| |
C © updated 08062005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ |
|
| |
Nama:
H. Muhammad Soeharto
Lahir:
Kemusuk, Argomulyo, Godean, 1 Juni 1921
Jabatan Terakhir:
Presiden Republik Indonesia (1966-1998)
Alamat:
Jalan Cendana No.8, Menteng
Jakarta Pusat
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
Tajuk KOMPAS
Kasus Busung Lapar Sebuah Puncak Gunung Es
Jakarta 8/6/2005: BULAN Maret lalu Kompas secara khusus mengangkat kasus
kekeringan dan kekurangan pangan di Lembata, Nusa Tenggara Timur. Reaksi
pertama yang muncul adalah marah. Berita itu dianggap tidak benar dan
hanya membesar-besarkan kemiskinan, yang berpotensi merusak kredibilitas
pemerintah.
Wakil Presiden Jusuf Kalla mencoba bersikap lebih rasional dan
proporsional. Ia tugaskan Direktur Utama Perum Bulog untuk melihat
langsung ke lapangan dan mempersiapkan langkah yang harus dilakukan.
Sayang ketika itu Dirut Perum Bulog tidak sampai ke daerah bencana.
Akibatnya, informasi yang diperoleh tidak akurat. Tidak usah heran
apabila terapinya pun tidak tepat. Apalagi pemerintah daerah mati-matian
menyangkal bahwa yang terjadi di daerahnya adalah kekurangan pangan.
SETELAH tiga bulan berlalu kita lihat keadaan semakin memburuk.
Kekeringan terus menuju puncaknya sehingga memperparah keadaan.
Masyarakat yang di awal musim kemarau lalu sudah kekurangan bahan pangan
semakin hari semakin tidak memiliki bahan makanan yang bisa dikonsumsi.
Buruknya kondisi ekonomi membuat mereka tidak memiliki daya beli,
apalagi dengan harga bahan pangan yang semakin mahal.
Rapat yang dipimpin Wapres hari Senin (6/6) akhirnya menemukan fakta
bahwa kondisi yang dihadapi masyarakat NTT begitu parahnya. Jumlah anak
yang menderita kekurangan pangan, sehingga mengalami kasus gizi buruk
dan busung lapar, mencapai lebih dari 66.000 orang. Riciannya, 55.543
orang mengalami kurang gizi, 11.015 orang mengalami gizi buruk, dan 127
orang mengalami busung lapar (marasmus kwashiorkor). Bahkan 13 anak di
antaranya meninggal karena gizi buruk.
Apakah itu angka yang sudah angka pasti? Kita lebih cenderung mengatakan
bahwa itu ibarat puncak dari sebuah gunung es. Data yang belum terekam
diyakini jauh melebihi angka tersebut.
PERAIH Hadiah Nobel Ekonomi Amartya Sen pernah mengungkapkan bahwa
demokrasi dan kebebasan pers bisa berperan untuk mencegah terjadinya
kelaparan. Sebab, dengan kebebasan untuk menyampaikan informasi, segala
hal yang buruk bisa diungkap sejak awal sehingga bisa diambil tindakan
untuk mencegah terjadinya keadaan yang lebih buruk.
Sungguh ironis ketika kita sedang menerapkan demokrasi, dan kebebasan
pers pun sedang marak-maraknya diterapkan, kita justru tidak mampu
mencegah terjadinya kasus busung lapar. Bahkan kasusnya tidak hanya
terjadi di satu provinsi, tetapi di banyak provinsi.
Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena kita belum menerapkan demokrasi
seperti yang seharusnya. Demokrasi baru dipahami secara harfiah, belum
esensinya.
Institusi yang dibutuhkan bagi berjalannya demokrasi belumlah terbentuk,
apalagi berjalan. Bahkan ada yang mengatakan institusi yang berlaku
dalam sistem otokrasi pun kini dalam kondisi amburadul.
Lepas dari sistem top-down yang berlaku, dalam sistem otokrasi lalu
kondisi busung lapar bisa dihindarkan. Semua itu disebabkan adanya
perhatian yang begitu intens dari Presiden Soeharto ketika itu dalam
urusan perut dan kesejahteraan rakyat. Kalaupun tidak memercayai laporan
pers, pemerintah yang lalu mempunyai sistem informasi yang memungkinkan
presiden mengetahui secara detail apa yang terjadi di sebuah daerah.
Seorang kepala daerah dan bahkan menteri bisa tidak aman posisinya
apabila kedapatan tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakatnya. Apalagi
jika mereka hidup bermewah-mewah, dengan fasilitas yang begitu lengkap,
sementara rakyatnya dibiarkan kelaparan. Inilah yang sedang terjadi di
hadapan kita sekarang ini.
KITA sama sekali bukan mengagungkan sistem yang lama. Meski bukan sistem
yang sempurna, kita percaya bahwa sistem demokrasi yang kita pilih
sekarang merupakan sistem terbaik dari pilihan yang ada.
Yang kita perlu lakukan sekarang adalah mempertahankan apa yang baik
sudah baik dan memperbaiki apa yang kemarin buruk. Seperti perkumpulan
ibu-ibu pejabat. Lepas dari banyaknya urusan seremonial atau
kumpul-kumpul, Kelompok Pembinaan Kesejahteraan Keluarga yang dipimpin
Ny Soepardjo Rustam mampu membina ibu-ibu di desa untuk peduli kepada
kehidupan keluarga dan perkembangan anak-anaknya.
Di bidang kesehatan, yang namanya puskesmas atau posyandu bisa berjalan
baik untuk menjaga kesehatan masyarakat. Keharusan dokter-dokter muda
untuk menjalani program pegawai tidak tetap (PTT) di daerah-daerah bukan
hanya ikut meningkatkan kesehatan masyarakat, tetapi membuat kita lebih
mengenal Tanah Air kita. Bukan hanya mengenal daerahnya, tetapi juga
masyarakatnya, budayanya, adat istiadatnya, dan kemajuannya.
MENGAPA sistem demokrasi tidak mampu membuat keadaan menjadi lebih baik?
Bukan sistem demokrasinya yang membuat ini terjadi, tetapi sikap kita
yang sebenarnya belum berubah dan cenderung terlalu longgar.
Demokrasi baru dipahami sebagai kebebasan dan sekadar dipakai untuk
menuntut hak. Demokrasi belum dipakai sebagai alat untuk menyejahterakan
kehidupan rakyat banyak, yang untuk itu menuntut adanya kontribusi dari
setiap warga negara.
Sekarang dituntut kesadaran dari semua pihak untuk berubah. Negara ini
tidak mungkin bisa maju apabila kita hanya bisa berteriak dan
menyalahkan orang lain. Dibutuhkan peran serta dan keinginan untuk
memberikan yang terbaik kepada negeri ini.
Satu hal lagi yang kita butuhkan adalah membangun social trust. Kita
harus saling percaya dan sadar bahwa apa yang dilakukan oleh setiap
komponen bangsa adalah yang terbaik untuk kepentingan bangsa dan negara.
Sulitlah bangsa ini maju kalau pemberitaan pers sekadar, misalnya,
dilihat sebagai urusan suka dan tidak suka. Lepas dari laporan media
kadang kurang akurat, tetapi informasi yang disampaikan tentunya bisa
dicek di lapangan.
Akhirnya kita sama-sama membangun checks and balances. Pers sebagai
pilar keempat terus melakukan fungsi kontrol dan koreksi. Tetapi kontrol
dan koreksi pulalah media ketika ia tidak menjalankan tugasnya dengan
baik.
Itulah esensi dari demokrasi. Dengan itulah kita akan bisa mencegah
terjadinya kasus busung lapar. ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|