| |
C © updated 10112004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/pdat |
|
| |
Nama :
Prof. Dr. Slamet Iman Santoso
Lahir :
Wonosobo, Jawa Tengah, 7 September 1907
Meninggal:
Jakarta, 9 November 2004
Agama :
Islam
Isteri:
Suprapti Sutejo (Meninggal November 1983)
Anak:
Tujuh orang
Pendidikan :
- Europeesche Lagere School (ELS), Magelang 1912-1917)
- Hollandsch Inlandsche School (HIS), Magelang 1918-1920
- Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), Magelang (1920-1923)
- MAS-B, Yogyakarta (1923-1926)
- Indische Arts, Stovia (1926-1932)
- Geneeskunde School of Arts, Batavia Sentrum (1932-1934).
Karir :
- Pendiri Fakultas Psikologi UI, Jakarta (1953-1972)
- Pembantu Rektor Bidang Akademis Universitas Indonesia (1962-1972)
- Guru Besar Fakultas Kedokteran UI dan Fakultas Psikologi UI (1950-1953)
- Dosen Lemhanas
- Guru Besar Fakultas Psikologi UI
- Dewan kurator Universitas Mertju Buana
Karya Tulis, al:
- Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan, Sinar Hudaya, Jakarta
(1977)
- The Social Background For Psychotheraphy in Indonesia
- Psychiatry dan Masyarakat; Kesejahteraan Jiwa; School Health in the
Community
- Sekolah Sebagai Sumber Penyakit atau Sumber Kesehatan
- Dasar Stadium Generale, Pendidikan Universitas Atas Dasar Teknik dan
Keilmuwan, Dasar-dasar Pokok Pendidikan
Penghargaan:
- Bintang Jasa Mahaputra Utama (III) pada tanggal 19 Mei 1973
- Tokoh Pendidikan Nasional dari IKIP Jakarta (UNJ) pada tahun 1978
- Penghargaan Wahidin Sodiro Hoesodo dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI)
pada tahun 1989.
Alamat Rumah :
Jalan Cimandiri 26, Jakarta Pusat
Sumber:
Antara lain PDAT dan Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia
1985-1986
|
|
| |
|
|
|
|
Slamet Iman Santoso (1907-2004)
Bapak Psikologi Indonesia
Profesor emeritus Fakultas Psikologi UI yang meninggal dalam usia 97 tahun,
Selasa 9 November 2004 dini hari pukul 00.30, ini tidak saja perintis dan
pendiri Fakultas Psikologi Universitas Indonesia tetapi juga perintis
studi psikologi di Indonesia. Patutlah dia digelari Bapak Psikologi
Indonesia. Psikiater kelahiran Wonosobo, Jawa Tengah, 7 September 1907,
ini juga ikut mendirikan beberapa universitas.
Pria yang senang berpakaian putih-putih ini dikenal jujur, jernih, tegas
dan konsisten. Prinsip hidupnya tak pernah berubah sampai akhir hayatnya.
Penerima Bintang Mahaputra Utama III (1973) ini, menurut puteranya Dr
Oerip Setiono, meninggal setelah tiga tahun terakhir terbaring di rumah
kediamannya, Jl Cimandiri 26, Jakarta Pusat. Jenazahnya dimakamkan di TPU
Menteng Pulo setelah sebelumnya disemayamkan di aula FKUI Salemba,
Jakarta. Dia meninggalkan tujuh anak, 13 cucu dan delapan buyut. Isterinya,
Suprapti Sutejo, sudah terlebih dahulu meninggal pada November 1983.
Penerima penghargaan sebagai Tokoh Pendidikan Nasional dari IKIP Jakarta (UNJ)
pada tahun 1978, ini selain sebagai perintis dan pendiri Fakultas
Psikologi UI juga ikut mendirikan Universitas Andalas, Universitas
Sriwijaya, Universitas Airlangga dan Universitas Hasanuddin.
Motivasi mantan Direktur Rumah Sakit Jiwa Gloegoer, Medan (1937-1938), ini
merintis dan mendirikan fakultas psikologi, karena sebagai psikiater
menemukan banyak masalah yang tidak bisa dipecahkan oleh psikiater. Dalam
bidang profesi kedokteran, dia menerima penghargaan Wahidin Sodiro Hoesodo
dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pada tahun 1989.
Sebagai seorang ahli psikologi, tahun 1961, dia memimpin sekitar lima
puluh mahasiswa Fakultas Psikologi UI, mengunjungi penduduk yang terkena
gusuran pembuatan Istana Olahraga Senayan dan dipindahkan ke daerah Tebet
dan Penjaringan. Mereka berdialog dengan penduduk tergusur itu. Kunjungan
ini, menjadi awal pogram mahasiswa turun ke lapangan (masyarakat).
Bidang studi psikologi pun makin menarik perhatian banyak orang. Masa-masa
psikologi mengalami kesulitan (saat psikologi hanyalah sebuah jurusan
dalam lingkungan FKUI), seperti sudah terlupakan. Saat itu, kata Slamet
dalam pidato ketika menerima penghargaan bintang jasa Mahaputra Utama III
(1973), dia merasa ibarat seorang yang sedang berdiri seorang diri di tepi
pasir yang gersang tanpa pedoman untuk melintasinya sambil mengajak
saudara-saudara mengembangkan disiplin ilmu yang baru ini.
Conny Semiawan, mantan rektor IKIP Jakarta yang juga murid dan sempat
menjadi asisten Slamet Iman dalam menguji mahasiswa, mengenang Slamet
sebagai orang yang sangat tertib, teliti dan juga memiliki wawasan yang
sangat luas, selalu berfikir filosofis meskipun bukan ahli filsafat. Dalam
menguji mahasiswa, Slamet selalu menegaskan jangan menanyakan apa yang
kamu ketahui, tetapi usahakan untuk bertanya apa yang dipahami mahasiswa.
Dengan demikian dialog akan terjadi dan mahasiswa dapat mengaktualisasikan
dirinya.
Menurut Conny Semiawan, Slamet adalah tokoh pendidikan yang berani. Dia
adalah orang pertama mengusulkan perlunya satu standar bagi semua jenjang
pendidikan di Indonesia. Usul yang dia lontarkan sepanjang tahun 1979-1981
ini membuat heboh dunia pendidikan. Dia juga orang yang mengkritik keras
minimnya gaji guru yang dia sebut dapat merusak dunia pendidikan. Dia
membandingkan gaji guru jaman Belanda yang dua kali lipat daripada gaji
dokter. Sehingga guru tak perlu mencari tambahan dan dunia pendidikan
tidak dicampurbaurkan dengan bisnis.
Dia juga mempunyai andil besar dalam merintis program penerimaan mahasiswa
melalui UMPTN. Ketika itu (1979-1980), Slamet menjadi Ketua Komisi
Pembaruan Pendidikan Nasional (KPPN, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan).
Saat itu terjadi booming lulusan SMA yang ingin masuk Perguruan Tinggi
Negeri. Sebagai contoh, UI yang kapasitasnya sekitar 800 mahasiswa tapi
jumlah pendaftar 4000 orang.
Maka melalui komite yang diketuainya dibentuklah satu sistempenerimaan
calon mahasiswa yang sejak 1979 sudah berlangsung dengan nama yang sekian
kali berubah mulai dari Skalu, Proyek Perintis, Sipenmaru (Sistim
Penerimaan Mahasiswa Baru) dan UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri).
Pria yang dikenal terus terang dan sempat menjadi Penjabat Rektor UI, ini
meskipun sudah mengakhiri jabatan sebagai Ketua Komisi Pembaruan Sistem
Pendidikan, 1980, ia masih sempat mengurusi penerimaan calon mahasiswa
pada tahun 1981.
Sudah sangat banyak tokoh pendidikan bekas murid Guru Besar Fakultas
Kedokteran dan Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia (1950-1953) serta
mantan Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini. Di antaranya,
Conny Semiawan, Fuad Hassan, Sujudi, Wardiman Djojonegoro, Mahar Mardjono
dan Saparinah Sadli. Para mantan mahasiswanya ini sangat menghormati dan
mengagumi gurunya ini.
Mereka mengenangnya sebagai guru yang sangat akrab dan suka menularkan
pengalaman. Salah satu ucapannya dalam acara peringatan 100 tahun Albert
Einstein di ruang Rektorat UI, 1979: ''Ciri orang pandai, hal yang ruwet
bisa disederhanakan, sebaliknya orang bodoh akan meruwetkan soal sederhana.''
Mantan Anggota Dewan Pertimbangan Agung (1968-1973), ini juga penulis
terkemuka. Dia sering menulis kolom di berbagai media dan juga menulis
buku. Di antara bukunya yang terkenal adalah Sejarah Perkembangan Ilmu
Pengetahuan, Sinar Hudaya, Jakarta (1977); The Social Background For
Psychotheraphy in Indonesia; Psychiatry dan Masyarakat; Kesejahteraan Jiwa;
School Health in the Community; Sekolah Sebagai Sumber Penyakit atau
Sumber Kesehatan; Dasar Stadium Generale, Pendidikan Universitas Atas
Dasar Teknik dan Keilmuwan, Dasar-dasar Pokok Pendidikan; dan Pendidikan
Indonesia dari Masa ke Masa yang diterbitkan oleh CV Haji Masagung,
Jakarta, 1987.
Sebagai dokter ahli penyakit saraf dan jiwa, dia memasang iklan menutup
praktek untuk selamanya, 1 Januari 1979. Dia menyadari dirinya sudah tua.
Dia pun mengaku sudah capek.
Lahir Terbungkus
Pemberian namanya, Slamet Iman santoso, terkait dengan proses kelahirannya.
Dia dilahirkan dalam keadaan terbungkus ari-ari. Ketika itu, semua
penduduk desa heran dan membicarakannya. Dia dianggap sebagai bayi ajaib.
Dipercaya bayi yang lahir terbungkus ari-ari itu kelak akan mempunyai
kelebihan. Sangat jarang kelahiran bayi terbungkus.
Saat bayi terbungkus itu lahir, orang-orang yang melihatnya heran dan
bertanya: "Mana bayinya, mana bayinya?" Untunglah tidak semua penduduk
desa panic terheran-heran. Seorang tetangga, Nyonya Tambi, isteri seorang
petani Indo, membantu membukakan bungkus ari-ari yang membungkusnya. Bayi
itupun menangis dan lahir dengan selamat.
Maka kata selamat (menjadi Slamet) dijadikan nama jabang bayi yang baru
lahir itu.
Dia memang terlahir dari keluarga berpendidikan pada zamannya. Ayahnya
seorang Asisten Wedana Banjaran. Di bawah pengasuhan ayahnya, Slamet
menikmati masa kecilnya dengan penanaman nilai-nilai keramahan, saling
tolong-menolong dan gotong-royong. Dia pun berulangkali, kepada banyak
orang, mengisahkan berbagai pengalaman masa kecil yang yang amat berkesan
baginya.
Salah satu pengalaman itu adalah ketika di suatu saat dia dan anak lain
sedang sibuk mencari ucen-ucen, buah tanaman liar yang sangat manis dan
biru warnanya. Eh, tiba-tiba Slamet terpeleset, hampir masuk selokan
irigasi. Namun dia beruntung, karena anjing Pak Lurah melompat antara
Slamet dan tebing selokan tadi, sehingga dia tertolong. Dia dan
kawan-kawanya menceriterakan peristiwa itu kepada Ayah-Ibu Slamet. Sang
Ayah dengan spontan mengharuskannya memberi makan si Macan (nama anjing
tadi Pak Lurah) itu.
Masa kecil dan remaja anak sulung dari dua bersaudara ini sangat bahagia.
Ia ikut kakeknya di Magelang, Jawa Tengah. Saking nakalnya, dia dijuluki
teman-temannya 'setan alas'. ''Saya senang main ketapel, berburu anjing
dan burung,'' katanya, sebagaimana dikutip dalam Buku Apa dan Siapa
Sejumlah Orang Indonesia 1985-1986. Bahkan mengaku sekali-kali mengganggu
orang.
Namun masa kecil dan remajanya diisi dengan mengecap pendidikan pada jaman
kolonial Belanda di Magelang, mulai dari Europeesche Lagere School (ELS),
Hollandsch Inlandsche School (HIS (1912-1920) dan Meer Uitgebreid Lager
Onderwijs (MULO (1920-1923). Kemudian melanjut ke MAS-B, Yogyakarta
(1923-1926); Indische Arts, Stovia (1926-1932); dan Geneeskunde School of
Arts, Batavia Sentrum (1932-1934).
Dia pun terkesan sangat mengagungkan pendidikan masa kolonial Belanda itu.
Walaupun dia menyadari kondisi pendidikan ketika itu sangat berbeda
disbanding setelah Indonesia merdeka. Dia mengenang, pada zamannya
bersekolah dulu, sangat diasakan betapa guru sangat begitu memperhatikan
murid dan bersatu dengan orang tua murid. Hal yang sudah jarang terjadi
saat ini.
Masuknya Jepang, menurutnya, memberi andil atas awut-awutannya pendidikan
di negeri ini. Terasa sekali suasana pendidikan zaman Belanda yang
terkesan akrabnya hubungan orang tua-murid-guru, tiba-tiba hilang lenyap,
diganti dengan jaman pendidikan Jepang yang mulai awut-awutan. Ironisnya,
kondisi ini terus berlangsung sampai sekarang. Dia memberi beberapa bukti.
Di antaranya, sekarang ada guru yang mengasih tahu bahan ujian yang akan
diuji kepada murid.
Abumawas
Profesor emeritus Fakultas Psikologi UI ini juga dikenal sebagi tokoh yang
jahil dan sering dinilai aneh. Dia sendiri mengibaratkan diri sebagai
Abunawas. Karena, menurutnya, Abunawas itu tokoh penuh akal. Jiwa Abunawas
itu pun banyak menyemangati hidupnya.
Dalam buku, Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1985-1986, diceritakan
sekali waktu dia melihat mobil seorang pejabat UI diparkir salah dengan
posisi miring di halaman kampus UI. Ia mengambil kertas dan menulisnya
dengan spidol: "Barangsiapa yang parkir mobil miring, otaknya juga
miring".
Ketika Bung Karno menanyakan pendapatnya mengenai semboyan "Gantungkanlah
cita-citamu setinggi langit", Slamet dengan tenang menjawab "Nggak, malah
saya gantungkan di cantelan baju. Kalau usang kan bisa diganti."
Suatu ketika, dia menyatakan terheran-heran karena ada orang yang
dipinjami buku, mengembalikan buku itu dengan utuh. "Baru sekarang saya
temukan orang yang saya pinjami buku mengembalikannya dengan utuh,"
katanya. Dia bilang, hanya orang bodoh yang meminjamkan buku kepada orang
lain, dan orang yang mengembalikan buku pinjaman pun adalah orang gila.
Hidupnya yang selalu ceria diwarnai canda memberi andil besar atas usianya
yang lanjut (97 tahun). Padahal dia tak senang olah raga, termasuk olah
raga pagi. Becanda, dia bilang: ''Pagi-pagi itu 'kan hawanya segar. Kok
dipakai buat berkeringat, lebih baik dipakai untuk tidur.'' ►e-ti/crs
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|