| DEPTHNEWS MTI 24 |
|
|
 |
Pembangunan Era Reformasi
Pertarungan Politik Empat Presiden
Selepas pemerintahan Orde Baru, atau dalam tujuh tahun reformasi, di
bawah pimpinan empat presiden, praktis belum ada pembangunan yang
berarti. Para pemimpin dan elit
politik sangat sibuk dengan kepentingan politik masing-masing. Bahkan
pengendalian nilai tukar rupiah masih saja sangat lemah, sering terjadi
fluktuasi yang sangat tinggi. Terakhir RAPBN pun telah menjadi sebuah
wacana. Sehingga ada majalah menyebutnya sebagai impian kelas tinggi.
Pembangunan Era Reformasi
Megawati Andalkan Privatisasi
DPTHNEWS 13: MPR menunjuk Wapres Megawati
Soekarnoputri untuk meneruskan sisa masa jabatan Gus Dur sampai tahun
2004. Ketua Umum PDIP itu didampingi Ketua Umum PPP Hamzah Haz, sebagai
Wakil Presiden, memimpian Kabinet Gotong-Royong.
Pada era ini, pemerintah sangat mengandalkan privatisasi BUMN. Menjual
apa yang sudah dibangun sebelumnya, misalnya PT Indosat yang dibangun
Pak Harto, dan Hotel Indonesia yang dibangun oleh ayahnya, Bung Karno.
Saham-saham perusahaan yang diambil-alih pemerintah sebagai kompensasi
pengembalian kredit BLBI, juga dijual dengan sangat murah, hanya sekitar
20 persen dari total nilai BLBI.
Pada era ini, pembangunan fisik juga sangat kecil. Kendati kondisi
ekonomi mulai lebih baik yang ditandai antara lain dengan stabilnya
nilai tukar rupiah dalam kisaran Rp 9.000-an, pemerintahan ini belum
berkemampuan menggalakkan pembangunan. Salah satu pembangunan yang
dilaksanakan adalah jalan tol Cikampek-Bandung dan dimulainya
pembangunan Kilang Minyak Balongan dan Jembatan Suramadu
(Surabaya-Madura).
Dia seorang sosok perempuan pendiam. Karena terlalu diam, beberapa
pengamat dan lawan politiknya sempat menuding itu sebagai indikasi
kebodohan. Namun Megawati tetap diam dan sabar. Para lawan politiknya
menjadi semakin penasaran. Setelah menjabat presiden, ia pun tetap tak
banyak bicara. Tampaknya, ia tak mudah terombang-ambing. Puteri Bung
Karno ini pun semakin sulit ditebak.
Dia memang sudah terbiasa diam, sejak ayahandanya, Soekarno, diturunkan
dari jabatan Presiden pada SI-MPRS 1997. Namun, posisi diamnya memberi
ruang gerak bagi Megawati, dibandingkan saudara-saudaranya, untuk masuk
dalam kancah politik, masuk Senayan dan memimpin PDI Cabang Jakarta
Pusat (1987-1992).
Kendati kemudian, ketika dia terpilih menjadi Ketua Umum DPP PDI
(1993-1998), kubu Surjadi yang didukung pemerintah menolaknya dan
terjadilah peristiwa 27 Juli 1996. Peristiwa ini mengangkat pamor
Megawati, hingga pada Pemilu 1999, partainya, PDIP berhasil sebagai
pemenang. Namun pertarungan politik di MPR, membuat Gus Dur,
mengalahkannya dalam pemilihan Presiden RI pada Sidang Umum MPR 1999.
Lalu Gus Dur yang terkesan menganggap remeh Megawati, berpuncak pada
pemberhentian kader PDIP Laksamana Sukardi, dari jabatan Menteri BUMN.
Laksamana diberhentikan bersama Yusuf Kalla, kader Partai Golkar, tanpa
sepengetahuan Megawati dan tanpa alasan yang jelas.
Sejak saat itu, si pendiam Megawati secara nyata mengambil jarak
‘sahabat-saudara’ dan jarak politik dengan Gus Dur. Eskalasi politik pun
bergeser cepat 180 derajat. Partai-partai berbasis Islam (PPP, PAN, PBB,
PK dll), yang pada Sidang Umum MPR 1999 ‘sangat anti’ Megawati,
memanfaatkan jarak renggang Mega-Gus Dur, dengan membentuk ‘aliansi’
atau kesepahaman politik baru dengan PDI-P.
Sebab, partai-partai berbasis Islam itu sudah lebih dulu merasa
‘disepelekan’ Gus Dur. Hamzah Haz, Ketua Umum PPP, sudah lebih dulu
didepak dari kabinet. Kemudian menyusul Bambang Sudibyo (PAN) dan Yusril
Ihza Mahendra (PBB) dan Nurmahmudi Ismail (PK), masing-masing dipecat
dari jabatan Menkeu, Menkeh dan Menhutbun. Disusul lagi Bomer Pasaribu
dan Mahadi Sinambela dari Partai Golkar diberhentikan dari jabatan
Menaker dan Menteri Negara Pemuda dan Olahraga.
Maka ketika menggelinding kasus Bulogate, yang diduga melibatkan Gus Dur
dan lingkarannya, PDIP menjadi berseberangan dengan Gus Dur dan PKB-nya.
Terbentuklah Pansus Bulogate DPR-RI, yang berujung pada jatuhnya Gus Dur
pada Sidang Istimewa MPR, 23 Juli 2001. SI-MPR itu dipercepat sebagai
perlawanan atas Dekrit Presiden Gus Dur yang nekad membubarkan DPR/MPR.
SI-MPR itu secara aklamasi menobatkan Megawati menjabat Presiden RI
periode 2001-2004.
Kepatutan politik pun terwujud. Ketua umum partai pemenang Pemilu
menjadi Presiden. Terwujudlah amanat Kongres PDIP di Bali yang
menghendaki Megawati menjadi Presiden. Kekalahan tipis Megawati atas KH
Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada Sidang Umum 1999, yakni 313 banding
373, terbalas dengan kemenangan telak pada SI-MPR 2001.
Tampaknya PDIP tak mau terkecoh untuk kedua kali oleh kepiawian politik
Gus Dur. Megawati, tentu juga belajar dari kesalahan Gus Dur. Sehingga
PDIP mendukung Hamzah Haz (Ketua Umum PPP) sebagai Wakil Presiden.
Padahal Hamzah Haz adalah pemimpin salah satu partai yang tidak
menghendaki Megawati jadi presiden dan menjadi pesaing Megawati pada
pemilihan Wakil Presiden pada SU-MPR 1999, yang dimenangkan Megawati
dengan suara 396 banding 284.
Namun pertarungan politik di dalam tubuh Kabinet Gotong-Royong, secara
diam-diam tak kalah serunya. Menkopolkam Susilo Bambang Yudhoyono yang
berkolaborasi dengan Menkokesra Jusuf Kalla mengecoh Presiden Megawati.
Mereka diam-diam menyusun kekuatan sehingga mengalahkan Megawati yang
berpasangan dengan Hasyim Muzadi pada pemilihan presiden langsung 2004.
Megawati yang tampaknya baru belakangan merasa dikhianati, sampai saat
ini belum berkenan bertemu dengan SBY-JK. Hampir sama, ketika Gus Dur
tidak bersedia bertemu dengan Megawati. ►mti/crs
=============================================
Boks
Megawati Lahir Dalam Cahaya Temaram
Puteri proklamator ini dilahirkan di
Yogyakarta, 23 Januari 1947. Fatmawati
melahirkannya dalam suasana yang tidak nyaman. Ketika itu hujan turun
deras, atap rumah bocor, guntur menggelegar, kilat menyambar-nyambar dan
tanpa listrik. Mega lahir dalam suasana cahaya temaram lampu minyak
tanah.
Menurut kerabat, suasana kelahiran Megawati itu menjadi semacam pertanda
untuk perjalanan hidupnya kemudian. Memang, setelah Soekarno jatuh, Mega
dan keluarga mendapat cobaan dan tekanan politik yang cukup berat. Mega
dan saudara-saudaranya terasing dari dunia ramai. Mereka hidup dalam
kondisi yang tertekan. Sampai-sampai kuliah Megawati di Fakultas
Pertanian Universitas Padjadjaran (1965-1967) dan Fakultas Psikologi
Universitas Indonesia (1970-1972) tak bisa diselesaikannya.
Ditambah lagi cobaan hidup pribadi yang dialaminya. Suami pertamanya,
Lettu (Penerbang) Surindro Supjarso hilang dalam kecelakaan jatuhnya
pesawat Skyvan T-701 yang dipilotinya di Biak, Irian Jaya tahun 1970.
Padahal saat itu Megawati tengah mengandung anak kedua. Sampai kini
Surindro tidak pernah ditemukan.
Kemudian, tahun 1972 Mega menikah dengan Hassan Gamal Ahmad Hasan,
seorang diplomat Mesir yang sedang bertugas di Jakarta. Tetapi
perkawinan itu, kemudian dibatalkan karena Mega masih dianggap terikat
perkawinan yang sah dengan Surindro. Sebab, ketika itu belum ada
kepastian mengenai nasib suami pertamanya itu. Baru beberapa saat
kemudian, ada kepastian dari Angkatan Udara bahwa Surindro telah gugur
dalam musibah jatuhnya pesawat itu.
Tak lama setelah itu, Mega menikah dengan Taufik Kiemas, seorang aktivis
Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) asal Sumatera Selatan.
Pada masa kecilnya, Megawati banyak menikmati pengalaman indah. Maklum,
sebagai puteri presiden, Megawati menghabiskan masa kecilnya di
lingkungan Istana Merdeka. Dari kecil, dia sudah menampakkan sosok
lembut dan pendiam. Namun, dia senang menari. Bahkan kerap menari di
hadapan tamu-tamu ayahnya di istana. Selain itu, Adis — panggilan
Megawati oleh Bung Karno — suka dengan tanaman. Dia pun berkebun anggrek
di salah satu sudut istana.
Kendati lahir dari keluarga politisi jempolan, Mbak Mega — panggilan
akrab para pendukungnya — tidak terbilang piawai dalam dunia politik.
Bahkan, Megawati sempat dipandang sebelah mata oleh teman dan lawan
politiknya. Dia bahkan dianggap sebagai pendatang baru dalam kancah
politik, yakni baru pada tahun 1987. Saat itu Partai Demokrasi Indonesia
(PDI) menempatkannya sebagai salah seorang calon legislatif dari daerah
pemilihan Jawa Tengah, untuk mendongkrak suara. Mega berkenan dan tampak
enjoy. ►mti/crs
***Majalah Tokoh Indonesia |