| DEPTHNEWS MTI 24 |
|
|
 |
60 Tahun RI
Gerak Pembangunan di Era Enam Presiden
Sepanjang enam puluh tahun merdeka, Indonesia dipimpin oleh enam
presiden, yakni: Soekarno, HM Soeharto, BJ Habibie, KH Abdurrahman
Wahid, Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono. Bagaimana
gerak pembangunan dalam setiap masa kepemimpinan keenam presiden itu?
Siapa di antara mereka yang paling berjasa membangun Indonesia?
Belajar dari pengalaman kepemimpinan negeri ini, ternyata tidak mudah
bagi seorang presiden menggerakkan pembangunan nasional. Pengalaman
empiris enam Presiden RI itu menunjukkan tidak semua mereka secara nyata
mampu melakukan pembangunan.
Sehingga hampir separoh usia republik ini malah dihabiskan dalam suasana
revolusi, pergolakan dan euforia politik. Hanya sekitar 30 tahun bangsa
ini berkesempatan berkonsentrasi menggalakkan pembangunan.
Ternyata, perjalanan sejarah kepemimpinan bangsa ini menunjukkan bahwa
negeri puluhan ribu pulau ini sepatutnya dipimpin seorang pemimpin yang
kuat dan bervisi pembangunan. Pemimpin yang bisa merasakan penderitaan
rakyat dan mengayomi kemajemukan bangsanya.
Pemimpin yang tidak cukup hanya mengandalkan tingginya keahlian akademis
atau kepintaran berwacana dan retorika, atau hanya mengandalkan
kharisma, popularitas yang menangguk luapan emosi dukungan politik
massa. Tetapi seorang pemimpin visioner yang mempunyai keberanian dan
kepercayaan diri yang kuat.
Dengan tidak bermaksud meremehkan peran empat presiden di era reformasi
ini, bahwa dua presiden terdahulu patut mendapat penghargaan yang
setinggi-tingginya dari bangsa ini. Bung Karno sebagai proklamator
mewariskan kemerdekaan dan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI), kendati pembangunan ekonomi tidak banyak dilakukannya. Dia
adalah politisi lapangan (field politician) yang terus berupaya
mempersatukan NKRI. Bung Karno menutup pintu terhadap investasi asing,
terutama dari negara-negara Blok Barat. Bung Karno mengatakan: Go to
Hell with Your Aid!
Sementara, Pak Harto mewariskan pembangunan ekonomi yang bertumbuh
demikian pesat dan makin mengukuhkan NKRI, sehingga mendapat penghargaan
sebagai Bapak Pembangunan Indonesia. Dia membangun dengan strategi
Trilogi Pembangunan (stabilitas, pertumbuhan dan pemerataan, dengan
segala konsekuensinya) dan membuka kran investasi asing.
Bila menoleh gerak pembangunan dalam 60 tahun usia republik ini, Pak
Harto mengukir karya besar pembangunan dibanding lima presiden lainnya.
Jenderal lapangan (field general) ini membangun Indonesia dengan
mengutamakan proyek yang langsung menyentuh kepentingan rakyat, terutama
pertanian. Dia tidak mengutamakan proyek-proyek mercusuar. Secara jujur,
sepatutnya diakui, bahwa Pak Harto menorehkan peran yang lebih besar di
antara pemimpin (presiden) lainnya, khu-susnya di bidang pembangunan
ekonomi.
Memang, masing-masing presiden itu menorehkan peran pada masanya. Tapi,
jika jujur, haruslah diakui, bahwa Pak Harto-lah yang mengukir karya
pembangunan ekonomi terbesar di antara mereka. Bung Karno, memang
mempunyai kelebihan tersendiri sebagai proklamator. Sementara para
Presiden sesudah Pak Harto beserta para elit politiknya terjebak dalam
euforia reformasi.
Presiden BJ Habibie di tengah langkah liberalisasi dan demokrasi
sebebas-bebasnya malah melepaskan Provinsi Timor Timur dari pangkuan ibu
pertiwi.
Presiden KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, selain sibuk keliling
dunia, juga sibuk dengan politik dan kontroversi berbagai pendapat dan
langkahnya.
Presiden Megawati Soekarnoputri berupaya memperbaiki kondisi ekonomi
dengan mengandalkan privatisasi, bahkan menjual Hotel Indonesia yang
dibangun ayahandanya sendiri, Presiden Soekarno.
Presiden Bambang Yudhoyono, dalam satu tahun masa jabatannya belum
tampak mampu mewujudkan janji-janjinya ketika kampanye. Dia malah
menyatakan I don’t care with my popularity, ketika kinerjanya dikritik,
terkesan terlalu banyak retorika.
Euforia Reformasi
Ketika HM Soeharto dengan sukarela mengundurkan diri dari jabatan
presiden, ternyata belum ada pemimpin yang mampu mengatasi masalah.
Sehingga krisis moneter makin berlanjut menjadi krisis ekonomi dan
krisis multidimensional sampai hari ini.
Pada era reformasi ini, justru politisi negarawan semakin langka.
Kepentingan kelompok makin menonjol. Bahkan kebhinekaan pun difatwakan
haram. Kemajemukan tidak lagi diyakini sebagai kekayaan bangsa yang
bhinneka tunggal ika. Kekerasan mengatasnamakan agama pun makin
menonjol.
Dasar negara Pancasila pun dipandang tidak perlu. UUD 1945 pun dengan
mudahnya mengalami tahap perubahan sampai empat kali. Integrasi bangsa
ini terancam retak. Bahkan Timor Timur dilepas. Sipadan dan Ligitan
telah dicaplok dan Blok Ambalat tengah diincar Malaysia. Aceh
dikuatirkan telah berada di ambang genggaman asing dan GAM. Papua bisa
mungkin belajar dari Aceh.
Ironisnya, pada era reformasi ini, kemiskinan makin membelenggu. Polio,
flu burung dan berbagai jenis penyakit menular merenggut banyak nyawa.
Bahkan busung lapar terjadi di bumi pertiwi. Dan, kelihatannya nyaris
tidak ada pola untuk mengatasinya. Jangankan membangun, kata pembangunan
pun sudah semakin jarang diucapkan.
Kesenjangan pun makin melebar, tidak hanya kesenjangan sumber daya alam
(SDA) dan sumber daya manusia (SDM) yang makin jauh sebagai akibat
otonomi daerah yang sudah berjiwa federalis, juga semakin nyata
kesenjangan kebutuhan hidup dan kesenjangan kemampuan berpikir serta
kesenjangan sosial. Lihat saja, antara lain, hypermarket yang tumbuh
demikian subur, praktis tanpa pembatasan.
Hal ini ditambah lagi dengan kondisi perpolitikan (demokrasi) yang
cenderung makin kurang taat hukum (anarkis dan democrazy).
Kondisi carut-marut dalam perpolitikan nasional dewasa ini, telah
mendorong Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Kehidupan Bernegara
(LPPKB) yang dipimpin Soeprapto menyampaikan pokok-pokok pikiran LPPKB
kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
LPPKB menyimpulkan penyebab carut-marutnya kondisi bangsa dewasa ini
adalah persoalan moral, etika dan kepatuhan kepada konstitusi. “Kami
melihat banyak pelaku politik kurang memahami fatsoen kehidupan politik
sehingga menghalalkan semua tindakan,” ujar Soeprapto.
Untuk mengatasi dan mencegah hal itu, menurut Soeprapto, perlu
ditekankan kembali landasan utama dalam hidup berbangsa dan bernegara,
yaitu Pancasila dan UUD 1945.
Dalam kondisi seperti ini, nama Pak Harto pantas saja menjadi memiliki
makna yang amat berarti dengan strategi Trilogi Pembangunan-nya
(stabilitas, pertumbuhan dan pemerataan).
Jika ditanya masyarakat di pedesaan Nusantara, tak heran bila mereka
merindukan pemimpin besar sekaliber Pak Harto. Sosok Bapak Pembangunan
Indonesia itu adalah orang terbesar Indonesia saat ini.
Memang, sebagai manusia, apalagi sebagai pemimpin yang banyak berbuat,
pastilah beliau tidak sempurna dan punya kekurangan dan kelemahan.
Tetapi sebagai bangsa besar, sepatutnya bangsa ini menghormati para
pejuang dan pemimpin yang mengabdikan diri kepada bangsa dan negaranya.
Sebagaimana diharapkan para sesepuh yang tergabung dalam LPPKB, itu agar
masyarakat melihat masa lalu secara jernih, terutama hal-hal baik yang
telah dilakukan para pemimpin pendahulu, seperti Presiden Soekarno yang
sangat gandrung dengan persatuan dan Presiden Soeharto yang sangat
gandrung dengan pembangunan.
Dalam pertemuan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Kantor
Presiden, Jakarta, Senin (13/6/2005), mereka menyatakan mendukung
langkah pemerintah melanjutkan hal-hal yang terbukti baik di masa lalu,
seperti dikemukakan SBY dalam rapat dengan para gubernur di Jakarta.
Menurut Soeprapto, pengakuan adanya kontinuitas tidak bisa dihindari.
“Masa lalu harus dilihat secara jernih dan tidak bisa digeneralisir
semuanya buruk-buruk,” ujar Ketua LPPKB Soeprapto seusai pertemuan
dengan Presiden.
Menurut Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi yang turut mendampingi
SBY pada pertemuan lebih dari tiga jam itu, LPPKB meminta agar hal-hal
prinsip dalam membangun bangsa ke depan dipertahankan. Hal-hal prinsip
itu adalah bagaimana tetap konsisten dengan Pancasila, Undang-Undang
Dasar (UUD) 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan
Bhinneka Tunggal Ika atau pluralisme. Berikut ini kami sajikan kilas
balik gerak pembangunan dalam era kepemimpinan enam presiden dalam 60
tahun usia Republik Indonesia. ►mti/ch robin simanullang
=============================================
Enam Presiden dalam 60 Tahun RI
Soekarno: Agustus 1945-Maret 1967. Berhenti karena MPRS menolak
pertanggungjawaban.
H.M. Soeharto: Maret 1967-Mei 1998. Berhenti karena mengundur-kan diri
secara sukarela.
B.J. Habibie: Mei 1998-Oktober 1999. Berhenti karena MPR menolak
pertanggungjawaban.
KH Abdurrahman Wahid: Oktober 1999-September 2001. Berhenti karena
dilengserkan oleh MPR.
Megawati Soekarnoputri: September 2001-Oktober 2004. Berhenti karena
kalah dalam Pemilu Presiden.
Susilo Bambang Yudhoyono: Oktober 2004-Sekarang
|