| |
C © updated 02012003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/yus |
|
| |
Nama:
Slamet Effendy Yusuf
Lahir:
Purwokerto, Jawa Tengah, 12 Januari 1948
Istri:
Dra. Siti Aniroh
Anak:
Lulu Diany Zuhdiyya, Syarief Hidayatullah Az-Zaky, Ridlo Mohammad
Fahmi
Ayah:
KH. Yusuf Azhari
Ibu:
Hj. Umi Kulsum
Pendidikan :
S1 Fakultas Syarah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
S2 Pasca Sarjana Universitas Indonesia Bidang Politik.
Organisasi/Karir :
Ketua Anak Cabang IPNU Kecamatan Ajibarang
Anggota Front Pancasila/Kesatuan Aksi Pengganyangan Gestapu, KAPPI
Purwokerto
Ketua Dewan Mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta ( 1973-1975 )
Ketua PMII Cabang Yogyakarta (1972-1973)
Ketua Umum GP Ansor dua periode (1985-1995)
Ketua Departemen Pemuda DPP Golkar (1988-1993)
Pemimpin Redaksi Majalah ARENA (1975-1978)
Wartawan harian umum Pelita (1977-1998)
Ikut mendirikan dan memimpin majalah Forum Keadilan (1989}
Anggota MPR-RI ( 1988-1993)
Anggota DPR-RI sejak 1992
Ketua Yayasan Islam Duta Yumika, Purwokerto
Ketua Yayasan Pendidikan Fajar Dunia, Jakarta
Karya Tulis :
“Reformasi Konstitusi Perubahan Pertama UUD 1945”
“Dinamika Kaum Santri”
“Pendidikan Kependudukan untuk Pesantren” dll.
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
Slamet Effendy Jusuf (1)
Pelaku dalam Beberapa Perubahan
Politisi berwawasan kebangsaan ini sangat sering berada pada momen
perubahan yang sangat penting dan dahsyat. Ia seorang yang berperan
penting dalam konvensi calon presiden dari Partai Golkar, suatu inovasi
dalam dunia politik Indonesia. Mantan Ketua Umum Gerakan Pemuda Anshor
ini, sesungguhnya adalah konseptor sejati kembalinya Nahdlatul Ulama ke
Khittoh 1926.
Saat mahasiswa, ia menjadi juru bicara memperjuangkan agar PMII, menjadi
organisasi yang independen dari struktur Partai NU. Kemudian, sebagai
Wakil Ketua Panitia Ad-Hoc (PAH) I Badan Pekerja MPR aktif mempersiapkan
perubahan UUD 1945.
Tokoh muda yang sering berperan dalam perubahan ini, sungguh punya andil
dalam kembalinya NU ke Khittoh 1926. Pada awal tahun 80-an, tokoh-tokoh
muda NU, mendorong agar NU mengambil langkah untuk keluar dari partai
politik (Partai Persatuan Pembangunan). Agar NU kembali ke Khittoh 1926.
Karena selama masih terlibat dengan politik, segala enerjinya terserap ke
arah itu. Padahal hakekatnya NU didirikan adalah untuk mengurus hal-hal
keagamaan, pendidikan, dakwah, sosial dan perekonomian. Sehingga pada
tahun 1983 mereka merumuskan strategi pembaruan NU melalui tema Kembali ke
Kkhittoh Nahdlatul Ulama.
Ketika itu, ia termasuk orang yang membidani konsep tersebut di kelompok G
yaitu sebuah kelompok yang sering berkumpul di sebuah gang bernama Gang G
di Mampang, Jakarta Selatan. “Kelompok inilah sebagai motor pergerakan
perubahan di NU saat itu,” ungkap si ‘anak nakal‘ semasa remaja ini, dalam
percakapannya dengan wartawan Tokoh Indonesia DotCom, di ruang kerjanya,
Senin, 25 November 2002. (Tokoh Indonesia DotCom juga mewawancarai tokoh
bersahaja ini pada Senin 21 Juli 2003).
Kemudian pada tahun 1983 diadakan Munas Alim Ulama NU dilanjutkan dengan
muktamar NU 1984, setahun kemudian . Dalam Munas maupun Muktamar itu, ia
menjadi sekretaris komisi khittoh.Dengan sendirinya ia menjadi salah
seorang perumus. Sesungguhnya persiapan rumusan itu dikerjakan oleh tim
kecil dari Jakarta. Waktu itu yang ditugaskan adalah Abdurahman Wahid
untuk menyiapkan naskah.
Tetapi karena sibuk, Slamet atas permintaan Almarhum Dr.Fahmi Saifuddin
menyusun naskah Khittoh NU. Ia mengerjakannya malam itu juga. Paginya ia
menyerahkan naskah tersebut ke Fahmi dengan pesan agar dibaca dulu oleh
Abdurrahman Wahid sebelum diperbanyak. Ketika ia ketemu Gus Dur, ia tanya
sudah membaca naskah itu, dijawabnya sudah. “Sudah baik kok Mas”, kata Gus
Dur.
Peran Slamet diakui sendiri oleh Abdurrahman Wahid . Antara lain dalam
pidatonya di stadion Widodo, Purwokerto, tahun 1985 seusai Muktamar NU. Di
depan massa, Gus Dur secara jujur mengatakan, bahwa banyak orang mengira
yang menyusun dan membidani Khittoh NU adalah dirinya. Padahal, katanya,
bidannya adalah orang Purwokerto. Maksudnya yaitu Slamet Effendy Jusuf.
Hal serupa pernah dikemukakan Gus Dur di depan Menteri Agama Munawir
Sjadzali di rumah Gus Dur (waktu itu masih di Cilandak) selesai Muktamar.
Sambil menunjuk Slamet, Gus Dur bilang: “Pak Munawir, sebenarnya ini
ibarat kerbau punya susu, tapi sapi punya nama. Mas Slamet yang nyusun
orang-orang mengira saya.” Maka tak berlebihan ketika Majalah Aula, sebuah
majalah NU di Jawa Timur, mengungkapkannya dalam artikel berjudul “Slamet
Effendy Yusuf, Konseptor Sejati Khittoh”.
Sebelumnya, sebagai Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)
Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta, pada tahun 1972, ia ikut
memotori perubahan agar PMII independen dari Partai NU. Begitu pula dalam
mempersiapkan perubahan UUD 1945, ia aktif sebagai Wakil Panitia Ad-Hoc (PAH)
I Badan Pekerja MPR.
Ia memang seorang pelaku dalam beberapa perubahan. Terakhir, sebagai Ketua
Pelaksana Harian Panitia Konvensi Nasional Partai Golkar, ia berperan
dalam sebuah terobosan baru penyeleksian calon presiden dan wakil presiden
dari Partai Golkar.
Kini, ia sedang mempersiapkan sebuah buku yang berjudul “Ikut dalam
Perubahan.’ Sebelumnya ia sudah menulis beberapa buku bersama
sahabat-sahabatnya. Antara lain:buku “Reformasi Konstitusi, Perubahan
Pertama UUD’ 45” yang disusun bersama Umar Basalim, diterbitkan tahun 2000
dan buku “Dinamika Kaum Santri” yang disusun bersama Ichwan Sjam dan
Masdar F.Mas’udi, diterbitkan oleh penerbit Rajawali, tahun 1983.
Ketua DPP Partai Golkar ini, dikenal sebagai seorang politisi yang berjiwa
kebangsaan. Ketika direkrut menjadi anggota Golkar, sebuah majalah di luar
negeri, Asia Week, menyebutnya sebagai seorang yang mempunyai wawasan
kebangsaan yang kental, memiliki sifat yang tidak eksklusif, kendati lahir
dari kalangan santri dan pemimpin muda Islam.
Semasa menjabat Ketua Umum Pemuda Ansor, ia memang sering mengadakan kerja
sama atau acara-acara bersama dengan organisasi kepemudaan agama lain,
Katolik, Budha, Protestan dan Hindu. Sebagai contoh, ketika Pemuda Ansor
mengadakan acara yang bernama Kemah Pemuda Untuk Kebangsaan. Acara itu
diikuti berbagai organisasi kepemudaan dari berbagai agama. Saat itu ia
membuat kebijaksanaan, dalam setiap tenda harus terdiri dari anggota
berbagai agama. Hal itu dilaksanakan dengan baik. Menimbulkan saling
pengertian.
Jadi pernah ketika menjelang subuh, yang Kristen membangunkan dan
mengingatkan yang Islam untuk sembahyang Subuh. Kemudian ketika hari
Minggu, yang Islam mengingatkan yang Kristen untuk kebaktian. Sehingga di
situ setiap orang belajar untuk menghormati bahkan mendorong penganut
agama lain untuk melaksanakan ajaran agamanya.
Santri Cinta Tanah Air
Mantan Ketua Dewan Mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta ini,
dilahirkan di sebuah desa kecil, Desa Lesmana, Kecamatan Ajibarang,
Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Ia anak pertama dari 4
bersaudara, tapi ia juga anak kedua dari 5 bersaudara, karena ayahnya
sebelum beristri ibundanya, pernah beristri di Cirebon.
Tanggal lahirnya tidak diketahui pasti. Sebab, pada masa itu, masa
perjuangan kemerdekaan dan ayahnya, KH Yusuf Azhari, sedang dalam
pengejaran tentara kolonial Belanda. Slamet kecil bersama ibunya, Hj. Umi
Kulsum harus diungsikan ke Pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon.
Sementara ayahnya tetap bergerilya di daerah sekitar Banyumas bersama
pejuang kemerdekaan lainnya. Namun bila dilihat dari sejarah itu, tentara
Belanda memasuki Banyumas sekitar tahun 1949, maka ketika dalam ijazah
diperlukan tanggal lahir, ia ngarang saja, bahwa hari lahirnya tanggal 12
Januari 1948.
Ia masuk Sekolah Rakyat tahun 1957, karena ia ditolak — dianggap masih
terlalu kecil— ketika kakeknya mendaftarkan dirinya pada tahun 1956.
Karena tidak adanya kepastian itu, ia sendiri tidak pernah merayakan hari
kelahirannya. Orangtuanya hanya ingat anaknya lahir hari Selasa Kliwon,
hari yang “wingit” bagi orang Jawa.
Mantan Ketua Umum DPP Gerakan Pemuda Ansor dua periode ini dibesarkan
dalam kelangan santri. Ayahnya, seorang kiai dan semasa perjuangan
kemerdekaan sempat ikut sebagai pejuang laskar Hizbullah/Sabilillah.
Keluarga ini mengalami kesulitan pada awal tahun 50-an. Terutama karena di
laskar terjadi perbedaan visi antara ayahnya dan teman-temannya. Sebagian
teman-temannya ayahnya memilih menjadi gerombolan, DI/TII. Sedangkan
ayahnya memilih ikut Republik Indonesia.
Ayahnya mempunyai keyakinan, Islam di Indonesia hanya bisa dikembangkan
dalam wadah negara yang bersatu dan merdeka sebagaimana diperjuangkan
bersama-sama seluruh rakyat. Slamet kecil sangat menghayati situasi sulit
tahun lima puluhan ketika rumahnya dipakai menginap orang-orang yang takut
menjadi sasaran gerombolan, termasuk untuk persinggahan TNI , sementara
terkadang bekas teman-temannya yang takut diburu TNI karena dicurigai DI,
sering berlindung di rumahnya.
Namun sejak tahun 1950, setelah Indonesia kembali memperoleh pengakuan
kedaulatan, ayahnya kembali menjadi Kiai, guru ngaji, bergerak
dilingkungan NU. Ayahnya dikenal sebagai seorang yang liberal, temannya
terdiri dari berbagai kelompok, dari tokoh-tokoh Muhammadiyah, tokoh-tokoh
politik tingkat kampung, kecamatan, atau kabupaten.
Satu hal yang terus diturunkan ayahnya kepada anak-anaknya adalah cinta
tanah air sebagai bagian dari keimanan seorang Islam. Ayahnya selalu
mencontohkan tokoh-tokoh daerah tersebut yang menonjol seperti Sudirman,
Saifuddin Zuhri, Kiai Muslih sebagai orang-orang yang sangat setia kepada
Republik karena landasan cinta tanah air yang berakar dari iman.
Ayahnya juga memberi contoh agar orang hidup sadar kebersamaan. Tidak
eksklusif. Selalu diajarkan keluasan wawasan, dan pergaulan. Ayahnya
mencontohkan pergaulan dengan tokoh-tokoh Masjumi, PNI, Muhamadiyah,
orang-orang pemerintah, bahkan dengan kiai-kiai yang dicurigai ikut
memberontak.
Mungkin karena pegaulan yang luas, ayahnya termasuk liberal pula dalam
mendidik putra-putrinya. Sekalipun hidup di lingkungan keluarga Kiai ,
orang tuanya tidak menanamkan sikap ‘sam‘an wa tho‘atan‘ (dengar dan taati)
yang biasanya berkembang di kalangan pesantren secara membabi buta.
Anak-anaknya tidak dilarang mempertanyakan dan mendebat apa yang dianggap
doktrin sekalipun.
Sebagai orang NU, selain berlangganan suratkabar NU, Duta Masyarakat,
ayahnya juga sering membeli Koran Abadi (milik Masjumi) dan Suluh
Indonesia/Suluh Marhaen (milik PNI), maupun majalah Pembela Islam dan Al-Muslimun
yang diterbitkan oleh Persatuan Islam (Persis), organisasi yang dalam
banyak hal berbeda pandangan mengenai masalah-masalah agama dengan NU.
Bacaan-bacaan tersebut tentu ikut mempengaruhi proses pertumbuhan Ketua
Yayasan Islam Fajar Dunia ini. Selain itu, kedua orangtuanya mengajarkan
agar seseorang dalam meyakini kebenaran yang dianutnya, tidak boleh
menafikan kebenaran yang dipeluk orang lain. Bahkan jika diperlukan, orang
harus berani memikirkan ulang pendiriannya, jika ada hujjah (argumentasi)
yang lebih baik dan kuat.
Orangtuanya selalu mengatakan, “kamu harus yakin kebenaran yang kita anut.
Tetapi kamu tidak boleh meyakini bahwa kebenaran-kebenaran itu mesti milik
kita saja. Jangan-jangan kebenaran itu berada di tempat orang lain. “Jadi,
ia dan saudara-saudaranya tidak pernah diajarkan untuk menyalahkan orang
lain. Ayahnya memang dikenal sebagai seorang yang paling toleran dengan
paham orang lain. Namun ayahnya akan menjadi keras apabila ada paham pihak
lain yang menyalahkan pahamnya secara apriori.
Jika ada orang yang mulai menyalah-nyalahkan orang lain, ayahnya selalu
katakan, “selesaikan dulu ngajinya supaya tahu mana yang benar dan salah.”
Sebab menurut ayahnya, orang yang demikian itu ngajinya pas-pasan atau
ilmu agamanya tanggung. Berbeda dengan orang yang berwawasan luas akan
tahu permasalahan dengan benar. Tidak mudah menyalahkan orang lain,
apalagi menuduh sesat.
Kendati orangtuanya tidak pernah secara formal aktif dalam organisasi
politik, hanya aktif dalam lembaga pendidikan, yang belakangan mengasuh
Ma‘had Tahfidzul Qur‘an di Desa Lesmana Ajibarang, Purwokerto, namun
suasana pergaulan ayahnya dan dialog di rumah ikut mempengaruhi minatnya
terhadap politik. Sebab, ayahnya bersama tamu-tamu sering juga berbicara
tentang masalah-masalah umat Islam, masayarakat, bangsa dan negara yang
berkembang saat itu.
Sang Ayah memang dibesarkan dalam lingkungan madrasah dan pesantren.
KH.Yusuf muda pernah tinggal di Mesir, Palestina dan Makkah. Dalam
mengajarkan sesuatu kepada anak-anaknya selalu menggunakan media
pengalamannya di sana. Jadi, ayahnya melihat desa tempat tinggal mereka
sebagai bagian kecil dari dunia yang luas.
Apalagi ayahnya seorang penghafal Al-Qur‘an. Sehingga selalu juga
menggunakan cerita dalam Al-Qur‘an untuk mendidik anak-anaknya. Seperti
kisah-kisah Nabi, kisah tentang bangsa Rum, kisah tentang Ratu Saba dan
sebagainya. Mengaji Al-Qur’an kepada ayahnya, adalah sebuah pengembaraan.
Sebuah perjalanan. Penafsirannya tentang ayat Al Qur’an mendorong
keingintahuan lebih lanjut.Tempat-tempat bersejarah yang banyak disebut
oleh Al-Qur’an ia coba jelaskan’ “Kamu kalau sudah besar harus pergi ke
sana”, sering diucapkan ayahnya. Dikutipnya ayat yang menyuruh orang untuk
berjalan di muka bumi untuk melihat perbuatan manusia, yang baik maupun
buruk.
Semua pengasuhan orang tuanya itu, meninggalkan tanda dan kesan mendalam
dalam hidupnya. Sejak kecil, cita-citanya untuk melihat luasnya dunia itu
telah tertanam dalam dirinya. Sekarang ini Slamet sudah mengunjungi semua
benua, kecuali Antartika.
Pada tahun 1957 ia masuk Sekolah Rakyat (SR), sekarang Sekolah Dasar (SD).
Setahun sebelumnya ia sudah sampai menangis mohon kepada mbahnya agar
mendaftarkannya ke SR. Mbahnya berupaya mengabulkan. Namun ia tetap
ditolak, karena tangan kanannya belum dapat mencapai telinga kiri. Jadi,
baru pada tahun 1957 ia diterima masuk SR dan lulus 1962.
Pada masa itu, guru-guru sudah memiliki orientasi politik masing-masing.
Ada beberapa guru-guru yang aktivis PNI dan juga PKI. Namun komunikasi
antara guru-guru dengan murid waktu itu sangat baik. Walaupun pada waktu
itu ia dikenal sebagai anak nakal, iseng dengan teman-teman yang lain. Ia
termasuk anak yang sering meneruma hukuman , disetrap.
Seperti, di hari pertama masuk sekolah, seorang murid perempuan duduk di
depannya sudah menjadi obyek keisengannya. Mengetahui bangku yang diduduk
temannya sudah berlepasan, ketika murid tersebut diminta ke depan kelas
untuk berkenalan, sengaja diam-diam mengganjelnya dengan genteng. Keruan
saja ketika duduk kembali, murid perempuan itu terjatuh. Lalu gurunya
langsung tahu dia yang jahil. Ia distrap di hari pertama masuk sekolah.
Namun walaupun demikian, ia merasa disayang guru-gurunya. Ia selalu
menerima jika dihukum karena ia tahu itu semua akibat perbuatannya.
Setelah lulus SR, ia melanjutkan ke Madrasah Mualimin Al-Hidayah di Karang
Suci, Purwokerto, yang berjenjang 6 tahun. Sebuah pendidikan setingkat SMP
dan SMU. Lembaga pendidikan dari yayasan yang didirikan oleh 7 tokoh NU
termasuk di dalamnya Ki Mukhlis pamannya.
Titisan Sang Ayah
Pria yang bukan seorang politisi karbitan ini, sejak dari SR sudah aktif
dalam organisasi, ekstrakurikuler. Ia ikut dalam kepanduan Ansor. Kemudian
ketika di Madrasah Mualimin Al-Hidayah, ia juga aktif di Ikatan Pelajar
Nahdlatul Ulama (IPNU). Lalu ketika kuliah, waktunya banyak digunakan
untuk aktivitas di PMII dan Dewan Mahasiswa IAIN Jogjakarta. Sampai
setelah selesai kuliah, aktif di Gerakan Pemuda Ansor, organisasi pemuda
Nahdlatul Ulama.
Keaktifannya di IPNU, boleh dibilang tidak sengaja. Ketika masih kelas 2
madarasah, sekitar tahun 1964, secara tidak sengaja ia langsung menjadi
ketua IPNU Kecamatan Ajibarang. Ketika itu, pagi-pagi, saat ia sedang di
kebun, ada rombongan teman-temannya yang kebetulan lewat mau ke Ajibarang.
Ia tanya, “hey, mau ke mana?”, mereka bilang mau pergi ke konferensi IPNU
anak cabang Ajibarang. Lalu ia diajak. Kemudian ia pun ikut saja rombongan
itu.
Sampai di sana, ternyata dalam konferensi, setiap orang yang hadir boleh
bicara. Lalu ia pun ikut bicara. Ia bicara tentang pentingnya kepemimpinan
di sebuah organisasi seperti IPNU, supaya maju. Setelah itu diadakan
pemilihan ketua, eh ia yang terpilih. Padahal waktu itu ia menjadi anggota
pun belum.
Kegiatan IPNU waktu itu masih di sekitar mempromosikan IPNU ke lingkungan
madrasah-madrasah. Tapi juga termasuk kelas 6 SR sudah diajak bergabung.
Jadi, ia selaku ketua, bersama teman-temannya dari Ajibarang, sering
berangkat menjelang shalat subuh menelusuri desa. Pada subuh-subuh itu,
mereka menggunakan obor menyeberangi sungai menuju desa lain yang cukup
jauh. Kadang kala di jalan diselingi dengan shalat subuh. Saking jauhnya
suatu desa yang dituju, mereka bisa sampai sekitar jam 8 pagi. Bahkan
kalau ada undangan pengajian subuh, mereka harus berangkat lebih awal,
malam hari.
Walaupun ia tergolong nakal dan aktif dalam organisasi, prestasi
belajarnya sejak SR adalah terbaik. Prestasi ini tidak lepas dari peranan
guru-guru pada waktu itu, yang benar-benar mendidik murid-muridnya. Salah
satu gurunya, Pak Suwono, selalu ia kenang. Seorang guru yang keras dan
galak, tetapi guru yang selalu mendorong murid-muridnya untuk belajar dan
berkompetisi dengan sehat. Misalnya di dalam kelas dibentuk dua kelompok.
Kemudian diberi kesempatan membuat soal. Lalu, setelah itu, soal ditukar.
Setiap kelompok yang dapat menyelesaikan soal tersebut mendapat
penghargaan.
Selain itu, Pak Suwono itu juga sering menuliskan soal di papan tulis,
yang biasanya sangat sulit. Bagi setiap siswa yang mampu menjawabnya akan
diperbolehkan pulang lebih dahulu. Sedangkan yang lain harus tinggal
sampai jam setengah satu. Biasanya, si ‘anak nakal‘ ini dapat
menyelesaikan lebih cepat. Namun kadang ia merasa tidak enak, lalu
memberikan jawaban kepada teman-temannya yang lain. Tapi, Pak Suwono tetap
mempersilakannya lebih duluan pulang. Karena Sang Guru tahu, ia mampu
menjawabnya.
Dari guru, yang aktivis PNI, ini ia pertama memperoleh pinjaman buku
“Indonesia Menggugat” pidato pembelaan Soekarno.”Saya tidak tahu mengapa
saya yang baru lulus SR dipinjami buku seberat itu”, katanya mengenang.
Selain Suwono, ia terus mengingat jasa Ibu Guru Suryani, orang PNI, yang
pertama mengajarkan ia melek huruf di Klas 1 SR. Guru Sairin, yang pandai
berceritera Si Pincang. Pak Guru Tarwan, orang yang kalau menyanyi
lagu-lagu mars perjuangan sangat bersemangat, yang kemudian lama masuk
tahanan karena dituduh PKI. Pak Guru Salip yang langganan Si Kuncung dan
secara istimewa membolehkan Slamet membawa pulang majalah itu. Dan gurunya
yang lain.
Otak encernya ia buktikan ketika mengakhiri sekolahnya di madrasah
Mualimin Al-Hidayah, ia menjadi siswa teladan.
Pada saat di Madrasah Mualimin itu, ia juga banyak bergabung dalam
pergerakan pelajar. Ikut demo-demo semasa peralihan pemerintahan dari orde
lama ke orde baru yang menentang kekuasaan yang otoriter. Ia menjadi
anggota KAPPI rayon kota Purwokerto. Di waktu-waktu luang, ia juga
mendalami dunia seni, yang ia rasakan itu sebagai bakat. Ia malah pernah
menulis naskah drama. Bahkan pernah guru Bahasa Indonesianya menggunakan
naskah drama itu dalam pentas sekolah.
Selain menulis naskah drama, ia juga ikut dalam memainkan peran dalam
pentas drama. Kegiatan seni ini, ia kerjakan sampai di tingkat dua
perguruan tinggi. Setelah itu, karena terlalu sibuk dengan berbagai
aktivitas organisasi, ia pun lupa menjadi seorang seniman.
Selesai dari Madrasah Mualimin, ia sempat melanjutkan di Fakultas Tarbiyah
di kotanya, hanya selama dua bulan. Kemudian ia pindah ke Jogja (1968)
masuk Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga. Semasa kuliah itu, ia pun
bergabung dalam PMII, masih organisasi NU. Sebenarnya ia juga sudah punya
pikiran untuk bergabung ke organisasi lain yang bukan berbasiskan NU.
Namun ia diwanti-wanti oleh teman dekatnya, yang sekarang menjadi istrinya,
Dra. Siti Aniroh, untuk tidak masuk organisasi lain selain PMII. “Itu kan
terusannya IPNU”, kata pacarnya.
Memang semasa mahasiswa, boleh dibilang secara total ia terjun dalam
aktivitas kemahasiswaan. Sejak dari tukang pasang spanduk, pamflet,
corat-coret tembok, membuat laihan-latihan, hingga memimpin demonstrasi.
Ketika tingkat dua, ia diangkat sebagai Ketua Komisariat PMII di Fakultas
Syariah. Ketika masih Ketua Komisariat PMII Fakultas Syariah, ia menjadi
juru bicara cabang Jogjakarta yang memperjuangkan agar PMII, sebagai
gerakan mahasiswa, menjadi organisasi yang independen dari struktur Partai
NU.
Argumentasinya, sebagai cendekiawan muda, mahasiswa dalam gagasan maupun
gerakan tidak boleh didasarkan kepada pertimbangan kepentingan politik,
tetapi harus dengan alasan moral, kebenaran dan keadilan serta
berorientasi kepada kepentingan negara, bangsa dan kemanusiaan. Karena itu
PMII seharusnya tidak menjadi onderbow partai politik.
Lalu dalam kesempatan itu ia menjadi salah seorang perumus Deklarasi
Murnajati, yang mendeklarasikan PMII menjadi organisasi mahasiswa yang
independen, lepas dari hegemoni Partai NU.
Kemudian, ia dipilih menjadi Ketua Cabang PMII Jogja (1972). Pada saat
yang sama, ia juga ikut sebagai pengurus Senat Mahasiswa IAIN Fakultas
Syariah. Lalu tak lama kemudian terpilih menjadi ketua Dewan Mahasiswa
IAIN (1973-1975). Pada masa-masa ini adalah saat sulit baginya. Karena ia
menjadi ‘langganan‘ polisi, dianggap sebagai aktivis pemberontak.
Peristiwa demonstrasi mahasiswa 1973-1974, sempat membawanya ke Tahanan
Corps Polisi Militer dan Rumah Penjara Wirogunan bersama-sama tokoh-tokoh
mahasiswa dan dosen-dosen muda di Yogyakarta, seperti Firdaus Basuni,
Anhar Gonggong, Yusuf Muhammad, Ali Muhtarom, Ashadi Siregar dan
lain-lain.
Bahkan, ia pernah diciduk polisi dari rumahnya, ketika sedang pulang
kampung menghadiri hajatan pernikahan adiknya. Ia dibawa ke Polres
Banyumas dan ditahan selama 3 hari, karena dianggap mendalangi protes
mahasiswa Fakultas Tarbiyah Sunan Kalijaga Cabang Purwokerto. Jadi,
baginya “berhubungan” dengan polisi waktu itu, sebagai aktivis mahasiswa,
sudah biasa.
Sewaktu pengadilan atas tokoh Malari, Hariman Siregar digelar, ia menjadi
salah seorang saksi yang didatangkan ke Jakarta. Ia juga pernah merasakan
menjadi orang yang dicekal oleh Kejaksaan Agung, tidak boleh ke luar
negeri. Ketika itu ia gagal maenghadiri acara pemberian hadiah sebagai
salah seorang juara penulis Radio Malaysia di Kuala Lumpur, karena di
cekal.
Sebagai seorang mahasiswa daerah yang baru pertama kali ke luar negeri,
tiba-tiba dicekal, tidak boleh ke luar negeri, ia tentu sangat kecewa. Ia
pun mondar-mandir ke Kejaksaan Agung selama tiga hari, sampai akhirnya
bertemu dengan Suhadibroto, Jaksa yang pernah memeriksanya pada Peristiwa
Malari. Setelah itu, barulah pencekalannya dicabut. Ia pun akhirnya
berangkat, walaupun sudah terlambat. ►mlp- ys- sri
(Bersambung)
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|