|
|
 |

Nama:
Siti Hartinah Soeharto
Nama Panggilan:
Ibu Tien Soeharto
Lahir:
Desa Jaten, Surakarta 23 Agustus 1923
Meninggal:
Jakarta, Minggu 28 April 1996
Dimakamkan:
Astana Giribangun,Surakarta
Suami:
Soeharto (menikah 26 Desember 1947)
Anak:
Siti Hardiyanti Hastuti (Mbak Tutut)
Sigit Harjojudanto
Bambang Trihatmodjo
Siti Hediati
Hutomo Mandala Putra (Tommy)
Siti Hutami Endang Adiningsih
Ayah:
RM Soemoharjomo
Ibu:
R. Aj. Hatmanti
Pendidikan:
Sekolah dasar yang disebut sekolah Ongko Loro fi Matesih dan HIS
(Holland Indlanche School) di Solo dan Wonogiri |
|
Siti Hartinah Soeharto
Perjuangan dan Pengabdian Ibu Negara (2)
Istri Presiden
Pada suatu hari, istri Panglima Kostrad, Ny Soeharto kedatangan seorang
penjual batu akik. Si penjual adalah warga negara Indonesia keturunan
India. Ny. Soeharto tidak menunjukkan minat terhadap barang dagangannya.
Si penjual pun menjual komoditas lainnya, meramal nasib.
Mula-mula si peramal menyebutkan masa lalu Siti Hartinah Soeharto. Merasa
banyak kecocokan, akhirnya nyonya rumah mita diteruskan meskipun hanya
sekadar iseng. Hingga kemudian si peramal itu berkata, “Madam, suami madam
akan berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan presiden yang
sekarang.”
Ny. Soeharto tidak lantas percaya. Menjadi perwira tinggi AD saja sudah
demikian berat tugasnya. Si peramal pun tidak memaksa kliennya untuk
percaya. Ia hanya perlu bayaran sebagai imbalan jasa ramalannya. Akhirnya,
dibayarlah si peramal itu sesuai dengan yang diminta.
Pada tahun 1967, Sidang Istimewa MPRS secara aklamasi mengangkat Jenderal
Soeharto sebagai Pejabat Presiden. Ini berarti, Ny. Soeharto yang tadinya
adalah istri prajurit kini menjadi istri presiden. Menduduki jabatan
presiden, baik oleh Soeharto maupun istrinya tidak pernah terpikirkan sama
sekali.
Ny. Soeharto yang telah terbiasa dengan kehidupan di lingkungan angkatan
bersenjata merasa istilah “pejabat” mengandung arti kesementaraan. Namanya
“pejabat” artinya belum definitif. Jika MPRS menganggap tugasnya sudah
rampung, maka MPRS sangat mungkin mengangkat orang lain menjadi presiden
tanpa embel-embel “pejabat”.
Perasaannya mengatakan, jabatan suaminya itu tidak akan lama. Itulah
sebabnya, pada saat Jenderal Soeharto dilantik dan diambil sumpahnya oleh
MPR, Ny. Soeharto biasa-biasa saja di rumah dan tidak hadir menyaksikan
peristiwa yang bersejarah itu. Meskipun ia mengucapkan syukur kepada Tuhan
yang menakdirkan suaminya memimpin negeri ini. Namun, ia tetap belum
merasa sebagai istri presiden. Sebab menurutnya, Presiden RI masih Bung
Karno. Padahal saat itu sebenarnya ia telah menjadi ibu utama Indonesia
dalam usia 44 tahun.
Pada saat diangkat menjadi pejabat presiden, Jenderal Soeharto sempat
menolak dengan alasan tidak yakin mampu mengemban tugas berat. Ia juga
beralasan tidak mempersiapkan diri untuk memangku jabatan presiden.
Setelah banyaknya desakan, ia akhirnya bersedia meski dengan syarat dicoba
dulu untuk satu tahun.
Pada bulan Maret 1968, MPRS menggelar Sidang Umum ke-V. Kembali pimpinan
partai politik dan pejabat TNI Angkatan Darat mendesak agar Pak Harto
menerima jabatan presiden dengan alasan tidak ada tokoh nasional yang
lain. Sekali lagi, Soeharto menyatakan menolak. Namun, kali ini sikap
keras kepalanya dapat dilumpuhkan setelah mendapat penjelasan bahwa
tugasnya itu adalah untuk membela kepentingan rakyat. Soeharto yang selama
puluhan tahun berperang demi rakyat tergelitik hati nuraninya. Kalau
menolak itu berarti takut. Sedangkan menolak untuk membela kepentingan
rakyat? Mustahil dilakukannya. Akhirnya ia pun bersedia.
Pada tanggal 27 Maret 1968 MPRS mengangkat Pejabat Presiden Soeharto
menjadi Presiden RI ke-II. Ny. Siti Hartinah Soeharto yang tadinya tidak
merasa menjadi istri presiden akhirnya benar-benar menjadi ibu negara.
Pada masa awal kegiatannya sebagai ibu negara, aktivitas sosialnya menjadi
fokus perhatiannya. Di samping itu, ia pun mulai memperhatikan istana
kepresidenan yaitu Istana Negara dan Istana Merdeka. Di luar Jakarta masih
ada istana kepresidenan lainnya yaitu Istana Bogor, Istana Cipanas, Istana
Yogyakarta (Gedung Agung), dan Istana Tampak Siring di Bali.
Meskipun menata kembali istana kepresidenan, namun keluarga presiden lebih
memilih tinggal di rumah sendiri (Jln. Cendana). Alasannya, tinggal di
rumah sendiri lebih bebas, tidak jauh dari masyarakat, lebih sering
bertemu masyarakat. Hal ini berbeda dengan tinggal di istana. Di sana
setiap tamu harus mencatatkan diri, harus diperiksa, dan lain sebagainya.
Sedangkan di rumah, seluruh keluarga dapat bolak-balik keluar masuk dengan
bebas.
Perubahan dalam protokol istana dapat terlihat setelah Ibu Tien memberi
perhatian untuk membenahinya. Bangunan istana yang merupakan peninggalan
zaman Belanda rata-rata sangat kokoh. Tinggal kini diisi dengan berbagai
perangkat yang menonjolkan keindonesiaan. Maka, ukiran jati dari Jepara
dalam ukuran besar mengisi ruang-ruang istana. Selanjutnya, interior
istana dipercantik dengan pewarnaan yang menarik. Ruangan resepsi diberi
karpet taiping. Warna merah untuk Istana Merdeka dan warna hijau untuk
Istana Negara.
Menu makanan pun mendapat perhatian dari first lady. Kalau dulu yang
disajikan adalah menu Indonesia, maka untuk menghormati negara asal tamu
kini diseimbangkan antara menu Indonesia dengan menu asing. Dengan
demikian, para tamu merasa dihormati dan tetap dapat menikmati hidangan
khas Indonesia.
Pemberian cendera mata pun tak luput dari perhatiannya. Pada awal
kedatangan tamu negara, tidak ada persediaan apa-apa untuk tamu negara.
Ketika Perdana Menteri Jepang berkunjung, sounvenir yang diberikan adalah
satu set kursi ukiran Jepara. Selanjutnya diputuskan bahwa cendera mata
haruslah benda-benda hasil kerajinan Indonesia. Kalau tamu itu kepala
negara, maka akan diberi keris emas buatan Bali sedangkan istrinya akan
diberi liontin emas. Pada saat itu harga emas belum terlalu tinggi. Namun,
dalam perkembangannya, souvenir untuk tamu negara diubah menjadi sendok
garpu dari perak buatan Yogyakarta.
Perayaan ulang tahun kemerdekaan yang dihadiri para corp diplomatik yang
ada di Jakarta biasanya dimeriahkan dengan memotong tumpeng ukuran besar.
Ibu Tien tampaknya tidak sreg dengan kebiasaan tersebut. Akhirnya dicari
pola lain untuk mengganti kue tart. Selanjutnya pemotongan kue tart
diganti dengan pemotongan tumpeng. Masalahnya adalah siapa yang akan
membuatnya. Akhirnya diputuskan pembuatan tumpeng dilakukan di Cendana
agar dapat terkontrol.
Lukisan-lukisan penghias dinding istana pun tak luput dari perhatian ibu
negara. Lukisan-lukisan yang dianggap tidak cocok dimasukkan ke museum
istana. Kemudian dipilih lukisan-lukisan para pelukis Indonesia dari
berbagai aliran.
Banyaknya barang berharga peninggalan Presiden Soekarno membuat Ibu Tien
memikirkan perlunya tempat baru untuk menyimpannya. Kebetulan ada ruangan
kosong di paviliun kanan Istana Merdeka. Paviliun ini kemudian dijadikan
museum istana untuk menyimpan barang-barang berharga. Ibu Tien menganggap
barang peninggalan Bung Karno sebagai barang berharga. Sayangnya, penataan
terhadap peninggalan itu tidak begitu baik. Kalau tidak ditata, mungkin
saja barang-barang tersebut mudah hilang dan tak ada yang tahu. Ratu
Juliana dari Kerajaan Belanda tercatat sebagai tamu negara pertama yang
mengunjungi museum istana.
Museum istana menyimpan benda-benda koleksi budaya Indonesia dan cendera
mata yang berasal dari negara-negara sahabat untuk Presiden dan Ibu Tien.
Museum itu juga memiliki ruang tersendiri yang mengoleksi benda khusus.
Ruang Raden Saleh misalnya, menyimpan enam buah lukisan raden Saleh yang
terkenal. Dua di antaranya merupakan koleksi Kerajaan Belanda yaitu
“Perkelahian dengan Singa” dan “Penangkapan Diponegoro”. “Perkelahian
dengan Singa” dikembalikan Ratu Juliana kepada pemerintah Indonesia ketika
Presiden dan Ibu Tien melakukan kunjungan kenegaraan ke Belanda tahun
1970.
Meskipun ruang Istana Negara telah dipercantik, namun tidak menyisakan
satu ruangan pun untuk kantor Ibu Negara. Akhirnya Ibu Tien memilih
ruangan duduk belakang di rumahnya Jalan Cendana sebagai kantornya. Di
tempat yang sederhana itu ia menerima macam-macam tamu dari berbagai
kalangan, organisasi, para pemimpin, kalangan profesi, panitia amal,
seminar, perlombaan, yayasan, paguyuban, sampai kepada tamu-tamu penting
seperti duta-duta besar negara asing yang ditempatkan di Jakarta.
Di tempat kediaman itu pula setiap tahunnya menerima ribuan tamu yang
berbondong-bondong datang untuk bersilaturahmi, saling memaafkan pada hari
raya idulfitri. Sebab, rumah di Cendana terbuka untuk siapa saja yang
datang.
Di Istana Merdeka memang ada ruangan kerja Ibu Negara. Di sini ia sering
menerima tamu penting seperti istri-istri duta besar atau tamu-tamu resmi
lainnya.
Istana Negara sering pula digunakan menjadi tempat berbagai konferensi
yang diadakan badan-badan internasional yang bergerak di bidang kesehatan,
donor darah, pendidikan, dan lain-lain. Ibu Tien Soeharto selalu hadir dan
menyampaikan pidatonya pada acara tersebut. Dalam salah satu pidatonya
pernah mengatakan, masalah kesehatan merupakan salah satu kebutuhan dasar
manusia yang teramat penting di samping keutuhan akan pangan, sandang,
perumahan, dan pendidikan.
Istri-istri kepala perwakilan dan badan-badan internasional pun sering
diundang dalam acara minum kopi (Coffee Morning) di istana. Di sini selain
bertukar pikiran, mereka juga disuguhi atraksi yang menarik, seperti
kesenian tradisional, makanan khas Indonesia, yang tujuannya agar undangan
itu bisa lebih memahami kekayaan budaya Indonesia. Acara Coffee Morning
dengan demikian telah menjadi sarana promosi wisata Indonesia.
Ibu Tien juga adalah pencinta bunga, khususnya anggrek dan melati. Bunga
adalah lambang keindahan. Pada Pekan Industri Bunga Desember 1975 Ibu Tien
menyampaikan pidato yang berisi antara lain, bunga-bunga yang
berwarna-warni dapat membuat kehidupan ini serasa menyejukkan dan
menggairahkan. Cinta terhadap bunga akan menambah kecintaan terhadap tanah
air yang indah ini. Cinta kepada keindahan dapat memperhalus budi pekerti.
Sebagai bekas pandu, perhatiannya pada gerakan kepanduan tidak pernah
surut. Tahun 1961 gerakan kepanduan dilebut mejadi satu wadah yaitu
Gerakan Pramuka. Tahun 1967 Ibu Tien termasuk dalam jajaran kepemimpinan
Kwartir Nasional Gerakan Pramuka. Pembinaan Pramuka memerlukan sarana yang
memadai. Sedangkan di Cibubur terdapat lahan yang luas milik Kwartir
Nasional, tetapi karena kekurangan dana, lahan itu terlambat
pemanfaatannya bagi gerakan Pramuka. Setelah Ibu Tien diberi wewenang
untuk mengelolanya, barulah lahan seluas 233 ha itu diubah menjadi lahan
untuk rekreasi, sarana pendidikan, dan olahraga.
Taman Mini Indonesia Indah
Ketika mengunjungi Disneyland di Amerika Serikat dan menyaksikan taman
budaya Timland di Thailand, memberi inspirasi bagi Ibu Tien untuk
membangun sebuah taman yang menyajikan keindahan budaya dan lingkungan
alam Indonesia. Ibu Tien amat menyadari bahwa kekayaan alam dan budaya
Indonesia tidak kalah dengan kekayaan alam dan budaya negara lain.
Membangun sebuah miniatur Indonesia menurutnya adalah suatu keniscayaan.
Suaminya, Pak Harto, selalu berkata bahwa Indonesia menjadi negara besar
karena sejarahnya yang panjang, perjuangan bangsanya yang hebat, dan
kebudayaannya yang tinggi. Betapa indahnya rumah-rumah adat dan betapa
beraneka ragamnya kebudayaan mulai dari Sabang sampai Merauke. Ia juga
ketika berkunjung ke berbagai daerah di tanah air melihat dengan mata
kepala sendiri betapa indahnya budaya bangsa Indonesia.
Pada bulan Maret 1971, dalam rapat pleno Yayasan Harapan Kita, gagasan ini
diutarakan. Setelah memahami maksud dan tujuan dari gagasannya itu, tidak
satu pun peserta pertemuan yang tidak setuju. Semuanya mendukung gagasan
Ibu Tien. Meskipun demikian, dukungan dari masyarakat luas tidak didapat
dengan mudah. Terjadi perbedaan pendapat dalam menyikapi gagasan Ibu Tien
itu.
Aksi-aksi protes menentang pelaksanaan proyek pembangunan taman mini terus
terjadi. Lambat laun aksi demo semakin membesar. DPR yang terbentuk dari
hasil Pemilu 1971 dan belum memiliki tata tertib maupun komisi-komisi,
segera membentuk panitia khusus untuk secara lugas mendudukkan persoalan
pada relnya, agar gagasan Ibu Tien itu lebih jelas, transparan, dan
dipahami.
Setelah melakukan public hearing dengan berbagai komponen seperti
mahasiswa, pengurus Yayasan Harapan Kita (YHK), Konsultan proyek, dan
Gubernur DKI, Pansus DPR menyimpulkan bahwa telah terjadi kesenjangan
komunikasi dalam menanggapi proyek itu. Masyarakat masih traumatis dengan
berbagai proyek mercu suar yang pernah dibangun pada masa Orde Lama. Di
samping itu, ada beberapa pihak yang berusaha memancing di air keruh,
memanfaatkan isu proyek MMI sebagai isu politik untuk kepentingan mereka.
Pak Harto pernah berkata, “Saya tahu bahwa ada kelompok tertentu yang
ingin menjadikan proyek yang kami cita-citakan sebagai isu politik.”
Pansus DPR akhirnya menanyakan berbagai pertanyaan kepada YHK. Salah
satunya adalah mengenai sasaran dari pembangunan miniatur Indonesia Indah
yang dijawab oleh YHK untuk membangun dan mempertebal rasa cinta tanah air
dan bangsa; memupuk, membina persatuan dan kesatuan bangsa; meningkatkan
apresiasi, menjunjung tinggi kebudayaan bangsa melalui upaya penggalian
dan menghidupkan kembali kebudayaan yang diwariskan nenek moyang;
meningkatkan pariwisata serta menjadi tempat promosi bagi daerah-daerah di
seluruh Indonesia; memajukan kerajinan rakyat dan sebagai tempat rekreasi
yang bersifat pendidikan bagi rakyat.
Tindakan Pansus DPR ini pada akhirnya dapat meredam suara-suara kontra
yang sebelumnya terdengar nyaring. Pembangunan proyek MII pun dapat
dilanjutkan secara bertahap. Semua pihak akhirnya memahami dan mengerti
duduk persoalannya. Aksi unjuk rasa pun berhenti sama sekali. Pembangunan
proyek itu akhirnya dapat dilanjutkan dengan suasana yang tenang.
Pada tanggal 27 Juni 1972 dimualilah pembangunan proyek MII di lokasi yang
sekarang ini berada (Cibubur). Luas tanah untuk proyek ini adalah 100 ha.
Pembangunan memakan waktu tiga tahun. Waktu ini adalah reltif cepat. Yang
pertama dibangun adalah peta maharaksasa Indonesia (arcipel Indonesia)
yang merupakan miniatur Indonesia dibangun di atas tanah seluas 8,5 ha.
Arcipel itu menggambarkan kepulauan nusantara di atas hamparan lautan
(danau-danau buatan) yang sekaligus berfungsi sebagai tempat rekreasi olah
raga air. Di seputar arcipel itu berdiri rumah adat dari 26 propinsi.
Selain itu ada juga bangunan joglo yang terdiri dari Pendopo Agung Sasono
Utomo dan Sasono Langen Budoyo yang merupakan centrum seluruh rumah adat
yang berdiri di atas garis lurus menghadap ke barat segaris dengan Tugu
Api Pancasila dan gerbang TMII. Di sana juga ada Gedung Pusat Percontohan
Niaga, Museum Indonesia, rumah-rumah ibadah agama-agama resmi di
Indonesia, gedung pusat pengelolaan, taman buah, taman bunga, taman
burung, air terjun buatan, fasilitas restoran dan warung-warung, tempat
pameran, teater, dan sebagainya.
Proyek Miniatur Indonesia Indah berakhir ketika hasilnya berupa sebuah
Taman Mini Indonesia Indah diresmikan pada tanggal 20 April 1975. Dalam
pidato acara peresmian, Ibu Tien mengemukakan, “Ciri utama taman ini
adalah penampilan Indonesia yang besar dalam bentuknya yang kecil.”
Ibu Tien juga mengucapkan terima kasih kepada mereka yang tidak setuju
pembangunan proyek ini. Karena, “Ketidaksetujuan mereka itu sebenarnya
ingin mengingatkan kami agar kami tidak berbuat salah, dan dengan begitu
mendorong kami bekerja lebih hati-hati.”
Ia memberi apresiasi kepada seluruh masyarakat Indonesia. “Tanpa
pengertian itu,” katanya, “taman ini tidak mungkin terselesaikan.
Pembangunan taman ini hanya mungkin terselesaikan dengan adanya gotong
royong masyarakat dan akan kami persembahkan kepada masyarakat.” Ia
mengatakan, sumbangannya adalah sekadar melontarkan gagasan mengenai
perlunya sebuah tempat yang bisa menampung berbagai keunggulan bangsa,
sedangkan pengerjaannya dilakukan oleh seluruh komponen bangsa.
Taman mini yang telah diresmikan itu dianggapnya baru pada tahap
permulaan. “Taman yang kita saksikan sekarang ini memang belum selesai.
Nanti, Insya Allah masih perlu dikembangkan dan diperluas lagi sehingga
pengunjung akan mendapat gambaran yang utuh mengenai Indonesia.
Presiden Soeharto dalam pidato peresmiannya mengatakan berdirinya taman
itu berkat hasil gotong-royong seluruh rakyat Indonesia. “Tanpa
keragu-raguan sedikit pun saya mengatakan bahwa taman ini adalah milik
seluruh bangsa Indonesia.”
Pada tahun 1984, di taman itu telah berdiri sebuah teater film termegah
yang lain dari yang lain. Teater Film Keong Emas. Arsitekturnya menyerupai
keong raksasa berwarna kuning keemasan. Interiornya nyaman dan membuat
siapa saja merasa nikmat saat menonton film mengenai Indonesia yang Indah.
Pengakuan secara formal diberikan oleh Asosiasi Pariwisata Asia Pasifik
(PATA) terhadap TMII yang menyerahkan PATA GOLD AWARD kepada Ibu Tien
Soeharto oleh Presiden PATA yang datang langsung ke Indonesia pada tanggal
19 Juli 1987. Tidak semua objek wisata mendapat kesempatan untuk meraih
penghargaan PATA. Pemberian penghargaan itu karena TMII tidak sekadar
sebagai tempat hiburan dan rekreasi, melainkan juga TMII berhasil
meningkatkan dan mengedepankan nilai-nilai luhur budaya bangsa, sebagai
sarana pembinaan generasi muda untuk memahami kepribadian bangsa, dan
teknologi modern yang dikembangkan TMII tetap berpijak pada kepribadian
bangsa.
Dua pekan sebelumnya, Presiden Soeharto meresmikan Museum Keprajuritan di
dalam komplek TMII. Dalam museum ini digelar episode sejarah yang
diwujudkan dalam bentuk diorama, fragmen, patung dan relief, benda antik
serta tokoh-tokoh pahlawan Indonesia dari abad ke-7 sampai 19. Ibu Tien
memiliki pandangan mengenai museum sebagai bukan sekadar tempat kumpulan
benda-benda mati. “Yang kita lihat sebenarnya adalah penampilan kembali
kisah-kisah yang panjang dan dalam dari sejarah, pikiran dan cita-cita,
pesan-pesan dan karya besar, kejayaan dan kegembiraan masa lampau mungkin
juga keruntuhan dan kepedihannya.
Jumlah pengunjung TMII terus bertambah dari tahun ke tahun. Pada tahun
1988 jumlah pengunjung mencapai 37 juta orang. Enam tahun kemudian telah
membengkak menjadi 74 juta orang. Jumlah pengunjung pelajar dan mahasiswa
terus meningkat setiap tahunnya. Sedangkan fasilitas TMII pun terus
mengalami penambahan dari tahun ke tahun seiring dengan perkembangan
zaman.
Perpustakaan Nasional
Keberadaan gedung Perpustakaan Nasional yang megah di Jalan Salemba
Jakarta sekarang ini tidak terlepas dari perhatian Ibu Tien akan
pentingnya pengelolaan buku pustaka. Keberadaan perpustakan nasional itu
sendiri memiliki riwayat yang panjang.
Pada tanggal 24 April 1778 di Batavia berdiri lembaga ilmiah bernama
Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Lembaga ini
mengoleksi buku dari beberapa pejabat yang bermurah hati. Pada akhir abad
ke-19, perpustakan ini menerima terbitan ilmiah dari berbagai sumber di
bebrapa negara. Tahun 1913 Pemerintah Hindia Belanda mewajibkan setiap
penerbit untuk mengirimkan barang cetakannya kepada perpustakaan itu.
Maka, jadilah Bataviaasch Genootschap sebagai perpustakaan terbesar di
Asia karena banyaknya koleksi buku yang dimiliki.
Pada Perang Dunia II, sumbangan buku dri penerbit otomatis berhenti.
Selama Pemerintahan Militer Jepang, lembaga ini sama sekali tidak
berfungsi. Namun, koleksi buku yang amat berharga sama sekali tidak diusik
oleh balatentara Jepang, Sehingga seluruh buku koleksi yang ada selamat
melewati masa genting.
Setelah Indonesia merdeka, perpustakaan itu masih berada di tangan swasta
dan dikelola oleh pustakawan Belanda. Tahun 1950, perpustakaan itu
berganti menjadi “Lembaga Kebudayaan Indonesia” dengan status tetap swasta
namun dipimpin oleh orang Indonesia. Namun, beratnya pengelolaan
perpustakaan dan minimnya anggaran, pada tahun 1962, Lembaga Kebudayaan
Indonesia menghibahkan seluruh kekayaannya kepada pemerintah Indonesia.
Meskipun demikian nasibnya tetap saja suram dan perpustakaan yang pernah
menjadi terbesar di Asia itu turun derajatnya menjadi bagian dari museum
pusat.
Pada masa Orde Baru, perhatian terhadap perpustakaan mulai pulih. Namun,
itu bukan masalah mudah mengingat lokasi perpustakaan menyebar di beberapa
tempat. Adalah Mastini Hardjoprakoso yang pada waktu itu menjabat kepala
perpustakaan museum pusat memiliki ide cemerlang mengangkat citra
perpustakaan. Ia merancang pameran surat-surat kabar. Berbagai berita yang
pernah diterbitkan zaman Gubernur Jenderal Daendels (1810), Raffles
(1812), Perang Diponegoro (1825), berdirinya Boedi Oetomo, Sumpah Pemuda,
sampai media masaa yang terbit waktu penjajahan Jepang hingga proklamasi
dipamerkan.
Sayang, pejabat dari P dan K tidak muncul. Pejabat dari Pusat Lembaga
Perpustakaan juga tidak ada yang datang. Yang memenuhi undangan malahan
dari Departemen Penerangan, Departemen Luar Negeri, dan para wartawan.
Para wartawan inilah yang menulis laporan tentang pameran itu.
Ulasan dan komentar wartawan itu rupanya menarik perhatian Ibu Tien. Ibu
Tien pun merencanakan melihat pameran. Ibu Tien menunjukan minat yang
besar terhadap keberadaan perpustakaan yang merupakan dokumentasi sangat
berharga dalam perjalanan sejarah bangsa. Namun, ia juga menjumpai hal
yang mengenaskan karena melihat gudang tua yang lembab dan basah di mana
tersimpan berbagai macam terbitan dan dokumen yang sudah sangat lama.
Ia menyadari pentingnya perawatan dokumen. “Dokumen-dokumen itu antara
lain harus tersimpan dengan baik dan teliti dalam Perpustakaan Nasional.
Sekali dokumen itu rusak atau hilang, maka kita kehilangan sumber yang
tidak ternilai harganya dan barangkali tidak pernah tergantikan untuk
selama-lamanya. Sejak itu tergerak hati saya untuk membangun gedung
Perpustakaan Nasional yang memenuhi syarat dan mampu menampung kebutuhan
ke masa depan yang jauh,” katanya.
Keinginan Ibu Tien mendapat sambutan positif dari Pak Harto. Gagasan untuk
membangun Perpustakaan Nasional pun mendapat dukungan dari pengurus dan
badan pendiri Yayasan Harapan Kita.
Pada tanggal 8 Desember 1985 pembangunan gedung Perpustakaan Nasional
dimulai. Gedung itu dibangun dalam dua tahap. Tahap pertama selesai
Desember 1986 dan tahap kedua selesai Oktober 1988. Kini bangsa Indonesia
bisa tersenyum telah memiliki gedung perpustakaan nasional yang pantas
dibanggakan.
Rumah Sakit
Perhatian Ibu Tien terhadap masalah kesehatan cukup besar. Tingginya angka
kelahiran dan juga tingkat kematian ibu-anak pada saat persalinan
membuatnya berpikir untuk membangun rumah sakit khusus. Di samping itu,
kelahiran anak merupakan harapan baru bagi Indonesia masa depan yang lebih
maju dan mampu bersaing dengan bangsa lain.
Pada tahun 1974 dimulailah pembangunan Rumah Sakit Anak dan Bersalin yang
terletak di Jalan S. Parma Jakarta. Peresmian RSAB dilaksanakan pada hari
Ibu 1979.
Sementara itu, tingginya penderita jantung di Indonesia dan kurangnya
fasilitas kesehatan yang memadai membuatnya berpikir untuk membangun rumah
sakit khusus melayani penderita jantung. Sebab, banyak orang Indonesia
yang menderita penyakit jantung terpaksa harus berobat ke luar negeri
karena tidak tersedia perawatannya di sini.
Enam tahun setelah peresmian RSAB, di lokas yang sama diresmikan Rumah
Sakit Jantung Harapan Kita. Meskipun memakai nama Harapan Kita, juga Taman
Mini Indonesia Indah dan Perpuskaan Nasional, seluruh pengelolaannya
diserahkan kepada pemerintah. Tidak dilakukan oleh Yayasan Harapan Kita.
Inilah sumbangan Ibu negara bagi bangsa Indonesia yang akan dikenang
selalu oleh masyarakat Indonesia.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), dari berbgai sumber
= Kembali ke Ibu Tien
|
|