| KISAH HIDUP MTI 24 |
|
|
 |
HM Soeharto
Serangan Umum 1 Maret 1949
KISAH HIDUP 02: Pengalaman Pak Harto sebagai militer dimulai ketika
diterima menjadi tentara Kerajaan Belanda (KNIL). Dari sini, ia terlibat
di dalam berbagai perjuangan bersenjata, baik sebelum maupun sesudah
kemerdekaan. Pak Harto memimpin Serangan Umum 1 Maret 1949 ke kota
Yogyakarta yang diduduki tentara Belanda, untuk memperlihatkan kepada
dunia bahwa Indonesia merdeka masih eksis. Dia seorang jenderal lapangan
(field general).
Belanda melancarkan agresi militer kedua, 19 Desember 1948 setelah
melakukan agresi pertama 27 Juli 1947. Pasukan NICA menduduki Yogya,
masuk lewat Maguwo. Mereka tak terbendung karena sebagian besar pasukan
TNI, termasuk Komando Wherkreise III pimpinan Letkol Soeharto, sudah
ditarik keluar kota. Yang ada di kota tinggal satu kompi Pengawal
Brigade dan Pengawal Presiden di bawah Komando Militer Kota (KMK)
pimpinan Kapten Latief Hendraningrat.
Para petinggi, termasuk Panglima Soedirman, dalam keadaan sakit,
mengungsi dan meneruskan perang gerilya. Presiden Soekarno dan Wakil
Presiden M. Hatta memutuskan tetap berada di tempat. Kemudian mereka
ditawan dan dikirim ke Prapat, Sumatera Utara, lantas dipindahkan ke
Bangka. Bung Karno memerintahkan Sjafruddin Prawiranegara memimpin
pemerintahan darurat dari Sumatra Barat.
Dalam kondisi pemerintahan yang terpuruk, Letkol Soeharto merancang dan
melancarkan serangan umum ke sejumlah markas dan pos pertahanan tentara
Belanda di dalam kota Yogya, tanggal 1 Maret 1949. Dihantam dalam
serangan dadakan, pasukan Belanda pimpinan Kolonel Van Langen,
kocar-kacir. Mereka hanya bisa bertahan, meminta bala bantuan ke
Magelang dan Semarang.
Dalam pertempuran enam jam, Ibukota Yogyakarta, dikuasai pasukan
gerilya. Para pejuang mengibarkan bendera Merah Putih di Jalan
Malioboro, di jantung kota Yogya dan di beberapa tempat lainnya.
Kemenangan ini disambut warga kota dengan sukacita. Mereka tak lupa
menyediakan makanan dan minuman seadanya.
Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang memegang pemerintahan sipil di
Yogyakarta, memberi dukungan penuh. Letkol Soeharto banyak memperoleh
informasi penting dari Sri Sultan. Juga memberi perlindungan bagi para
pejuang yang memasuki Kraton, baik ketika menyiapkan penyerangan maupun
ketika akan mengundurkan diri ke luar kota.
Belakangan setelah Pak Harto mengundurkan diri sebagai presiden,
muncul pernyataan bahwa pengambil inisyatif Serangan Umum 1 Maret 149
adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Sayang sekali Sri Sultan sudah
tiada saat pernyataan ini muncul. Namun, menurut Probosutedjo, yang kala
masa perjuangan itu tinggal serumah dengan Pak Harto, kalau pun misalnya
inisiatif itu dari siapa pun, tapi yang memimpin pertempuran,
mempertaruhkan nyawa adalah Pak Harto. Probo menyebut Pak Harto, seorang
militer lapangan, jenderal lapangan (field general). Tidak sekadar kaya
inisyatif dan wacana, tetapi lebih lagi bertindak sigap dan tegas di
lapangan tempur.
Dikenal sebagai serangan fajar, kemenangan pasukan Letkol Soeharto
memberi dukungan sangat berarti bagi perjuangan diplomasi pemerintah RI
di forum PBB. Juga membongkar kebohongan propaganda Belanda bahwa
perlawanan TNI telah dipatahkan. Letkol Soeharto berpikir keras untuk
membongkar kebohongan tersebut kepada masyarakat internasional.
Berita kemenangan tersebut lantas disiarkan ke luar negeri melalui radio
AURI di Playen, Wonosari. Siaran berita radio AURI ditangkap oleh PBB
dan masyarakat dunia. Mereka akhirnya mengetahui bahwa rakyat bersama
tentara terus berjuang untuk mempertahankan kemerdekaaan Indonesia.
Adalah India yang memprotes DK PBB menyatakan bahwa ternyata klaim
Belanda telah menguasai kembali sepenuhnya Indonesia tidak benar.
Walhasil, serangan umum itu memaksa Belanda mematuhi resolusi Dewan
Keamanan PBB, dan kembali ke meja perundingan. Resolusi yang dikeluarkan
28 Januari 1949 itu, antara lain, menghendaki dihentikannya segera
pertempuran (ceasefire), pemimpin-pemimpin republik yang ditawan Belanda
dibebaskan tanpa syarat, dan dikembalikannya kekuasaan RI di Yogyakarta. ►mti/sh,
dari berbagai sumber.
***Majalah Tokoh Indonesia |