan misinya antara lain turut berperan serta bersama pemerintah
dan masyarakat dalam membangun keluarga- keluarga Indonesia agar dapat
berperan sebagai subyek pembangunan yang handal.
Museum dan YDGRK
Yayasan ini didirikan untuk membangun museum souvenir yang berasal dari
luar negeri di areal TMII, Jakarta. Museum itu tidak menjadi milik
pribadi, tapi menjadi milik masyarakat, untuk dinikmati masyarakat.
Pengeluaran untuk ini ‘kan berat, tidak mungkin ditutupi oleh
pendapatan. Jadi dewan penyantun memberikan dukungan kepada mereka dalam
jumlah yang tidak sedikit.
Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan (YDGRK) membantu dalam kejadian
musibah-musibah banjir, kebakaran dan sebagainya, yang memerlukan
bantuan segera. Yayasan selalu mendahulukan agar bantuan segera dapat
diberikan sambil menunggu bantuan-bantuan lain.
Karena Ibu Tien sudah tidak ada, kepemimpinan YDGRK dilanjutkan oleh Ibu
Umar Wirahadikusumah, sementara saya diminta ikut. Dari Pelindung, saya
menjadi Ketua II (tertawa).
Yayasan Ibu Tien dan Mangadeg
Yayasan Ibu Tien Soeharto didirikan oleh anak-anak untuk menghormati
jasa-jasa Ibu. Anak-anak itu berpendirian untuk melakukan
kegiatan-kegiatan sosial. Antara lain bercita-cita untuk membangun
masjid di TMII. Sementara Yayasan Mangadeg dimaksudkan untuk membangun
dan memperbaiki makam-makam leluhur, seperti makam Pangeran Samber Nyowo
dan lain-lain. Ketua sehari-harinya adalah Sukamdani Sahid Gitosardjono.
Bukan Milik Saya
Semua yayasan itu, tidak ada yang milik saya, milik keluarga juga tidak,
milik pengurus juga tidak, melainkan semuanya milik yayasan, yang
tujuannya sudah jelas, sosial. Terhadap yayasan-yayasan yang saya
ketuai, atau saya jadi pelindungnya, silahkan dilakukan penelitian oleh
kejaksaan. Silahkan.
Seperti Rumah Sakit Harapan Kita, walaupun sudah diberi penjelasan oleh
Sdr.dr.Roesmono, tapi tidak mau mengerti. Padahal dr.Roesmono itu
sekaligus Sekretaris Dewan Penyantun RS itu, tapi memang ada saja yang
nggak mau mengerti.
T: Bagaimana mengenai Kebun Buah Mekarsari?
Kebun Buah Mekarsari di Cileungsi itu adalah milik perseroan yang
didirikan oleh yayasan-yayasan. Jadi, perseroan itu juga bukan milik
keluarga. Kebun itu dibangun untuk melestarikan semua sumber-sumber
hortikultura, buah-buahan yang menjadi kekayaan negen kita yang perlu
diperhatikan. Buah-buahan itu perlu untuk kebutuhan dalam negeri dan
ekspor.
T: Bagaimana mengenai Keppres terakhir yang tidak membolehkan
lagi yayasan-yayasan memperoleh sumber dana berdasarkan keputusan
pemerintah?
Ya, itu, terserah mereka. Sumber-sumber yang disangka memberatkan lalu
distop, ya silahkan. Tidak menjadi apa (tertawa).
T: Jadi tidak bisa bersedekah lagi?
Ya, itu! Kalau mau bersedekah mau lewat mana? Maksudnya, sebagian mereka
ingin bersedekah kemudian distop, bagaimana? Kembali ditanya kepada
masjid, bagaimana itu? Terserah.
T: Tidak terganggu Pak ?
Tidak akan terganggu, karena memang ada depositonya dan sumber-sumber
yang baru, sedekah dari masyarakat. Dana yayasan-yayasan itu bergulir.
Bila perlu, silahkan mengawasi dan mengarahkan penggunaannya, karena
maksudnya kan untuk sosial. Jadi tanggungan saya. Kalau pemerintah
sekarang belum ada anggarannya untuk itu, ya dibantu oleh masyarakat.
T: Jadi tidak ada keinginan untuk menghentikannya Pak?
Terus! Terus! Malah bantuan dinaikkan. Kecuali kalau kekayaan yayasan
itu dirampas.
T: Apa saja pengalaman Bapak dalam memimpm yayasan yang bergerak di
bidang sosial yang paling berkesan dan mungkin menyentuh secara pribadi?
Begini, ya, kalau menolong orang supaya dituliskan di atas pasir,
sehingga cepat hilang. Tapi kalau ditolong orang, tulislah di batu,
supaya jangan hilang. Jadi tulis di batu supaya merasakan telah ditolong
dan akan mendorong diri sendiri ingin membantu orang lain. Itu
falsafahnya.
Pak Harto mengakui untuk menambah penghasilannya, sewaktu menjadi
komandan di Solo, dia sempat beternak burung parkit untuk dijual. Dalam
menernakkan parkit itu, Pak Harto selalu melakukan inovasi. “Karena
jawawut mahal, makannya saya ganti beras merah, hasilnya cukup bagus,”
ungkapnya sambil senyum mengingat masa lalu itu.
Namun masalah keuangan (penjualan) Pak Harto tak pernah mengurusinya.
Masalah ini ditangani Ibu Tien bersama Hedijanto, yang kemudian menjadi
bendahara di yayasan Dharmais.
Ditambahkannya bahwa kehidupan keluarga prajurit waktu lalu itu susah.
“Ibu Almarhumah (Ibu Tien) malah sempat ngempit batik,” ujarnya
mengungkap-kan masa lalu penuh dengan kesulitan. ►mti/soehartocenter.com/ch
robin Simanullang
***Majalah Tokoh Indonesia |