| KISAH HIDUP MTI 24 |
|
|
 |
HM Soeharto
Tak Lupa pada Akarnya
KISAH HIDUP 03: Pak Harto selalu ingat pada desa kelahirannya. Jika
datang berkunjung, ia selalu menyempatkan diri berkumpul dengan
masyarakat desa dan teman-teman sepermainannya.
Sejauh mata memandang, sawah terbentang luas. Ditanami padi yang
mulai menguning keemasan, ditimpa matahari pagi. Angin sejuk menghembus
harum embun yang mulai hilang. Burung-burung kecil terbang di atas
pematang. Mencari ulat di antara belukar.
Musim panen akan segera tiba di Kemusuk, Bantul, Jawa Tengah. Desa
kelahiran Haji Muhammad Soeharto, mantan Presiden RI kedua. Setiap musim
panen, hasil pertaniannya yang didominasi tanaman padi selalu memuaskan.
Sistem irigasi yang teratur memberikan kesejahteraan bagi masyarakat
petani di desa itu.
Samsuri dari Tokoh Indonesia berkunjung ke desa itu beberapa hari
menjelang peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI ke-60. Rumah-rumah di
sepanjang jalan desa yang beraspal tampak sudah berhias. Pagar-pagarnya
dicat putih, bendera Merah Putih berkibar di setiap halaman rumah.
Begitu juga terlihat umbul-umbul warna-warni di setiap sudut.
Jalan yang beraspal rata itu ikut menunjang percepatan roda ekonomi
antar desa. Keluar masuknya arus barang dan jasa pun menjadi lebih
lancar dan mudah.
Menyusuri jalan itu, tampak para pelajar yang hendak berangkat ke
sekolah. Mereka begitu penuh semangat dan bercanda sesama teman. Tak
perlu heran jika animo penduduk Desa Kemusuk begitu tinggi terhadap
pendidikan. Di desa itu, tidak hanya ada SD, SMP dan SMA saja, melainkan
juga sebuah perguruan tinggi telah dibangun. Menurut Suharjo, seorang
penduduk setempat, Pak Harto dan Pak Probo yang sangat memperhatikan
pembangunan di desa asalnya.
Keponakan Pak Harto, Aryo Winoto, SPt, yang kini menjabat anggota DPRD
Kabupaten Bantul dari PKPB yang bergabung di Fraksi Kesatuan Baru,
dengan ramah bersedia mengobrol tentang Pak Harto dan Desa Kemusuk yang
dicintainya. Putra Noto Soewito, adik Pak Harto dan Pak Probo, itu
mengatakan dirinya dan keluarga besarnya selalu meneladani kebaikan Pak
Harto. Menurut politikus muda dari Kemusuk itu, Pak Harto selalu
mengajarkan kepada mereka, baik langsung maupun tersirat, dari hal yang
sederhana sampai yang luar biasa. Baik masalah politik, ekonomi, sosial,
visi yang melihat jauh ke depan, sikap yang selalu menjunjung tinggi
orang tua atau orang yang dituakan.
Menurut, Aryo, Pak Harto tidak pernah melupakan masyarakat desa
kelahirannya, apalagi teman-teman masa kecilnya. Setiap kali berkunjung,
ia akan mengundang teman-teman sepermainannya untuk mengobrol dan
bernostalgia.
Sikap Pak Harto yang tak pernah lupa pada akar dan asal-usulnya
seharusnya diteladani oleh para pejabat saat ini. Para pejabat sekarang
ini kebanyakan bersikap adigung adiguna. Mereka cenderung ingin
melupakan sejarah, sekalipun ada nilai keteladanan dan keberhasilannya.
Misalnya berkaitan dengan Pak Harto. Mereka tidak melihat sejarah
keberhasilan Pak Harto membangun negara ini, melainkan malah
mencari-cari kesalahannya. Bagi Aryo, hal Itu tidak adil dan sama saja
memanipulasi sejarah.
Mikul dhuwur mendem jero
Aryo kembali bercerita tentang Pakde-nya, Pak Harto. Sudah menjadi
tradisi bagi Pak Harto sekeluarga untuk berziarah ke makan keluarga di
Kemusuk setiap bulan Ruwah atau sebelum bulan Ramadhan. Di saat-saat
seperti itulah biasanya Pak Harto menyempatkan diri bertemu dengan
teman-teman masa kecilnya maupun teman-teman seperjuangan.
Hal yang sama dilakukan Pak Probo. Setiap bulan Ruwah, ia
membagi-bagikan rezeki kepada masyarakat desa Kemusuk dan sekitarnya.
Itu merupakan agenda tahunannya.
Baik Pak Harto maupun Pak Probo memang selalu memperhatikan warga desa
kelahirannya. Untuk kemajuan warga desa, Pak Probo telah membangun
sarana pendidikan dari mulai, SD, SMP, SMU sampai perguruan tinggi. Hal
itu dimaksudkan agar warga desa tidak harus mengikuti pendidikan keluar
desa. Namun selain warga Desa Kemusuk, masyarakat umum pun boleh
memanfaatkan sarana pendidikan itu.
Bagi keluarga besar Pak Harto, keteladanan merupakan hal penting. Mereka
sangat menjaga agar segala perbuatan yang dilakukan tidak merusak nama
baik keluarga. Dan segala konsekuensi perbuatan jangan membawa nama
keluarga, melainkan ditanggung sendiri. Sebagai orang Jawa, falsafah
kejawen menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan. Hal
itu telah diajarkan Pak Harto. Peribahasa mikul dhuwur mendem jero bukan
hanya sekedar kata-kata, tetapi telah dilakukan oleh Pak Harto.
Sebagai adik dari Pak Harto, Pak Probo juga meneladani hal itu. Ketika
Pak Harto masih menjabat Presiden, ia banyak menyampaikan kritik kepada
kakaknya itu. Meski sifatnya kritik membangun, tak urung menyebabkan Pak
Probo dimusuhin orang-orang sekitar Pak Harto.
Namun setelah Pak Harto lengser lalu banyak dihujat, Pak Probo dengan
setia membela Pak Harto. Saat ini, siapa lagi yang berani membela Pak
Harto secara terbuka kalau bukan Pak Probo. Sementara, orang-orang yang
dulu pernah diberi jabatan dan kedudukan serta dinaikkan derajatnya oleh
Pak Harto memilih diam, karena takut jabatannya dicopot.
Saat ini, Pak Probo tengah membuat monumen di rumah tempat Pak Harto
dilahirkan, satu kilometer ke bagian utara dari rumah adiknya, Noto
Soewito.
Bangunan lama tengah dipugar. Namun, nantinya akan dibangun kembali
dengan model bangunan dan ornamen semirip aslinya. Maksud pembangunan
itu adalah sebagai monumen peringatan bagi generasi selanjutnya akan
sejarah pemimpinnya dan tempat kelahirannya.
Perbincangan beralih ke masa-masa Pak Harto ramai dihujat. Suatu kali
ada yang menyebarkan fitnah bahwa Pak Harto menyimpan harta di Desa
Kemusuk. Aryo dengan tegas membantah hal itu. Menurutnya, itu tidak
benar dan fitnah. Keluarga besar Pak Harto tidak pernah menutup-nutupi
sesuatu. Siapa pun boleh datang dan berkunjung ke rumah itu. Setiap hari
selalu ada tamu dengan jumlah yang bervariasi dengan kepentingan yang
berbeda-beda. Mereka selalu diterima dengan baik. Hal itu menunjukkan
bahwa keluarga besar Pak Harto sangat terbuka.
Aryo menganggap tuduhan itu keji dan tidak sesuai dengan kenyataan.
Warga Desa Kemusuk sendiri tidak pernah mempedulikan isu-isu semacam
itu. Keluarga besar Pak Harto pun tetap rukun dan harmonis dengan warga
sekitarnya. Masjid Bashirotul Muslimat yang didirikan satu area dengan
rumah Pak Noto tidak pernah lengang dari kegiatan ibadah, baik sholat
maupun pengajian yang diselenggarakan warga.
Prihatin nasib bangsa
Menurut sang keponakan, Pak Harto yang dikenal sebagai Bapak Pembangunan
sangat sedih melihat kenyataan di era reformasi ini. Ia melihat
masyarakat Indonesia yang kesusahan ekonomi, belum lagi berbagai
penyakit yang melanda seperti busung lapar, flu burung dan jenis
penyakit lainnya yang melanda bangsa ini. Pak Harto juga prihatin dengan
banyaknya kasus bunuh diri akibat himpitan ekonomi. Padahal, di era Pak
Harto tidak terdengar ada hal-hal yang sangat menyedihkan itu, karena
lajunya pembangunan, baik fisik maupun mental spiritual.
Di era Pak Harto, masyarakat merasakan hasil-hasil pembangunan secara
nyata, meski belum maksimal. Sekarang hasil pembangunan hampir dikatakan
belum tampak, apalagi dirasakan masyarakat secara keseluruhan.
Bila kita mau jujur, pembangunan jangka panjang yang dipelopori Pak
Harto melalui tahapan Pelita itu sudah bagus dan tinggal diteruskan.
Tetapi demi gengsi dan politis, hampir semua pemikiran Pak Harto dalam
pembangunan untuk kesejahteraan rakyat Indonesia banyak diubah.
Budaya politik bangsa ini sudah pada tahap memprihatinkan. Seperti yang
terjadi di beberapa daerah dalam rangka pemilihan kepala daerah
(Pilkada). Dimana yang kalah belum siap untuk kalah, sehingga yang kalah
mencari banyak cara untuk menjatuhkan yang menang, termasuk melakukan
tindakan yang tidak terpuji, dari pembakaran, kekerasan fisik serta
menjelek-jelekan yang menang.
Sebenarnya keteladanan dan jiwa besar Pak Harto bisa jadi panutan.
Menurut Aryo, sejauh ini ia belum pernah mendengar atau membaca ada
komentar Pak Harto yang menjelelek-jelekan Orde Lama atau Bung Karno.
Memang Pak Harto mengambil sikap politik yang berbeda dengan Bung Karno.
Tetapi perbedaan itu wajar, dan disikapi dengan cara mikul dhuwur mendem
jero.
Sekarang Pak Harto sudah sepuh dan tidak bisa berbuat banyak seperti
yang diinginkan oleh rakyat yang masih mengharapkan pemikiran beliau.
Aryo menekan, perlu dicatat bahwa setelah Pak Harto lengser, ia tidak
pernah menjelek-jelekan orang lain. Sebaliknya banyak tuduhan yang
berupa fitnah ditujukan kepada Pak Harto yang semua itu tidak benar dan
tidak terbukti dan biarlah rakyat yang menilainya.
Bahkan Aryo pernah mendengar kisah anak buah Pak Harto, bahwa saat Pak
Harto memimpin salah satu batalyon, sebelum anak buah makan semua Pak
Harto belum mau makan. Itu menandakan rasa tanggung jawabnya sebagai
pimpinan. Sementara sekarang ini, banyak pimpinan makan kenyang duluan,
setelah itu baru anak buah.
Meski demikian, Aryo yakin, suatu saat masyarakat akan menyadari
landasan ekonomi yang dibuat di era Pak Harto ternyata berguna, termasuk
para pejabat maupun mantan pejabat yang takut dicap “soehartoisme.”
Waktulah yang kelak akan menentukan. ►mti/ri-rh
***Majalah Tokoh Indonesia |