| |
C © updated
10052005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/tempo |
|
| |
Nama:
Siti Chalimah Fadjriah
Lahir:
Temanggung, Jawa Tengah, 2 September 1951
Pendidikan:
- Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM)
Yogyakarta (1971-1978)
- Sekolah Tinggi Manajemen PPM Jurusan Manajemen Internasional, Jakarta
(S-2, 1999)
Kursus/keterampilan:
- Banking School II yang diadakan oleh Federal Washington DC (1987)
- Sekolah Staf dan Pimpinan Bank Indonesia (SESPIBI) Angkatan XVIII
(1993)
- Seacen Course on Financial Innovations and Emerging Financial
Activities, Hongkong (1995)
- Job training di berbagai bank dan bank syariah di berbagai negara
Karir:
- Staf Bagian Pemeriksaan Bank-UPPB Bank Indonesia (BI)
(1979-1981)
- Kepala Seksi di Bagian Pembinaan Bank-UPPB BI (1983-1986)
- Kepala Bagian Akunting Devisa-Urusan Devisa BI (1992-1994)
- Direktur Direktorat Pengawasan Bank (1999-2003)
- Direktur Direktorat Perizinan dan Informasi Perbankan BI (Feb 2003 - 9
Mei 2005)
Kegiatan lain:
- Pengajar tidak tetap di Institut Bankir Indonesia.
- Anggota Dewan Pengurus Nasional-Ikatan Akuntansi Indonesia
- Aktif di Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS)
Rumah:
Kompleks Perumahan Bank Indonesia Cipinang, Jakarta Timur
Sumber:
Kompas (10 Mei 2005) dan Republika (8 April 2005) |
|
| |
|
|
|
|
| SITI FADJRIAH HOME |
|
|
 |
BIOGRAFI
Siti Chalimah Fadjriah SE Akt MM
Pejabat BI Pengajar Ngaji
Ia terpilih secara aklamasi (9/5/05) oleh Komisi XI DPR sebagai
Deputi Gubernur Bank Indonesia Bidang Pengawasan menggantikan Aulia
Pohan yang telah pensiun. Sebagai Pejabat BI, perempuan berjilbab
lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada ini, juga dikenal suka
mengajar ngaji dan berdakwah.
Siti Chalimah Fadjriah besar dalam keluarga santri yang sangat religius.
Ibu, ayah, dan kakeknya adalah guru mengaji. Bahkan kakeknya memiliki
pesantren di Temanggung. Pendidikan menengahnya ia lalui di SMP dan SMA
Islam sedangkan sekolah negeri (umum) ia jalani di SD dan perguruan
tinggi.
Soal mengaji, Siti Fadjriah belajar dari orang tuanya. ''Saya salut
kepada orang tua saya. Ayah bilang, 'Kalau mau jadi orang Islam harus
mumpuni'. Karena itu, Beliau membekali anak-anaknya dengan pendidikan
agama dan umum,'' tambahnya. Ayahnya juga sering berkata, ''Saya tidak
bisa meninggalkan buat kamu harta, tapi ilmu.'' Pesan inilah yang sering
dikenang Siti Fadjrijah.
Teladan orang tuanya mengajarkan agama Islam benar-benar membekas di
hatinya. Ia pun menjadikan syiar Islam sebagai gaya hidup. Ia juga
selalu berusaha menjaga shalat sunnat Dhuha. ''Saya berangkat dari rumah
sudah dalam keadaan berwudhu. Sampai di kantor langsung shalat Dhuha.
Baru kemudian bekerja,'' ungkap perempuan yang sudah menunaikan ibadah
haji 10 tahun lalu.
Di lingkungan kerjanya, perempuan yang akrab disapa Bu Fadjri dikenal
aktif di bidang keislaman. Ia giat mengadakan dan mendorong kegiatan
pengajian, baik tadarus Alquran, pengkajian Alquran, maupun diskusi
keislaman. Setiap ada kesempatan, ia selalu memanfaatkannya untuk
mengajar ngaji dan dakwah. ''Saya selalu berusaha mengamalkan hadis Nabi
yang mengatakan, 'Sampaikanlah apa yang engkau ketahui, walaupun satu
ayat','' kata lulusan Fakultas Ekonomi, Jurusan Akuntansi, Universitas
Gadjah Mada Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Manajemen PPM, Jurusan
Manajemen Internasional, Jakarta.
Intensitas mengajar ngaji dan dakwahnya semakin tinggi di bulan puasa.
Biasanya, saat bulan Ramadhan, tiap pagi, dari pukul 07.00 hingga 08.30,
Siti Fadjriah memimpin sekelompok pegawai BI khusyuk dan semangat
bertadarus Alquran. ''Saya sudah enam tahun mengadakan acara tadarusan
di kantor,'' kata Fadjriah menambahkan. Baginya Alquran itu luar biasa.
''Bacaan yang paling saya senangi adalah Alquran,'' tuturnya.
Perempuan kelahiran Temanggung, Jawa Tengah, 2 September 1951 itu juga
giat mengadakan pengajian di lingkungan tempat tinggalnya. Di Kompleks
Perumahan Bank Indonesia Cipinang, Jakarta Timur, Siti Fadjriah mengajar
membaca Alquran tiap hari Sabtu.
''Pesertanya, ibu-ibu penghuni kompleks. Mereka sangat beragam, dari
yang sama sekali tidak mengenal huruf Alquran sampai yang sudah mulai
kenal huruf namun belum lancar membaca Alquran,'' ujar perempuan yang
aktif mengikuti berbagai kursus dan seminar perbankan, baik di dalam
maupun luar negeri.
Tidaklah mengherankan bila perempuan yang juga aktif di Badan Amil Zakat
Nasional (BAZNAS) ini, ke mana pun pergi, selalu membawa Alquran. Dia
biasa membaca Alquran sebelum dan setelah shalat Subuh. Rata-rata dia
mampu mengkhatamkan Alquran dua sampai tiga bulan sekali.
Namun, di bulan Ramadhan atau saat umrah Ramadhan, dia bisa khatam
berkali-kali. ''Wirid saya adalah Alquran. Sejak kecil, saya sudah
terbiasa membaca Alquran. Ketenangan yang kita rasakan kalau kita
membaca Alquran itu luar biasa,'' kata perempuan pernah mengikuti job
training di berbagai bank sentral dan bank syariah di sejumlah negara.
Siti Fadjriah tidak hanya pandai mengajar ngaji dan dakwah tetapi juga
mengamalkannya. Apa yang ia katakan, ia lakukan dengan cermat dan
sungguh-sungguh. Saat pertama kali akan bekerja di Bank Indonesia, Siti
Fadjriah terlebih dahulu bertanya kepada beberapa orang, terutama ulama.
Ada seorang kiai yang berkata padanya, ''Boleh saja bekerja di BI, tapi
jangan mencuri waktu.'' Pesan kiai itu selalu diingat betul oleh Siti
Fadjrijah. ''Kita digaji untuk bekerja delapan jam sehari. Kalau
jumlahnya kurang dari itu, berarti rezeki kita ada yang tidak halal,''
kata anggota Dewan Pengurus Nasional-Ikatan Akuntansi Indonesia.
Menurutnya, kalau seorang hamba dekat dengan Allah dan berusaha
maksimal, tidak perlu neko-neko, hidupnya dijamin. ''Karena itu, kalau
bekerja, bacalah basmallah, niatkan ibadah, Allah pasti membalas.
Pimpinan kita akan dibisiki oleh Tuhan agar mengangkat posisi atau
derajat kita,'' tegas perempuan yang penampilan sehari-harinya tak
pernah lepas jilbab itu. Dia yakin, rezeki itu Allah yang atur.
''Biar jungkir balik, kalau memang bukan rezeki kita, tidak akan pernah
sampai kepada kita. Karena itu, untuk apa jungkir balik? Apalagi rezeki
itu tidak dibawa mati. Hadits Nabi mengatakan, hanya tiga hal yang
dibawa mati, yakni sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh
yang selalu mendoakan orangtuanya,'' urainya.
Lulusan Sekolah Staf dan Pimpinan Bank Indonesia (SESPIBI) Angkatan
XVIII (1993) ini juga sering berkata kepada anak buahnya. ''Niatkan
kerja itu sebagai ibadah, supaya kalaupun tidak dapat dunianya (jabatan
dan sebagainya-red), tetap dapat akhiratnya.'' Dia menambahkan, kalau
pangkat tidak naik-naik, tidak usah sakit hati. ''Saya yakin, kalau kita
dekat dengan Allah, semua akan lancar. Semua bisa tercapai. Hal itu
sudah saya sudah buktikan,'' kata perempuan yang mengawali karirnya di
Bank Indonesia sebagai Staf di Bagian Pemeriksaa Bank-UPPB (1979).
Pengalaman hidup Siti Fadjrijah membuktikan, dia sering naik pangkat
tanpa diduganya. Tiap kali naik pangkat, ia selalu mengevaluasi diri.
''Saya sedang diuji dengan jabatan, apakah saya makin takut dan tunduk
kepada Allah, atau tidak? Waktu saya masih jadi staf biasa, saya selalu
rutin shalat Tahajud. Apakah setelah naik jabatan, masih tetap rutin
shalat Tahajud?'' tutur wanita yang gemar melahap buku-buku keislaman
sejak masih remaja. Karena itulah, Siti Fadjrijah sangat hati-hati betul
menyangkut soal kerja dan rezeki. ''Saya tidak mau keluarga saya
mendapatkan rezeki haram dari saya. Rezeki tersebut harus jelas
kehalalannya.''
Siti Fadjriah tak hanya memperhatikan lingkungan kerja dan tempat
tinggalnya. Ia pun selalu memperhatikan keadaan di dalam rumah
tangganya, khususnya anak-anaknya. ''Saya mengajarkan anak membaca
Alquran sampai mereka bisa, baru kemudian saya memanggil guru mengaji.
Hanya dua hal yang selalu saya ingatkan kepada anak-anak saya, yakni
belajar, shalat, dan mengaji,'' kata ibu tiga anak itu.
Saat berada di rumah, Siti Fajriah betul-betul menjadi seorang ibu.
''Kalau saya di rumah, orang tidak akan menyangka saya pejabat. Saya
ikut belanja ke pasar. Saya pun membersihkan kamar mandi. Saya tidak
merasa jabatan itu jadi beban. Jabatan itu di kantor, di rumah saya
adalah ibu rumah tangga."Dia menambahkan, ''Saya merasa salut sekali
kepada Siti Khadijah (istri Rasulullah, {red}). Beliau seorang wanita
yang kaya raya, seorang bos, namun begitu menikah dengan Muhammad, dia
sangat berbakti.''
Deputi Gubernur BI Bidang Pengawasan
Siti Chalimah Fadjriah terpilih sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia
Bidang Pengawasan (9/5/05) menggantikan Aulia Pohan yang telah pensiun.
Komisi XI DPR memilih Fadjriah secara mutlak melalui aklamasi dalam
sebuah rapat tertutup yang hanya memakan waktu sekitar satu jam.
Menurut Ketua Komisi XI Paskah Suzetta di Gedung DPR hari Senin
(9/5/2005), keputusan secara aklamasi dan tanpa melalui mekanisme
pemungutan suara baru kali ini terjadi dalam DPR hasil Pemilu tahun
2004. Seluruh 56 anggota Komisi XI yang hadir bersepakat mendukung
Fadjriah. Biasanya DPR dorong-mendorong saat mengambil keputusan.
Fadjriah terpilih secara mutlak karena seluruh anggota Komisi XI
memiliki persepsi yang sama bahwa Fadjriah dianggap memiliki pengalaman
yang lebih banyak dalam bidang pengawasan perbankan daripada calon
lainnya, Direktur Mikro dan Ritel Bank BRI Krisna Wijaya.
"Fadjriah juga memenuhi semua persyaratan sesuai UU No 3 Tahun 2004
tentang BI, yaitu memiliki integritas, kemampuan, dan moralitas yang
tinggi. Selain itu, Fadjriah dalam keadaan sehat, memiliki NPWP, dan
menyerahkan laporan harta kekayaan," katanya.
Anggota Komisi XI dari Fraksi Partai Amanat Nasional Dradjad H Wibowo
menuturkan, sebelum rapat persetujuan, semua fraksi telah sepakat
memilih Fadjriah.
Menurut dia, Komisi XI lebih menghendaki perbaikan BI secara bertahap,
tetapi tegas yang diwakili figur Fadjriah ketimbang perombakan total
yang kemungkinan bisa terjadi jika memilih Krisna. "Perombakan total
akan memberikan guncangan yang terlalu besar di BI, sementara sektor
perbankan saat ini juga sedang terguncang," ujarnya.
Seiring dengan persetujuan kepada Fadjriah, Komisi XI juga melampirkan
harapan terhadap kinerja pengawasan perbankan di masa mendatang.
"Komisi XI mencatat masih cukup besar permasalahan di perbankan, dilihat
dari banyaknya kasus kejahatan perbankan. Karena itu, diharapkan BI
dapat meningkatkan pengawasan, terutama menyangkut tiga hal, yaitu
memberikan sanksi yang tegas kepada pelaku kejahatan perbankan, lebih
serius mengawasi arus uang antarperbankan, dan memperketat perizinan
untuk mencegah pelanggaran," ujar Paskah.
Dradjad menambahkan, sebenarnya BI tidak memiliki problem dalam
mengindikasi pelanggaran perbankan. "Namun, saat ingin memberi sanksi
tegas, BI selalu gamang," katanya.
Dia juga mengatakan, meskipun sudah ada PPATK, arus lalu lintas uang di
perbankan belum termonitor dengan baik. Akibat tidak termonitor,
penjahat perbankan akan mudah memindahkan dananya dari satu bank ke bank
lain, bahkan ke luar negeri.
Fadjriah mengatakan, untuk mewujudkan harapan DPR tersebut, dirinya
mengharapkan bantuan dari asosiasi perbankan. "Asosiasi bankir harus
lebih aktif berperan dalam mengembangkan kode etik yang wajib diikuti
bankir," kata Fadjriah.
Ketua Himpunan Bank-bank Negara (Himbara) Sigit Pramono mengatakan,
Deputi Gubernur BI terpilih diharapkan dapat lebih interaktif dalam
melakukan pengawasan perbankan. "Artinya, baik yang diawasi maupun
pengawas harus ada komunikasi yang baik. Harus ada dialog sebab sering
terjadi perbedaan persepsi antara kedua belah pihak," ujarnya.
Dia menambahkan bahwa pengawasan perbankan masih memerlukan banyak
perbaikan. "Strategi yang bisa dilakukan adalah melaksanakan arah
kebijakan dari Arsitektur Perbankan Indonesia (API), yakni dengan
melakukan konsolidasi perbankan, yakni memperkecil jumlah bank. Dengan
demikian, pengawasan akan lebih gampang," katanya. ►at
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|