| KISAH HIDUP MTI 24 |
|
|
 |
HM Soeharto
Satria Dari Desa Kemusuk
KISAH HIDUP 01: H.M. Soeharto (84 tahun) berakar dari desa. Selama 32
tahun berkuasa, Pak Harto tidak pernah melupakan akarnya sebagai anak
petani. Karenanya, ia selalu memperhatikan nasib dan kesejahteraan para
petani.
Pembentukan wataknya ditempa oleh keprihatinan hidup dan pendidikan
keluarga. Ia seorang negarawan dan nasionalis yang religius, memahami
dan menghayati ajaran agamanya dan filosofi hidup Jawa. Ojo kagetan, ojo
gumun, ojo dumeh. Jangan kagetan, jangan heran, jangan mentang-mentang,
merupakan pegangan hidupnya, sehingga tetap tegak menghadapi cobaan
seberat apa pun.
Suatu hari, Soeharto, bertelanjang dada, berlari sembari melompat,
lantaran gembira dipanggil mbah buyutnya yang tukang jahit untuk
mengepas baju baru. Soeharto kecil merasa riang sekali memakai baju itu.
Namun Notosudiro, kakek dari ibunya, meminta Soeharto untuk memanggil
Mas Darsono.
Soeharto kembali berlari, memanggil kakak sepupunya.
Darsono dalam sekejap sudah berdiri di depan Notosudiro, lantas
disuruh mencoba baju yang sedang dikenakan Soeharto. Soeharto kemudian
melepas baju itu, diserahkan ke Darsono. Ternyata pas. Baju itu memang
untuk Darsono. Soeharto pun merasa sedih sekali.
Saat itu Soeharto hanya mengenakan celana. Ia merasa mbahnya lebih
sayang pada putra kakak ibunya, anak orang berada. Kenangan getir masa
kecil ini dituturkan kembali oleh Pak Harto di dalam otobiografinya,
Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya. Saat buku itu terbit (tahun
1988), Pak Harto sudah 21 tahun menjabat Presiden Republik Indonesia.
Ibu Sukirah, sewaktu melahirkan bayi laki-laki di rumah suaminya yang
sederhana, di desa Kemusuk, Argomulyo, Godean, arah barat dari kota
Yogyakarta, ditolong oleh dukun bersalin mBah Kromodiryo, adik kakeknya,
mBah Kertoirono. Bayi yang lahir tanggal 8 Juni 1921 itu diberi nama
Soeharto oleh ayahnya, Kertosudiro.
Soeharto, anak ketiga Kertosudiro dari Sukirah, istri yang dinikahinya
setelah lama menduda. Dengan istri pertama, Kertosudiro, petugas
pengatur air desa (ulu-ulu), memperoleh dua orang anak. Ia bertani hanya
di sawah lungguh, tanah jabatan.
Agaknya perkawinan Kertosudiro dan Sukirah tidak bertahan lama. Mereka
cerai tidak lama setelah Soeharto lahir. Ibu Sukirah yang menjanda,
menikah lagi dengan Pramono, melahirkan tujuh orang anak, termasuk putra
kedua, Probosutedjo. Dan ayah Soeharto juga menikah lagi, memperoleh
empat anak dari istrinya yang ketiga.
Usianya belum genap empat puluh hari, tatkala bayi Soeharto dibawa ke
rumah mBah Kromo, lantaran ibunya sakit, tak bisa menyusui. Mbah
Kromolah yang mengajarnya berdiri dan berjalan. Bersama mBahnya, ia
sering pergi ke sawah.
Kadang-kadang, mBah Kromo menggendong Soeharto kecil di punggungnya
ketika mengerjakan sawah, atau ditumpangkan di atas garu. Kenangan yang
tak pernah dilupakannya, memberi komando pada kerbau tatkala membajak;
maju, belok kiri atau belok kanan. Ia juga suka bermain air, bermandi
lumpur atau mencari belut, ikan kegemarannya sampai usia tua.
Ketika usianya semakin besar, Soeharto tinggal bersama kakeknya, mBah
Atmosudiro, ayah dari ibunya. Di situ ia pernah menggembala kerbau.
Suatu hari ia disuruh kakeknya menuntun kerbau dari kandang ke sawah.
Dalam perjalanan, di pinggir sungai, kerbau itu terperosok, masuk parit.
Soeharto tidak tahu, jalan mana yang sebaiknya dilewati. Ia pikir,
kerbau itu bisa menemukan sendiri jalan untuk menyelamatkan diri, malah
turun ke sungai. Soeharto mengikutinya dari belakang.
Tahu-tahu sungai itu menyempit setelah melalui bagian yang dalam.
Akibatnya, kerbau itu, maju susah, mundur susah. Soeharto hanya bisa
menangis. Padahal pukul tujuh pagi, kerbau itu sudah harus ada di sawah.
Namun tak lama kemudian orang suruhan kakeknya menemukannya. Soeharto
pun lega, karena ia dan kerbaunya lolos dari perangkap.
Soeharto masuk sekolah tatkala berusia delapan tahun, tetapi sering
pindah. Semula disekolahkan di Sekolah Desa (SD) Puluhan, Godean. Lalu
pindah ke SD Pedes, lantaran ibunya dan suaminya, Pak Pramono pindah
rumah, ke Kemusuk Kidul. Namun, Pak Kertosudiro lantas memindahkannya ke
Wuryantoro. Soeharto dititipkan di rumah adik perempuannya yang menikah
dengan Prawirowihardjo, seorang mantri tani.
Bibi dan pamannya menerima Soeharto sebagai putra mereka yang paling
tua, diperlakukan sama dengan putra-putri mereka sendiri. Soeharto
disekolahkan. Ia menekuni semua pelajaran, lebih-lebih pelajaran
berhitung. Karena itu ia mendapat pujian dari gurunya. Selain itu ia
mendapat pendidikan agama yang cukup kuat, karena keluarga bibinya
terbilang taat beragama.
Empati Pada Petani
Kegemaran bertani bertambah selama Soeharto menetap di Wuryantoro. Di
bawah bimbingan pamannya yang mantri tani, Soeharto menjadi paham dan
menekuni pertanian. Di dalam situasi yang penuh kesulitan (tahun
1920-an), Soeharto acapkali berada di tengah-tengah para petani,
menanamkan benih-benih simpati kepada mereka.
Pamannya sering mengajaknya meninjau ke desa-desa. Dari pamannya, ia
tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis, melainkan juga praktik. Di
tiga kebun percontohan, di desa Ngungking, Kenongo, dan Tangkil, ia
diberi kesempatan untuk menggumuli sawah. Ia juga sering mengikuti acara
tanya jawab antara Pak Prawirowihardjo dan para petani. (Hal seperti ini
diterapkannya ketika menjadi Presiden RI dari 1967 sampai 1998).
Lepas sekolah, sore hari, Soeharto belajar mengaji di Langgar bersama
teman-temannya, seringkali sampai semalam suntuk. Ia juga aktif di
kepanduan Hizbul Wathan. Ia mulai mulai mengenal para pahlawan, seperti
Raden Ajeng Kartini dan Pangeran Diponegoro dari sebuah koran yang
sampai ke desa.
Pembantu Klerek
Setamat sekolah rendah empat tahun, Soeharto dimasukkan orang tuanya ke
sekolah lanjutan rendah (schakel school) di Wonogiri. Ia pun pindah ke
Selogiri, enam kilometer dari Wonogiri, tinggal di rumah kakak
perempuannya, istri seorang pegawai pertanian. Ia disunat pada usia 14
tahun, karena orang tuanya tidak mudah mengumpulkan biaya. Namun ia
merasa gembira, badannya cepat tumbuh besar, tinggi dan kekar.
Rumah tangga kakaknya retak, Soeharto terpaksa pindah rumah. Ia pindah
ke Wonogiri, tinggal di rumah Pak Hardjowijono, teman ayahnya, pensiunan
pegawai kereta api. Keluarga ini tidak punya anak, karenanya Soeharto
suka membantu untuk pekerjaan-pekerjaan rumah. Tetapi ia tak pernah
mengeluh.
Pak Hardjo, pengikut setia Kiai Darjatmo, mubalig terkenal di Wonogiri
waktu itu. Kiai itu pandai meramal dan mengobati orang sakit. Ia sering
bersama Pak Hardjo berkunjung ke Kiai Darjatmo, diizinkan mendengar
diskusi agama, terutama tentang isi Al-Quran.
Lama kelamaan, Soeharto sering bersama Kiai Darjatmo, membantu membuat
catatan (resep) obat-obatan tradisional. Nama obat-obatannya ganjil,
ramuannya aneh, berasal dari tanaman-tanaman langka, tetapi banyak
didapatkan di kampung. Ia juga menuliskan peringatan untuk mereka yang
datang berobat. Tugas-tugas ini kadang-kadang dikerjakan sampai larut
malam.
Namun di Wonogiri, ia tidak bisa melanjutkan sekolah karena tidak punya
sepatu dan celana pendek. Karena itu ia ingin kembali ke kampung
asalnya, Kemusuk, melanjutkan sekolah. Ia pun pindah ke Kemusuk.
Soeharto masuk sekolah Muhammadiyah di Yogya, karena di situ ia boleh
mengenakan sarung, tanpa sepatu. Dari rumah ke sekolah, dan sebaliknya,
ia mengayuh sepeda butut.
Setamat SMP Muhammadiyah, Soeharto sebenarnya ingin melanjutkan ke
sekolah yang lebih tinggi. Apa daya, ayah dan keluarganya yang lain
tidak mampu membiayai. Kondisi ekonomi mereka sangat lemah. Ia masih
mengingat pesan ayahnya waktu itu: “Nak, tak lebih dari ini yang dapat
kulakukan untuk melanjutkan sekolahmu. Kamu sebaiknya mencari pekerjaan.
Dan kalau sudah dapat, Insya Allah, kamu dapat melanjutkan pelajaranmu
dengan uangmu sendiri.”
Soeharto pun berusaha mencari kerja ke sana-kemari, tidak berhasil. Ia
memutuskan kembali ke rumah bibinya di Wuryantoro. Di sana ia diterima
sebagai pembantu klerek pada sebuah Bank Desa (Volks-bank). Tugasnya
mengikuti klerek bank berkeliling kampung dengan sepeda, mengenakan
pakaian Jawa lengkap, kain blangkon dan baju beskap. Mereka menampung
permohonan pinjaman para petani, pedagang kecil dan pemilik warung.
Karena kainnya sudah usang, tak patut lagi dipakai, ia meminjam kain
bibinya. Namun ia bernasib sial. Sewaktu turun dari sepedanya yang reot,
kainnya tersangkut per sadel, sobek. Meskipun tak bersalah, ia dicela
oleh klereknya. Bibinya juga memarahinya. Tak lama kemudian Soeharto
minta berhenti.
Setelah lama menganggur, suatu hari tahun 1942, Soeharto membaca
pengumuman penerimaan anggota KNIL—Tentara Kerajaan Belanda. Ia pun
mendaftarkan diri, lulus dan diterima, tetapi hanya sempat bertugas
tujuh hari dengan pangkat sersan. Soalnya terjadi perubahan, Belanda
menyerah kepada Jepang. Sersan Soeharto kemudian pulang ke desa Kemusuk.
Namun karir militernya dimulai dari sini.
Menemukan Jodoh
Suatu hari datang keluarga Pak Prawiro yang tinggal di Wuryantoro ke
daerah dekat tempat tugas Letkol Soeharto di Yogya. Ia pun menemui
mereka. Bibinya, Ibu Prawiro, bertanya soal masa depannya, karena sudah
berusia 26 tahun.
Mula-mula Soeharto tidak menganggap serius soal ini. Ia jelaskan
perjuangan belum selesai. Waktu itu Letkol Soeharto memimpin Resimen III
yang bermarkas di dekat Yogya. Ibu Prawiro tidak mau tahu, karena
menurutnya perkawinan tidak perlu terhalang oleh perjuangan. Membentuk
keluarga sangat penting.
“Tetapi siapa pasangan saya?” tanya Soeharto kepada mereka.
“Percayakan soal itu kepada kami,” kata Bu Prawiro. “Kamu masih ingat
kepada Siti Hartinah, teman sekelas adikmu, Sulardi, waktu di Wonogiri?”
tanya Ibu Prawiro. Soeharto mengangguk, mengiyakan. Ia ingat.
“Apa dia akan mau? Apa orang tuanya akan memberikan? Mereka orang
ningrat. Ayahnya, Wedana, pegawai Mangkunegaran.” Tanya Soeharto.
Bu Prawiro seperti tidak menganggap hal itu sebagai persoalan. “Saya
kenal dengan orang yang dekat dengan mereka,” kata Bu Prawiro. “Saya
akan minta dia menanyakan, apa mereka dapat menerima kedatanganku. Saya
tahu cara-caranya. Saya tahu adat kebiasaan di situ,” katanya.
Soeharto tidak mau mengecewakan bibinya. Hatinya tergugah. Temyata Pak
Soemoharyomo dan Ibu Hatmanti berkenan menerima mereka, setelah Ibu
Prawiro mengutus orang dekatnya. Kemudian dilangsungkan upacara nontoni,
pertemuan antara si pelamar dan yang dilamar.
Soeharto masih ragu-ragu, apakah Hartinah benar-benar suka padanya.
Ternyata upacara nontoni berjalan lancar, langsung merundingkan waktu
pernikahan. “Ini rupanya jodoh saya,” pikir Soeharto.
Perkawinan Letkol Soeharto dan Siti Hartinah dilangsungkan tanggal 26
Desember 1947 di Solo. Waktu itu usia Soeharto 26 tahun dan Hartinah 24
tahun. Mereka dikaruniai enam putra dan putri; Siti Hardiyanti Hastuti,
Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Herijadi, Hutomo
Mandala Putra dan Siti Hutami Endang Adiningsih.
Jenderal Besar H.M. Soeharto telah menapaki perjalanan panjang di dalam
karir militer dan politiknya. Di kemiliteran, Pak Harto memulainya dari
pangkat sersan tentara KNIL, kemudian komandan PETA, komandan resimen
dengan pangkat Mayor dan komandan batalyon berpangkat Letnan Kolonel.
Lama pangkatnya tertahan, sampai-sampai ia meminta izin Ibu Tien untuk
berhenti dari tentara dan menjadi sopir taksi saja. Namun Ibu Tien tidak
memberi izin. Lantas Pak Harto diangkat menjadi Kepala Staf, kemudian
Panglima Kodam Diponegoro, Jawa Tengah, dengan pangkat Mayor Jenderal.
Pak Harto, setelah menempuh pendidikan Seskoad di Bandung, ditunjuk
sebagai Panglima Komando Mandala, Wakil Panglima I Kolaga dan kemudian
Pangkostrad dengan pangkat Letnan Jenderal.
Tanggal 1 Oktober 1965, meletus G-30-S/PKI. Pak Harto mengambil alih
pimpinan Angkatan Darat. Selain dikukuhkan sebagai Pangad, Jenderal
Soeharto ditunjuk sebagai Pangkopkamtib oleh Presiden Soekarno. Bulan
Maret 1966, Jenderal Soeharto menerima Surat Perintah 11 Maret dari
Presiden Soekarno. Tugasnya, mengembalikan keamanan dan ketertiban serta
mengamankan ajaran-ajaran Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno.
Karena situasi politik yang memburuk setelah meletusnya G-30-S/PKI,
Sidang Istimewa MPRS, Maret 1967, menunjuk Pak Harto sebagai Pejabat
Presiden, dikukuhkan selaku Presiden RI Kedua, Maret 1968. Pak Harto
memerintah lebih dari tiga dasa warsa lewat enam kali Pemilu, sampai ia
mengundurkan diri, 21 Mei 1998.
Pak Harto ditinggalkan oleh Ibu Tien yang meninggal dunia tahun 1996.
Keseharian Pak Harto kini diisinya dengan beribadah, berzikir, beramal,
jalan-jalan di seputar halaman kediamannya di Jalan Cendana, dan
menonton acara-acara ringan, terutama wild life, di televisi.
Di dalam kesendiriannya, Pak Harto yang kini berusia 84 tahun, secara
fisik masih tampak sehat. Ia tidak mengidap penyakit yang terlalu berat,
kecuali serangan stroke yang membuatnya tidak bisa berkomunikasi secara
normal. ►mti/syahbuddin hamzah, disarikan dari otobiografi,
Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya dan berbagai sumber.
***Majalah Tokoh Indonesia |