A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Buku
 ► Galeri
  P E J A B A T
 ► Pejabat
 ► Presiden
 ► MA
 ► Bepeka
 ► MK
 ► Kabinet
 ► Departemen
 ► Majalah TI
 ► Nusantara
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah TI
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 29012008  
   
  ► e-ti/  
  Nama:
H. Muhammad Soeharto
Lahir:
Kemusuk, Argomulyo, Godean, 1 Juni 1921
Meninggal:
Jakarta, 27 Januari 2008

Jabatan Terakhir:
Presiden Republik Indonesia (1966-1998)
Alamat:
Jalan Cendana No.8, Menteng
Jakarta Pusat
 
     
 
BERITA

 

Selamat Jalan Pak Harto

Kopassus Jaga Makam 7 Hari

 

Indopos, Selasa, 29 Jan 2008: Pak Harto, jenderal besar, sudah tidur panjang di tempat peristirahatan terakhirnya. Prosesi pemakamannya dilakukan dengan upacara militer level tertinggi. Bahkan, prosesi pemakaman paling agung dan paling terhormat yang pernah ada di negeri ini.

Upacara dipimpin langsung oleh Presiden SBY. Petugas perwira tinggi yang memegang bendera merah putih penutup proses pemakaman, dilakukan langsung oleh Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso, Kapolri Jenderal Pol Sutanto, KSAL Laksaman Sumardjono, dan KSAU Marsekal Madya Subadrio.

Dibanding pemakaman mantan Presiden Soekarno, jelas upacara negara yang diberikan kepada Pak Harto lebih besar. Pemimpin upacara pemakaman Bung Karno di Blitar hanya level menteri, yakni Jenderal Maraden Panggabean yang saat itu menjabat menteri pertahanan dan keamanan.

Pak Harto dimakamkan tepat di sebelah ’rumah’ peristirahatan terakhir istrinya, Ny Tien Soeharto, yang mendahului 12 tahun lalu. Penguasa Orde Baru itu mulai masuk liang lahat pukul 12.15 diiringi tembakan salvo. Prosesi tersebut molor dari wasiat almarhum yang menginginkan masuk liang lahat sebelum pukul 11.00.

Molornya pemakaman itu disebabkan sepanjang jalan iring-iringan disambut masyarakat. Beberapa warga terlihat sawur (melempar) bunga dan uang logam yang merupakan tradisi Jawa untuk melepas jenazah ke liang lahat.

Upacara pemakaman di Astana Giribangun dihadiri hampir seluruh pejabat. Tak hanya SBY yang menjadi inpektur, Wapres Jusuf Kalla juga hadir. Sejumlah mantan pejabat di era Orde Baru yang kini sudah sepuh seperti Bustanul Arifin, Ali Alatas, dan Emil Salim harus bersusah payah dibantu ajudan demi menyaksikan pemakaman bekas atasannya itu. Sejumlah sahabat dari luar negeri, seperti mantan PM Malaysia Mahathir Mohamad dan PM Timor Leste Xanana Gusmao juga hadir.

"Bapak... Selamat jalan Bapak, doa kami menyertaimu," ujar Tutut (Siti Hardiyanti) sembari terisak-isak saat memberi sambutan atas nama keluarga. Adik-adiknya terdiam. Mamiek (Siti Hutami Adiningsih) berkali-kali mengusap air mata. Tommy tertunduk dan terpejam. Sebagian besar pelayat wanita yang memenuhi cungkup menangis.

Putri sulung Pak Harto itu meminta agar rakyat Indonesia memaafkan kesalahan ayahnya. Dia juga mengucapkan terima kasih terhadap perhatian publik dan pemerintah.

Namun, dalam sambutan itu, Tutut tak mengucapkan kelaziman harapan keluarga yang kehilangan orang terdekatnya. Yakni, permintaan kepada masyarakat luas yang mempunyai hubungan piutang dengan almarhum agar diselesaikan dengan keluarga.

SBY yang berbicara sebelumnya menyebut Soeharto sebagai bapak pembangunan. "Kita telah kehilangan salah seorang putra terbaik bangsa. Seorang pejuang setia, prajurit sejati, dan seorang negarawan terhormat," ujar SBY. Raut mukanya saat menyampaikan amanat terlihat sangat kehilangan. Mata presiden tampak berkaca-kaca dan suaranya bergetar.

Rangkaian prosesi pemakaman ditutup dengan doa. Jawa Pos yang berdiri di samping tim dokter kepresidenan (tiga meter di sebelah kiri presiden) melihat para dokter menitikkan air mata. Dokter Mardjo Soebiandono dan dr Djoko Rahardjo yang berjas hitam dan mengenakan pin kuning dokter kepresidenan mengangkat dua tangan mengamini.

Rombongan perwira tinggi TNI yang berada satu meter di belakang presiden juga tampak khusyuk. Sekjen Departemen Pertahanan Letjen Sjafrie Sjamsoeddin tertunduk dan terpejam. Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI Marsekal Muda Sagom Tamboen menangkupkan dua telapak tangannya.

Usai doa, SBY mengawali memberi ucapan belasungkawa. Aktivitas itu diikuti Kalla, panglima TNI, para kepala staf, dan para menteri. Setelah itu, SBY meninggalkan lokasi.

Keluarga memberi kesempatan kepada kerabat dan kenalan untuk masuk area cungkup makam. Makam Soeharto dikelilingi pintu gebyok setinggi tiga meter dan dijaga ketat prajurit Kopassus. Keluarga inti memakai pin kuning emas di dada kanan. Hampir semua mengenakan baju dengan motif hitam-hitam. Saat menerima ucapan, ekspresi anak-anak Soeharto bermacam-macam.

Para pelayat yang tidak dikenal keluarga diperkenankan masuk secara bergiliran selama empat puluh menit. Macam-macam yang dilakukan warga di depan pusara Soeharto. Ada yang berfoto dengan kamera handphone. Ada yang bersimpuh dan mengambil posisi sungkem (menyembah). Kaum ibu rata-rata berebut bunga melati dan mawar yang mengharumkan ruangan. Jawa Pos menyaksikan seorang ibu mengambil satu keranjang bunga dan memasukkan ke tas jinjing besar yang dibawanya.

Suasana sempat tidak tertib karena mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad hendak masuk. Mahathir memang datang setelah jasad Soeharto dikebumikan (sekitar pukul 13.10). Masyarakat yang sedang antre terpaksa mengalah.

Mahathir sempat memeluk Bambang. Di depan pusara sahabatnya, Mahathir terpejam dan berdoa. Lalu Mahathir menunggu dengan duduk di luar cungkup sekitar 15 menit. "Kehilangan yang besar sekali," komentarnya saat ditanya Jawa Pos. Dua tamtama Kopassus dengan sigap mengamankan Mahathir dan mengantarkannya turun.

Tommy Soeharto pulang lebih dulu. Menggandeng putranya, Tommy yang keluar lewat pintu timur cungkup sempat masuk lagi lewat pintu barat. Alasannya, sepatunya dilepas di sisi barat. "Terima kasih, terima kasih," katanya ketika disalami para pelayat yang mengucapkan belasungkawa.

Saat ditanya Jawa Pos, Tommy hanya menoleh dan tidak menjawab. Dengan isyarat Tommy menunjuk ke dalam cungkup, lalu meninggalkan lokasi dengan dikawal prajurit Kopassus.

Pukul 14.05 seluruh keluarga Cendana bersiap meninggalkan cungkup. Mbak Tutut berada di posisi terdepan, disusul putra-putri yang lain. Mereka dipagar betis oleh prajurit Kopassus. Artis Donny Kesuma yang berbaju koko warna biru dan berpeci berinisiatif membuka jalan. "Tolong buka jalan, tolong Bu," katanya.

Acara yang dihadiri ribuan pelayat itu secara resmi berakhir pukul 13.50. Tapi, kerabat dan putra-putrinya baru meninggalkan lokasi pukul 14.10. Lima menit setelah mobil keluarga meninggalkan Giribangun, hujan turun sangat deras.

Tadi malam sebagian putri-putri Soeharto bermalam dan menggelar tahlilan di Dalem Kalitan. Sedangkan Tommy dan cucu Soeharto Ari Sigit langsung pulang ke Cendana. Kerabat dan tim rumah tangga Cendana sebagian menginap di Hotel Lor Inn Solo. "Saya ke Jakarta, putra-putra juga akan menyusul ke sana," kata Ari.

Secara terpisah, Komandan Jenderal Kopassus Mayjen Soenarko mengatakan, prajuritnya masih akan bersiaga di Giribangun. "Nanti berkoordinasi dengan Korem setempat," ujarnya.

Informasi dari seorang prajurit Kopassus yang enggan disebut identitasnya, korps elite Angkatan Darat itu diperintahkan berjaga 24 jam hingga tujuh hari mendatang.

Dari pengamatan Jawa Pos selama prosesi berlangsung, peran Kopassus sangat dominan. Mulai screening tamu, pengamanan ring satu dalam cungkup, hingga pengawalan keluarga Cendana.

Apakah Soeharto diistimewakan? Soenarko menjawab diplomatis. "Kopassus menjalankan perintah pimpinan sesempurna mungkin. Kami ini prajurit, pantang menolak perintah," tegasnya. (rdl/noe/radarsolo/tof)


Selasa, 29 Jan 2008,
Menteri Ngos-ngosan, Pak Try Tertolong Ojek

Para pejabat dan mantan pejabat harus berpacu dengan waktu untuk bisa menghadiri acara pemakaman Pak Harto kemarin. Selain itu, letak Astana Giribangun yang berada di ketinggian dan mengharuskan para pelayat berjalan kaki juga menjadi tantangan tersendiri.

Usai mendarat di Bandara Adisumarmo sekitar pukul 09.00, Presiden SBY dan rombongan -yang kompak mengenakan jas hitam- sempat transit di Pendapa Bupati Karanganyar. Mereka menunggu kedatangan pesawat Hercules yang membawa jenazah Soeharto ke Solo.

Rombongan menteri yang ikut pesawat kepresidenan Boeing 737-500 Garuda Indonesia antara lain Kapolri Jenderal Pol Sutanto, Seskab Sudi Silalahi, Mensesneg Hatta Radjasa, Menhub Jusman Syafii Djamal, dan Mendagri Mardiyanto. Tampak pula Menko Perekonomian Boediono, Menperin Fahmi Idris, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, dan anggota Wantimpres Ali Alatas.

Meski satu rombongan, hanya Ibu Negara Ani Yudhoyono, Hatta Radjasa, Sudi Silalahi, Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso, empat kepala angkatan TNI, dan Kapolri yang menyertai presiden dengan mobil.

Menteri-menteri lain diangkut bus pariwisata. Iring-iringan mobil kepresidenan tiba di Astana Giribangun sekitar pukul 10.30. Areal parkir A yang hanya 50 meter dari Cungkup Argosari relatif sempit. Hanya cukup untuk mobil-mobil anggota konvoi protokoler kepresidenan. Karena sudah dipadati ribuan masyarakat, bus yang membawa para menteri terpaksa parkir di Lapangan Karangbangun, sekitar dua kilometer di bawah Astana Giribangun.

Medan mendaki cukup curam, sehingga menteri-menteri harus dibawa dengan ojek hingga pintu masuk kompleks pemakaman. Tak kurang dari 30 ojek dikerahkan untuk membawa rombongan pejabat tinggi itu.

Dari pintu masuk, rombongan menteri masih harus berjalan mendaki sekitar 300 meter ke areal parkir B. Letaknya sekitar 150 meter dari Cungkup Argosari. Namun, perjalanan menjadi berat karena dari pelataran parkir itu para menteri harus mendaki sekitar 500 anak tangga untuk sampai ke pelataran parkir A. Akibatnya, hampir seluruh menteri -yang berkepala lima ke atas- terlihat ngos-ngosan ketika tiba di pelataran parkir A. "Wah, ternyata saya sudah tua," kata Purnomo Yusgiantoro sembari menyeka keringat yang bersimbah di wajah dan lehernya.

Menko Kesra Aburizal Bakrie yang juga orang terkaya di Indonesia tak luput dari kewajiban mendaki anak tangga. Karena kegerahan, Ical -panggilan akrabnya- dan Andi Mallarangeng sampai melepas jasnya.

Orang dekat Soeharto, mantan Kepala BKKBN Haryono Suyono, harus dibopong stafnya untuk menaiki tangga yang hanya bisa dilewati dua orang itu.

Prosesi naik tangga juga harus dilakoni Mantan Menteri LH Emil Salim yang berkepala tujuh serta seluruh istri menteri yang datang mengenakan kain kebaya. Mereka berkali-kali berhenti untuk menarik napas dan menyingsingkan kain di sepanjang tangga.

"Saya datang sebagai rakyat Indonesia. Ini bukti beliau (Soeharto) sangat mencintai rakyat, sehingga juga dicintai rakyat," ujar Haryono Suyono sambil menata napasnya yang terengah-engah.

Kedudukan penting dan hubungan erat dengan almarhum di masa lalu rupanya juga tak menjamin bisa masuk Astana Giribangun dengan mudah. Mantan Wakil Presiden Try Sutrisno yang datang terlambat (sekitar pukul 13.30) harus berjalan kaki dari Pasar Matesih. Pasar itu berjarak lima kilometer di bawah Astana Giribangun.

Karena datang bertepatan dengan bubarnya upacara kenegaraan, mobil yang membawa Pak Try tidak bisa bergerak, meski sejumlah petugas kepolisian telah berupaya melapangkan jalan. Akhirnya Pak Try harus berjalan kaki sekitar 300 meter, sebelum seorang anggota Polri berinisiatif memanggil ojek untuk membawa Pak Try ke Astana Giribangun.

"Sekali-kali merasakan jadi orang susah, Pak," seru seorang warga yang melihat mantan panglima ABRI itu berjalan menyelinap di antara jepitan mobil-mobil pengantar petakziah. (noe/el)


Selasa, 29 Jan 2008,
Akhirnya, Pak Harto Bebar-Benar Meninggal

Oleh:
A. Mustofa Bisri

Akhirnya, Pak Harto benar-benar meninggalkan kita. Presiden yang paling lama memerintah Indonesia itu sudah delapan kali keluar-masuk rumah sakit. Dan yang terakhir benar-benar menghebohkan rakyatnya yang selama 32 tahun dikuasainya. Pers seolah-olah dengan sengaja membawa rumah sakit Pertamina -tempat Pak Harto dirawat- ke rumah-rumah kita agar kita semua bisa ikut "menunggui"-nya. Setelah itu, kita semua melayat dan mengantarkan jenazahnya hingga ke makam yang jauh-jauh hari sudah dipersiapkannya dengan rapi.

Jenderal terkuat yang saat berkuasa mampu menyihir banyak orang pintar menjadi bebek-bebek, meneluh wakil-wakil rakyat menjadi gagu, dan membuat pers tiarap sekian lama, ternyata, akhirnya hanya tergeletak tak berdaya, lalu menyerah kepada malaikat maut.

Kita teringat Bung Karno, presiden pertama yang juga begitu hebat; yang dengan gagah meng-"go to hell"-kan Amerika, bahkan dengan lantang menyatakan keluar dari badan internasional PBB, ternyata, juga berakhir tak berdaya, lalu menyerah kepada malaikat maut.

Di samping perbedaan saat meninggal -Bung Karno meninggal di zaman Pak Harto, sementara Pak Harto meninggal masih di zamannya sendiri-. Keduanya, presiden pertama dan kedua itu, memiliki banyak kesamaan. Mereka sama-sama lama berkuasa, sama-sama kontoversial -banyak dicintai sekaligus dibenci- dan sama-sama membawa masalah yang tak tuntas saat meninggal.

Kontroversial mereka mungkin akibat dari terlalu lama berkuasa. Dan terlalu lamanya mereka berkuasa, terutama akibat pengikut-pengikutnya yang pengecut dan mengultuskannya. (Ingat, keputusan MPR dulu yang mengangkat Bung Karno seumur hidup dan keputusan MPR berikutnya yang mendorong Pak Harto terus).

Mengenai masalah yang tak tuntas hingga keduanya wafat boleh jadi karena kita memang tidak terbiasa menangani masalah hingga tuntas. Yang terkena dampaknya tentulah keluarga mereka dan mungkin sejarah bangsa.

Waba’du, bagaimanapun, kini Pak Harto benar-benar telah tiada dan kita tetap tidak tahu persis, apakah beliau bersalah atau tidak. Namun, untuk hati-hatinya, terutama karena Pak Harto, Haji Muhammad Soeharto, adalah seorang muslim yang percaya akan hari akhir, seyogianya keluarga dan ahli warisnya bersikap seperti keluarga di daerah saya.

Di daerah saya, bila ada seorang muslim atau muslimah meninggal, pada waktu upacara pemberangkatan jenazah, biasanya wakil keluarga menyatakan kepada hadirin hadirat yang melayat: "Almarhum adalah manusia biasa, maka apabila semasa hidupnya almarhum dalam pergaulan dengan bapak-bapak dan ibu-ibu mempunyai kesalahan, kami keluarga mohon sudilah kiranya bapak-bapak dan ibu-ibu memaafkannya. Apabila di antara bapak-bapak dan ibu-ibu ada perkara yang menyangkut hak-hak Adami yang menjadi tanggungan almarhum, jika sekiranya tanggungan itu dapat diikhlaskan, keluarga sangat bersyukur dan berterima kasih. Namun, jika tidak, hendaknya yang bersangkutan segera menghubungi keluarga agar dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya dan tidak menjadi ganjalan kelak di Hari Pembalasan."

Bagaimanapun, sebagai hamba yang beriman, Pak Harto -sebagaimana keluarga dan siapa pun yang mencintainya- pasti menginginkan kehidupan di akhirat lebih baik. Itu jauh lebih penting dari sekadar status setinggi apa pun di dunia fana ini.

Innaa lillahi wainaa ilaihi raaji’uun.

H A. Mustofa Bisri, pengasuh pesantren Rodlatut Thalibin, Rembang

Selasa, 29 Jan 2008,
Dibela Mahathir dan Lee Kuan Yew
SINGAPURA - Jenazah mantan Presiden Kedua Indonesia H M. Soeharto sudah disemayamkan di Astana Giri Bangun kemarin (28/1). Kematian mantan penguasa Orde Baru itu pun membuka kembali romantisme lama dengan sejumlah tokoh-tokoh berpengaruh dunia.

Sederet pujian dan apresiasi pun meluncur dari orang-orang yang pernah "dekat" dengannya. Tokoh besar Singapura Lee Kuan Yew mengatakan bahwa Soeharto layak untuk dianugerahi tempat terhormat di dalam sejarah Indonesia.

Dalam sebuah surat yang ditujukan kepada putri tertua Cendana, Siti Hardiyanti Rukmana, Lee memuji kegigihan dalam mengembalikan keterpurukan ekonomi Indonesia di era 1965. "Selama beberapa dasawarsa, Pak Harto telah menunjukkan jati diri sebagai sosok yang memegang teguh komitmen. Janjinya selalu dipenuhi. Dia adalah tokoh yang berkarakter pendiam, tetapi ulet," ujar Lee.

Lee yang saat ini menjabat Menteri Senior Singapura dari kabinet putranya, Perdana Menteri Lee Hsien Loong, menyatakan kali pertama bertemu dengan Pak Harto pada 1970. Kedekatan hubungan Lee terbentuk karena dia menjabat sebagai perdana menteri Singapura selama Soeharto berkuasa sebagai pemimpin Orde Baru sejak 1966.

Soeharto meletakkan jabatannya hampir sepuluh tahun lalu di tengah gelombang unjuk rasa dan aksi kerusuhan yang melanda Indonesia karena merosotnya nilai rupiah yang terimbas oleh krisis ekonomi regional. Lee pernah menjenguk Pak Harto yang terbaring di Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta 2 pekan lalu, sebelum kematian menjemput presiden RI kedua itu pada Minggu (27/1).

Mantan Perdana Menteri (PM) Malaysia Mahathir Muhamad juga menggambarkan Soeharto sebagai pemimpin dan seorang negarawan besar dunia. Pria itu lantas membela dinasti yang sudah divonis dunia sebagai pemerintahan diktator dan korup.

Mahathir mengatakan bahwa korban tindak kekerasan politik yang diperkirakan mencapai 500.000 orang itu adalah omong kosong. "Saya paham betul dengan fakta tersebut. Saya tahu apa yang terjadi di Indonesia, waktu itu adalah kondisi yang penuh anarki. Walaupun begitu, saya tahu bahwa Soeharto tidak pernah memerintahkan pembunuhan," tegasnya.

Mantan Menlu Australia Alexander Downer yang kerap mengkritik Bapak Pembangunan tersebut atas track record negatifnya kali ini tampil dengan belasungkawa yang mendalam. Downer menyatakan takjub dengan kekuatannya dalam memimpin Indonesia. "Tak bisa dimungkiri, memang tamak, diktator, dan memiliki catatan pelanggaran HAM yang cukup banyak. Namun, diakui atau tidak pria itu memiliki kekuatan yang besar sebagai pemimpin," ujarnya.

Duta Besar Amerika Serikat (AS) di Jakarta Cameron Hume memujinya sebagai tokoh bersejarah yang berhasil mencapai pembangunan ekonomi yang menakjubkan. Tetapi, dia menambahkan bahwa warisan Soeharto mungkin akan selalu lekat dengan sejumlah kontroversi. (AFP/BBC/zul/ruk)

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

`