| |
C © updated 27062005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ |
|
| |
Nama:
H. Muhammad Soeharto
Lahir:
Kemusuk, Argomulyo, Godean, 1 Juni 1921
Jabatan Terakhir:
Presiden Republik Indonesia (1966-1998)
Alamat:
Jalan Cendana No.8, Menteng
Jakarta Pusat
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
Tajuk KOMPAS
Sejarah Pertama Itu Akan Terus Diabadikan
Jakarta 276/2005: SELAMA ini jika kita berbicara tentang Orde Baru, maka
yang selalu menonjol adalah sisi buruknya. Padahal, sebenarnya banyak
pelajaran yang bisa kita petik dan kita jadikan pengalaman dalam segala
macam aspeknya. Dari sanalah kita bisa memilah mana hal yang baik dan
mana hal yang buruk.
Dari sisi manajemen, pembelajaran yang bisa dipetik dari sana sungguh
tidak terkira nilainya. Pengalaman Orde Baru bisa dijadikan pelajaran
bagi banyak perusahaan dalam mengelola bisnis mereka.
Apa pelajaran berharga itu? Pembangunan itu tidak terjadi begitu saja,
apalagi sekali jadi. Dimulai dari tahapan membangun dari bawah, bahkan
dari puing-puing. Dengan arah pembangunan yang jelas dan kemudian semua
potensi juga dikerahkan ke sana, maka setahap demi setahap pembangunan
itu kemudian mulai bisa dirasakan.
Begitulah yang terjadi pula dengan pembangunan Indonesia. Pada masa 25
tahun pertama Orde Baru, pembangunan difokuskan pada sektor pertanian
dan industri yang menunjang pertanian.
Keberhasilan pada 25 tahun pertama itu membawa Indonesia masuk ke dalam
kategori ”Keajaiban Asia”. Indonesia menjadi salah satu macan Asia
yang pantas diperhitungkan. Itulah yang memunculkan cita-cita untuk
meletakkan periode pembangunan 25 tahun kedua, yang diharapkan membawa
Indonesia memasuki tinggal landas menjadi negara industri.
SALAHKAH cita-cita itu? Tentu saja tidak. Setiap bangsa harus memiliki
cita-cita, memiliki visi yang jauh ke depan agar kemudian bisa
dipergunakan seluruh warga bangsanya sebagai pegangan untuk melangkah ke
depan.
Hanya saja, Presiden Soeharto kurang saksama menerapkan prinsip
manajemen untuk menopang kebijakannya. Prinsip manajemen yang diterapkan
pada paruh 25 tahun pertama ternyata tidak cocok, bahkan tidak bisa
diterapkan lagi untuk paruh 25 tahun kedua. Dan perubahan dan
penyesuaian itu terlambat ia lakukan.
Dalam ilmu manajemen dikenal yang namanya Kurva Sigmoid. Dengan kurva
itu digambarkan bahwa pergerakan dari sebuah kemajuan itu selalu dari
bawah menuju suatu puncak tertentu dan kemudian akan menurun.
Memang tidak pernah bisa dihitung secara matematis kapan puncak itu akan
tercapai dan kemudian penurunan itu akan terjadi. Namun, hal itu sangat
bisa dirasakan oleh mereka yang berada dalam tampuk pimpinan. Antara
lain hal itu bisa dilihat dari produktivitas yang mulai menurun atau
pertambahan biaya produksi yang jauh lebih tinggi dari penerimaan yang
bisa dihasilkan.
Bagi mereka yang mengharapkan organisasinya tetap hidup, maka ketika
keadaan itu terjadi, yang harus dilakukan adalah melakukan transformasi.
Transformasi itu harus dilakukan pada saat organisasi berada di puncak,
ketika organisasi berada dalam kondisi sehat. Sebab, kalau terlambat,
maka yang terjadi bukanlah transformasi, tetapi upaya keluar dari krisis.
Dan ketika itu terjadi, keadaan sudah terlambat untuk bisa diselamatkan.
SETELAH peristiwa itu berlalu tujuh tahun lalu, kita bisa menilai bahwa
Presiden Soeharto bukan tidak menyadari mengenai perlunya perubahan.
Namun, ketika kesadaran itu muncul, keadaannya sudah terlambat.
Pada tahun 1998 itu memang kita sudah masuk ke dalam pusaran krisis.
Krisis keuangan yang sejak tahun 1997 melanda kawasan Asia Timur tanpa
ampun menyeret kita ke dalam krisis.
Apalagi secara bersama terjadi pula krisis sosial. Setelah insiden
penembakan mahasiswa Trisakti pada tanggal 12 Mei 1998, keadaan di
Indonesia kacau-balau. Anarkisme merebak hampir di seluruh kota di
Indonesia.
Ketika Presiden Soeharto mencoba mengundang tokoh reformasi untuk
melakukan perubahan pada tanggal 19 Mei, keadaan sudah tidak tertahankan
lagi. Pada tanggal 21 Mei 1998 kita tahu bersama, Presiden Soeharto
akhirnya meletakkan jabatan dan menyerahkan tampuk kekuasaan yang
dipegangnya selama 32 tahun kepada BJ Habibie.
APA maksud dari semua uraian itu? Kompas pun tidak mau ketinggalan untuk
ikut mengambil pengalaman besar yang dialami bangsa ini. Secara sengaja
melakukan refleksi diri dan kemudian berusaha sebisa mungkin untuk
mencegah jangan sampai krisis itu menimpa organisasi ini.
Kebetulan momen untuk melakukan itu ada di depan mata, yakni Kompas pada
tanggal 28 Juni 2005 besok akan memperingati hari ulang tahunnya yang
ke-40. Melalui persiapan sepanjang satu tahun, akhirnya perubahan itu
diputuskan untuk dilakukan.
Perubahan itu sepenuhnya ditujukan untuk kepentingan para pembaca.
Kompas ingin memberikan kemudahan kepada komunitas pembacanya dalam
mendapatkan informasi yang mencerdaskan dan mencerahkan.
Cita-cita yang diemban surat kabar ini sejak pertama kali terbit pada
tahun 1965 memang tidak pernah berubah. Kompas ingin menjadi Indonesia
kecil yang menyebarkan pemikiran yang inklusif serta menempatkan manusia
dan kemanusiaan pada posisinya yang paling tinggi.
SEPANJANG 40 tahun perjalanannya, hal itulah yang selalu dilakukan dan
melandasi cara bekerja dari setiap wartawan Kompas. Tentu harus juga
dikatakan bahwa pekerjaan itu tidaklah seluruhnya sempurna, tanpa ada
cacat. Bagaimanapun harus disadari bahwa kita bukanlah malaikat, we are
no angel. Oleh karena itu tetap ada ruang bagi terjadinya kesalahan.
Namun, kesalahan yang kadang terjadi itu tidak mengurangi upaya untuk
mencapai cita-cita besar, yakni memberikan yang terbaik untuk bangsa dan
negara. Sumbangsih dalam bentuk penyebaran informasi dan pemikiran
sepenuhnya ditujukan untuk membangun sebuah Indonesia yang demokratis,
yang menjunjung tinggi hak asasi manusia, menegakkan hukum secara adil,
dan bertujuan menciptakan kesejahteraan bagi seluruh warga.
Setelah hampir selama 40 tahun hadir tanpa berhenti, Kompas dengan
format korannya yang lama hari ini memasuki masa pengabdiannya yang
terakhir. Selanjutnya Kompas akan hadir menemui para pembacanya dengan
formatnya yang baru.
Lepas dari segala kekurangannya yang kadang masih ada, sejarah pertama
telah coba untuk digoreskan. Kompas telah mencoba memberikan hal terbaik
yang dimiliki untuk kepentingan bangsa dan negara ini. Komitmen itu
tentunya tidak akan pernah berubah. Hal itu pulalah yang akan diusung
oleh para pengasuh Kompas dalam memasuki masa pengabdian 40 tahunnya
yang kedua. ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|