| DEPTHNEWS MTI 24 |
|
|
 |
Pembangunan Era Pak Harto
Disegani, Diplomasi Pak Harto
DPTHNEWS 09: Dia pemimpin yang disegani dalam percaturan diplomasi
dunia. Bahkan dia tempat bertanya bagi sebagian pemimpin negara,
terutama Asean.
Di dalam membangun hubungan dengan bangsa-bangsa lain, Pak Harto
secara konsekuen menerapkan politik luar negeri yang bebas dan aktif.
Pak Harto tidak ingin memihak kepada salah satu kekuatan besar dunia
yang saling berhadapan. Atas konsis-tensi sikapnya itu, Pak Harto pun
dipilih menjadi Ketua Gerakan Non-Blok (GNB).
Perang dingin antara dua kekuatan adidaya (super power) berlangsung
tidak lama setelah berakhirnya Perang Dunia Kedua sampai runtuhnya
komunis tahun 1990-an. Dunia terbagi dalam dua kekuatan, yaitu blok
Barat dan Timur, blok antara negara-negara liberal dan komunis.
September 1985, Pak Harto melakukan muhibah ke Turki, Romania dan
Hongaria setelah melakukan kunjungan serupa ke sejumlah negara Eropa
Barat, Australia, negara-negara Asia dan Timur Tengah, dan tiga kali ke
Amerika Serikat. Turki merupakan negara demokrasi dan sekuler. Sedangkan
Rumania, keluar tidak sepenuhnya mengikuti garis Moskow (Uni Sovyet),
tetapi ke dalam sangat sentralistik (sosialis). Sementara Hongaria lebih
liberal ke dalam, tetapi keluar mengikuti garis Moskow.
Setelah melakukan lawatan ke ketiga negara tersebut, Pak Harto semakin
meyakini Pancasila, baik sebagai dasar negara, ideologi maupun pandangan
hidup bangsa Indonesia. Karena Pancasila menyelaraskan pengembangan
individu dan kebersamaan.
Dalam berbagai kesempatan, termasuk di depan Sidang Majelis Umum PBB di
New York, Pak Harto selalu mengedepankan kebijakan politik luar negeri
Indonesia yang bebas dan aktif, karena dinilainya paling tepat untuk
menjaga kemandirian dan kemerdekaan nasional secara terhormat. Juga
untuk memberikan sumbangan bagi perdamaian, kestabilan dan keadilan
dunia.
Kebijakan politik luar negeri tersebut memberi jalan untuk membangun
kerjasama aktif dengan negara-negara di dunia yang benar-benar cinta
damai, mengatasi bersama persoalan-persoalan di dalam mewujudkan
keadilan dan kemakmuran bagi seluruh umat manusia.
Pandangan dan sikap ini tercermin di dalam kebijakan pemerintahannya
yang membangun persahabatan yang tulus dan kerjasama yang saling memberi
manfaat dengan semua negara, tanpa membedakan sistem poilitik dan sosial
yang mereka anut.
Sikap politik yang bebas dan aktif ini mencerminkan konsistensi Pak
Harto terhadap amanat UUD 1945. Misalnya, dengan masuknya kembali
Indonesia ke dalam PBB, pelopor berdirinya GNB, anggota OKI (Organisasi
Konferensi Islam), OPEC (Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak),
APEC (Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik) dan Anggota G-15.
Indonesia juga pelopor pembentukan Perhimpunan Negara-Negara Asia
Tenggara (ASEAN). Semula ASEAN hanya beranggotakan lima negara, kemudian
bertambah menjadi sepuluh negara. Jakarta disepakati sebagai tuan rumah
Sekretariat Jenderal ASEAN.
Melalui ASEAN diupayakan terciptanya ketentraman, rasa aman, kemajuan,
kesejahteraan dan kebahagian bersama bagi segenap rakyat di kawasan ini.
ASEAN menjadi kawasan yang damai, bebas dan netral. Ini menjadi
konsensus bersama di antara para anggota.
Dalam kaitan ini, Indonesia mengedepankan konsep wawasan ketahanan
nasional. Karena diyakini dengan tercapainya ketahanan nasional di
masing-masing anggota ASEAN, maka akan terwujud ketahanan regional.
Sejak awal menjadi Presiden, Pak Harto melangkah dengan prinsip-prinsip
utama tersebut.
Pak Harto membuktikannya dengan kembalinya Indonesia menjadi anggota
PBB, pembukaan kembali hubungan diplomatik dengan Malaysia dan Singapura
yang putus selama era konfrontasi tahun 1964, dan hubungan diplomatik
dengan RRC yang dibekukan menyusul G-30-S/PKI tahun 1965.
Pak Harto, selaku Ketua GNB, selalu memperjuangkan dunia yang adil di
berbagai forum internasional. Pak Harto tidak segan-segan mengeritik
ketidakadilan sebagai akibat kebijakan negara-negara maju yang
mengenyampingkan kepentingan negara-negara miskin dan sedang berkembang.
Inilah yang selalu diperjuangkan lewat GNB dan G-15.
Di dalam mewujudkan Tata Ekonomi Dunia Baru, Pak Harto terus berupaya
meningkatkan kerjasama ekonomi sesama negara berkembang. Kepada para
Dubes RI, selalu diingatkan bahwa mereka harus melakukan diplomasi
perjuangan sejalan dengan sejarah lahirnya bangsa Indonesia.
Bangun Masjid di Bosnia
Selaku Ketua GNB, Pak Harto melakukan perjalanan bersejarah ke Bosnia
yang sedang diamuk perang. Perjalanan ke Sarajevo, ibukota Bosnia
Herzegofina, Maret 1995, memang penuh risiko. Namun tekad Pak Harto
untuk berkunjung ke Bosnia sudah bulat. Perjalanannya ke Sarajevo
setelah menghadiri KTT untuk Pembangunan Sosial di Kopenhagen, Denmark,
dan kunjungan balasan ke Kroasia.
Dalam referendum Mei 1991, pasca berakhirnya kekuasaan komunis di
negara-negara bekas Yugoslavia, Kroasia dan Bosnia, memutuskan menjadi
negara yang merdeka. Indonesia telah membuka hubungan diplomatik dengan
kedua negara tersebut. Di Bosnia, Pak Harto meresmikan Masjid M.
Soeharto yang dibangun dengan dana bantuan pengusaha Indonesia, H.
Probosutedjo.
Tahun 1995, kawasan bekas Yugoslavia ini dilanda perang saudara yang
melibatkan pasukan Serbia-Kroasia dan Serbia-Bosnia. Kedua pihak
mengerahkan pasukan dan persenjataan berat, termasuk serangan mortir dan
artileri besar-besaran. Saat itu perang Balkan sedang menghangat.
Dalam penerbangan ini semua anggota rombongan sesuai ketentuan harus
menggunakan rompi anti peluru dan menandatangani pernyataan menanggung
segala risiko. Pak Harto melakukannya karena menyerahkan dirinya kepada
kekuasaan Allah. Kekhawatiran bagi keamanan perjalanan Presiden RI ke
Sarajevo, tidak saja ada di kalangan pejabat Indonesia tetapi juga para
staf PBB di Zagreb.
Presiden Soeharto berada di Sarajevo sekitar dua jam dan mengadakan
pembicaraan dengan Presiden Bosnia Alija Izetbegovic. Ketika itu, Alija
sangat mengharapkan Pak Harto mengambil peranan aktif untuk mengatasi
kemelut yang melanda negerinya.
Perjalanan yang penuh risiko ini dilakukan Pak Harto karena komitmennya
yang kuat selaku Ketua GNB, agar bisa membantu terciptanya perdamaian di
kawasan Balkan. Pak Harto berupaya keras menghentikan konflik bersenjata
yang menewaskan rakyat sipil, khususnya pembantaian muslim Bosnia. ►mti/sp-sh.
***Majalah Tokoh Indonesia |