| |
C © updated 10052005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ |
|
| |
Nama:
H. Muhammad Soeharto
Lahir:
Kemusuk, Argomulyo, Godean, 1 Juni 1921
Jabatan Terakhir:
Presiden Republik Indonesia (1966-1998)
Alamat:
Jalan Cendana No.8, Menteng
Jakarta Pusat
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
Hari kelima di RSPP
Pak Harto Sadar, Tidak Kritis
Jakarta 10/5/2005: Pada hari kelima Pak Harto dirawat di Rumah Sakit
Pusat Pertamina (RSPP), pendarahan pada usus besarnya masih berlangsung.
Namun demikian, Pak Harto tidak dalam kondisi kritis. Kesadarannya cukup
baik, sehingga masih dapat diajak berkomunikasi, meskipun lemah. Ketua
tim dokter kepresidenan Brigade Jenderal (Brigjen) Mardjo Soebiandono
mengungkapkan hal itu kemarin (9/5) saat jumpa pers pembacaan kondisi
kesehatan Pak Harto di RSPP.
Tim dokter gabungan (kepresidenan dan RSPP) berusaha menghentikan
pendarahan tersebut serta memberikan transfusi darah. Dia menambahkan,
pendarahan Pak Harto 50 : 50 untuk bisa dihentikan atau tidak. Kendati
begitu, tim dokter akan berusaha menghentikannya.
"Sampai hari ini kami masih memberikan transfusi darah serta pengobatan
untuk memberhentikan pendarahan tersebut," kata Mardjo Soebiandono, yang
dalam temu pers tersebut didampingi Saadilah Mursyid (mewakili keluarga
Soeharto) dan beberapa dokter. Di antaranya, Dr Sutji A Marjono
(direktur RSPP), dr Yuniarti Hatta (ahli penyakit jantung), dr Winarni
Hudoro (ahli penyakit dalam spesialis ginjal), dr Waldemar Simanjuntak
(ahli penyakit dalam spesialis pencernaan), dr Witpatria (spesialis
neurologi atau saraf), dan dr Suryo Atmodjo Saleh (ahli saraf).
Pak Harto masuk RSPP pada Kamis, 5 Mei 2005 pukul 07.00. Menurut dr
Mardjo, Pak Harto terpaksa dibawa ke rumah sakit karena berkali-kali
mengalami pendarahan pada saluran internal. Hal ini menyebabkan sel
darah merahnya menurun atau anemia. Menurunnya sel darah merah ini,
tambah dr Mardjo, dapat mempengaruhi fungsi organ lain, seperti otak,
ginjal jantung, dan paru-paru, sehingga mengakibatkan sesak nafas. "Pada
saat masuk, kadar Hb-nya hanya 7,8 (gr persen). Terjadi pendarahan masif
di usus, atau divertikolosis," kata Mardjo.
Kondisi mantan presiden itu diperparah oleh penyakit yang pernah
dideritanya. Di antaranya, stroke. Karena itu, dibutuhkan perawatan dan
observasi oleh tim dokter. "Pak Harto membutuhkan perawatan serta
observasi yang ketat," tegasnya.
Menurut dr Mardjo, selain pendarahan pada usus, Pak Harto juga menderita
diverticulosis (tonjolan-tonjolan yang banyak di usus) sejak tahun lalu.
Tonjolan-tonjolan itu semakin menipis dan menimbulkan pendarahan.
Disebutkan, hingga kemarin (9/5) Pak Harto telah menerima lima kantong
darah atau sekitar 1.600 cc. Transfusi darah itu dari keluarga anak dan
cucu Soeharto. Kendati, sudah diberikan transfusi, hemoglobin (HB)
Soeharto tidak kunjung naik.
"HB Pak Harto belum stabil. Satu hari naik, kemudian turun lagi. Satu
hari naik, kemudian turun lagi," ujarnya. Tapi pagi sebelum temu pers
itu, HB Pak Harto cukup normal."HB-nya sekitar 10,8 persen (normal
antara 12-13 persen)," katanya.
Namun ditegaskan, tingkat kesadaran Pa Harto normal. Dia masih bisa
berkomunikasi dengan lancar. "Kesadaran Pak Harto berada pada tingkat
composmentis (sadar)," katanya.
Sementara itu Dr Winarni Hudoro SpPD menambahkan, tim dokter sedang
berusaha menghentikan pendarahan. Selain itu, juga berupaya menaikkan
kadar Hbnya, sehingga fungsi otak, jantung, dan paru-paru dapat normal
kembali.
Dalam kesempatan itu, Direktur RSPP Dr Sutji A Marjono menegaskan, yang
menjadi perhatian utama tim dokter saat ini adalah memperbaiki kondisi
pasien. Dikatakan, Pak Harto masih menggunakan alat pacu jantung karena
jantungnya lemah. Hal ini berkaitan bahwa usia Pak Harto sudah lanjut.
Dia juga beberapa kali mengalami stroke dan kondisi jantungnya lemah.
Selain itu Pak Harto juga sering batuk. "Batuk itu disebabkan penyakit
saluran pernapasan yang menahun," katanya.
Menurut Sutji, sejak dua tahun lalu sudah tiga kali Pak Harto mengalami
pendarahan. Pemberian transfusi darah diperuntukkan untuk mengimbangi HB
yang keluar, sekaligus untuk menjaga agar fungsi jantung, otak, dan
ginjal stabil.
Menjawab pertanyaan wartawan, melihat kondisi demikian, tim dokter belum
bisa memastikan kapan Pak Harto bisa pulang? "Pendarahannya harus
berhenti dulu. Baru, memikirkan kapan pulangnya," kata Sutji A Marjono.
Beberapa sanak saudara dan sahabat Pak Harto, kemarin datang menjenguk.
Di antaranya, Danny Bimo Hendro Utomo Rukmana (cucu Soeharto), Gubernur
DKI Jakarta Sutiyoso, Feisal Tandjung, Mien Sugandhi, Rahardi Ramelan,
Juan Felix Tampubolon (pengacara), dan Quraish Shihab. ►e-ti/tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|