| DEPTHNEWS MTI 24 |
|
|
 |
Rakyat Menderita
Pak Harto Berduka
DPTHNEWS 10: Pak Harto, meneteskan air mata ketika menyaksikan
tayangan para penderita busung lapar dan polio di televisi. Indonesia,
sudah 60 tahun merdeka, kok masih ada gambaran seperti itu.
Suatu hari di bulan Juni 2005, Pak Harto menonton televisi. Adik
kandungnya, H. Probosutedjo yang tengah mendampingi-
nya melihat Pak Harto (84 tahun) meneteskan air mata. Rupanya, yang
membuat Pak Harto sedih sampai meneteskan air mata, adalah gambar
tentang anak-anak penderita polio, busung lapar dan rakyat yang sedang
antri minyak tanah.
“Kalau lihat (nonton) atau baca yang kayak gitu, Pak Harto pasti sedih.
Pikirnya, kok keadaan bangsa ini makin sulit,” kata Pak Probo dalam
wawancara dengan Tokoh Indonesia (1/8/2005). Pak Probo menambahkan,” Pak
Harto meneteskan air mata, itu betul, saya sendiri pernah lihat.”
Pak Harto memang tidak mampu lagi lancar berbicara. Hatinya menangis,
matanya meneteskan air mata, karena menyaksikan bangsanya yang bertambah
miskin. Padahal, ia telah berjuang mati-matian selama 32 tahun untuk
membebaskan bangsanya dari deraan kemiskinan.
Sekarang, kata Pak Probo, masih banyak orang yang tidak sadar,
mencari-cari kesalahan seakan-akan Pak Harto yang menjadi biang semua
kesulitan tersebut. “Padahal merekalah yang sebenarnya salah, sehingga
membikin negara ini morat-marit,” kata Pak Probo.
Pak Probo mengutip sebuah laporan, bahwa kemiskinan di Indonesia
sekarang 54%. Angka itu pun baru diukur dari jumlah orang yang tidak
mampu membayar di rumah sakit. Kenyataan itu membuktikan bahwa program
pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat yang
dilakukan Pak Harto selama 32 tahun seakan menjadi sia-sia.
Pemerintahan Pak Harto berupaya keras mencukupi kebutuhan pangan,
sandang dan papan. Angka kemiskinan berhasil ditekan dari 67% tahun
1970-an, tahun 1990-an turun menjadi hanya 11,86% tahun dari jumlah
penduduk. Angka kemiskinan saat ini, menurut BPS, naik dari 31 juta
menjadi 54 juta jiwa.
Kata Pak Probo, Pak Harto juga merasa sedih melihat konflik fisik
berkenaan dengan Pilkada. Dulu sebenarnya sudah direncanakan juga, tapi
dengan perhitungan kalau dilaksanakan, akan ribut karena demokrasi di
Indonesia belum bisa diterapkan secara liberal, seperti di Amerika dan
negara-negara Eropa. Soalnya rakyat Indonesia masih banyak yang buta
huruf dan miskin. Orang miskin itu gampang dibayar, siapa yang kasih
duit, itulah yang dicoblos, yang dipilih. “Mestinya dipertimbangkan
dulu,” kata Probo.
Program pengentasan kemiskinan dilakukan melalui jalur anggaran (APBN)
dan di luar anggaran.
Di sektor anggaran, pemerintahan Pak Harto membangun gudang-gudang
Dolog, Puskesmas, Posyandu dan Posyandu hampir di seluruh desa. Karena
itu, pemerintah bisa segera mendeteksi perkembangan berbagai penyakit
yang menyebar di kalangan masyarakat miskin, seperti diare, demam
berdarah, polio dan busung lapar. Di era Pak Harto, semua jenis penyakit
seperti itu dicegah sejak dini lewat imunisasi massal, dihilangkan
secara terencana dan berkesinambungan.
Pak Harto masih ingat bahwa pada tahun 1967, sembilan dari sepuluh orang
Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan. Tahun 1970, menjadi delapan
dari sepuluh, dan tahun 1976, tinggal tiga dari sepuluh. Kenaikan
pendapatan rata-rata penduduk golongan miskin di pedesaan bertambah
lebih cepat, dibandingkan dengan kenaikan golongan kaya. “Ini
menunjukkan justru di desa jurang pemisah antara si kaya dan si miskin
mulai dapat diperkecil,” tutur Pak Harto di dalam otobiografinya;
Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya (1988).
Konsep Pak Harto adalah menjadikan pembangunan nasional sebagai
pembangunan manusia Indonesia seutuhnya, dan pembangunan seluruh
masyarakat Indonesia. Pembangunan yang benar-benar dirasakan oleh rakyat
sebagai perbaikan tingkat hidup yang berkeadilan sosial.
Soal pembentukan yayasan, Pak Probo menjelaskan bahwa ketujuh yayasan
yang dipimpin Pak Harto, mengumpulkan dana sumbangan dari orang-orang
mampu dimaksudkan untuk membantu kaum papa. Sampai sekarang ketujuh
yayasan tersebut tetap mampu memberikan bantuan sosial kepada kaum
fakir-miskin, anak-anak yatim piatu dan beasiswa untuk anak-anak sekolah
yang orang tuanya tidak mampu.
Ibu Tien Soeharto, ketika masih hidup, juga dikritik lantaran mendirikan
Yayasan Dana Kemanusiaan Gotong Royong. Ibu Tien dituduh meminta-minta
sumbangan dari para pengusaha kaya untuk menumpuk kekayaan. Mereka yang
menuduh seperti ini, kata Probo, orang-orang yang tidak mengerti.
Sampai-sampai Ibu Tien diolok-olok sebagai “Bu Ten Persen.” (Maksudnya
meminta komisi 10% dari setiap proyek).
Padahal sumbangan tersebut dimanfaatkan untuk membantu mereka yang
tertimpa musibah bencana alam atau kecelakaan. Ibu Tien juga menyisihkan
dana-dana sumbangan untuk pembangunan TMII, RS Harapan Kita dan RS
Kanker.
Pak Probo menuturkan, pada suatu rapat Golkar di Cendana tahun 1993,
seorang menteri mengeritik Pak Harto, karena ia merasa jurang
kaya-miskin semakin lebar. Menteri itu mengatakan rakyat kecil pun
menganggap Pak Harto hanya mengutamakan dan mengistimewakan orang-orang
keturunan. Rakyat menganggap Pak Harto dan kaum keturunan menguasai
kekayaan di Indonesia. Sampai supir-supir taksi pun menuduh Pak Harto
menumpuk kekayaan dengan melindungi cina-cina.
Lantas Pak Harto meminta para peserta rapat memberikan penjelasan,
supaya rakyat mengerti yang sebenarnya. Itu kewajiban para menteri.
Menpen Mashuri nyeletuk: “Pak Harto tidak pernah naik taksi sih.” Pak
Harto dikatakan seperti itu di dalam rapat, akhirnya marah. Kata Pak
Probo, dari rapat itu berkembang isu bahwa Pak Harto betul-betul
menumpuk kekayaan, tidak bisa dikritik.
Pak Probo menegaskan, tidak ada tujuan Pak Harto menumpuk kekayaan.
Pemerintah menerima masuknya modal asing, maksudnya untuk menciptakan
lapangan kerja, pendapatan masyarakat meningkat. Kalau pendapatan
meningkat kemiskinan akan berkurang. Sekarang, ratusan bahkan jutaan
orang, pria dan wanita, berbondong-bondong pergi ke luar negeri untuk
mencari nafkah sebagai pekerja rendahan.
Angka kemiskinan yang menurun drastis sewaktu Pak Harto memerintah,
sekarang menanjak kembali. ►mti/sh-ms.
***Majalah Tokoh Indonesia |