| DEPTHNEWS MTI 24 |
|
|
 |
Pembangunan Era Reformasi
Pertarungan Politik Empat Presiden
Selepas pemerintahan Orde Baru, atau dalam tujuh tahun reformasi, di
bawah pimpinan empat presiden, praktis belum ada pembangunan yang
berarti. Para pemimpin dan elit
politik sangat sibuk dengan kepentingan politik masing-masing. Bahkan
pengendalian nilai tukar rupiah masih saja sangat lemah, sering terjadi
fluktuasi yang sangat tinggi. Terakhir RAPBN pun telah menjadi sebuah
wacana. Sehingga ada majalah menyebutnya sebagai impian kelas tinggi.
Pembangunan Era Reformasi
Gus Dur, Sempat Keliling Dunia
DPTHNEWS 12: Habibie diganti oleh KH Abdurrahman
Wahid, akrab dipanggil Gus Dur, yang mengalahkan Megawati Soekarnoputri
pada pemilihan presiden, Oktober 1999. Semasa pemerintahan Gus Dur
hampir tidak ada pembangunan fisik. Dia sangat sibuk keliling dunia
menggalang dukungan luar negeri.
Pernyataan Gus Dur yang kontroversial, dan kebijakannya sering mengganti
anggota kabinet, membuat pasar valas dan saham terkaget-kaget.
Akibatnya, situasi politik dan ekonomi menjadi sangat labil. Gus Dur
akhirnya dilengserkan oleh MPR di dalam sidang istimewa tahun 2001.
Belum satu bulan menjabat presiden, mantan Ketua Umum Nahdlatul Ulama
(1984-1999) ini sudah mencetuskan pendapat yang memerahkan kuping
sebagian besar anggota DPR. Di hadapan sidang lembaga legislatif, yang
anggotanya sekaligus sebagai anggota MPR, yang baru saja memilihnya itu,
Gus Dur menyebut para anggota legislatif itu seperti anak Taman
Kanak-Kanak.
Tak lama kemudian, ia pun menyatakan akan membuka hubungan dagang
dengan Israel, negara yang dibenci banyak orang di Indonesia. Pernyataan
ini mengundang reaksi keras dari beberapa komponen Islam.
Berselang beberapa waktu, ia pun memecat beberapa anggota Kabinet
Persatuan-nya, termasuk Hamzah Haz (Ketua Umum Partai Persatuan
Pembangun-an). Berbagai kebijakan dan pemecatan ini membuatnya semakin
nyata jauh dari kons-pirasi kepentingan politik yang memungkin-kannya
terpilih menjadi presiden.
Ketika itu, pada Sidang Umum MPR 1999, Poros Tengah yang gagal
menggolkan salah seorang tokohnya sendiri menjadi presiden (BJ Habibie,
Amien Rais, Hamzah Haz dan Yusril Ihza Mahendra), merangkul Gus Dur
untuk dapat mengalahkan Megawati Sukarnoputri.
Gus Dur, yang terkenal piawai dalam berpolitik, dengan cekatan menangkap
peluang ini. Sehingga Megawati yang partainya memenangkan Pemilu
akhirnya hanya mendapatkan kursi Wapres.
Namun seperti kata pepatah: Sepandai-pandai tupai melompat akhirnya
jatuh ke tanah jua. Di mata banyak orang, kepercayaan diri Gus Dur
tampak terlalu berlebihan. Ia sering kali melontarkan pendapat dan
mengambil kebijakan yang kontroversial.
Penglihatannya yang semakin buruk mungkin juga dimanfaatkan oleh para
pembisik di sekitarnya. Gus Dur pun sering kali mengganti anggota
kabinetnya dengan semaunya berpayung hak prerogatif. Tindakan
penggantian menteri ini berpuncak pada penggantian Laksamana Sukardi
(PDIP-pemenang Pemilu 1999) dari Jabatan Meneg BUMN dan Jusuf Kalla
(Golkar-pemenang kedua Pemilu 1999) dari jabatan Menperindag, tanpa
sepengetahuan Wapres Megawati dan Ketua DPR Akbar Tandjung.
Lalu terkuaklah kasus Buloggate dan Bruneigate. Gus Dur diduga terlibat.
Kasus ini membuahkan memorandum DPR. Setelah Memorandum II tak digubris
Gus Dur, akhirnya DPR meminta MPR agar menggelar Sidang Istimewa (SI)
untuk meminta pertanggungjawaban presiden.
Gus Dur melakukan perlawanan, tindakan DPR dan MPR itu dianggapnya
melanggar UUD. Ia menolak penyelenggaraan SI-MPR dan mengeluarkan dekrit
membubarkan DPR dan MPR. Tapi Dekrit Gus Dur ini tidak mendapat
dukungan. Hanya kekuatan PKB dan PDKB (Partai Demokrasi Kasih Bangsa)
yang memberi dukungan. Bahkan, karena dekrit itu, MPR mempercepat
penyelenggaraan SI pada 23 Juli 2001. Gus Dur, akhirnya kehilangan
jabatannya sebagai presiden keempat setelah ia menolak memberikan
pertanggungjawaban dalam SI MPR itu. Dan Wapres Megawati, diangkat
menjadi presiden 24 Juli 2001.
Setelah tidak lagi menjabat presiden, Gus Dur kembali ke kehidupannya
semula. Kendati sudah menjadi partisan, dalam kapasitasnya sebagai
deklarator dan Ketua Dewan Syuro PKB, ia berupaya kembali muncul sebagai
Bapak Bangsa. Seperti sosoknya sebelum menjabat presiden.
Sebelumnya, Gus Dur adalah Ketua Umum Nahdlatul Ulama (NU), organisasi
Islam terbesar di Indonesia dengan anggota sekitar 38 juta orang. Namun
ia bukanlah orang yang sektarian. Tak jarang ia menentang siapa saja
bahkan massa pendukungnya sendiri dalam menyatakan suatu kebenaran. Ia
seorang tokoh muslim yang berjiwa kebangsaan.
Gus Dur sering berbicara keras menentang politik keagamaan sektarian.
Pendiriannya sering menempatkannya pada posisi sulit, melawan pemimpin
Islam lainnya di Indonesia. Seperti saat didirikannya Ikatan Cendekiawan
Muslim Indonesia (ICMI), yang diketuai BJ Habibie, Gus Dur secara
terbuka menentang. Ia menyebut ICMI akan menimbulkan masalah bangsa di
kemudian hari, yang dalam tempo kurang dari sepuluh tahun ternyata
pernyataannya itu bisa dibuktikan benar atau tidak. Lalu, ia mendirikan
Forum Demokrasi sebagai penyeimbang ICMI.
Meski diakui ia besar antara lain karena NU, visi politiknya diyakini
rekan-rekan dekatnya sebagai melebihi kepentingan organisasi tersebut,
bahkan kadang melampaui kepentingan Indonesia. Hal ini tercermin dari
kesediaannya menerima kedudukan di Shimon Peres Peace Center dan saat
dia mengusulkan membuka hubungan dengan Israel. ►mti/crs
=============================================
Boks
Gus Dur, Keluarga Muslim Berpengaruh
Gus Dur dilahirkan 4 Agustus 1940 di
Denanyar, Jombang, Jawa Timur,
keluarga Muslim berpengaruh di Indonesia. Ayahnya, Wahid Hasyim, adalah
mantan Menteri Agama pada 1945. Kakeknya, Hasyim Ashari, adalah satu
dari pemimpin Muslim terbesar pada pergantian abad 20 lalu. Gus Dur
mengikuti tradisi keluarga dengan belajar di banyak pesantren. Nama Gus
Dur diambil dari tradisi di daerahnya, dimana penduduk setempat menyebut
seorang putra dari keluarga elit dengan sebutan ‘Gus’.
Ia juga sempat memelajari sastra dan ilmu sosial di Fakultas Sastra
Universitas Baghdad, Irak. Hari-hari kuliahnya bersamaan dengan
timbulnya kekuasaan partai Baath, partai sosialisnya Saddam Hussein,
yang menarik banyak pengikut. Dengan latarbelakang ini, ia juga sempat
digosipkan sebagai ‘sosok berbau kiri’ pada masa Orba.
Dari Baghdad, ia kembali ke Indonesia 1974 dan mulai berkarir sebagai
‘cendekiawan’ dengan menulis sejumlah kolom di berbagai media massa
nasional. Pada akhir dasawarsa 70-an, suami dari Sinta Nuriyah, ini
sudah berhasil mengukuhkan diri sebagai satu dari banyak cendekiawan
Indonesia yang paling terkenal dan laris pula sebagai pembicara publik.
Nama Gus Dur makin mencuat setelah terpilih sebagai ketua umum PBNU,
dalam Muktamar NU di Situbondo tahun 1984. Saat itu hubungan NU dengan
pemerintah sedang mesra-mesranya. Salah satu kiprah Gus Dur yang paling
menonjol saat memimpin NU, adalah ketika ia membawa organisasi itu
kembali ke khittahnya, keluar dari politik praktis pada 1984. Kendati,
pada tahun 1999, ia pula yang membawa NU kembali ke dunia politik meski
dalam format yang berbeda karena dilakukan melalui pembentukkan PKB,
partai yang selalu dirujuk sebagai ‘anak kandung’ NU.
Ia juga dikenal sebagai sosok pembela yang benar. Apakah itu kelompok
minoritas atau mayoritas. Pembelaannya kepada kelompok minoritas
dirasakan sebagai suatu hal yang berani. Reputasi ini sangat menonjol di
tahun-tahun akhir era Orde Baru. Begitu menonjolnya peran ini sehingga
ia malah dituduh lebih dekat dengan kelompok minoritas daripada
komunitas mayoritas Muslim sendiri. Padahal ia adalah seorang ulama yang
oleh sebagian jamaahnya malah sudah dianggap sebagai seorang wali.
Pada awal 1998 ia terserang stroke. Tapi tim dokter berhasil
menyelamatkannya. Namun, sebagai akibatnya penglihatannya kian memburuk.
Pada saat ia dilantik sebagai presiden, ia sudah dideskripsikan media
massa Barat sebagai ‘nyaris buta.’ Selain karena stroke, diduga problem
kesehatannya juga disebabkan faktor keturunan yang disebabkan hubungan
darah yang erat di antara orangtuanya.
Selain menjadi idola bagi banyak orang, Gus Dur juga menjadi idola bagi
keempat puterinya: Alisa Qortrunnada Munawarah (Lisa), Zannuba Arifah
(Venny), Anisa Hayatunufus (Nufus) dan Inayah Wulandari (Ina). Hal ini
tercermin dari pengakuan puteri sulungnya Lisa. Lisa bilang, sosok tokoh
LSM Gus Dur menurun padanya, bakat kolumnis menurun ke Venny,
kesastrawanannya pada Nufus dan sifat egaliternya pada Ina. ►mti/crs
***Majalah Tokoh Indonesia |