A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Buku
 ► Galeri
  P E J A B A T
 ► Pejabat
 ► Presiden
 ► MA
 ► Bepeka
 ► MK
 ► Kabinet
 ► Departemen
 ► Majalah TI
 ► Nusantara
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah TI
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 14022008  
   
  ► e-ti/  
  Nama:
H. Muhammad Soeharto
Lahir:
Kemusuk, Argomulyo, Godean, 1 Juni 1921
Meninggal:
Jakarta, 27 Januari 2008

Jabatan Terakhir:
Presiden Republik Indonesia (1966-1998)
Alamat:
Jalan Cendana No.8, Menteng
Jakarta Pusat
 
     
 
BERITA

 

Wisata Ziarah

Astana Giribangun, 3000 Orang/Hari

 

Indopos, Kamis, 14 Feb 2008: Sampai lebih dua pekan setelah Pak Harto meninggal, Astana Giribangun, makam keluarga Cendana di Matesih, Karanganyar, Jawa Tengah, rata-rata dikunjungi 3.000 orang setiap hari. Kedatangan para peziarah itu memberi kontribusi tersendiri bagi ekonomi warga di perbukitan yang tanahnya rawan longsor itu.

HERY SETIAWAN, Karanganyar

HAMPIR tiada hari tanpa hujan dalam beberapa hari terakhir ini di Matesih. Meski cuaca tak bersahabat, pengunjung ke kompleks makam ternyata tetap mengalir. Seperti yang dilihat Radar Solo (Grup Jawa Pos), di tengah hujan deras akhir pekan lalu (9/2), para pengunjung tetap mau berdesakan masuk ke cungkup Argo Sari, lokasi jasad Soeharto serta istrinya (Bu Tien Soeharto dan keluarga) dimakamkan di Giribangun.

Memasuki astana yang memiliki ketinggian 666 di atas permukaan laut itu tidak terlalu sulit. Peziarah cukup menunjukkan KTP kepada penjaga astana. Petugas lantas mencatat nama dan alamat yang tertera. Berbekal secarik kertas izin, pengunjung bisa masuk ke dalam kompleks yang dibangun sejak 1974 itu.

Memang tidak ada tiket masuk. Namun, pengelola astana menyediakan kotak amal. Mereka boleh mengisi atau mengabaikannya. Besarnya uang pun tak ditentukan alias suka rela. Namun, Radar Solo menyaksikan ada peziarah yang memasukkan pecahan Rp 50 ribu ke kotak kayu itu.

Begitu memasuki pintu gerbang, masyarakat dicegat dua anggota TNI dari Kodim 0727 Karanganyar. Asal bisa menunjukkan izin petugas di pintu masuk, mereka bisa melanjutkan ke kompleks makam. Tak seperti saat Bu Tien baru dimakamkan (meninggal pada 1996), kini masyarakat dari golongan apa pun diizinkan masuk asal berpakaian sopan.

Yang dimaksud dengan pakaian yang tidak sopan sehingga tak boleh masuk itu, kata Ahmad Markusni, salah seorang karyawan Giribangun, misalnya wanita yang bercelana pendek. "Dia tak boleh masuk ke Argo Sari oleh petugas," kata Ahmad.

Bahkan, saat memasuki Argo Sari, ada petugas yang mengecek izin dan menunjukkan jalan. Beberapa anggota TNI berpakaian preman juga tampak berjaga-jaga. Sambil menunggu giliran masuk, pengunjung dapat menikmati aksesori yang berada di kompleks makam tersebut. Mulai maket Astana Giribangun sampai kaligrafi besar dari Ponpes Darul Mukminin Jepara yang dulu dihadiahkan untuk Ny Tien Soeharto.

Dengan tustel maupun kamera HP yang mereka bawa, beberapa pengunjung mengabadikan diri di depan kaligrafi tersebut. Selain menikmati aksesori di Argo Sari, beberapa pengunjung memilih duduk-duduk di pendapa yang mengelilingi makam Soeharto.

Di ruang utama, pengunjung tak boleh lebih dari lima menit. "Yang membaca doa pendek (untuk almarhum Soeharto) dipersilakan masuk. Namun, kalau doanya panjang, dipersilakan di luar ruang utama," kata Ahmad Markusni yang hari itu aktif menertibkan pengunjung.

Ahmad mengakui, jika tidak ditertibkan, peziarah suka berlama-lama di ruang utama makam. Hal itu tentu mengganggu pengunjung lain yang juga ingin berdoa di depan pusara presiden kedua yang berkuasa 32 tahun tersebut.

Tak beberapa lama, Kepala Pengelola Harian Giribangun Sukirno datang ke Argo Sari. Dia hadir bersama tiga orang. Ketiganya ternyata utusan dari keluarga Cendana. Dua di antaranya bernama Ria dan Frendy. Berbeda dengan pengunjung lain yang dibatasi lima menit, ketiganya di depan pusara Soeharto selama 15 menit.

"Saya datang dari Jakarta untuk berziarah," kata Ria saat istirahat di Wisma Palereman, samping masjid Kompleks Giribangun. Dia bersama dua tamu dari Jakarta itu disuguhi teh hangat.

Sekitar 10 menit kemudian, sebelum berpamitan dan bertolak menuju Solo, Ria meminta Sukirno menunjukkan jumlah pengunjung yang datang. Dari data yang dicatat petugas di pintu masuk Astana Giribangun, rata-rata 3 ribu peziarah yang datang setiap hari.

Jumlah pengunjung pada hari libur biasanya naik dua kali lipat. Bahkan, pada libur Imlek 7 Februari lalu pengunjung mencapai 8 ribu orang. Mereka dari berbagai instansi, baik dari dalam maupun luar Pulau Jawa. Misalnya, rombongan DPRD Sumatera Selatan, DPRD Sulawesi Utara, DPRD Ambon, bahkan masyarakat dari Papua.

Selain mencatat jumlah pengunjung, Ria dkk mendapat tugas dari keluarga Cendana untuk menginventarisasi sarana dan prasarana di Giribangun. "Kami diminta mengecek karpet di Argo Sari. Rencananya mau diganti karena sudah kusam," kata Ria.

Menurut Sukirno, anggota keluarga Cendana yang terakhir datang ke Giribangun adalah Siti Hutami dan Siti Hedijati, yakni pada 30 Januari. Setelah itu, belum ada yang muncul. "Termasuk saat tujuh hari setelah wafatnya Pak Harto, keluarga Cendana tidak ada yang hadir. Sampai sekarang juga tidak ada putra atau putri beliau yang nongol," katanya.

Bagaimana rencana peringatan 40 hari? Sukirno mengaku belum tahu. Sebab, sampai saat ini belum ada perintah dari keluarga Cendana. Meski demikian, tahlilan rutin tetap dilaksanakan masyarakat dan karyawan Astana Giribangun. Kapan pemasangan kijing atau batu nisan di makam Soeharto, Sukirno juga belum tahu. Sebab, sampai saat ini dia juga belum mendapat perintah.

Dengan pengunjung rata-rata 3.000 sehari, pendapatan parkir yang dikelola karang taruna setempat memang lumayan. Tarif parkir untuk sepeda motor ditetapkan Rp 1.000, kendaraan roda empat Rp 5.000, dan bus Rp 10.000.

Tentang program parkir, Sukirno berencana menertibkan tukang ojek di sekitar kompleks makam. Pasalnya, dia menerima banyak keluhan dari pengunjung yang dipaksa naik ojek motor atau pakai jasa ojek payung. "Kami akan ajak mereka (ojek motor dan payung) bertemu dan berdialog," jelasnya.

Sutiman, salah satu pengunjung yang ditemui Radar Solo, mengaku kecewa dengan para tukang ojek. Sebab, dia dipaksa memarkir kendaraan di parkir B. Dia tidak boleh berhenti parkir A di depan makam. Dari parkir B ke A, yang menanjak sekitar 100 meter, mereka diharuskan menggunakan jasa ojek dengan tarif Rp 5 ribu per orang.

Benarkah para tukang ojek "memeras"? Ranto, salah seorang pengojek, menolaknya. Kata dia, jika semua kendaraan berhenti di depan astana, parkir akan penuh. Sebab, kapasitas parkir A tidak selebar parkir B. Belum lagi kalau ada tamu pejabat maupun keluarga Cendana yang datang, tentu membuat repot semuanya. (el)

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

`