| |
C © updated
19072004 - 12092002 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ht |
|
| |
Nama:
Sutiyoso
Lahir:
Semarang, 6 Desember 1944
Agama:
Islam
Jabatan:
Gubernur DKI Jakarta 1997-2007
Pendidikan:
Lulusan Akademi Militer Nasional Yogyakarta, 1968
Penugasan:
Operasi PGRS/Paraku (1969)
Operasi Flamboyan, Timtim (1975)
Operasi Aceh Merdeka (1978).
Karir:
Tahun 1993 Komandan Korem 062 Suryakencana, Bogor dan mendapatkan
penghargaan sebagai Danrem Terbaik se-Indonesia (1994).
Kepala Staf Kodam Jaya (Maret 1994).
Pangdam Jaya (April 1996).
Gubernur DKI Jakarta 1997-2002 dan periode kedua 2002-2007.
Organisasi:
Ketua Umum PBSI 2004-2008
Alamat Kantor:
Jalan Medan Merdeka Selatan No.8-9 Jakarta Pusat
Telepon 021-3456058 Fax. 021-3848653
Pes.Lokal 2200
Alamat Rumah:
Jalan Taman Suropati No.7 Jakarta Pusat
Telepon 021-3144146 pes.lokal 2800
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
Welcome
This
site is currently under construction. Please check back at a later time.
BIOGRAFI
Sutiyoso
Gubernur DKI Pimpin PBSI
Gubernur DKI Jakarta, ini terpilih sebagai ketua umum Persatuan
Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) 2004-2008 menggantikan Chairul
Tanjung yang mengundurkan diri. Sutiyoso terpilih secara aklamasi setelah
Dahlan Iskan, satu-satunya pesaing, mengundurkan diri beberepa saat
sebelum pemilihan (voting) pada Munaslub PBSI di Jakarta,Sabtu 17 Juli
2004.
Sutiyoso di hadapan peserta Munaslub menyatakan rasa hormat dan terima
kasihnya atas kepercayaan yang diberikan kepadanya. Ia mengatakan tanggung
jawabnya berat mengingat besarnya tantangan akibat terpuruknya prestasi
bulutangkis Indonesia saat ini. Namun ia yakin masih ada peluang untuk
mengembalikan kejayaan bulutangkis nasional asalkan ada kerjasama dan
komunikasi yang baik antara pemain, pelatih, Pengda, Pengcab dan komunitas
bulutangkis Indonesia.
Sutiyoso yang juga Ketua Asosiasi Pemerintah Daerah Seluruh Indonesia
berjanji akan menggunakan kesempatannya ke daerah-daerah untuk sekaligus
mengunjungi Pengda dan Pengcab.
Sementara itu, mantan Ketua Umum Chairul Tanjung berharap Sutiyoso dapat
melanjutkan kepemimpinan di PB PBSI dengan lebih baik dibanding saat ia
pimpin sebelumnya. "Melihat track record beliau saya rasa beliau figur
yang paling cocok untuk memimpin PBSI karena perlu energi dan pemikiran
yang luar biasa besar," kata Chairul.
Menurutnya, untuk menjadi pimpinan di PBSI Juga harus "berkuping tebal"
karena banyak mendengar hal-hal yang tidak mengenakkan, namun ia menilai
Sutiyoso yang duakali menjabat Gubernur DKI Jakarta sudah terbiasa dengan
hal tersebut karena ia bisa bekerja dengan baik meski pemberitaan media
massa mengenai kota Jakarta selalu negatif.
Terpilih Kembali Atas Dukungan PDIP
Tokoh yang diduga terlibat kasus 27 Juli 1996 (tragedi perebutan kantor
PDI) ini akhirnya terpilih kembali menjadi Gubernur DKI Jakarta untuk masa
jabatan kedua (2002-2007) di tengah kepungan sekitar 5000 massa
penentangnya yang mengurung Gedung DPRD dan Balaikota Jakarta. Ia yang
berpasangan Fauzi Bowo sebagai Wakil Gubernur meraih 47 dari 84 suara
anggota DPRD, atau 55% suara.
Sebuah kemenangan yang sudah ia prediksi sebelumnya. Sebagaimana
diungkapkan Sutiyoso, sesaat setelah terpilih kembali. Ia menyatakan,
prediksi itu berdasarkan dukungan dari Fraksi PDI Perjuangan, Fraksi PPP,
Fraksi Partai Gokar, dan Fraksi PKP, termasuk sebagian yang kemungkinan
membelot.
Maka, dia meminta kepada semua pihak menerima kenyataan ini, termasuk
massa yang sejak pagi berunjuk rasa di depan DPRD dan Balaikota, yang
menolak dirinya kembali memimpin DKI Jakarta. "Mari kita bersatu membangun
Jakarta," katanya kepada wartawan di Balaikota Jakarta.
Dalam pemilihan itu, Sutiyoso-Fauzi Bowo meraih 47 suara, jauh mengungguli
tujuh calon lainnya, Tarmidi Suhardjo-Abidillah Toha 13 suara, Edi Waluyo-Ahmad
Suhaedy 11 suara, Ahmad Heriawan-Igo Ilham 4 suara, Endang Darmawan-Dadang
Hamdani 3 suara, Mahfud Djaelani-Dolly Diapari Siregar 3 suara, Marzuki
Usman-Abdul Halim Asyari 3 suara.
Sutiyoso mengatakan, program utamanya pada periode kedua sebagai Gubernur
DKI Jakarta adalah memberantas KKN, serta melanjutkan program pembangunan
perumahan. Ia juga meminta masyarakat Jakarta untuk selalu kritis, dan
terus memberikan masukan kepadanya selaku Gubernur DKI Jakarta.
Dua hari sebelumnya, sebuah surat kabar terbitan Jakarta menganugerahi
Sutiyoso gelar Gubernur Pembuat Berita Terpopuler Indonesia tahun 2002.
Sutiyoso mendapat piagam berukuran 4,75 x 5,07 meter yang merupakan piagam
terbesar di Indonesia.
Konon, angka 475 melambangkan usia Jakarta dan angka 57 melambangkan usia
Negara Republik Indonesia. Piagam yang terbuat dari kain itu antara lain
bertuliskan "Sutiyoso Gubernur Pembuat Berita Terpopuler Indonesia 2002".
Menurut Loepold pemimpin umum surat kabar itu, penganugerahan gelar kepada
Sutiyoso itu didasari pemberitaan media massa yang tiada henti tentang
Sutiyoso sejak akhir tahun 2001 hingga Juli 2002. "Tiada hari tanpa berita
tentang Sutiyoso," katanya.
Sementara, Jaya Suprana yang juga hadir pada saat itu mengatakan, piagam
yang diterima Sutiyoso itu merupakan piagam terbesar di Indonesia sehingga
akan disimpan di Museum Rekor Indonesia. Pihaknya tidak menilai proses dan
substansi dari piagam itu. Yang dinilai cuma ukurannya yang besar itu.
Sutiyoso kelahiran Semarang, 6 Desember 1944. Lulusan Akademi Militer
Nasional Yogyakarta, 1968 ini memulai karir di Operasi PGRS/Paraku (1969)
kemudian operasi Flamboyan, Timtim (1975), Operasi Aceh Merdeka (1978).
Pada tahun 1993 menjabat sebagai Komandan Korem 062 Suryakencana, Bogor
dan mendapatkan penghargaan sebagai Danrem Terbaik se-Indonesia (1994).
Kemudian karirnya naik menjadi Kepala Staf Kodam Jaya (Maret 1994). Lalu
menjadi Pangdam Jaya (April 1996). Saat menjabat Pangdam Jaya ia diduga
terlibat peristiwa 27 Juli. Kemudian ia pun terpilih menjadi Gubernur DKI
Jakarta (1997-2002) dan terpilih lagi untuk periode kedua (2002-2007). ►tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
Sutiyoso
Gubernur Paling Kreatif
Jakarta 1/5/2005: Sutiyoso yang akrab dipanggil Bang Yos dinobatkan
sebagai gubernur paling kreatif. Dia orang paling kreatif dalam bidang
pemerintahan menurut penilaian Yayasan Pengembangan Kreativitas (YPK).
Selain Bang Yos, 12 tokoh lainnya menerima penghargaan serupa dalam
bidang masing-masing. Penganugerahan penghargaan kreativitas itu
berlansung di Mal Puri Indah, Jakarta, Minggu 1 Mei 2005.
Saat menerima Penghargaan Kreativitas itu, Sutiyoso mengucapkan
terimakasih atas kepercayaan dan dukungan masyarakat Jakarta kepadanya.
Dia juga meminta maaf, bila selama ini banyak kebijakannya menimbulkan
kontroversi. Namun, jelasnya, hal tersebut memang harus dilakukan untuk
memajukan Jakarta agar bisa lebih baik.
Selain Bang Yos, tokoh yang menerima penghargaan kreativitas tersebut
adalah Jaya Suprana untuk bidang kemasyarakatan, Yohanes Surya, Rhenald
Kasali dan Bahrudin untuk bidang pendidikan, Hermawan Kartajaya dan Anne
Ahira untuk bidang pemasaran, Maria Hartiningsing untuk bidang media
massa, Harini Bambang Waluyo untuk bidang kewiraswastaan, Mira Lesmana,
Guruh Soekarnoputra dan Melly Goeslaw untuk bidang seni budaya dan Helmi
Yahya untuk bidang pertelevisian.
Menurut Ketua Umum Yayasan Pengembangan Kreativitas, Seto Mulyadi, yang
akrab disapa Kak Seto, dasar pemberian penghargaan itu adalah kontribusi
para tokoh yang telah menggairahkan kehidupan masyarakat Indonesia pada
umumnya dan Jakarta pada khususnya melalui kreativitas mereka.
Penganugerahan penghargaan itu merupakan suatu bentuk pengakuan kepada
para tokoh yang aktif dan kreatif membentangkan pikiran dan gagasan
bermakna memecahkan masalah sehari-hari maupun masalah kritis.
|
|