|
|
 |

Nama:
Prof. Soedarto, dr., DTMH, Ph.D.
Lahir :
Surabaya, 20 Mei 1943
Agama :
I s l a m
Istri :
Sri Ami Hastuti
Anak :
Andre Primanttyo Hendrawan, S.T.
Andre Dwiyanto Wicaksono, S.T.
Andre Triadi Desnantyo
Nip:
130350713
Pangkat/Golongan :
Pembina Utama, Gol. IV/e
Jabatan :
Guru Besar dalam Ilmu Parasitologi
Fakultas :
Kedokteran
Pendidikan
- Lulus Dokter di Unair Surabaya / th. 1968
- Lulus Diploma Tropmed & Hyg. di Mahido Unive. Bangkok / th. 1971
- Brevet Mikrobiologi di Fak. Kedokteran Unair / th. 1973
- Ph.D. di Kobe University Jepang / th. 1987
Pidato Pengukuhan :
- Meningkatkan Kualitas Hidup Manusia Indonesia dengan Membrantas
- Penyakit Parasit Melalui Perbaikan Lingkungan Hidup 4 Juli 1992
Pekerjaan
Tahun 1970 : Calon Pegawai di Fak. Kedokteran Unair
Tahun 1971 : Asisten Ahli Madya, Gol.III/a di Fak. Kedokteran Unair
Tahun 1972 : Asisten Ahli, Gol. III/b di Fak. Kedokteran Unair
Tahun 1975 : Lektor Muda, Gol. III/c di Fak Kedokteran Unair
Tahun 1977 : Lektor , Gol. IV/a di Fakultas Kedokteran Unair
Tahun 1980 : Lektor Kepala Madya, Gol. VI/b di Fakultas Kedokteran Unair
Tahun 1985 : Lektor Kepala, Gol VI/c di Fakultas Kedokteran Unair
Tahun 1988 : Guru Besar Madya, Gol IV/d di Fakultas Kedokteran Unair
Surabaya
Tahun 1991 : Guru Besar, Gol IV/e di Fakultas Kedokteran Unair Surabaya
Jabatan Struktural
Tahun 1974-1984 : Kepala Sub Bagian Parasitologi Fak. Kedokteran Unair
Tahun 1974-1979 Kepala Bagian Parasitologi Fak. Kedokteran Unair
Tahun 1978-1984 : Wakil Kepala Bagian Mikrobiologi & Parasitologi Fak.
Kedokteran Unair
Tahun 1985-1990 : Pj. Kepala Bagian Parasitologi Fak. Kedokteran Unair
Tahun 1993-1997 : Pembantu Rektor I Universitas Airlangga
Tahun 1997-2001 : Rektor Universitas Airlangga
Keanggotaan Organisasi/Profesi
- Anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI)
- Perkumpulan Pemberantasan Penyakit Parasit Indonesia (P4 I)
- Perhimpunan Alergi dan Imunologi Indonesia
- Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia
- Ikatan Alumni Universitas Airlangga (IKALANGGA
Alamat Rumah :
Jl. Dharmawangsa Dalam Selatan no. 38 Surabaya
|
|
Prof dr Soedarto DTMH PhD
Temuannya Dipakai Dephan AS
Prof dr Soedarto DTMH PhD termasuk ilmuwan gaek di kampusnya. Mantan
Rektor Unair (Universitas Airlangga) ini memiliki sebuah karya ilmiah yang
terbilang cukup dasyat. Yaitu metode yang mampu mengembangbiakkan satu
virus demam berdarah menjadi satu juta kali lipat.
Metode pengembangbiakan virus penyakit mematikan itu, kini dipakai
departemen pertahanan (Dephan) di sejumlah negara. Antara lain, Dephan
Amerika Serikat (AS), Kuba, Irak, Perancis dan beberapa negara lainnya.
“Saya tidak mengetahui untuk apa. Mungkin sebagai bahan penelitian
lanjutan," katanya.
Berarti dapat royalty dong? "Belum saya patenkan. Ini kan pengetahuan
ilmiah. Jadi mereka hanya menggunakan metodenya saja. Bukan produk dari
suatu metode," jelas Soedarto.
Tidak bisa dibayangkan, bila ada yang memiliki niat jahat dengan menyebar
hasil perkembangbiakan virus itu ke suatu pemukiman penduduk, mungkin
efeknya tidak kalah dengan senjata kimia dan nuklir.
Menurut Soedarto, metode pengembangbaikan virus itu memang salah satu di
antara hasil penelitiannya. Ini bisa dipahami lantaran profesor beristri
Sri Ami Astuti asal Malang ini sejak kali pertama mengabdikan diri di
Unair memang doyan penelitian. Terutama dalam hal ilmu-limu mikrobiologi
dan parasitologi. Bahkan sejak mahasiswa, dia dikenal sering menyibukkan
diri dengan jurnal-jurnal asing.
Tidak salah kalau kemudian Soedarto juga diplot menjadi pimpinan Tropical
Desease Center (TDC), pusat penelitian penyakit-penyakit tropis. Di tempat
itulah biasanya para peneliti dari berbagai disiplin ilmu melakukan
kajian-kajian ilmiah. TDC merupakan proyek kerja sama Unair dengan Jepang.
Dikatakan, gemar meneliti itu mesti terus digalakkan di lingkungan PT,
termasuk di lingkungan Unair. Kalau bisa, hasil penelitian itu lebih
bersifat aplikatif alias bisa dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat. "Hasil
penelitian itu harus bermanfaat bagi masyarakat banyak," sarannya.
Dia menambahkan, guna memperkaya khasanah dan wawasan penelitian ilmu
kedokteran, Unair juga akan membuka program studi pasca sarjana baru.
Yakni, program studi Ilmu Kedokteran Tropik. Program studi ini terbilang
masih langka. Sebab, di Indonesia baru ada satu. Yakni di Universitas
Gadjah Mada (UGM).
Yang menarik, calon mahasiswanya khusus diperuntukkan bagi para dokter
saja. Selain itu, tempat kuliahnya juga khusus. Mahasiswa S-2 Ilmu
Kedokteran Tropik ini akan digembleng di TDC yang berada di Kampus C Unair.
Burung dan Bunga
Burung dan Prof Soedarto agaknya seperti dua sisi mata uang. Sulit bisa
dipisahkan. Di tengah-tengah kesibukannya yang luar biasa menjalankan
berbagai aktivitas dosen, peneliti, dokter dan lainnya, bapak tiga anak
ini masih sempat memelihara burung. Tidak main-main, di rumah dinasnya -lingkungan
kampus Unair- sedikitnya 40 burung berbagai jenis menjadi klangenan-nya.
"Sejak kecil saya memang gemar memelihara burung. Untuk penghibur di saat
pikiran penat. Bukan hanya seni merawatnya tetapi juga kicauan
burung-burung itu sangat enak didengarkan," kata Soedarto sambil
menjelaskan burung-burung koleksinya itu kepada Jawa Pos.
Belakangan, tidak hanya burung murahan yang dikoleksinya. Banyak juga
burung yang dipunyai guru besar asli kelahiran Surabaya ini terbilang
mahal. Sebut saja ada burung Beo, Kakatua, Cicak Rowo, Murai Batu, dan
nama-nama burung lainnya. Adakah burung-burung itu yang didapat dari luar
negeri? "Ini saya beli dari sini saja," jelas Soedarto.
Saking banyaknya burung yang dia miliki, dia juga mengaku sempat kerepotan
untuk merawatnya. Untuk membeli pisang, misalnya, dia perlu satu tundun..
"Istilah Jawanya kalau membeli pisang itu tidak sak cengkeh lagi. Tetapi
mesti tundunan," ungkapnya.
Jika dihitung dengan uang, biaya untuk membeli makan burung bisa puluhan
ribu rupiah. Sebab, setiap jenis burung punya makanan sendiri-sendiri.
Meski memiliki puluhan burung, tetapi Soedarto mengaku jarang mengikutkan
lomba burung berkicau. "Saya cuma hobi saja. Teman di kala sendirian di
rumah. Apalagi anak-anak sudah besar," kata Soedarto.
Lain lagi dengan hobi sang istri, Sri Ami Astuti. Kalau Soedarto penghobi
berat burung, istrinya seorang kolektor bunga. Ada anggrek, mawar, melati
dan aneka macam bunga lain yang ditanam di halaman rumahnya yang asri.
Sehingga memasuki rumah dinas rektor Unair ini, orang seperti sedang
berada di taman bunga yang diramaikan kicauan aneka burung.
"Ibu memang gemar menanam bunga. Setiap hari, dia selalu menyibukkan diri
untuk merawatnya. Sebab, memang ibunya anak-anak ini saya minta sebagai
ibu rumah tangga saja. Biar saya yang bekerja. Jadi ibu rumah tangga itu
susah lho. Jangan dipikir gampang," paparnya.
Konsultan PHC
Prof dr H Soedarto DTMH PhD, pada 12-14 Juni 2001 lalu, mendapat
kehormatan dari World Health Organization (WHO) kantor Regional Asia di
New Delhi India. Dia ditunjuk menjadi salah satu konsultan Public Health
Care (PHC) dari Indonesia. Apa "oleh-oleh" Soedarto dari forum
internasional itu? Dan apa obsesinya jika ia tidak lagi menjadi rektor
Unair? Berikut wawancara Jawa Pos dengan guru besar kedokteran itu?
Mengapa WHO memilih Anda menjadi salah satu konsultannya?
Forum itu merupakan pertemuan sejumlah ahli di bidang kesehatan dari
berbagai negara. Terutama dari Asia Tenggara. Saya dimintai urun rembug
seputar Public Health Care (PHC) atau pelayanan kesehatan masyarakat. Ya,
saya sempat bicara banyak seputar beberapa perubahan yang mesti dilakukan
terkait PHC di Indonesia mendatang. Dari urun rembug yang saya berikan
itulah, kemudian saya ditunjuk menjadi konsultan WHO untuk wilayah Asia.
Bagaimana pelayanan kesehatan di Indonesia terutama di Jawa Timur sehingga
perlu ada perubahan?
Sampai sejauh ini, model pelayanan kesehatan di Indonesia terbilang masih
memprihatinkan. Selain itu ternyata bentuknya sama dari Sabang sampai
Merauke. Gampangannya, model pelayanan Puskesmas (Pusat Kesehatan
Masyarakat) di semua tempat kan sama semua. Padahal mestinya tidak bisa
begitu.
Lalu harus bagaimana?
Antara daerah satu dengan daerah lain kan beragam. Baik itu kondisi sosial,
ekonomi maupun budayanya. Jadi kebijakan publiknya nanti juga tidak akan
sama. Semuanya akan disesuaikan dengan tempat dan daerah bersangkutan.
Semisal, kalau kondisi geografisnya begini, maka jenis pelayanannya begini.
Pacitan dan Surabaya jelas berbeda penanganannya. Di Pacitan mungkin
malaria yang mendominasi, sementara di Surabaya mungkin kasus stroke dan
jantung. Demikian seterusnya.
Keterkaitan WHO dalam masalah ini?
WHO sebagai salah satu lembaga dunia yang concern terhadap masalah-masalah
kesehatan berjanji akan memback-up masalah PHC ini. Sehingga ada
peningkatan pelayanan kesehatan yang signifikan dari waktu ke waktu.
Apakah WHO mendukung perlunya perubahan seperti yang Anda usulkan itu?
Jelas. Setelah saya memaparkan panjang lebar, WHO memberikan respon
positif dan akan all out membantu penanganan dan peningkatan pelayanan
kesehatan di Indonesia. Nantinya, WHO bekerja sama dengan beberapa
perguruan tinggi akan merumuskan secara konkret bentuk perubahan itu.
Termasuk realisasinya di lapangan.
Target dari perubahan PHC di Indonesia?
Ya tingkat pelayanan kesehatan kepada masyarakat kian baik. Dengan begitu,
kesehatan masyarakat akan semakin baik juga.
Kiprah Unair terhadap PHC nantinya?
Perlu diketahui bahwa PHC bukan hanya menyangkut kesehatan saja. Tetapi
juga menyangkut masalah ekonomi, hukum, sosial maupun politik. Di forum
itu juga sudah saya sampaikan bahwa dalam hal ini Unair siap menerjukan
tim terbaiknya. Bukan hanya dari kedokteran saja, tapi juga
fakultas-fakultas lain. Semisal dari hukum, ekonomi dan sejenisnya.
Pokoknya penanganannya terpadu.
Kapan itu akan terealisasi?
Kami akan langsung bekerja. Dan semoga dapat secepatnya terlaksana. (Tokoh
Indonesia, dari Jawa Pos dan berbagai sumber)
|
|