A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Galeri
 ► Pengusaha
 ► Company Profile
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah TI
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 23102006  
   
  ► e-ti/rpr  
  Nama:
Soedarpo Sastrosatomo
Lahir:
Pangkalansusu, Sumatera Utara, 30 Juni 1920
Meninggal:
Jakarta, 22 Oktober 2007
Agama:
Islam

Isteri:
HMinarsih Wiranatakoesoemah
Anak:
- Shanti Poesposoecipto
- Ratna Djuwita Tunggul
- Chandra Leka Malimulia

Pendidikan:
- SD Klaten (1934) ; SMP, Yogyakarta (1937)
- AMS, Yogyakarta (1940)
- Geneeskundige Hooge School (tidak selesai, 1942)

Karir:
- Staf Kementerian Penerangan Bagian Luar Negeri (1945- 1948)
- Anggota Delegasi RI ke Security Council di New York (1948- 1950)) Press Councellor di KBRI Washington DC (1950-1952)
- Dirut PT Ista Indonesia/PT Samudra Indonesia/PT Pali Hota Dayaka/PT Cumawis/PT Samudra Perdana/PT Tanker Indonesia Perdana/PT Ista Samudra Cargo/PT Yasa Wahana Tirta Samudra/PT Panurjwan (sekarang)
- Sebagai Komisaris PT Asuransi Bintang/PT Bank Niaga/PT Maskapai Asuransi Nasuha/PT Maskapai Reasuransi Indonesia/PT 3- M Indonesia/PT Telekomunikasi Terrestria/PT Brazindo Motor Co.

Alamat Rumah:
Jalan Cokroaminoto 105, Jakarta Pusat Telp: 374603, 344759

 
 
     


 

 
SOEDARPO HOME

 

Soedarpo Sastrosatomo

Pengusaha, Pejuang Revolusi

 

Pemilik perusahaan Samudera Indonesia, Pendiri Bank Niaga dan Pendiri Soedarpo Corporation Soedarpo Sastrosatomo, seorang pejuang revolusi, rekan seangkatan Muhammad Hatta. Pria kelahiran Pangkalansusu, Sumatera Utara, 30 Juni 1920, itu meninggal dunia di Rumah Sakit Medistra, Jakarta, Senin 22 Oktober 2007, pukul 04.45, akibat usia lanjut.

 

Dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta, Senin pukul 14.30 WIB (22/10/2007). Meninggalkan seorang istri, Minarsih Wiranatakoesoemah (84), dan tiga anak, yakni Shanti Poesposoecipto (59), Ratna Djuwita Tunggul (57), Chandra Leka Malimulia (55), serta enam cucu dan dua cicit.

Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, ia adalah orang pertama yang dikirim Soekarno ke Amerika Serikat untuk urusan perdagangan. Pada masa perjuangan ia juga merupakan rekan seangkatan Muhammad Hatta. Soedarpo merupakan pemilik perusahaan Samudera Indonesia yang bergerak di bidang pelayaran, pendiri Bank Niaga, dan pendiri Soedarpo Corporation.

Di rumah duka para pelayat terus berdatangan, di antaranya Wakil Presiden Jusuf Kalla, dan sebelumnya sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu. "Kita kehilangan seorang pejuang, pengusaha," kata Wapres.

Hari Kamis, 19 April 2007, Soedarpo duduk di kursi roda dengan alat bantu pendengaran. Penyempitan pembuluh darah di otak amat membatasi geraknya. Meskipun dengan penuh perhatian Soedarpo berusaha mengikuti perbincangan Kompas dengan sang istri, ia tak banyak berkata-kata.

Selama perbincangan, hanya dua pesan yang ia sampaikan, tentang "tugas" kehidupan yang sudah harus selesai bagi dirinya dan harapan yang ia titipkan bagi orang-orang muda.

"Kalaupun masih ada cita-cita, sekarang ini sudah harus saya lepaskan karena saya sakit dan penyakit ini, menurut saya, suatu peringatan bahwa sudah harus cukup semuanya ini bagi saya," ujarnya.

Melanjutkan ucapan itu, Soedarpo mengatakan, satu-satunya harapan yang ia inginkan terwujud adalah melihat anak-cucu dan generasi memberdayakan diri mereka untuk mengisi kemerdekaan dengan kemandirian berkarya.

"Kemerdekaan di negeri ini masih kemerdekaan administratif. Banyak urusan di negeri ini masih dikerjakan orang asing. Makanya, jangan gampang saja jadi pegawai negeri, kerjakan yang di luar itu. Isi kekosongan di masyarakat," tuturnya. (Kompas, 23 Oktober 2002)

 

Patut Jadi Teladan

Jakarta (ANTARA News) - Menteri Pertahanan (Menhan), Juwono Sudarsono, usai melakukan takziah di rumah duka almarhum Soedarpo Sastrosatomo mengatakan bahwa Soedarpo adalah pejuang dan mantan diplomat yang patut menjadi teladan bagi banyak orang.

Juwono ditemui di rumah duka Jalan Pegangsaan Barat Nomor 16, Jakarta Pusat, Senin, mengatakan bahwa sejak masih menjadi mahasiswa Soedarpo sudah terjun dalam perjuangan kemerdekaan khususnya dalam bidang bisnis.

"Revitalisasi perekonomian merupakan perannya bagi pembangunan, soal ekonomi modernisasi," ujarnya.

Soedarpo Sastrosatomo (87) meninggal dunia di Rumah Sakit Medistra Jakarta pada Senin, pukul 04.45 WIB, karena usia yang telah lanjut.

Pria kelahiran Pangkalansusu, Sumatera Utara, pada 30 Juni 1920 itu sebelumnya telah dirawat di RS Medistra sejak 15 Oktober. Jenazahnya dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, pukul 14.30 WIB.

Menurut Juwono, peran yang tidak kalah penting dilakukan Soedarpo adalah masuknya pasal Keadilan Sosial dalam pidato Presiden Soekarno.

"Itu usulan beliau. Ia juga seorang aktivis sosial, ia juga berperan menyusun administrasi publik dan administrasi swasta," katanya.

Sementara itu di tempat yang sama, Menteri Pemberdayaan Perempuan, Meutia Hatta, mengatakan bahwa Soedarpo merupakan salah satu kawan akrab dan seangkatan dengan ayahnya, Muhammad Hatta, semasa perjuangan revolusi.

"Sejak kecil saya sudah dekat dengan beliau. Soedarpo adalah pejuang di bidang bisnis, sekaligus berperan sebagai diplomat. Beliau adalah pejuang sezaman dengan Sutan Syahrir," katanya.

Menurut Meutia, pada 1947 Soedarpo ditunjuk sebagai diplomat di Washington DC dan kemudian di Indonesia merintis usaha nasional bidang perkapalan.

"Beliau mempunyai cita-cita memperkuat armada kelautan Indonesia sebagai negara maritim. Selain itu beliau mempunyai cita-cita mensejahterakan kehidupan rakyat," katanya.

Beberapa hal yang berkesan bagi Meutia adalah Soedarpo merupakan sosok yang memiliki pergaulan luas dengan pengusaha luar negeri, namun tidak meninggalkan ciri bangsa ini dalam pergaulan.

"Beliau tetap menjunjung tinggi budaya bangsa," demikian ujar Meutia.

Soedarpo meninggalkan seorang istri, Minarsih Wiranatakoesoemah (84), dan tiga anak yakni Shanti Poesposoecipto (59), Ratna Djuwita Tunggul (57), Chandra Leka Malimulia (55), serta enam cucu dan dua cicit.

Soedarpo adalah seorang pejuang, mantan diplomat, dan pengusaha sukses yang dikenal sebagai "Raja Kapal Indonesia", serta mantan atlet. Ia juga dikenal sebagai tokoh yang peduli terhadap sesama dan aktif dalam organisasi Rotary Indonesia. ►ti


*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

 

=====

 

Rosihan Anwar
"In Memoriam" Soedarpo Sastrosatomo

Selama dua jam, saya di sisi ranjangnya di RS Medistra, Jumat (19/10/2007). Empat tahun ini kesehatannya turun-naik, penyakit orang tua, keluar masuk rawat inap, malah berobat ke Singapura dan Kuala Lumpur.

Lebaran lalu kena demam berdarah. Lelap-lelap ayam dia mengenal saya saat tiba. "He Tjian," katanya. Dia minta saya memijit-mijit ibu jari tangan kirinya, agar bisa tidur. Lalu bangun lagi dan berbicara tentang "rakyat yang kini susah hidupnya".

Menurut Benny yang menungguinya, dia bicara begitu. Pemimpin itu dari rakyat, bukan? Saat menjadi pemimpin sikapnya tidak peduli. Rakyat tak disejahterakan, tetap miskin. "Hei, mainin tangan saya," ujarnya. Ia minta saya memijit terus. Tiba-tiba dia sebut satu nama pemimpin "Belum mati dia?" Saat pamit saya bilang, "Kamu baik-baik saja, ya." Dia mengangguk.

Itulah pertemuan terakhir saya dengan Soedarpo Sastrosatomo. Ia meninggal pukul 04.45, Senin (22 Oktober 2007) dalam usia 87 tahun. Saya tahu, apa yang dipikirkan di saat-saat terakhir sebelum meninggal, soal nasib rakyat yang terus sengsara, soal daulat rakyat yang perlu terus ditegakkan, soal pemimpin yang tidak bertanggung jawab. Itulah pikiran terakhir seorang sosialis, sebelum meninggal dunia.

Diplomat dan pengusaha

Siapakah Soedarpo? Jawabannya tergantung dari sudut pandang dan watak yang dipakai. Dia bisa dibilang pengusaha sukses, bergerak di bidang pelayaran dan perkapalan, dalam Samoedera Indonesia, yang kendati mengalami berbagai ganjalan dan saingan, benderanya tetap berkibar. Kegiatannya juga di bidang komputer dan teknologi informasi.

Dia juga diplomat dari saat-saat pertama Revolusi, bersama LN Palar, Dr Soemitro Djojohadikusumo, dan Soedjatmoko mengoperasikan perwakilan Indonesia di New York tahun 1948-1950 melawan politik Belanda yang mau mengembalikan penjajahan di Indonesia.

Dia kurir yang membawa pesan PM Sjahrir kepada Presiden Soekarno yang saat itu di Malang agar datang bersama Wapres Hatta ke perundingan di Linggarjati November 1946 untuk menunjukkan kepada internasional bahwa politik Sjahrir menghadapi Belanda, yaitu diplomasi dan perjuangan bersenjata dijalankan berbarengan, adalah didukung Soekarno-Hatta. Sekaligus menghilangkan pengecapan Belanda kepada Soekarno sebagai "kolaborator Jepang dan penjahat perang", menokohkan Soekarno sebagai pemimpin bangsa Indonesia. Misi Soedarpo berhasil.

Dia aktivis yang gesit, bersama Soebadio Sastrosatomo dan Soedjatmoko disebut the Sjahrir boys, pemuda-pemuda yang membantu PM Sjahrir yang memimpin pemerintah 14 November 1945. Mereka bergerak di bidang politik dan penerangan untuk menangani aneka masalah. Mereka mampu memenuhi get things done. Ditugaskan jemput Bung Karno di Sukabumi supaya serah terima kabinet bisa dilaksanakan, beres. Ditugaskan menemui Sultan Hamengku Buwono IX agar mulai 4 Januari 1946 kota Yogyakarta jadi tempat kediaman Presiden dan Wapres RI, beres.

Semasa mahasiswa

Aspek karakter Soedarpo ialah Bertumbuh Melawan Arus yang merupakan judul biografinya. Ketika jadi mahasiswa kedokteran di Ika Dai Gaku zaman Jepang, kepala para mahasiswa digundulkan secara paksa. Sekelompok mahasiswa menentang. Akibatnya, mereka disekap Kenpeitai Jepang, lalu dikeluarkan dari sekolah kedokteran. Soedarpo, Soedjatmoko ada di antara mereka.

Tentu banyak hal lain dapat saya paparkan tentang Soedarpo. Pergaulannya luas. Orangnya luwes. Saat jadi pelajar sekolah menengah AMS Yogyakarta dia dikenal sebagai atlet wahid, kampiun lari loncat gawang. Dia dermawan mendukung berbagai usaha amal di masyarakat. Dia haji, dan tertib melakukan ibadah. Tidak heran bila setelah kabar wafatnya tersiar di radio dan di SMS, berbagai lapisan masyarakat datang, bertakziah di rumahnya, Pegangsaan Barat No 16. Sepertinya toute Jakarta datang melayat di rumah, tempat pada 28 Maret 1947 dia menikah dengan Minarsih Wiranatakusuma. Mereka sempat merayakan HUT perkawinan intan (ke-60) bersama ketiga putri, menantu, cucu, dan cicit.

Betapa banyaknya orang datang menyampaikan dukacita, tidak sedikit di antaranya sudah lanjut usia 80 tahun ke atas berkereta roda, bertongkat, yang oleh seorang hadirin dinamai "Golongan AA, alias Antre Ajal". Begitulah kenyataannya, kita semua akan kembali ke Ilahi.

Saya dengar setelah jenazah Soedarpo dimandikan, dikafankan, disemayamkan di ruang belakang, seorang ustadz yang memimpin upacara berkata dan bertanya kepada hadirin, kita saksikan jenazah H Soedarpo Sastrosatomo bin Sadeli Sastrosatomo adalah orang saleh dan baik, yang disambut hadirin serentak, "Baik, baik," dalam bahasa Arab Khair, khair. Berangkatlah sahabatku fi amanillah. (Kompas, 23 Oktober 2002)

Rosihan Anwar Wartawan Senior

 

****

 

SOEDARPO SASTROSATOMO


PDAT: Usia Darpo baru beranjak 30-an tahun ketika menjadi atase pers di Kedutaan Besar RI di Washington, 1950-1952. Tetapi karier diplomat itu ia lepaskan. Soedarpo Sastrosatomo kemudian dikenal sebagai pengusaha tangguh dengan julukan ''raja kapal'' Indonesia.

Semasih duduk di AMS (SMA) di Yogyakarta, putra Almarhum Sadeli Sastrosatomo, hooft mantri opium regie yang juga pernah menjadi aktivis Boedi Oetomo itu, ingin menjadi insinyur. Namun, belakangan, ia menganggap nilai pelajaran eksaktanya tidak memadai -- cuma tujuh. ''Meskipun dengan nilai itu saya sudah nomor satu di kelas. Mau saya, delapan atau sembilan,'' kata Darpo.

Lalu, dalam masa liburan besar, anak Jawa kelahiran Pangkalansusu, Sumatera Utara, ini pergi ke rumah kakaknya yang menjadi dokter di Majalengka, Jawa Barat. Darpo, yang masih meraba-raba akan masa depannya, segera terkesan akan profesi sang kakak yang dinilainya memiliki kebebasan tertentu. Maka, begitu lulus AMS, 1940, ia masuk fakultas kedokteran. Tetapi serbuan bala tentara Jepang ke Indonesia membuyarkan cita- citanya itu.

Dalam kunjungannya ke Majalengka, ia berkenalan dengan seorang pedagang keturunan India, Abdul Wahid, yang kebetulan pasien langganan kakaknya. Belakangan mereka bersahabat. Darpo, yang pada awal masa Kemerdekaan RI bekerja di Departemen Penerangan, menitipkan uang tabungannya kepada Wahid. Sepulangnya dari Amerika, jumlah uangnya sudah bertambah. Bersama uang simpanan lainnya, jumlah uangnya menjadi Rp 100 ribu. ''Itulah modal awal saya,'' kata Soedarpo yang memulai berusaha dengan mendirikan NVPD Soedarpo Corporation. Ia bergerak di bidang perdagangan kertas dan alat-alat perkantoran. Salah satu langganannya adalah surat kabar Pedoman.

Pada 1953, Soedarpo mendapat tawaran kerja sama dari Ishmian Lines, perusahaan pelayaran dan angkutan milik US Steel, AS, untuk mendirikan agen pelayaran di Indonesia. Maka, berdirilah PT International Shipping and Transport Agency (ISTA). Perusahaan ini berkembang pesat.

Pada 1956, seiring dengan dilarangnya orang asing mengusahakan ekspedisi muatan kapal laut (EMKL), ia membeli sebuah perusahaan EMKL milik Belanda, Stroo Hoeden Veem (SHV). Tahun-tahun berikutnya, pada saat gencar-gencarnya kampanye Manipol-Usdek, usaha Soedarpo menurun. Waktu itu, menurut dia, kegiatan usaha dikuasai negara, sedangkan ''swasta dianggap tidak ada''.

Baru 1963, dunia pelayaran mendapat angin kembali dengan lahirnya gagasan Presiden Soeharto untuk menjadikan Indonesia bangsa bahari. Tahun berikutnya, Darpo mendirikan PT Samudera Indonesia (SI), dengan mengandalkan kapal-kapal sewa. Namun, kegiatan usaha di sekitar tahun 1965 semakin tidak menentu. Baru setelah Orde Baru berkuasa, SI berhasil memiliki 11 kapal -- lima di antaranya dijual kembali, karena menyewa kapal dianggapnya lebih murah dibandingkan jumlah yang harus dikeluarkannya untuk perbaikan dan perawatan.

Ia kini memimpin 21 perusahaan, pada 13 perusahaan di antaranya sebagai direktur utama. Dari semua perusahaan itu, Soedarpo mengaku lebih aktif di PT Samudera Indonesia dan NVPD Soedarpo Corporation itu. Namun, dalam masa resesi ini, usahanya di bidang farmasi paling kurang menerima pengaruh kelesuan ekonomi. ''Orang 'kan tidak bisa memilih kapan dia sakit,'' ujar Soedarpo. Di sektor ini, sampai Mei 1985, ia meraih omset Rp 1,6 milyar per bulan.

Istrinya, Minarsih Wiranatakusuma. Mereka dianugerahi tiga anak perempuan. Yang tertua, Shanti Lakminingsih, disiapkan untuk menempati kedudukan ayahnya. ''Semua anak saya perempuan, sedang cucu saya laki-laki. Bermain dengan mereka, membuat saya bahagia luar biasa,'' ujar pria pengagum tokoh wayang Bima itu. (pdat.co.id)


****

 

Jumat, 30 Maret 2001
Biografi Soedarpo Sastrosatomo Diluncurkan

Jakarta, Kompas
Telah terbit sebuah buku biografi yang selain mengungkap perjalanan hidup Soedarpo Sastrosatomo juga berisi kesaksian tentang Indonesia Merdeka. Banyak hal yang baru pertama kali ini diketahui terjadi dalam kehidupan bangsa Indonesia pada zaman penjajahan sampai zaman kemerdekaan, baik melalui penuturan sang tokoh, saudara-saudaranya, maupun kawan-kawan seangkatannya. Ada bagian-bagian yang menunjukkan perbedaan pendapat adalah bagian dari demokrasi, misalnya bagaimana Bung Karno melayani diskusi dan perdebatan tentang sikapnya yang tunduk pada tekanan penguasa Jepang.

Buku yang ditulis oleh wartawan kawakan H Rosihan Anwar itu berjudul Soedarpo Sastrosatomo - Suatu Biografi 1920-2001 Bertumbuh Melawan Arus, diluncurkan Rabu (28/3) malam. Penerbitnya adalah Pusat Dokumentasi Guntur 49 yang dipimpin oleh Murdianto setelah Soebadio Sastrosatomo alias Kiyuk, wafat. 7 Desember 1998. Soebadio adalah kakak kandung Soedarpo (anak nomor enam) yang juga tangan kanan dan penyambung lidah pemikiran dan ucapan tokoh sosialis Sutan Sjahrir.

Soedarpo adalah seorang pejuang, mantan diplomat, pengusaha sukses yang dikenal sebagai "Raja Kapal Indonesia", mantan atlet, dan lain-lain. Ia juga dikenal sebagai tokoh yang peduli terhadap sesama dan aktif dalam organisasi Rotary Indonesia.

Acara peluncuran yang berlangsung penuh kemegahan itu mendapat perhatian undangan yang memenuhi ruangan yang sangat luas, dilaksanakan bertepatan dengan syukuran HUT ke-54 perkawinan Minarsih Wiranatakoesoemah (Mien) dengan Soedarpo. Bedah buku disampaikan oleh tokoh-tokoh yang dekat dengan profesi tulis-menulis, yaitu Ramadhan KH dan Dr Ashadi Siregar, dipandu oleh wartawan senior Sabam Siagian.

Soedarpo Sastrosatomo dilahirkan tanggal 30 Juni 1920 di Pangkalansusu (Sumut), yang waktu itu merupakan pelabuhan Hindia Belanda untuk mengekspor minyak bumi. Pangkalansusu terletak di perbatasan dengan Aceh sehingga ia suka mengatakan "Aku anak Aceh". Ia anak ketujuh dari sembilan orang bersaudara buah perkawinan Mas Sadeli Sastrosatomo dengan Rd Ngt Sarminah. Kedua orangtuanya semula bermukim di Desa Jatinom dekat Klaten (Jateng) sebagai guru yang kemudian pindah ke Tanah Deli setelah berganti profesi menjadi ambtenaar Opiumregie (pegawai perusahaan yang memegang monopoli penjualan dan distribusi opium).

Bagaimana semangat seorang pejuang dan jiwa nasionalis melekat pada sikap dan perbuatan Soedarpo? Ketika ia masih bocah diajak oleh Soebadio menghadiri acara perpisahan di Taman Siswa Pada tanggal 31 Agustus (tahun tidak disebut-Red). Kawan-kawan Soebadio meminta Soedarpo menyanyi.

"Oleh karena hari itu bertepatan dengan ulang tahun Ratu Belanda Wilhelmina, saya menyanyi Wilhelmus," ujar Soedarpo. Hadirin tersentak, mereka heran seorang bocah mampu mengumandangkan lagu berbahasa Belanda dengan fasih. Mereka bukan kagum melainkan gemas. Pasalnya, murid-murid Taman Siswa ditempa untuk menjadi nasionalis. Kumandang lagu kebangsaan merupakan sesuatu yang mengganggu, apalagi telah berkumandang Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Dari saat itulah timbul semangat nasionalisme dalam diri Soedarpo, dan pada Jepang ia ikut memberontak. (iie)